
Fernando semakin tak tenang, lelaki itu sedari tadi mondar-mandir di teras, sedangkan umi Fatimah duduk di kursi sambil melihat tingkah putranya.
Berbagai ungkapan kekhawatiran terlontar dari mulut lelaki blasteran itu, yang sebagian besar ketakutannya jika Rara meninggalkannya lagi, tentang prasangka buruknya mengapa istrinya meninggalkan dirinya, bahkan tadi sempat menyindir uminya yang tidak bisa menjaga Rara sama seperti tiga tahun lalu.
Disalahkan lagi oleh putranya, umi Fatimah hanya terdiam dan sesekali mengucapkan kata maaf dengan lirih pada Fernando, wanita paruh baya itu tak menyangka, menantunya pergi lagi tanpa pamit.
Masih dengan ocehan-ocehan tentang hilangnya istrinya, Fernando bahkan menghubungi Alex, meminta untuk melacak keberadaan Rara, namun karena ponsel tertinggal, juga masih minimnya cctv di sekitar rumah umi Fatimah, Alex tak banyak membantu, namun lelaki itu menyarankan jika Rara kembali, sebaiknya diberikan anting atau kalung yang ada pelacak-nya.
Bahkan saat Nicholas datang dari dalam rumah, tiba-tiba Fernando memberondong pertanyaan kepada putranya itu,
"Apa yang kamu bicarakan dengan istri saya? Sehingga istri saya tiba-tiba pergi..... " Dan berbagai pertanyaan yang membuat remaja itu semakin dibuat bingung.
"Udah do, kasihan Nicholas, kamu jangan memojokkan dia, nanti dia takut sama kamu,"protes umi Fatimah.
"Tapi setelah ngobrol sama dia istri aku pergi umi,"
"Mudah-mudahan Rara tidak benar-benar pergi, kamu tenang do,"ujar umi Fatimah berusaha menenangkan putra semata wayangnya.
"Gimana Nando bisa tenang mi, kalau sampai Nando kehilangan Rara lagi bagaimana?"
Tak bisa menjawab pertanyaan putranya, umi Fatimah terdiam tak bisa menjawab, wanita paruh baya itu tau betul seperti apa terpuruknya putranya itu, bahkan Fernando tak mau menemuinya selama setengah tahun karena ia menuduhnya menjadi penyebab hilangnya perempuan yang ia cintai.
Hingga langit mulai berubah warna menjadi jingga, sebuah motor matic memasuki halaman rumah umi Fatimah,
Terlihat anak sulung bibi Imas dan mamang Hendi turun dari motor diikuti wanita yang sedari tadi menjadi sumber kekhawatirannya.
Fernando yang melihat kedatangan istrinya, langsung berjalan cepat dan grep....
Lelaki itu langsung memeluk istrinya erat, "kamu kemana aja? Aku khawatir banget,"
Fernando mencium kening istrinya lembut, lalu menyentuh kedua sisi wajah wanita itu, tatapan penuh cinta yang hanya diberikan untuk Rara, "sayang jangan buat aku menggila hanya karena kamu jauh dari jangkauan aku, please!"
Belum sempat Rara membalas ucapan suaminya, Suri keburu angkat bicara, "maaf A, tadi Suri yang Ajak mbak Rara ikut temani aku ke mall,"
__ADS_1
Fernando melirik sekilas sepupunya, lalu menatap istrinya sembari mengelus kepala yang tertutup jilbab army, "Rara sayang lain kali kabari aku di manapun kamu berada,"
Tak ada pilihan karena tak enak suaminya terlalu menunjukan kekhawatiran didepan mertua, sepupu juga anak tirinya, Rara lebih memilih menjawab dengan anggukan.
Fernando merangkul istrinya masuk kedalam rumah tanpa peduli apapun, misal tatapan dari putranya seolah tak percaya jika dirinya adalah budak cinta istrinya.
Lelaki itu menuntun istrinya agar duduk di kursi ruang makan, lalu ia mengisi gelas dengan air mineral yang ia ambil di dispenser yang terletak tak jauh dari sana, ia memberikan gelas itu pada istrinya.
Sebenarnya Rara tidak haus, tetapi untuk menghargai suaminya, ia mengambil gelas yang diberikan lelaki itu dan meminumnya sedikit,
Fernando duduk bersisian dengan istrinya, ia memangku dagunya dengan tangan yang pijakan dimeja makan, seraya menatap wanita yang ia cintai.
