Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus lima puluh sembilan


__ADS_3

Rara masih sesenggukan ketika wanita itu duduk dipangkuan suaminya, ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang lelaki itu.


Kata maaf terus terdengar di telinganya, berkali-kali Fernando meminta maaf padanya sambil mengelus punggungnya lembut.


Hingga Rara merasa cukup menyalurkan emosinya, wanita itu memilih bangkit,


"mau kemana?"tanya Fernando menahan tangan istrinya.


"Aku mau cuci muka,"jawabnya sambil melepaskan genggaman tangan suaminya dan berjalan menuju kamar mandi.


Fernando mulai mengenakan baju yang tadi disiapkan oleh istrinya.


Sudah lebih dari sepuluh menit, namun istrinya tak kunjung keluar dari kamar mandi.


Fernando mengetuk pintu itu, tak lama istrinya keluar hanya mengenakan handuk yang melilit tubuhnya,


Terlihat mata sembab wanita itu,


Sepertinya Ia melakukan kesalahan besar, ini kali pertama istrinya sampai menangis seperti ini.


Ada tanya dalam hatinya, apa yang terjadi semalam? kenapa Rara bisa semarah itu?


Seolah tak mempedulikan keberadaan suaminya, Rara membuka kopernya untuk mengambil baju yang akan dikenakannya, bahkan ia tak peduli saat membuka handuknya lalu mulai memakai dalaman tepat didepan lelaki itu.


Dalam hati Fernando mengumpat, rasanya ia ingin sekali menyeret istrinya untuk berperang peluh diatas ranjang, namun ia sadar diri, wanita itu sedang tidak baik-baik saja, tak mungkin ia meminta haknya.


Rara mengenakan bokser dan sport bra dilapisi kaos oversize berwarna putih,


Lagi-lagi Fernando hanya bisa mengumpat didalam hati, hanya dengan melihat istrinya seperti itu, bagian bawahnya mulai mengeras.


Ia jadi menyesal telah bertemu dengan mantan pacarnya, andai semalam ia hanya sebatas menyapa, mungkin istrinya tak akan semarah ini.


Sejujurnya rasanya ia senang sekali, Istri dan putrinya datang, ia pikir keduanya telah pergi menghilang.


Rasanya ingin berteriak bahwa ia sangat bahagia mereka datang, namun hal itu tak mungkin dilakukannya, istrinya tengah merajuk.


Fernando hanya bisa diam melihat semua aktivitas yang dilakukan istrinya.

__ADS_1


Wanita itu tengah menyusui putrinya secara langsung sambil berbaring miring di ranjang.


Lagi dan lagi ia hanya bisa mengumpat didalam hati, rasanya tersiksa sekali, saat melihat ****** itu dihisap oleh putrinya, andai ia yang ada diposisi balita itu, atau memegang pinggang ramping nan mulus itu, hal yang sedang ia harapkan.


Wanita yang sudah dua kali hamil dan satu kali melahirkan itu, memiliki kulit perut yang mulus, putih bersih, tak ada Stretch mark di sana.


Rasanya ia ingin menciuminya dan meninggalkan beberapa jejak di sana.


Fernando hanya bisa diam dan pasrah melihat tubuh nan menggoda itu, meski rasanya ia tersiksa kepalanya mulai terasa pening, ini bukan pengar, tapi hasrat yang butuh dilampiaskan, belum lagi adik kecilnya yang semakin membuat celana formalnya sesak.


Setelah memastikan putrinya tertidur dengan nyenyak, Rara memindahkan putrinya ke boks bayi disebelah ranjang.


Lalu ia membuka kaos oversize itu menyisakan dalaman berwarna hitam, kontras sekali dengan kulitnya yang putih.


Rara mengambil air mineral didalam botol yang ada meja kecil dekat sofa, lalu menuju ke balkon.


Rara yang malas akan bertemu mantan pacar suaminya jika keluar kamar, memilih merebahkan tubuhnya di kursi didekat private pool.


Rara memejamkan matanya, menikmati cahaya matahari yang mulai membakar kulitnya.


Belum sampai lima menit di sana, ada seseorang yang duduk disisi kosong kursi panjang itu, siapa lagi kalau bukan suaminya.


Lelaki itu menceritakan secara detail apa saja yang ia bicarakan dengan Kelly termasuk curhatan wanita itu tentang suaminya yang berselingkuh dengan sekretarisnya, tak ada yang terlewat, termasuk ajakan Kelly untuk mengenang masa lalu, namun dengan tegas Fernando menolak.


"Amara bukankah kamu tau, aku sangat mencintaimu, aku tak akan mengkhianati janji pernikahan kita, sejujurnya semalam aku kecewa dengan penolakan kamu,"


"Ra, apa yang harus aku lakukan supaya kamu maafin aku?"


