
"Lo kenapa sih Ra? Dari tadi gue perhatiin kayak gelisah gitu,"tanya Pradikta ketika keduanya sedang menunggu ojek pesanan Rara.
"Gue nggak apa-apa Ta,"jawabnya tanpa menatap mata sahabatnya.
"Ra, kalau ada masalah apapun Lo bisa cerita sama gue, selain Ayu, Lo punya gue disini,"
"Gue nggak apa-apa ta, gue baik-baik aja,"ucap Rara dengan mata berkaca-kaca.
Melihat itu, Pradikta menghela nafas, "Ra, Lo tau kan selain orang tua gue dan Ayu, Lo adalah orang terpenting dalam hidup gue, kalau Lo udah siap, Lo bisa cerita semuanya ke gue, kasih gue nomor hape Lo yang baru,"ujar Pradikta sambil menyodorkan ponselnya pada sahabatnya itu.
Rara mengetikan beberapa digit angka, dan memberikan kembali ponsel milik Pradikta.
"Ra, Lo ingat nggak waktu SMA, kalau Ayu lagi sibuk sama keluarganya dan hanya Lo yang ada disisi gue pas lagi gue terpuruk, Lo ingat apa kata-kata yang sering Lo bisikan ke gue, kalau depresi gue kumat? Coba sekarang Lo terapkan di masalah yang Lo hadapi,"
Pradikta mengelus kepala sahabatnya dibalik pasmina itu, "Ra, menunda menyelesaikan masalah nggak selalu berakhir buruk, setidaknya saat Lo lari, Lo bisa memikirkan penyelesaian terbaik secara matang, setidaknya kalau memang Lo ingin sendiri dulu untuk merenung, nggak masalah, tapi jangan terlalu lama menunda penyelesaian itu, ya satu sampai dua hari cukup buat Lo merenung,"
"Kenapa gue jadi sok tau ya Ra, padahal Lo kan belum cerita masalah Lo ke gue,"ujar Pradikta tertawa.
Rara yang sedang bersedih jadi ikut tertawa, "Ta, makasih ya! Lo lelaki terbaik yang gue kenal selain bapak dan kedua mas gue, kalau dalam beberapa tahun ke depan kita belum ketemu jodohnya, kita nikah aja yuk, Lo mau Nerima gue apa adanya nggak ta?"
Pradikta tertawa lagi lalu mengangguk, "kalau ternyata Lo udah nikah duluan, gue bakal nggak nikah seumur hidup gue Ra,"
"Ya nggak gitu ta, Lo tetep harus nikah, biar nanti kalau masing-masing dari kita punya anak, kita bisa jodohkan, jadi kita bisa besanan deh,"
"Ngomongnya kejauhan Ra, kalau Lo nggak bisa selesaikan masalah ini, Lo bisa minta bantuan gue, jangan khawatir gue selalu ada disini,"
Seperti sudah kebiasaan dan Rara begitu saja menerima, ketika Pradikta memeluknya, padahal ia tau itu tidak diperbolehkan.
Rara melambaikan tangannya ketika ojol yang ia pesan menjauhi rumah Pradikta.
Ia menuju apartemen lelaki itu, sepertinya ia harus menyelesaikan hubungannya dengan lelaku itu segera, sudah tiga tahun ia menundanya, terlalu lama.
Jarak dari rumah Pradikta menuju apartemen Fernando lumayan jauh, walau menaiki motor butuh waktu lebih dari tiga puluh menit.
Sesampainya di lobby apartemen, Rara mengirimi pesan pada lelaki itu, jika dirinya sudah di lobby.
__ADS_1
Tak sampai lima menit, lelaki dengan t-shirt abu dan celana training senada menghampirinya,
Lelaki itu mengajaknya naik ke apartemen, namun dengan tegas Rara menolak, ia lebih memilih taman yang masih dalam area apartemen.
Dan disinilah keduanya sekarang, Rara duduk dengan jarak satu meter dengan lelaki itu.
Keduanya terdiam cukup lama, tidak ada yang memulai pembicaraan, seolah mereka sedang menikmati hembusan angin di waktu pagi menjelang siang itu.
Fernando yang tak sabar, akhirnya angkat bicara, "kamu apa kabar Ra?"tanyanya.
"Aku baik mas, seperti yang kamu lihat,"jawab Rara.
Fernando melirik sekilas wanita yang mengenakan satu set gamis dan pasmina berwarna nude itu, jujur saja wanitanya makin menawan ketika memakai pasmina itu,
"Ra, kenapa kamu menghilang? Apa kamu sengaja?"pertanyaan yang selama tiga tahun ini selalu ada dibenaknya.
Rara menunduk, Lalu mendongak, ia tidak boleh mengeluarkan air matanya disini, ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, "iya aku sengaja menghilang,"
Mendengar jawaban dari wanita yang dicintainya, ego milik Fernando terluka, mendadak ia sangat kesal, namun berusaha menahan emosinya, ia mengepalkan tangannya, rahangnya mulai mengeras, nafasnya memburu.
"Apa alasannya? Lalu dimana anak aku?"tanyanya.
