
Hanya semalam, Fernando dan Rara menginap di hotel, keesokan harinya usai makan siang, Keduanya bertolak menuju rumah Ayudia dengan menaiki taksi online.
Wanita hamil itu menjadi lebih pendiam sejak suaminya mengancamnya semalam.
Fernando juga melakukan hal yang sama, lelaki itu larut dalam pekerjaan yang ia kerjakan melalu i-pad miliknya.
Taksi memasuki halaman rumah milik Ayudia, terlihat ada si kembar sedang bermain bersama maid dengan diawasi oleh Anna dari teras rumah.
Melihat kedatangan Fernando, Aileen berlari menuju lelaki yang sedang menarik koper milik istrinya.
Balita itu memeluk kaki sahabat orang tuanya, Aileen merengek meminta digendong,
Sedangkan Ainsley menghampiri Rara, menyapa wanita hamil itu dan juga menyalaminya, balita laki-laki itu menanyakan jenis kelamin bayi dalam kandungan Rara,
"Aunty Rara belum periksa lagi Ain, jadi aunty belum tau jenis kelaminnya, memangnya kenapa Ain tanya kayak gitu?"
"Ain pengin punya teman buat main aunty, ain bosan main sama Aileen,"keluh balita berwajah bule itu.
Rara tersenyum sambil menunduk menyamakan tingginya dengan balita itu, "sebenarnya uncle Rama sama Aunty Sinta baru punya adik bayi loh, kebetulan dedeknya laki-laki namanya Rayan, apa ain mau kenalan sama dedek Rayan?"
Senyum mengembang menghiasi anak dari Ayudia dan Benedict, balita itu mengangguk antusias, bahkan Ainsley sempat pamer pada adiknya jika dirinya telah memiliki teman bermain.
Rara menggandeng tangan Ainsley sedangkan Fernando menggendong Aileen sambil menarik koper milik istrinya.
Pasangan suami istri itu menyapa Anna, Rara meminta maaf karena pergi terlalu lama, dan Anna tak masalah dengan itu.
Hari pertama cuti, Fernando mengajak istrinya dan si kembar berjalan-jalan mengunjungi aquarium raksasa yang ada di Utara ibu kota.
Seperti biasa Aileen selalu menempel pada Fernando, seolah balita perempuan itu tak mau lepas dari lelaki tampan bermata hijau itu.
Ainsley menggandeng tangan Rara, keduanya berbicara soal ikan-ikan yang ada di aquarium raksasa itu.
Puas berkeliling tempat itu, usai jam makan siang, Fernando mengajak Rara juga si kembar, menuju rumah sakit dimana Ayudia masih betah menutup matanya, selain untuk menjenguk wanita itu, Fernando sudah ada janji dengan Natasha untuk memeriksa kandungan istrinya.
Aileen sedari tadi berceloteh, jika bayi dalam kandungan Rara, berjenis kelamin perempuan, balita itu meminta Fernando tetap menyayanginya dan jika sudah besar Aileen meminta agar bisa berteman dengannya.
Begitu sampai di rumah sakit, mereka berempat langsung menuju ruangan dimana Natasha membuka praktek, dokter kandungan itu telah menunggu kedatangan sahabatnya.
Berbagai pertanyaan dilontarkan Natasha pada Rara, tentang kehamilannya, karena ini kali pertama wanita hamil itu memeriksakan kandungannya pada dokter sekaligus sahabat suaminya.
__ADS_1
Rara menjawab semua pertanyaan itu, Fernando dan si kembar hanya mendengarkan.
Hingga Natasha mempersilahkan wanita hamil itu menuju ranjang untuk pemeriksaan Ultrasonografi,
Natasha menjelaskan tentang ketersediaan ketuban yang cukup, berat badan yang sesuai dengan usia kandungan yang sudah menginjak tiga puluh lima Minggu, hingga diketahui jenis kelamin perempuan janin itu.
Fernando berucap syukur mendengarnya, sesuai dengan harapannya, begitu juga Aileen.
Pemeriksaan selesai, Natasha menuliskan resep untuk ibu hamil itu, "vitamin sama obat penambah darahnya jangan lupa diminum ya Ra, makan makanan sehat terus jangan stress ya!"pesannya.
Rara mengangguk sambil berucap terima kasih pada dokter kandungan itu.
"Oh ya Do, Ben udah ada di ruangan Ayu, sekitar sejam yang lalu dia baru balik, Lo udah tau belum?"ujar Natasha memberitahu sahabatnya.
"Bukannya masih empat bulan lagi ya, Ben baru balik, kok cepat banget, kerjaannya udah selesai emang?"tanya Fernando.