Rara yang ditatap sebegitu nya, hanya bisa menghela nafas, ia tau ia salah, "mas, aku minta maaf kalau aku pergi nggak ijin sama kamu, tadi aku ketemu Suri di pematang sawahnya umi, lalu dia mengajak aku untuk berjalan-jalan disekitar sini, aku lupa nggak bawa ponsel dan dompet, tolong jangan marah sama suri ya!"
Fernando tak memberikan reaksi apapun, lelaki itu hanya menatapnya, Rara sendiri bingung arti dari tatapan suaminya.
Umi Fatimah disusul Suri datang menghampiri, terlihat Rara yang menunduk sementara Fernando terus menatap istrinya.
Uwa dan keponakan saling pandang, seolah berbicara, apa yang terjadi?
Umi Fatimah dan Suri ikut menjelaskan apa yang terjadi, Fernando tak juga memberikan reaksi, hingga uwa dan keponakannya lelah sendiri dan memilih untuk duduk di sofa ruang tengah.
Rara yang lelah memilih untuk bangkit, sepertinya dirinya butuh mandi dari pada dipandangi terus oleh suaminya, yang mirisnya ia tak mengerti arti tatapan dari lelaki itu.
Fernando mengikuti langkah istrinya memasuki kamar mereka,
Rara melepas jilbabnya dan menaruhnya di keranjang cucian kotor di samping lemari, juga melepas gamis menyisakan tank top dan legging berwarna hitam.
Fernando melakukan hal yang sama, melepas satu persatu kain yang melekat di tubuhnya hingga menyisakan bokser hitam menutupi aset berharganya.
Melihat tingkah suaminya, Rara mengernyit heran, "kamu ngapain ikut buka baju?"tanyanya.
"Aku mau mandi,"jawabannya.
__ADS_1
"Ya udah kamu duluan sana,"Rara mempersilahkan suaminya.
"Kenapa nggak mandi bersama?"
"Bukannya kamu marah sama aku?"
"Siapa yang marah? Perasaan kamu aja kali,"ucap Fernando, seolah tingkahnya beberapa saat yang lalu tak ada artinya.
"Kamu nggak memberikan reaksi apapun saat aku meminta maaf ke kamu, artinya kamu marah sama aku kan?"
"Emangnya aku nggak boleh liatin istri aku? Seharian kan aku nggak ketemu kamu, aku kangen sama kamu,"
Rara memutar bolanya malas, "ya udah aku mandi dulu, udah azan,"
Tak menjawab, Fernando yang tadinya menghalangi jalan istrinya, mempersilahkan wanita itu untuk memasuki kamar mandi, namun ia malah mengikuti istrinya masuk ke dalam kamar mandi.
Keduanya hanya mandi dan saling menggosok tanpa ada kegiatan panas diantara mereka dikarenakan waktu ibadah yang harus mereka lakukan sebentar lagi habis.
Suami istri itu baru keluar kamar menjelang azan isya, Fernando sudah rapih dengan baju Koko berwarna putih dengan sarung berwarna hitam tak ketinggalan kopiah berwarna putih.
Rara selalu kagum dengan penampilan suaminya seperti sekarang ini, ketampanan lelaki itu beberapa kali meningkat.
Diruang tengah masih ada umi Fatimah yang sedang mengobrol dengan Suri,
Fernando berpamitan dengan uminya, tanpa sedikitpun melirik pada sepupunya.
Suri yang diperlakukan seperti itu mendadak takut, hal itu disadari oleh Rara juga umi Fatimah.
Rara memberitahukan kepada mertuanya juga Suri, jika Fernando tak marah.
Setelahnya umi Fatimah dibantu menantu dan keponakannya menyiapkan makan malam, sembari bercerita tentang kegiatan yang kedua wanita muda itu lakukan selama tadi tidak di rumah.
Umi Fatimah menanyakan kepada menantunya tentang hal yang tadi dibicarakan dengan Nicholas, tapi sepertinya Rara tidak menceritakan tentang permintaan remaja itu, agar Rara melepaskan Fernando.
__ADS_1
Hingga umi akhirnya menyingung soal permintaan remaja itu, Rara yang tak dapat mengelak, terpaksa mengakuinya.
Tetapi Rara meminta umi, merahasiakan hal itu dari Fernando, wanita itu tau. Betul akan reaksi yang akan dilakukan oleh suaminya itu, mengingat lelaki itu sangat mencintainya.