Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
delapan puluh tiga


__ADS_3

Suri yang membawa motor, bukan hanya mengajak Rara untuk membeli pembalut di minimarket, tapi mengajaknya ke pusat kota yang lumayan jauh dari rumah umi Fatimah.


Awalnya Rara menolak, dengan alasan dirinya tidak membawa ponsel maupun dompetnya, namun berkat bujukan gadis itu akhirnya Rara hanya bisa menurut.


"Mumpung disini mbak, kapan lagi kan kita bisa jalan-jalan berdua,"ujarnya.


Dan disinilah keduanya sekarang, didepan bioskop disalah satu mall terkemuka di kota itu.


"Kita ngapain kesini sih suri, aku nggak bawa uang sama sekali loh,"ujar Rara mengingatkan.


Suri yang sedang mengantri tiket hanya nyengir sambil berucap, "mbak, aku mau balas kebaikan AA melalui mbak Rara, jadi hari ini aku pengen nyenengin mbak,"


"Kan yang baik mas Nando, kenapa jadi balasnya ke aku sih,"protes perempuan berhijab army itu.


"Sekarang Suri tanya, menurut mbak Rara, Kira-kira Aa mau nggak aku traktir kayak gini?"


Rara mengangkat bahunya,


"AA itu nggak mungkin mau diajak sepupunya jalan-jalan kayak gini, padahal Suri hanya ingin membalas kebaikan AA, yang udah biayain kuliah Suri hingga lulus dan kemarin suri dapat gaji pertama karena ada mbak Rara jadi mbak sebagai istrinya AA, suri traktir deh,"ucap gadis berusia dua puluh dua tahun yang mengenakan jilbab berwarna Salem.


Tak punya pilihan lain karena sudah berada disini, akhirnya Rara hanya bisa pasrah mengikuti ajakan sepupu dari suaminya itu.


Bukan hanya ditraktir menonton film, untuk camilan juga minuman lagi-lagi Suri yang memberikannya.


Disisi lain, Fernando baru saja sampai di rumah umi Fatimah usai mengunjungi villa yang berada di Bogor.


Saat memasuki rumah, ia bertemu Umi yang baru saja keluar dari kamarnya,


"udah pulang kondangan mi?"tanya Fernando yang berjalan menuju dapur untuk mengambil air mineral di kulkas.


"Udah dari tadi pulangnya, kamu tumben pulang cepat biasanya sampai sore di villa,"jawab umi Fatimah sambil duduk di kursi ruang makan.


"villa aman, lagian Nando nggak bawa Rara kan, buat apa lama-lama, terus sekarang Rara kemana mi?"


"Mungkin dikamar,"


Mendengar ucapan uminya, usai minum, Fernando beranjak menuju kamarnya, namun ia tak mendapati istrinya di sana,


"Rara nggak ada mi, aku telpon, tapi handphonenya ada diatas meja rias,"ucap Fernando yang kembali menemui uminya.


"Coba kamu ke gazebo belakang, kayaknya tadi Rara ngobrol sama Nicholas,"


Tanpa menanggapi, Fernando berjalan menuju pintu disamping dapur, diikuti oleh umi Fatimah.

__ADS_1


Di gazebo belakang, lelaki itu hanya mendapati Nicholas yang sedang bermain game.


"Dimana istri saya?"tanya Fernando ketus.


Remaja yang sedang serius memainkan ponselnya, terkejut dengan kedatangan ayah kandungnya, ia terpaksa menghentikan permainannya dan menyimpan ponselnya disaku celana miliknya.


"Tadi jalan ke arah sana,"tunjuk remaja itu kearah sawah.


Fernando berjalan menuju arah yang ditunjuk putranya, sedangkan umi Fatimah memilih duduk di gazebo sambil melihat putranya yang berjalan semakin jauh.


Hening diantara cucu dan nenek di sana, keduanya seolah kompak melihat ke arah yang sama.


Hingga umi Fatimah angkat bicara, "boleh Nini tau, apa yang kalian bicarakan tadi?"tanyanya.


Nicholas melihat neneknya, lalu mengalihkan lagi pandangannya ke arah dimana ayah kandungnya berada.


"Dia meminta saya untuk bertahan setidaknya setahun bersama nini sampai pekerjaan Daddy selesai, lalu dia juga meminta saya untuk menerima dia dan Daddy sebagai wali, karena mommy sedang menjalani pengobatan,"


Nicholas menghembuskan nafas berat, "tapi saya bertanya sekaligus meminta, jika mommy nanti sembuh, saya berharap dia meninggalkan Daddy supaya saya mempunyai keluarga yang utuh, hanya itu yang saya minta dari dia,"


Umi Fatimah tercengang dengan ucapan dari cucunya itu, "kamu meminta itu kepada menantu Nini?"seolah tak percaya, perempuan paruh baya itu bertanya lagi, "lalu apa jawaban dari menantu Nini?"


