
Malam harinya saat pasangan suami istri itu hendak tidur, keduanya mengobrol,
"Rara Sayang, besok pagi kita ke Lembang yuk, aku mau mantau villa yang di sana kita menginap sehari, lalu ke tempat umi di Sukabumi sambil mantau villa yang di Bogor,"jelas Fernando.
"Muter-muter gitu mas,"ujar Rara heran.
"Lah itu kan emang kerjaan aku sayang,"ungkap lelaki yang tengah membaringkan tubuhnya menghadap istrinya.
Rara yang terlentang melirik suaminya sekilas, "kirain cuman seputar Bali, Surabaya sama Malang aja,"
Fernando menghela nafas, "sebenarnya Ben ada rencana buat resort di timur Indonesia, tapi aku menolak, emangnya aku robot apa? Apa lagi sekarang udah ada kamu, aku kan pengin menghabiskan waktu sama kamu,"
"Memangnya nggak ada orang lain yang bisa dipercaya sama sahabat kamu itu?"tanya perempuan yang mengenakan daster putih bergambar strawberry.
Fernando menggeleng, "belum Nemu orang yang bisa dipercaya, kalau udah ada, aku mau mengundurkan diri aja, aku ingin menetap di satu tempat, nggak pindah-pindah kayak sekarang,"jawabnya.
"Misal ya mas, kalau udah menetap kamu mau tinggal dimana?"tanya Rara.
Lelaki blasteran itu terdiam sejenak lalu bertanya, "menurut kamu sebagai istri aku, lebih enak tinggal dimana?"
"Kok malah nanya ke aku? Kan kamu suaminya, ya terserah kamu mau tinggal dimana, tapi kalau kamu mengundurkan diri, kamu mau kerja dimana?"
"Aku mau kerja dari rumah aja, biar bisa berduaan sama kamu terus,"
Rara memutar bola matanya malas, ia tau maksud terselubung suaminya itu, "aku nggak mau ya, punya suami pengangguran,"
"Aku ga nganggur sayang, kan aku bilang, kalau aku kerja di rumah,"
"Kamu kerja di rumah? Kamu mau jualan sembako apa jadi bos kontrakan atau jualan online gitu?"
"Kalau bos kontrakan mungkin sih, tapi kalau jualan sembako nggak mungkin, apalagi jualan online,"
"Emang kamu udah punya lahan buat dibangun kontrakan?"
__ADS_1
Fernando menggeleng, "aku investasikan uang aku bukan dalam bentuk properti, aku jadi investor gitu, jadi aku cukup kasih tambahan modal tanpa turut campur internal perusahaan, ya kalau ada masalah besar aja, kadang aku kasih masukan dikit,"
Rara mengangguk paham, "jadi yang dimaksud kamu bekerja dari Rumah itu, kamu memantau perkembangan perusahaan yang kamu beri investasi begitu?"tanyanya memastikan.
"Kurang lebih begitu, oh ya sekarang kan kamu istri aku, dan jika nanti kamu hamil lagi lalu anak aku lahir, nama kamu akan aku masukan sebagai ahli waris dari harta kekayaan aku,"jelas lelaki itu.
"Memangnya kamu sekaya apa sih? Eh aku jadi ingat, tiga tahun lalu kamu kan ngasih uang kompensasi ke mbak Cristy sampai lima ratus juta ya, belum properti yang lain, berarti kekayaan kamu bermiliar-miliar dong,"
"Kenapa diungkit sih, udah lewat, nggak usah diingat dong,"ujar lelaki itu kesal.
"Ya nggak gitu, aku cuman lagi mikir uang kamu sebanyak apa,"
"Makanya kamu cepat-cepat hamil, jadi kamu bisa tau jumlah nominal uang aku yang di bank Swiss atau berbagai investasi yang aku punya,"
"Aku sih bodo amat sih, dikasih tau syukur, kalau nggak ya nggak masalah, selama aku bisa cari uang sendiri, aku nggak mau minta sama kamu,"ungkap Rara polos.
Fernando mengernyit, "kamu cari uang sendiri? Maksud kamu apa? Bukannya kamu udah nggak kerja,"
Rara menutup mulutnya, ia lupa harus merahasiakan soal bisnis onlinenya bersama Fitri, untuk berjaga-jaga agar suatu saat jika rumah tangga mereka bermasalah, dia punya tempat untuk lari dan bisa bertahan hidup,
"Aku pikir kamu punya usaha lain,"ucap Fernando curiga.