Rara yang sedari tadi memejamkan matanya, langsung membuka matanya begitu mendengar pertanyaan lelaki itu.


Rara bangkit duduk bersisian dengan suaminya, ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, "aku mau sendiri,"jawabnya.


Mendengar jawaban istrinya, Fernando menoleh, sambil melebarkan matanya, lelaki itu menggeleng, "Ra, aku nggak sampai tidur sama dia, kenapa kamu segitu marahnya sama aku?"


"oh jadi aku nggak boleh marah, kalau tau suami aku bermesraan dengan mantan pacarnya, bahkan perempuan itu membahas soal aku yang bukan tipe kamu, dia juga bilang jika dia bisa puaskan hasrat kamu, aku sadar diri aku hanya perempuan biasa yang tak sehebat dan secantik mantan-mantan kamu,"


"Ra, itu nggak benar, aku mencintai kamu, dengan kamu urusan ranjang aku terpuaskan, tanpa kamu melakukan apapun aku sudah berhasrat sama kamu, kalau aku tidak puas, buat apa aku minta itu sering-sering ke kamu, kamu candu aku Ra,"

__ADS_1


"dah lah, aku malas, aku nggak mau denger, aku capek, aku lelah jalani ini, berkali-kali kamu mengecewakan aku, mungkin dengan kita berpisah, kamu bisa meneruskan hobi lama kamu tanpa terbebani dengan status kita,"


Fernando menggeleng, "aku nggak mau, ingat Amara, kamu milik aku, dan selamanya akan begitu, aku tidak akan melepaskan kamu apapun alasannya,"


Setelah mengatakannya, Fernando mencium bibir itu, ia menyesapnya dan memasukan lidahnya, ungkapan rasa amarah sekaligus kecewa dengan permintaan istrinya.


Rara memberontak, ia memukuli dada bidang suaminya, namun dengan sigap, Fernando menahan kedua tangan istrinya dengan satu tangannya, sementara satu tangan lagi menahan tengkuk wanita itu untuk memperdalam ciumannya.


Tak cukup sampai disitu, Fernando mengangkat istrinya tanpa melepas tautan bibir itu, lalu membawanya ke ranjang.


Ia merebahkan istrinya lalu menahan kedua paha wanita itu dengan lututnya, makian istrinya bagaikan suara yang semakin membuat hasratnya bangkit.


Dengan cepat, Fernando mulai membuka seluruh kain yang menempel di seluruh tubuhnya.


Istrinya masih memberontak dan memberikan penolakan, bertubi-tubi, namun Fernando seolah tak peduli.


Tanpa ada pemanasan ia memulai aksinya, suara jeritan istrinya tak ia pedulikan, ia marah, ia kesal, istrinya meminta berpisah darinya, hal yang paling ia benci.


"Tanamkan di otak kamu Amara, aku tak akan melepaskan kamu selamanya, Amara hanya milik Fernando,"


Lelaki itu terus melakukannya, peluhnya mulai bercucuran, suasana kamar terasa panas, meskipun angin dari luar berhembus.


Fernando tau betul, meskipun istrinya memberontak, tapi ia tau wanita ini hampir mencapai puncaknya, ia mempercepat gerakannya agar mendapatkan pelepasan itu secara bersamaan.


Hingga tubuh keduanya bergetar menandakan mereka mencapai kenikmatan dunia.


Fernando tak melepaskan tautan itu, ia memangku istrinya dan bersandar di head board ranjang.


Dirinya tau istrinya tak nyaman dengan cairan yang bercampur dibawah sana, tapi ia tak peduli, toh sebentar lagi hasratnya juga akan bangkit kembali.


Ia menahan tubuh polos wanita itu, lalu berbisik, "Amara sayang, sekali lagi kamu meminta berpisah dari aku, akan aku pastikan kamu tak akan bisa bertemu lagi dengan Arana dan aku akan mengurung kamu di salah satu pulau yang akan aku beli, kita akan menghabiskan seumur hidup kita di sana, hanya kamu dan aku hingga kita berdua sama-sama mati, kamu mengerti Amara,"


"kamu ingat, baik-baik Amara, aku tidak main-main dengan ucapanku,"


Dan sesuai yang diperkirakan nya, hasratnya kembali bangkit, tapi sepertinya ia akan menyelesaikan kegiatan panasnya di kamar mandi sambil mandi bersama.


Fernando tak peduli dengan keadaan istrinya, ah... ia jadi teringat tentang sahabatnya yang membuat Ayudia sampai pingsan tak sadarkan diri karena berkali-kali harus melayani nafsu Benedict, mungkin ia akan melakukan hal yang sama seperti yang sahabatnya lakukan.

__ADS_1


Pelajaran bagi istri pembangkang adalah membuat wanita itu pingsan di ranjang, sekaligus menunjukkan bahwa sang Raja tak bisa dikalahkan oleh sang Ratu.


__ADS_2