
Rara membuka matanya terlihat dagu suaminya,ia baru menyadari jika lelaki itu memangku kepalanya, ia berusaha bangkit, masih bingung dengan apa yang terjadi, seingatnya ia tadi masih berada dikamar karena kelelahan bercinta ia tertidur, tapi sekarang ia malah ada di dalam mobil yang melaju.
Fernando diam saja, ia hanya menatap istrinya yang tengah kebingungan.
"Kita dimana mas?"tanya Rara melihat jalanan yang dilewati.
Tadi usai bercinta dengan hebatnya, Fernando sengaja membuat istrinya pingsan, ia juga yang membantu istrinya yang tak sadarkan diri memakai gamis juga jilbab instan.
"Kita lagi dalam perjalanan ke Bandara,"jawabnya.
"Memangnya mau kemana?"tanya wanita itu lagi.
"Kamu ikut aku ke Jakarta,"jawabnya.
"Kan kita sepakat jika aku tidak ikut, kenapa sekarang kamu suruh aku ikut?"
"Terus kalau aku biarkan kamu di resort, kamu mau ketemuan sama mantan calon suami kamu begitu? Mau bernostalgia, tidak akan aku biarkan,"
"Siapa yang mau nostalgia sih? Aku cuman sebatas ngobrol aja sama dia, nggak lebih,"
"Aku dengar pembicaraan kalian, aku tau dia masih ada rasa sama kamu,"
"Sok tau kamu,"
"Ra, aku ini laki-laki, tatapan dia ke kamu itu tatapan rasa bersalah dan rasa cinta, tadi dia telpon kamu, aku udah blokir nomornya,".
Rara terkejut, "kenapa kamu lancang sih, itu kan privasi,"
"Nggak ada privasi antara suami dan istri,
Malas berdebat, Rara memilih diam, tak menanggapi ucapan suaminya.
Fernando mengucapkan terima kasih kepada supir resort yang mengantarkannya setelah kopernya dan tas ransel milik istrinya diturunkan dari bagasi.
Lelaki itu merangkul istrinya menuju tempat boarding pass.
Menempuh perjalanan tidak sampai dua jam, pesawat sudah mendarat di bandara sebelah barat ibu kota,
Dari bandara, keduanya menaiki taksi konvensional menuju rumah umi Fatimah,
Sampai di sana hari sudah gelap, Rara langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan Fernando memesan makanan untuk keduanya makan malam,
"Mas, aku besok mau ke rumahnya Dia, kok dihubungi nggak bisa ya!"ujar Rara saat mereka baru saja menyelesaikan makan malamnya.
"Mau ngapain?"tanya Fernando sedikit panik.
"Ya pengen ketemu Dia aja, aku mau tanya apa dia bertengkar sama suaminya nggak gara-gara kamu,"jawab Rara.
__ADS_1
"Ayu mungkin lagi sibuk, jadi mending kamu jangan ganggu deh,"dusta lelaki itu.
"Oh ya kan Dia bilang mau ikut suaminya ke pulau ya! Kok aku lupa ya!"
"Nah itu tau,"
"Terus aku ngapain?"
"Kamu tunggu suami kamu pulang lah,"
"Memangnya kamu mau kemana?"
"Aku kan mesti laporan sama Rama, dia kan wakilnya Ben,"
"Oh gitu ya!"
"Kamu mau ikut?"
"Nggak ah, aku mau di rumah aja deh,"
Usai mengobrol sejenak, sebelum tidur keduanya sempat berhubungan intim, walau Rara masih terkesan dingin, tetapi wanita itu tetap melayani suaminya.
Pagi harinya sebelum subuh, lagi-lagi Fernando melancarkan aksinya, seolah tidak ada bosannya.
Usai mandi secara bergantian, Fernando berpamitan untuk shalat berjamaah di masjid tak jauh dari rumah, sedangkan Rara masih ada di kamar mandi.
Pulang dari masjid, lelaki blasteran itu sempat mengobrol dengan tetangga yang ia temui usai shalat, tak lupa ia membelikan sarapan untuk dirinya dan istrinya, tak jauh dari masjid.
Rara tersenyum manis sekali menyambut kedatangan suaminya yang mengenakan baju Koko berwarna putih, kopiah putih juga sarung berwarna hitam.
Fernando sampai melongo melihat senyum yang beberapa hari ini hilang dari wajah wanita itu,
Rara masih mengenakan mukena berwarna putih, ia mencium tangan juga pipi suaminya, "kamu ganteng banget mas, aku sampai terpesona sama kamu, coba tiap hari kamu begini,"pujinya.
Fernando yang mendapat pujian seperti itu, wajahnya memerah, rasanya ia bahagia sekali, rasanya ia ingin berteriak saking senangnya.
Lelaki itu mencium kening istrinya lembut, "aku beliin kamu lontong sayur, aku ganti baju dulu ya! Nanti kita sarapan sama-sama,"ujarnya sambil berlalu menuju kamar.
Usai sarapan, Rara meminta ijin untuk mengunjunginya rumah miliknya, Fernando tak keberatan, ia mengantarkan istrinya, walau tidak sampai rumah, wanita itu minta di turunkan dijalan masuk gang.
Di rumah warisan dari ibunya, Rara berniat akan membereskan barang-barangnya, sesuai kesepakatan dengan kakak-kakaknya, rumah itu akan dikontrakkan kembali,
Ia juga memberitahukan saudara jauh mendiang ibunya, dengan dibantu salah satu tetangganya hingga menjelang makan siang, ia sudah selesai merapihkan barang-barangnya, ia hanya membawa baju-baju juga pernak-pernik yang berhubungan dengan strawberry.
