Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
empat puluh dua


__ADS_3

Rara membuka matanya, terlihat langit-langit berwarna putih, ia mengedarkan ke seluruh ruangan lalu melihat ke dirinya sendiri, ada selang oksigen yang menempel di hidungnya, juga jarum infus yang menempel di punggung tangan kirinya, ia juga memakai piyama bertuliskan salah satu nama rumah sakit ternama.


Ada suster mendekatinya, menanyakan apa yang ia rasakan, Rara meminta minum, karena tenggorokannya terasa sangat kering,


Beberapa saat kemudian dokter memeriksanya, juga menanyakan hal yang ia rasakan, Rara mengatakan kalau dirinya sangat pusing,


Dokter juga menjelaskan tentang kondisi dahinya yang mendapatkan beberapa jahitan akibat sobek.


Beberapa jam kemudian, Rara dipindahkan ke ruang rawat biasa, ia menempati ruang rawat bersama dengan lima pasien yang ternyata merupakan korban kecelakaan itu.


Dari cerita sesama pasien, Rara mengetahui jika driver ojol yang ia tumpangi, meninggal dunia,


Karena posisi motornya berada di paling pinggir, sehingga Rara dan driver ojol itu menderita luka paling parah diantara korban lainnya.


Dari cerita mereka juga, Rara baru mengetahui jika dirinya mengalami koma selama tiga hari.


Sedang mendengarkan cerita pasien sebelah yang mengalami patah kaki juga tangan, seorang lelaki yang sangat ia kenali menghampirinya,


Rara mencium tangan Andi, kakak sulungnya yang tinggal di Kalimantan,


Dari cerita kakaknya, ia mengetahui jika polisi yang menghubunginya dari kartu nama yang ada di dalam dompet dan memberitahukan tentang kecelakaan yang menimpa adik bungsunya itu.


"Ra, apa yang sebenarnya terjadi sama kamu? Kenapa kamu nggak pernah cerita sama mas, kalau kamu hamil?"tanya Andi to the point dengan raut khawatir sekaligus kecewa.


Mendengar itu Rara terkejut, ia menyentuh perutnya yang rata,


"Janin itu tidak bisa diselamatkan Ra, kamu keguguran karena kamu sempat jatuh terpelanting dan kepala kamu membentur aspal,"


Air mata Rara seketika luruh, bayinya telah tiada, harapan dari lelaki yang dicintainya, ia terisak menahan rasa sedih yang luar biasa,


Melihat hal itu, Andi menghela nafas, "Ra, setelah kamu pulih, bisakah kamu tinggal di kampung halaman mbak Anisa untuk sementara? Setidaknya sampai kondisi kamu pulih, kamu pernah beberapa kali ke sana, bukankah kamu pernah bilang betah jika tinggal di sana?"


Rara mengangguk,


"Di sana kamu bisa memulai hidup baru dan berusaha melupakan musibah yang menimpa kamu, di sana kamu juga bisa mendalami ilmu agama, nanti mas akan kirimi kamu uang bulanan,"

__ADS_1


Rara mengangguk lagi, lalu bertanya, "bapak sama ibu apa kabar mas?"


"Mereka sehat,"


Wanita itu lalu terdiam dan menunduk, Andi yang tau sifat adik bungsunya itu, mengelus kepala Rara, "mereka khawatir sama kamu,"


Setelahnya kakak beradik itu mengobrol seputar Anisa dan kedua anaknya, menurut pengakuan Andi, Zayan anak pertamanya yang menginjak kelas tiga sekolah dasar, baru memenangkan lomba karate, sedangkan adiknya Zahra yang duduk di TK B sudah pandai membaca dan berhitung, sementara Anisa sedang hamil anak ketiga mereka.


Selang seminggu kemudian Rara diijinkan pulang,


Tanpa menundanya, Andi membawa adik bungsunya menuju kampung halaman Anisa yang terletak di salah satu kabupaten di provinsi Jawa tengah.


Dengan menggunakan moda kereta api, mereka bertolak meninggalkan ibu kota.


Perjalanan memakan waktu sekitar tujuh jam, keduanya sampai selepas azan Zuhur berkumandang.


Dengan menaiki becak keduanya menuju rumah milik orang tua Anisa.


Mertua dari Andi, menyambut menantu juga adiknya dengan tangan terbuka,


Beliau tinggal sendiri sejak kematian suaminya sepuluh tahun lalu, sedangkan ketiga anak-anaknya telah menikah dan tinggal di kota, hanya pulang kampung ketika lebaran atau liburan sekolah para cucu-cucunya,


Anisa istri dari Andi adalah anak bungsu dari Mbah Sarmi.