"Dia hanya menyuruh saya untuk menanyakan kepada Daddy,"jawab remaja laki-laki itu.


"Jika Daddy benar-benar menginginkan saya, Daddy pasti akan meninggalkan dia untuk saya putra kandungnya,"jawab Nicholas.


Tak lama Fernando berlari tergesa-gesa menuju umi juga putranya, dengan wajah panik, Lelaki itu berkata, "Rara nggak ada, Nando tanya ke orang-orang di sawah, tapi nggak ada yang liat Rara,"


"Kamu yakin do?"


Fernando mengangguk, "kalau Rara menghilang lagi gimana mi? Nando nggak mau mi,"ujarnya semakin panik.


Umi Fatimah mengelus punggung putra semata wayangnya, "umi yakin Rara nggak kemana-mana, mungkin lagi main disekitar sini saja, tenang ya A,"


Sambil menenangkan putranya, umi Fatimah melirik cucunya seolah mengatakan, "lihatlah bagaimana jika Daddy kamu ketika kehilangan istrinya,"


Nicholas hanya menunduk usai nini-nya menatapnya tajam.


Sedangkan ditempat lain, Rara bersama Suri sedang makan disalah satu restoran cepat saji usai selesai menonton bioskop.


Suri bercerita tentang dirinya yang sedang didekati oleh salah satu rekan kerjanya, gadis itu meminta saran dari Rara.


"Ya kalau menurut aku sih, mending kamu fokus kerja dulu, kan kamu juga baru sebulan kerja disitu,"ucap Rara memberi saran.

__ADS_1


"Dia getol banget mbak, pedekate sama aku,"keluh gadis itu.


"Kamu bisa tegaskan ke dia, jika memang kamu tidak menyukainya,"


"Suri takut dia tersinggung, bagaimanapun dia kan senior di tempat kerja aku mbak,"


"Atau gini aja, besok kamu minta mas Nando antar ke kantor lalu kamu kenalkan sebagai tunangan kamu,"usul Rara.


"Emang Aa mau?"tanya Suri tak yakin.


"Nanti mbak yang bilang deh,"jawab Rara.


"Beneran ya mbak,"


Rara mengangguk dan senyum mengembang menghiasi wajah putri sulung dari Imas dan Hendi itu.


Keduanya masih menikmati makanan dengan menu nasi ayam crispy dengan minuman cola.


"Mbak, boleh Suri tanya?"


Rara mengangguk.


"Nicholas itu anak kandung AA sama mantan pacarnya waktu SMA ya? Lalu apa mbak nggak marah?"tanya Suri penasaran.


Rara tak langsung menjawab pertanyaan dari sepupu suaminya itu, ia lebih memilih meminum cola miliknya.


Setelah berhasil menelan makanan juga minuman itu, Rara baru angkat bicara, "marah sih, tapi kalau dipikir-pikir nggak ada gunanya aku marah, nggak bakal mengubah keadaan kan? Aku udah terlanjur menikah dengan mas Nando dan tentu sulit untuk kami berpisah,"jawabnya.


"Apa mbak udah terima Nicholas sebagai putra tiri mbak?"


"Mau tidak mau, Mbak harus terima kan? Memangnya ada pilihan lain?"


"Kalau aku di posisi mbak Rara, aku nggak bakal mau terima anak diluar nikah,"ungkap Suri kesal.


"Suri, mbak rasa Nicholas juga tidak mau dilahirkan oleh orang tua yang belum menikah, sudah garis hidupnya dia lahir dari mommy dan daddy yang belum menikah, itu juga hanya kesalahan masa muda mas Nando dan mantan pacarnya kan?"


"Ya iya sih, tapi serius mbak Rara nggak marah sama AA?"


"Kamu bisa tanya sama kakak sepupu kamu, apa mbak marah sama dia saat tau ada perempuan yang membawa putranya dan mengaku bahwa itu putra dari suami mbak?"


"AA Beruntung bisa dapat mbak Rara loh,"


Obrolan mereka berlanjut hingga makanan habis tak bersisa.

__ADS_1


Usai makan, Suri mengajak Rara ke toko kue sebelum pulang ke rumah, katanya ingin membelikan untuk ambu dan Abah juga uwa Fatimah.


__ADS_2