Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus tujuh puluh lima


__ADS_3

Rara masih mencoba bertahan untuk tidak kabur meninggalkan suami dan puteranya yang semakin menjadi.


Musim dingin berlalu berganti musim semi, tak terasa setahun sudah ia berada di negara ini.


Namun sepertinya kali ini ia sudah tak bisa bertahan lagi,


Rara mulai merapihkan barang-barang miliknya, tak banyak, hanya baju yang dulu ia bawa pertama kali saat mengunjungi negara ini.


Berbeda dengan Arana, yang makin tumbuh menjadi balita yang menggemaskan, baju-baju lamanya tak banyak yang bisa digunakan lagi.


Malam hari saat putranya baru saja sampai, ia mengajak remaja itu berbicara,


"Nicho, Uma mau kembali ke Indo, terserah kalau kamu memang mau ikut, tetapi kalau kamu ingin tinggal, tak masalah,"ucapnya.


Terlihat wajah terkejut dari putranya itu, "Apa uma sudah berbicara dengan Daddy?"


"Apa menurut kamu, Daddy akan menyetujuinya?"


"Tapi Uma, nanti Daddy marah,"


"Uma tidak peduli, sudah setahun kita disini, Uma sudah tidak tahan, jika kamu ingin ikut, lusa kita berangkat,"usai mengatakan hal itu, Rara berlalu meninggalkan putranya.


Pagi harinya saat Rara sedang membuat sarapan, sebuah pelukan hangat juga kecupan lembut di pipi, menyadarkannya.


"kamu lagi masak, kenapa melamun? itu berbahaya Rara sayang,"ujar Fernando.


Rara melepaskan pelukan itu, ia berbalik menatap suaminya,


Terlihat jelas dalam penglihatannya, wajah lelah lelaki itu,


Ia tau suaminya baru saja pulang memantau salah satu proyek bersama Troy.


"Kenapa kamu sudah pulang?"tanya Rara.


Fernando memeluk istrinya, "sebentar saja, aku butuh mengisi baterai,"


Rara hanya bisa diam tak membalas pelukan itu.


"Ra, aku minta sedikit lagi ya! aku janji setelah ini, akan membawa kamu ke tanah kelahiran aku, sebelum kita kembali ke Indo,"


Rara masih diam tak menanggapi, sejujurnya ia sudah tidak terlalu berharap pada lelaki itu, ia tau sedikit waktu bagi lelaki itu adalah waktu berbulan-bulan.


Merasa tidak ditanggapi, Fernando mengeratkan pelukannya, "stay with me please,"


Rara melepaskan pelukan itu, ia berbalik sambil mengambil piring berisi nasi goreng buatannya untuk dibawa ke meja makan.


Rara menata meja itu, ia menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya berupa sereal dan susu, sementara untuk dirinya sendiri ia menyiapkan nasi goreng.


"kamu udah sarapan belum?"tanya Rara pada suaminya yang masih berdiri di dekat kitchen island.

__ADS_1


Fernando berjalan mendekat, "Ra, kita lagi nggak membahas sarapan, aku sedang meminta kamu untuk selalu berada disini, di samping aku,"


Tak menanggapi, Rara memilih menghampiri Nicholas yang sedang bermain dengan adiknya, mengajak mereka untuk sarapan bersama.


Rara masih mendiamkan suaminya, ia hanya mengajak putrinya bicara saat mereka sedang sarapan.


Hingga sarapan usai, Nicholas yang membereskan meja dan mencuci piring, sementara Rara kembali ke kamarnya.


Fernando mengikuti istrinya, pembicaraan mereka belum selesai.


Lelaki itu terkejut sudah ada dua koper besar dan satu travel bag berada tak jauh dari pintu masuk kamar mereka.


"Ra, kamu serius akan pergi dari aku?"tanyanya.


Rara tak menanggapinya, ia memilih membereskan ranjangnya, tadi saat bangun ia belum sempat merapikannya.


Dan tarikan pada tangannya, membuatnya terkejut,


"kamu sudah tidak mau mendengarkan ucapan suami kamu Amara?"tanya Fernando mulai tak sabar.


Rara melirik sinis, cengkraman yang ada dipergelangan tangannya, "lalu aku harus bagaimana? aku harus mengikuti mau kamu terus menerus begitu? sementara kamu? Untuk apa aku disini jika hanya dijadikan pajangan dan budak s** kamu begitu?"