Rumah Mbah Sarmi, layaknya rumah orang desa pada umumnya, masih didominasi kayu, meskipun berkali-kali anak-anaknya menawarkan untuk merenovasi rumah tua itu, namun dengan tegas Mbah Sarmi menolak, katanya rumah untuk mengenang mendiang suaminya.


Begitu Rara memasuki rumah tradisional itu, kesan pertama adalah rapih juga bersih, meskipun lantainya masih model lama berwarna hitam, tidak ada sofa di sana, hanya ada bangku kayu panjang saling berhadapan yang diantaranya ada meja kayu besar,


Ada beberapa hiasan dinding dan satu foto keluarga besar Mbah Sarmi, katanya itu foto terakhir saat mendiang suaminya masih ada.


Ada enam kamar di rumah nan besar itu, masing-masing kamar ukurannya lumayan besar, ruang tamu juga ruang tengah juga besar, dapurnya masih beralaskan tanah, dengan Pawon alias tungku yang ada disudut dapur tradisional itu.


Dan ada kamar mandi dan toilet terpisah tak jauh dari Pawon.


Meskipun tinggal di rumah cukup besar itu, Mbah Sarmi merawatnya dengan baik, kalau bisa dibilang beliau orang yang resik juga rapih.

__ADS_1


Ada keponakannya yang tinggal tak jauh dari sana, terkadang membantu membersihkan rumah atau sekedar mengobrol.


Rara menempati kamar yang dekat dengan ruang tamu, ada jendela kayu yang lebar, ranjang kayu dengan kasur busa, kata Mbah Sarmi, itu kamar milik Anisa waktu masih gadis, ada juga lemari kayu jati disalah satu sudut kamar, serta meja dan kursi kayu untuk belajar tepat menghadap jendela.


Andi menemani adiknya selama dua hari, tak lupa untuk mengajak Rara berkeliling kampung.


Ada pondok pesantren tak jauh dari rumah Mbah Sarmi, katanya beliau sering mengaji di sana tiga kali seminggu, baik untuk belajar Al Qur'an atau sekedar mendengarkan ceramah ustadz/kyai.


Lingkungan desa itu cukup agamis, hampir semua wanitanya memakai jilbab, Rara menjadi minder dengan penampilannya sendiri,


Yang membuat Rara semakin kagum dengan penduduk desa ini, meskipun penampilannya belum tertutup, tapi mereka tidak pernah menggunjingnya atau mengejeknya langsung.


Rara melepas kepergian Andi setelah dua hari berada di desa ini, kakak sulungnya menaiki bus menuju Semarang untuk menaiki pesawat dari sana menuju salah satu daerah di pulau Borneo itu.


Hari baru Rara dimulai, pagi hari ia terbangun setelah mendengar Mbah Sarmi mengaji, karena dinding pembatas antara kamarnya dan kamar beliau hanya ada dinding kayu.


Pindah ke desa ini, Rara tidak banyak membawa baju, karena mau bagaimanapun baju-bajunya masih berada di rumah umi Fatimah, jadi ia hanya membawa beberapa baju yang dibelikan Andi.


Mbah Sarmi memberikan baju-baju lama Anisa sewaktu masih gadis dulu, yang didominasi gamis juga jilbab.


Selesai mengaji, wanita tua itu mulai sibuk di dapur, memasak air juga memasak nasi di atas pawon dengan bahan bakar kayu.


Katanya nasinya lebih enak dibandingkan dengan menggunakan penanak nasi.


Sambil menunggu nasi matang, Mbah Sarmi memetik sayur kacang panjang juga cabai yang berada di samping rumah, katanya beliau yang menanamnya sendiri.


Rara membantu mengupas tempe yang terbungkus daun pisang juga kertas, nantinya akan digoreng untuk lauk makan,


Setelah semuanya matang keduanya sarapan bersama di atas ranjang bambu dengan alas anyaman tikar.


Sambil makan Mbah Sarmi menceritakan tentang kebun juga ladangnya, Rara mendengarnya antusias.


Tak lama usai makan, Mbah Sarmi mengajak Rara mengunjungi rumah keponakannya, beliau membawakan satu sisir pisang Ambon hasil panen kemarin sore.


Keponakan yang bernama Nurul mempunyai putri bernama Fitri yang baru lulus dari pondok pesantren setara SMA tak jauh dari rumah.

__ADS_1


Mbah Sarmi meminta Fitri untuk mengantarkan Rara menuju toserba tak jauh dari rumah mereka.


__ADS_2