Natasha mengangkat bahunya, "mungkin dikebut biar bisa lihat Ayu, terus kata Alex, Rama udah ketemu Sinta ya?"
Keduanya sedang berjalan menuju ruangan dimana Ayudia dirawat, si kembar dan Rara berjalan terlebih dahulu,
"Udah kemarin, makanya Rara bisa gue bawa kesini, tapi ya gitu Sinta tetep kekeh pengen pisah dari Rama,"
"Kebalikannya gue ya sha, muka brengsek kelakuan alim,"
"Alim dari mana sih do, sekarang aja Lo, sejak punya Rara Lo berubah, dulu Lo lebih brengsek dari Alex, sampai gara-gara liat kelakuan Lo semua, gue jadi males punya pasangan,"
"Terus anak SMA yang ngejar-ngejar Lo gimana tuh?"
Ada raut terkejut dari perempuan yang berprofesi sebagai dokter kandungan itu, "tau dari mana Lo? Kayaknya hanya cerita sama Oscar deh,"
"Sha, gue selalu memastikan sahabat gue terutama elo baik-baik aja, jangan sampai ada yang jahat sama Lo, tapi kayaknya dia serius tuh sama Lo? Ya walau untuk masa depan belum jelas sih,"ujar Fernando diakhiri tawa.
"Gue kayak pedofil kalau sama dia do, masalahnya umurnya beda belasan tahun jaraknya,"
"Apa masalahnya sha? Katanya Lo pengen nyari yang masih perjaka, ya itu anak SMA lah, ngomong-ngomong apa dia nggak bakal kaget ya, kalau tau diumur Lo yang udah kepala tiga tapi lo masih perawan?"
"Apaan sih Lo? Belum tentu gue sama dia,"
"Kalau Lo kuat mental, Lo lanjut sama dia deh, kayaknya dia tulus banget sama Lo,"
__ADS_1
"Belum lama dia nembak gue, antara pengen ketawa sama miris aja do, lucu karena dia nembak gue waktu dia pake seragam sekolah terus gue baru selesai praktek pake jas dokter, pake ngasih gue bunga sama cokelat segala lagi, emang gue anak ABG,"
Fernando menahan tawa, agar tidak meledak mengingat ia masih berada di koridor rumah sakit, ia bahkan berjongkok untuk menahannya,
"Sama aja Lo sama Oscar, pada ngeledek doang, bukannya kasih solusi kek, gue kan bingung do,"keluh gadis yang biasa dipanggil Asha.
Masih berusaha menahan tawa Fernando berucap, "sha, bukannya dia udah mau lulus ya?"
Natasha mengangguk,
"Kalau gitu, Lo bilang aja, kalau setidaknya dia harus kuliah terus kerja cari uang, terus entar kalau udah punya uang yang cukup, dia bisa nikahin Lo, itu kalau dia serius, terus Lo juga bilang, Lo nggak mau pacaran, maunya nikah,"saran lelaki berkaos putih dengan blazer navy itu.
"Keburu gue tua Dodo,"
"Ya kalau selama itu ternyata Lo udah ketemu jodohnya, tinggal bilang ke dia, apa susahnya,"
"Entar kalau dia sakit hati sama gue gimana?"
"Nggak usah peduli lah, ngapain dipikirin,"
Natasha mengangguk menyetujui saran sahabatnya.
"Do, kemarin gue ketemu Tamara waktu dia kontrol dibawah, dia nanyain Lo, gue juga sempet ngobrol sama dia, dan tanya-tanya soal rumah tangga Lo,"ucap Natasha teringat kejadian kemarin.
"Terus Lo jawab apaan?"tanya Fernando.
"Gue bilang, kalau gue udah hampir dua bulan nggak ketemu elo, kayaknya masih berharap sama Lo,"
"Gue nggak peduli Sha sama dia, gue udah nggak ada perasaan apapun sama dia,"
"Baguslah, seenggaknya Lo harus tau diri, status Lo udah punya bini, kalau gue jadi Amara, udah gue tinggalin Lo, hidup nggak tenang banget, banyak yang ganggu,"
"Nggak bakal gue biarin sha, cukup hampir dua bulan ini dia lari dari gue, abis ini gue pastiin dia nggak bisa kemana-mana, salah sendiri bikin gue cinta sama dia,"
"Perasaan Amara bukan tipe penggoda kaya mantan-mantan partner Lo deh,"
"Justru itu yang bikin gue jatuh cinta sha,"
"Iya deh, temen gue yang paling brengsek udah ketemu pawangnya, oh ya, gue minta Lo jangan ribut lagi sama Ben ya, Lo kalau liat dia sekarang jangan kaget ya,"
__ADS_1
Fernando mengangguk, keduanya telah sampai didepan ruangan tempat ayudia dirawat.