Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus dua puluh sembilan


__ADS_3

Sandra dan Xander akhirnya mampir setelah ditawari oleh Rara, meskipun harus memarkirkan mobilnya lumayan jauh dari rumah umi Fatimah, mengingat jalanan didepan rumah hanya bisa dilewati satu mobil.


Nicholas, memasukan barang-barangnya ke kamar umi Fatimah, sementara Rara membereskan belanjaannya disalah satu kabinet yang ada di dapur.


Wanita berhijab itu menyajikan minuman dingin juga cookies kiriman Arini kemarin


Nicholas mengajak Xander untuk bermain bersama di halaman belakang, sedangkan Rara dan Sandra memilih duduk beralasan karpet di ruang tengah.


"Aku makin kagum sama kamu Ra,"ungkap Sandra.


Rara yang sedang memakan cookies menghentikan kunyahannya, "kagum gimana mbak?"tanyanya heran.


"Kamu mau menerima anak suami kamu dari wanita lain,"jawab Sandra.


"Sebenarnya aku sudah memprediksi jika hal seperti itu akan terjadi suatu hari, akan ada seorang wanita yang membawakan anak biologis suami aku, jadi aku sudah menyiapkan mental terlebih dahulu,"


"Kalau aku jadi kamu, belum tentu aku mau,"


"Apa itu alasan  mengapa mbak Sandra tidak mau kembali dengan bang Alex?"


Sandra mengangguk, "itu salah satunya, yang utama adalah karena kami berbeda keyakinan,"


Rara terkejut mendengar pengakuan Sandra, "aku pikir kalian satu keyakinan,"sahutnya.


"Dulu waktu masih sekolah ia, tapi sejak aku  menikah dengan mas Ferdi, aku mengikuti keyakinan mantan suami aku, hingga saat ini,"


"Apa bang Alex tau?"


Sandra mengangguk lagi,


"Apa mbak Sandra mencintai bang Alex?"


Wanita yang mengenakan dress motif floral berwarna biru itu menatap ke arah pintu di samping dapur tempat dimana putranya tengah bermain dengan Nicholas, lalu helaan nafas terdengar, "Alex cinta pertama aku, dan sejujurnya kami tidak pernah putus, walau waktu berlalu sisa rasa pasti masih ada Ra, emangnya kamu nggak?"


"Enggak sama sekali,"jawab Rara cepat.


"Cepat banget Ra, memang alasannya apa?"


"Dia menghamili wanita lain menjelang pernikahan kami, usai kami lulus kuliah, gimana masih ada rasa cinta? Antara malu dan sakit hati rasanya,"


"Wah, kok bisa? "


"Memang dia nggak sengaja menghamili wanita itu, saat itu mereka mabuk dan melakukannya, bahkan sekarang mereka sudah bercerai,"


"Berarti kamu udah biasa berurusan dengan hal kayak gitu?"


Rara tertawa, "aku bingung mbak, kenapa bisa begitu, perasaan aku bukan perempuan nakal,"


"Udah jalan hidup Ra,"


Obrolan mereka terhenti ketika ponsel milik Rara berdering, tertera nama mbak Cy dilayar.


Rara ijin pada Sandra untuk mengangkatnya,


"Ya, mbak"

__ADS_1


"...."


"Ya udah masuk aja, gerbangnya nggak dikunci,"


"...."


Rara berjalan ke dapur mengambil satu botol air mineral dari dalam kulkas, lalu berjalan lagi ke ruang tengah, bersamaan dengan Cristy yang baru masuk.


Terlihat raut terkejut di wajah Sandra, mungkin wanita itu bertanya kenapa mantan Fernando bisa berada disini?


"Jangan bingung mbak, tenang aja mbak Cristy ke sini karena ada urusan pekerjaan sama aku,"ucap Rara menjelaskan.


Ketiganya duduk di karpet, Rara menjelaskan alasan mengapa Cristy bisa berkunjung ke sini.


"Nando tau Ra?"tanya Sandra.


Rara menggeleng, "mas Nando lagi diluar negeri mbak,"jawabnya.


"Kenapa kamu seneng cari masalah sih Ra? Kamu nggak ingat waktu terakhir datang ke kantor, Nando semarah apa,"


"Kan dulu, sekarang udah nggak,"


Cristy sedari tadi hanya diam mendengarkan obrolan dua orang wanita dihadapannya.


"Mbak Sandra, mau lihat baju-baju jualan aku nggak? Kali aja mbak Sandra tertarik, walau bukan brand terkenal sih,"


"Boleh Ra,"


Rara ijin  mengambil laptop di kamarnya, tak lama ia kembali dengan Arana di gendongannya juga laptop diapit di ketiaknya.


Wanita itu juga membuka seragam kerjanya menyisakan tank top berwarna hitam, "sini Ra, aku gendong,"ujarnya menjulurkan tangannya.


