Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus delapan belas


__ADS_3

Dalam perjalanan mengantar Cristy ke tempat kerjanya, mobil yang dikemudikan oleh Pradikta melewati showroom yang menjual sepeda motor dengan merk asal negeri Sakura, Rara meminta sahabatnya untuk mampir terlebih dahulu.


Wanita hamil itu mengajak Cristy untuk masuk dan memilih mana motor yang diinginkan oleh wanita berusia tiga puluh tahun itu.


Sempat terjadi perdebatan, Cristy pikir Rara tidak serius dengan ucapannya ketika wanita hamil itu mengatakan akan membelikannya motor.


Awalnya Cristy berfikir jika Rara hanya akan membayar uang muka saja, sementara untuk cicilan tiap bulan, biar dirinya yang akan membayar, karena bagaimanapun, motor itu atas nama Cristy.


Tetapi alangkah terkejutnya Cristy ketika mendapati, motor itu telah lunas dibayar oleh Rara,


Wanita hamil itu memberikan kartu debit pribadi miliknya sendiri, Cristy tak menyangka jika Rara royal seperti halnya Fernando.


Cristy meminta pihak showroom mengantarkan motornya ke kontrakannya lima hari lagi, dikarenakan ia harus bekerja selama beberapa hari ke depan.


Urusan dengan showroom selesai, Cristy baru diantar ke tempat kerjanya.


Usai mengantar Cristy, Pradikta melajukan mobilnya menuju rumah sakit, untuk menjenguk Ayudia.


Sesampainya di rumah sakit, Rara mengajak Pradikta ke kantin rumah sakit terlebih dahulu.


Disinilah keduanya sekarang, duduk berhadapan dengan sajian dua porsi soto ayam beserta nasi, juga dua botol air mineral dingin.


Keduanya mulai menyantap makanan itu sambil mengobrol.


"Ra, dari tadi aku perhatikan, setelah tadi keluar dari showroom, muka kamu pucat, apa kamu baik-baik aja?"tanya Pradikta yang sedari tadi ada yang tidak beres dengan sahabatnya.


Rara mengelap mulutnya dengan tisu, ia tersenyum dan menatap sahabatnya, "perut aku udah mulai mules Ta, kayaknya mau lahiran deh,"jawabnya santai lalu melanjutkan makannya lagi.


Pradikta membulatkan matanya, ia tak habis pikir dengan sahabatnya, "kenapa nggak bilang sih Amara? Udah berapa menit sekali? Kenapa kamu malah santai sih Ra?"pertanyaan bertubi keluar dari mulutnya.


Rara menghentikan kunyahan nya, "jangan panik Pradikta, santai aja sih, masih jarang kok, lagian kalau aku bilang, adanya kamu panik, kalau panik kita nggak bisa sampai sini dengan selamat,"jelasnya.


Pradikta tak lagi menyentuh makanannya, ia kehilangan nafsu makan seketika, "sejak kapan pertama kali kamu mulas?  Pantesan tadi di cafe aku sempat lihat kamu meringis, bodohnya aku nggak sadar,"


Rara meminta sahabatnya membukakan botol air mineral miliknya, lalu meminumnya sedikit, "waktu aku jalan ke Cafe, aku sengaja jalan dari rumah umi, biar cepat prosesnya, kayaknya udah feeling dari pagi,"


"Kamu udah kabari suami kamu ?"


Rara menggeleng, "kasihan mas Nando, paling baru sampai Lembang, kalau balik lagi, kecapekan malah sakit,"


"Amara kamu mau lahiran ini, kok santai banget sih,"


"Aku nggak mau tegang Ta, terakhir periksa tekanan darah aku naik sedikit, aku nggak boleh stres, aku mau lahiran normal, jadi sekarang kita habiskan makanan lalu kita ruangan Dia baru setelah itu aku ke tempat dokter Natasha, buruan abisin, aku perlu tenaga banyak, dan tolong buat aku ketawa, biar aku nggak tegang, kamu harus dampingi aku ta, please!"

__ADS_1


Pradikta mengangguk, sebisa mungkin ia harus menghabiskan makanannya, walau rasanya seperti menyangkut di kerongkongannya.


Hanya beberapa menit saja makanan dihadapan mereka telah tandas,


Rara mengelus perutnya, wanita hamil itu kekenyangan, ia berucap syukur bisa menghabiskan makanannya.


"Aku pinjam kursi roda ya Ra,"ujar Pradikta saat keduanya baru saja keluar dari kantin.


Rara menggeleng, ia malah menggandeng lengan Pradikta, ia butuh sandaran saat mulas itu datang, ia juga mengelus perut buncitnya.


"Kita langsung ke ruangan Dia, aku mau kasih tau, sekalian minta doa sama Dia,"


Mereka menaiki lift menuju lantai atas tempat dimana ruang rawat Ayudia,


Di lift keduanya bertemu Oscar dengan baju hijau, mungkin sehabis dari ruang operasi yang ada dilantai empat,


"Loh, Amara kenapa kesini?"tanya Oscar heran istri sahabatnya bersama lelaki lain.