Mendengar hal itu Fernando benar-benar emosi, ia tak dapat menahan amarahnya, ia bangkit, dan kebetulan di sebelah kursi taman itu ada pot tanaman, ia menendangnya keras, hingga pot itu pecah.
Rara terkejut melihat amarah lelaki itu, ia menutup mulutnya tak percaya.
Fernando menatap wanita itu tajam, ia menghampirinya dan berdiri dihadapannya, ia berkacak pinggang dengan nada mengintimidasi ia berkata, "apa kamu sengaja menggugurkannya?"
Rara diam menunduk, rasanya ia ingin menangis, namun berusaha untuk menahannya.
Mulai tak sabar, Fernando mencengkram kedua lengan wanita itu, ia menatap Rara tajam, tak ada kasih sayang atau cinta dari tatapan mata hijau itu, hanya ada amarah dan kekecewaan yang besar.
"Jawab Amara, apa mulut kamu tidak bisa bicara? Kasih tau aku alasannya, kenapa bayi aku nggak hidup? Padahal aku nunggu selama tiga tahun, dan sekarang kamu baru kasih tau aku kalau dia mati sebelum dilahirkan, apa alasannya?"bentaknya.
Rara yang baru pertama kali mendapatkan perlakuan kasar dari lelaki itu benar-benar tak bisa menahan air matanya,
__ADS_1
Dengan berlinangan air mata ia menggelengkan kepalanya, namun lidahnya seolah kelu, ketika ingin menjelaskan alasan kenapa buah cinta mereka tak bisa lahir ke dunia.
Melihat reaksi wanita yang hanya menangis, Fernando semakin emosi, cengkraman tangan di lengan wanita itu semakin kencang, kelopak matanya memerah, giginya beradu, nafasnya semakin memburu, ini pertama kalinya ia merasakan Amarah luar biasa kepada seorang wanita.
Rasanya ia ingin menghancurkan sesuatu yang digenggamnya.
Hingga, "kamu nyakitin aku, lengan aku sakit,"keluh wanita yang terus menerus mengeluarkan air mata disudut matanya.
Menyadari kesalahannya, Fernando melepaskan cengkraman itu, dan Rara berjongkok, sambil menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya, punggungnya bergetar, ia menangis sedih.
Rara teringat kejadian yang menimpanya tiga tahun yang lalu, namun tak sanggup mengatakan apa yang terjadi sebenarnya.
Puas menangis, Rara bangkit, ia menghapus air matanya dengan tisu yang diambilnya dari ransel kecil miliknya.
Sedikit merasa tenang, Rara mendongak menatap lelaki yang berdiri dihadapannya, masih dengan tatapan tajamnya.
"mas, aku datang kesini, untuk meminta kamu menghapus video itu, ini permintaan terakhir aku, juga untuk menyelesaikan hubungan kita yang dulu, tiga tahun aku merenung, aku rasa kita memang tidak bisa bersama, aku dan kamu berbeda,"
Rara menghela nafas, "aku minta maaf jika selama ini aku pernah menyakiti kamu, jadi mulai Detik ini kita tidak ada hubungan,"usai mengatakan hal itu Rara berjalan meninggalkan lelaki itu namun belum sampai lima meter, tangannya ditahan oleh lelaki itu.
Rara melepaskan paksa genggaman erat lelaki itu, "mas kita tidak seharusnya bersentuhan, kita bukan mahrom,"
Namun sepertinya Fernando tidak peduli dengan ucapan wanita dihadapannya.
"Mudah sekali bagi kamu meninggalkan aku, setelah tiga tahun aku kehilangan kamu? Jangan harap Amara, aku akan melepaskan kamu begitu saja,"
Fernando menyunggingkan senyumannya, "kamu belum tau siapa aku, harusnya tadi saat aku meminta kamu untuk datang kesini, kamu lari sejauh mungkin seperti yang kamu lakukan tiga tahun ke belakang, kamu malah menghampiri aku,"
"Setidaknya kamu mengantarkan diri kamu sendiri ke kandang buaya, dan kamu tau apa artinya, kamu akan aku mangsa hingga habis tak tersisa,"usai mengatakan itu, Fernando menggendong Rara ala karung beras menuju unit apartemen miliknya,
Lelaki itu tak peduli pandangan orang tentang tingkah lakunya, tentu saja Rara memberontak, ia tau akan seperti apa nantinya jika ia berada di ruangan tertutup dengan lelaki itu.
Memasuki lift, Fernando menurunkannya, tapi memegang pergelangan tangan wanita itu erat.
Tangannya yang bebas, ia gunakan untuk mengambil ponsel miliknya, ia menghubungi salah satu sahabatnya.
__ADS_1
"Os, cari tau pasien atas nama Amara Cahyani, tepat tiga tahun yang lalu, gue nggak mau tau, dalam satu jam gue mau semua informasi tentang dia, kalau nggak, gue acak-acak rumah sakit Lo, Kalau mau ngadu ke bos Lo, silahkan gue nggak takut, gue bikin dia pisah sama Bininya,"
Setelah mengatakan itu, tanpa menunggu jawaban dari sahabatnya, Fernando mengakhiri panggilannya dan tepat ketika lift terbuka di lantai unit apartemennya berada.