Sisa barangnya, ia mempersilahkan kepada tetangga yang mau mengambilnya, ia memberitahukan kepada mereka, jika dirinya akan mengikuti suaminya yang berkerja diluar kota.
Tak lupa ia membagikan makan siang untuk para tetangganya.
__ADS_1
Disisi lain, usai mengantar istrinya, Fernando langsung menuju rumah sakit dimana Ayudia tengah terbaring koma.
Ia menemui Anna dan si kembar, Aileen yang melihat kedatangan Fernando, tertawa lebar, balita itu selalu senang dengan kehadiran salah satu sahabat orang tuanya.
Sambil bermain dengan Aileen juga Ainsley, lelaki itu mendengarkan cerita Anna tentang kondisi Ayudia,
Istri dari Benedict itu harus sering mendengar cerita orang terdekatnya, itu yang disarankan oleh dokter.
Mereka masih bercerita ketika Benedict masuk ke ruangan yang disulap menjadi kamar sekaligus tempat bermain untuk anak-anaknya.
Kedua sahabat itu bertatapan, melalui tatapan itu, Benedict mengajak Fernando untuk mengikutinya.
Setelah berpamitan dengan Aileen dan Ainsley, Fernando keluar dari ruangan itu, baru saja menutup pintu sebuah bogem mentah tepat mengenai pipi lelaki bermata hijau itu.
"Puaskan Lo, gara-gara Lo, Ayu terbaring koma,"bentak Benedict.
Fernando memainkan lidahnya didalam mulutnya, lumayan juga pukulan sahabatnya itu, ia tersenyum miris, "salah gue? Kayaknya nggak sepenuhnya deh Ben, gue tau Lo pasti kasar lagi sama Ayu kan? Lo ngapain sampai Ayu menyakiti dirinya sendiri? Jangan Lo pikir gue nggak tau, gue memang salah, tapi gue cuman asal ngomong kalau Ayu ketemu Dikta, dan ternyata bener, berarti itu kebetulan, coba Lo nggak cemburu buta dan nggak kasar sama Ayu, nggak mungkin Ayu frustasi sampai kayak gitu,"
"Harusnya Lo introspeksi diri, turunin sifat posesif Lo, Ayu jadi nggak nyaman sama Lo, gue yakin Ayu nggak mungkin selingkuh sama Dikta, dia sendiri yang cerita sama gue, walau Lo pisah sama Ayu, dia nggak mungkin balikan sama Dikta,"
"Lo tau Ben, cuman Lo sandarannya Ayu, Lo tau kan, dia udah nggak ada orang tua,"
Fernando menepuk pundak sahabatnya, "tapi gue minta maaf, karena niat gue buat ngerjain Lo, malah berimbas sama Ayu, bagaimanpun Ayu udah gue anggap kayak adik gue sendiri,"
Setelah mengatakan itu, Fernando memasuki ruangan dimana Ayudia dirawat, ada perawat yang sedang memeriksa kondisi wanita dua anak itu.
Fernando melapisi pakaiannya dengan baju khusus berwarna hijau, juga penutup kepala dan masker, tak lupa berganti alas kaki khusus.
Lelaki itu memegang tangan Ayudia yang terdapat infusan, dengan hati-hati ia mencium tangan tepat di sebelah jarum infus menancap dipunggung tangan wanita itu.
"Hai Ayudia, cewek ketiga yang gue cintai setelah umi Fatimah, dan Amara, Lo tau nggak Yu, sahabat Lo, buat gue jatuh cinta pada pandangan pertama, perasaan yang dirasakan sama Benedict ke Lo, sama persis yang gue rasain ke Amara,"
Fernando menghela nafas, "Ayu, Untuk pertama kalinya, umi Fatimah suka sama cewek yang gue kenalin ke beliau, kalau gue bilang, umi lebih sayang sama Amara dibanding gue yang anak kandungnya sendiri,"
"Oh ya, gue cuman mau bilang kalau Lo nggak bangun-bangun, gue bakal ambil keperawanan sahabat Lo itu, gue mau buat yang sama kayak Ben lakuin ke Lo, kan gue yang ngajarin laki Lo, biar bisa miliki lo sepenuhnya, dan terbukti kan, karena itu Lo nggak bisa lepas dari Ben, dan gue ngelakuin yang sama ke Amara, keren kan gue, cowok player kayak gue, bisa dapat cewek baik-baik kayak Amara,"
Fernando terkejut dengan reaksi yang ditujukan Ayudia, wanita itu menggerakkan sedikit jari-jarinya dan mengeluarkan air mata dari sudut matanya, lelaki itu memberitahu kepada perawat yang berada di ruangan itu, perawat segera memanggil dokter.
Benedict yang melihat dokter berlari ke ruangan istrinya, turut masuk ke kamar itu.
Setelah memeriksa pasien, dokter menyarankan untuk sesering mungkin mengajak bicara pasien, karena walau matanya tertutup, pasien bisa mendengar orang-orang yang berbicara.
"Lihat kan Ben, bahkan saat Ayu koma, dia lebih dengar omongan gue, Ayu tau betul siapa yang benar-benar buat dia nyaman dan Aman,"
Usai mengatakannya, Fernando berbisik tepat di telinga Ayudia, "Ayu, gue pulang dulu ya, gue mau mesra-mesraan dulu sama Amara, dia bikin gue candu,"
Lagi-lagi Ayudia menggerakkan tangannya,
__ADS_1
Melihat itu Fernando menatap sahabatnya dengan tatapan mengejek.