Rara memberikan Arana pada Cristy begitu saja, membuat Sandra makin heran dengan apa yang dilihatnya, seolah mereka sudah terbiasa berinteraksi.


Setelahnya Rara membuka laptopnya, dan menunjukan foto dress yang hendak dijualnya dengan Cristy sebagai modelnya.


"Ada yang tertarik nggak mbak? Ini design aku sama temen, bagus nggak?"


Sandra masih melihat-lihat hingga ia tertarik dengan salah satu dress polos berwarna hitam, dengan V line pada dadanya, Cristy yang menjadi model dalam foto,


"Ra, aku mau yang ini, kayaknya cocok buat kerja deh,"tunjuknya pada layar laptop.


Rara memastikan, "yang ini belum launching, ini baru mau aku omongin sama mbak Cristy, rencananya baru besok, tapi kalau mau, aku ada satu, mbak mau coba?"


Sandra mengangguk antusias.


Rara kembali masuk ke dalam kamarnya, tak lama ia kembali keluar, dengan membawa dress yang dimaksud,


"Ini kemarin yang dipakai mbak Cristy waktu kami pemotretan, coba deh, kalau suka nanti aku kirim yang baru ke kantor mbak Sandra? Bisa juga warna lain dengan model yang sama,"jelas Rara sambil menyodorkan dress hitam itu.


Sandra langsung mencobanya, ia bahkan berputar layaknya model, dress hitam selutut dengan V line di bagian depan, panjang lengan sesiku, ada jahitan berbentuk kerutan di pinggang, cukup simpel dan elegan.


"Cocok nggak Ra?"tanya Sandra.


Rara menunjukkan kedua jempolnya, "buat ke kantor mbak,"

__ADS_1


"Aku mau Ra, warna hitam, navy sama maroon kalau ada,"


"Ada sih mbak, cuma masih ditempatnya Fitri, kan rencananya baru launching besok,"


"Ya udah kirim aja ke kantor, terus kamu nanti kasih tau nominal harganya, kali aja temen-temen kantor ada yang tertarik, jadi bisa aku bantu promosi,"


Rara tersenyum mengembang, "makasih sebelumnya mbak,"


Sandra mengangguk, lalu melepas dress yang dicobanya.


"Ra, kamu nggak coba buka toko disini?"tanya Sandra setelah duduk kembali.


"Belum kepikiran soalnya, bikin dress juga karena aku sama mbak Cristy mau join, tadinya aku jual gamis sama jilbab aja,"


"Nando tau kalau kamu punya usaha kayak gini?"


Rara mengangguk, "belum lama tau, itu juga dipaksa, sebenarnya selama aku tiga tahun menghilang, aku jualan di kampungnya kakak ipar aku, tempat mbak Sinta kabur, tau kan?"


"Kalau nggak dipaksa berarti nggak bakal dikasih tau ya Ra?"


Rara memperlihatkan gigi-giginya,


"Kenapa Ra, masih belum yakin?"


Rara mengangguk sembari melirik Cristy yang sedari tadi diam menggendong Arana.


"Menurut mbak Sandra, kalau jadi aku, kira-kira gimana?"tanya Rara balik.


"Dari awal aku jelas nggak bakal mau Ra, meskipun dia kaya Raya,   yang aku cari sekarang ketenangan,"


"Jadi itu salah satu alasan mbak Sandra tidak mau kembali, meskipun sudah ada anak diantara kalian?"


"Itu alasan kedua Ra, aku sekretarisnya, semua jadwalnya aku tau, tempat apa saja yang dikunjunginya aku tau,"


Rara tertawa,


"Kok malah ketawa, ngeledek aku ya!"


Rara melambaikan kedua tangannya, "nggak ngeledek, cuman lagi ingat sesuatu,"ujarnya, "Bang Alex sering ke club' yang dikelola mami Belinda ya mbak?"lanjutnya bertanya,


Sandra dan Cristy terkejut.


Rara tertawa melihat ekspresi kedua wanita itu, "biasa aja, nggak usah kaget gitu kali,"


"Kok kamu tau tentang Mami Belinda?"tanya Cristy.


"Jangan bilang Nando bawa kamu ketempat kayak gitu?"giliran Sandra yang bertanya.


"Aku nggak kenal yang namanya mami Belinda, sebatas tau, kalau beliau pemilik beberapa club' malam di Jakarta dan Bali,"


"Dan nggak usah nanya lanjutannya, oke mbak-mbak cantik,"ucap Rara.


Terlihat raut wajah tidak puas di kedua wanita itu, tapi Rara berusaha tidak peduli.


Mereka berada di rumah hingga malam tiba, bahkan tadi sore Sandra yang memandikan Arana, sedangkan Cristy yang memakaikan baju bayi.

__ADS_1


Mereka juga memesan makanan dari ojek online untuk makan malam bersama.


__ADS_2