Menyadari jika istrinya benar-benar marah, Fernando memeluk istrinya erat, sembari membisikan kata maaf,


Rara melepaskan pelukan itu dan mendorong suaminya, "Aku capek, selalu menuruti mau kamu, sekarang aku tak peduli, kamu menceraikan aku sekalipun, aku tetap akan pulang,"


Fernando menggeleng, "itu nggak akan terjadi Ra, kita akan selalu bersama, aku nggak akan melepaskan kamu,"


"itu tidak akan terjadi,"


Tau akan akhirnya seperti apa, Rara memilih diam, ia hendak memasuki kamar mandi.


"Ra, kamu mau kemana?"tanya Fernando menahan tangan istrinya.


"Aku mau mandi dan bersiap menuju bandara,"


Fernando melebarkan matanya, ia menatap tajam wanita yang ada dihadapannya, "apa kamu tuli Amara? aku meminta kamu tinggal, jadi kamu harus menuruti aku suami kamu,"


Rara menyunggingkan senyumannya, "tapi aku tak mau lagi menuruti suami aku tuh,"


Setelah mengatakannya, Rara memilih memasuki kamar mandi dan menguncinya.


Niat hati besok baru ia berangkat ke Bandara, sepertinya ia harus mempercepat keberangkatannya, yang jelas ia tak mau lagi luluh dengan bujuk rayu suaminya, karena ia tau akan seperti apa nantinya.


Usai menyelesaikan ritual mandinya, ia tak mendapati suaminya berada di kamar, entah kemana lelaki itu.


Namun ia baru sadar jika tas ransel mini miliknya, tak berada di sofa, Rara menoleh ke arah pintu masuk, ia tak mendapati kopernya.


Ini pasti perbuatan suaminya,

__ADS_1


Rara mencari keberadaan suaminya, tapi hanya mendapati kedua anaknya sedang berada di ruang keluarga,


Ia Menanyakan keberadaan Fernando pada putranya, remaja itu mengatakan jika daddy-nya berada di ruang kerjanya.


Rara memasuki ruang kerja suaminya, ia mendapati lelaki itu sedang duduk di kursi sambil berhadapan dengan laptop.


Bahkan saat pulang, lelaki itu masih saja bekerja.


"Mana koper dan ransel aku?"tanya Rara.


Fernando tak menanggapi, ia masih sibuk dengan laptopnya.


Rara mulai kesal lalu berjalan mendekat ke arah suaminya ia melirik sejenak layar laptop, sepertinya itu sebuah email.


"Aku minta kembalikan milikku,"


Fernando lagi-lagi tak menanggapinya, sepertinya lelaki itu dendam padanya, bisa-bisanya ia didiamkan.


Rara menggeser laptop itu menjauh dari hadapan suaminya,


"Jangan ganggu aku Amara, aku sedang bekerja,"


"kembalikan barang milikku,"


"kamu tau jawabannya Amara, jadi lebih baik kamu minggir, sebelum aku hilang kesabaran,"


Rara tak mempedulikan peringatan suaminya, ia malah menutup laptop itu.


Hingga terdengar hembusan nafas kasar dari lelaki itu.


Fernando bangkit dari duduknya, ia berdiri menjulang tepat dihadapan istrinya.


"Aku sudah memberi peringatan, tapi kamu tak mau dengar, jangan salahkan aku, kalau aku menyakiti kamu,"


Setelah mengatakannya, Fernando mencium bibir istrinya kasar, lelaki itu marah.


Rara kewalahan dengan perlakuan yang diterimanya,


Sambil terus mencium istrinya, Fernando mengambil remote, untuk mengunci ruang kerjanya, ia tak ingin kegiatan panasnya dilihat oleh kedua anaknya.


Fernando menggagahi istrinya dengan kasar, bahkan ia tak mempedulikan teriakan memohon istrinya untuk berhenti.


Seolah tuli, Fernando sama sekali tak mempedulikan keadaan istrinya.


Ia terus melakukannya, hingga lenguhan panjang menandakan jika ia telah mencapai puncaknya.


Fernando melihat istrinya, yang masih mengatur nafas,


"Sudah puas bukan? sekarang kembalikan barang milikku,"pinta Wanita itu.

__ADS_1


"in your dream babe,"


Miliknya kembali mengeras, ia kembali melakukannya, sepertinya ia harus membuat wanita ini pingsan.


__ADS_2