"Hai dokter Oscar, aku mau nengok Ayudia,"jawabnya.


"Bukannya Nando lagi ke Lembang ya?"


"Iya tadi pagi sama Nicholas,"


Oscar hanya mengangguk.


Rara dan Pradikta masuk ke ruang rawat Ayudia setelah sebelumnya menggunakan pakaian khusus.


Wanita hamil itu duduk di kursi yang berada tepat di samping ranjang pasien, mungkin sebelumnya ada yang menjenguk Ayudia.


Pradikta menyentuh punggung tangan kanan Ayudia, sedangkan Rara menggenggam tangan kiri Ayudia, wanita hamil itu mencium punggung tangan itu,


"Di, ini Amara, sahabat kamu, aku datang sama Dikta, tolong buka mata kamu,"


Ayudia membuka matanya perlahan,


"Di, aku udah ngerasain mules nih, kayaknya mau lahiran deh, bantu doa ya, jujur aku takut banget, coba kamu dampingi aku,"ujar Rara mulai terisak,


"Di, cepat sembuh dong, aku mau cerita banyak sama kamu,"


Jari tangan Ayudia bergerak, seolah memberikan semangat pada sahabatnya.


Pradikta mencium punggung tangan cinta pertamanya, "Ay, aku mau temenin Amara lahiran, masa suaminya nggak dikasih tau, aneh kan?"

__ADS_1


"Udah gitu suaminya Amara ngeselin tau, masa aku dihajar sampai babak belur, cuman karena aku peluk dan cium keningnya Amara, padahal suami  kamu biasa aja ya, emang tuh bar-bar banget suaminya Amara, bisa-bisanya, Amara yang penakut bisa nikah sama laki-laki garang kayak gitu, kamu juga, punya suami kasar, sampai kamu terbaring disini, aku kesel banget, cuman bagaimana lagi, ini udah pilihan kalian, jadi aku nggak akan nikah selama-lamanya,"


Rara melototi Pradikta, bisa-bisanya sahabatnya bercerita seperti itu pada Ayudia.


Dan perempuan yang sedang terbaring tak berdaya itu mengeluarkan air mata, seolah bisa merasakan kesedihan dari cinta pertamanya.


"Nggak usah didengarkan omongan Dikta, pokoknya Di, doain aku ya, sekarang aku pamit dulu, aku mau ke dokter Natasha dulu, kayaknya mules lagi di,"


Setelah mengatakannya, Rara kembali mencium tangan dan pipi Ayudia.


Saat keduanya keluar dari ruangan itu, mereka bertemu dengan Benedict dan Rama.


Keempatnya sama-sama terkejut, mungkin Benedict dan Rama tak menyangka jika istri dari sahabatnya malah bersama Pradikta disaat Fernando sedang tidak ada di ibukota.


Padahal mereka mendengar cerita dari Alex jika Fernando menghajar Pradikta beberapa hari yang lalu karena cemburu, bahkan lebam itu masih terlihat di wajah lelaki itu.


"Dikta Lo nggak kapok habis dihajar sama Nando, bisa-bisanya Lo bareng Amara lagi? Mau mati Lo?"ucap Rama,


"Mas Rama apa-apaan si? Nggak usah macem-macem, Dikta cuman temenin Rara nengok Dia kok,"ujarnya.


Giliran Benedict angkat bicara, "Amara jangan sampai Nando nggak bisa nahan amarahnya dan berakhir membuat Dikta mati,"


Rara dan Pradikta terkejut dengan ucapan Benedict,


"Maaf mas Ben, tapi saya nggak peduli,"ungkapnya sambil melototi bos dari suaminya, lalu Rara menggandeng lengan Pradikta meninggalkan kedua sahabat suaminya, "ayo Ta, aku nggak mau stres denger omongan mereka,"


Baru beberapa langkah, Pradikta menghentikan langkahnya, tanpa menatap kedua orang di belakangnya, lelaki itu berkata, "kami akan ke ruangan dokter Natasha, dan tolong jangan buat sahabat saya stres, jika sampai itu terjadi, bukan saya yang akan dihajar sama suami Amara, tapi kalian,"


Setelah mengatakannya, Pradikta menuntun Rara meninggalkan kedua orang itu.


Sementara Benedict dan Rama saling pandang,


"kalau mereka ke dokter Natasha, maksudnya apa  ya Ben?"tanya Rama.


"Kalau urusannya sama Asha, berarti mau lahiran kali,"jawab Benedict asal.


Keduanya saling pandang lagi, "Amara mau lahiran,"jawab mereka bersamaan.


"Kabari Dodo ram, bisa ngamuk dia nggak dikasih tau,"perintah Benedict.


"Lagian Lo Ben, kan gue bilang entar aja nyuruh Dodo ke Lembang, sekarang bininya masih lahiran dan dia nggak disini, abis deh ni rumah sakit diamuk dia,"


"Cari sewaan heli Ram sekalian pilot, jemput Nando sekarang juga, cepat,"perintahnya.

__ADS_1


Rama menjadi panik dan mengambil ponselnya, mencari kontak salah satu tempat yang menyewakan helikopter.


__ADS_2