Rara sempat tertegun, suaminya seperti bisa membaca pikirannya, namun ia berusaha untuk menyembunyikan usahanya itu, "mas, kalau aku punya usaha boleh nggak?"tanyanya.
"Buat apa sih sayang, kamu cukup dampingi aku, lalu kalau ada yang ingin kamu beli atau ingin kamu lakukan, kamu bisa kasih tau aku, nanti aku kasih uang, kalau nggak besok kamu aku kasih kartu untuk keperluan kamu sendiri, terserah mau dipakai untuk apa, mungkin kamu ingin beli baju atau tas, apapun itu,"
"Terserah kamu deh, tidur cepat yuk, aku ngantuk, besok kan mesti siap-siap,"
Fernando mengangguk, namun sebelum tidur ia mencium kening istrinya, dan memeluk wanita itu.
Keesokan harinya usai sarapan, pasangan suami istri itu beranjak meninggalkan rumah, menuju ke Lembang.
Perjalanan memakan waktu selama tiga jam dari ibu kota menuju villa.
__ADS_1
"Kamu tau dulu Ben sampai mengajak seluruh karyawan cafe beserta keluarganya hanya untuk merayu sahabat kamu yang kepala batu,"ujar Fernando ketika keduanya baru sampai villa.
"Maksud kamu Dia?"tanya Rara.
Fernando mengangguk, "iya dan aku dulu yang bohongi Ayu, kalau Ben minta mang Ujang kasih bayg*n, aku bilang aja kalau Ben mau bunuh diri karena patah hati gara-gara Ayu ngambek,"jelasnya.
"Memangnya gara-gara apa Dia sampai ngambek, kayaknya beda kasus sama kita kan?"
Pasangan suami istri itu disambut oleh penjaga villa, keduanya dipersilahkan menempati kamar yang sudah disediakan.
"Cuman gara-gara Ben transfer uang ke Anin, dan Ayu ngerasa Ben membayar dia karena mau dicumbui, padahal niat Ben nggak gitu, Ben cuman pengen kasih hadiah ke adik-adiknya Ayu sekalian buat pegangan Anin kalau seandainya Ayu lagi menginap di apartemen Ben,"
"Dia itu gitu-gitu gengsian banget, bener kamu bilang soal kepala batu, tau banget aku soal itu, dari SMA udah kayak gitu, aku sama Dikta cuman bisa mengelus dada kalau sifatnya kumat,"
"Oh jadi kepala batunya udah dari dulu ya?"
"Tapi biarpun keras kepala, Dia orangnya nggak tegaan loh, asal pasang muka melas pasti Dia bakal luluh, Dia juga orangnya nggak enakan, makanya terkadang dimanfaatkan orang,"
Keduanya duduk di sofa, Fernando memberikan air mineral yang sudah dibuka tutupnya kepada Rara, "coba dulu kamu nggak pake acara ngilang, dan aku tau kamu sahabatnya Ayu, kayaknya rumah tangganya nggak bakal banyak drama, dari sejak pedekate udah beberapa kali aku terlibat sama drama kedua sejoli rese itu, mana si Ben orangnya posesif dan cemburuan banget, udah gitu Ayu lebih dengarkan omongan aku dibanding yang lain,"
"Jadi kamu dekat sama Dia?"
"Ya gitu lah,"
Keduanya masih mengobrol soal Ayudia juga Benedict hingga tiba-tiba Rara berceloteh, "mas, ini kan di Lembang, coba sekitar villa dibuat kebun strawberry, kayaknya sisa tanahnya masih luas, cuman jadi lahan kosong doang, kalau ada kebunnya kan bisa jadi nilai tambah,"
Fernando terdiam mendengarkan celotehan istrinya, ia jadi memikirkan sebuah ide, lelaki itu juga teringat soal taman bermain, yang baru dua tahun ini sukses besar, banyak pengunjung yang berdatangan, dulu awalnya ia hanya ingin membeli villa, tapi atas saran Rara ia jadi memikirkan pembangunan taman bermain.
"Oke coba nanti aku diskusikan ke yang lain, bagus juga ide kamu, aku juga ingat berkat ide kamu soal taman bermain di Malang, sekarang sukses besar dan ramai pengunjung, terima kasih banyak loh,"
"Oh ya aku lupa, mbak Laras cerita, tetangga aku seneng banget loh dikasih gratis masuk taman bermain yang lagi viral di Malang, mereka berterima kasih sama kamu,"
"Kan kita nikah nggak ada resepsi, jadi uang buat resepsi buat nyenengin tetangga kamu aja,"
__ADS_1
Obrolan keduanya berlanjut hingga jam makan siang tiba.