
Ada rasa sesal pada diri Rara, akibat memancing emosi sang suami, awalnya ia berniat baik, ingin agar Fernando mendukung Tamara yang sedang mengalami masa sulit, juga Nicholas yang selama ini tumbuh tanpa kasih sayang ayah kandungnya.
Nyatanya pemikirannya justru menyakiti dirinya sendiri dan suaminya, bagaimanapun keduanya saling mencintai, Rara yang berfikiran pendek, karena permintaan Tamara saat dirinya mendampingi wanita itu saat menjalani pengobatan dan permintaan Nicholas kemarin.
Harusnya dirinya tak boleh goyah, ia yang lebih berhak atas suaminya dibandingkan dengan mantan pacar bahkan anak diluar nikah dari suaminya,
Rara bisa merasakan amarah dari suaminya ketika mereka berperang peluh, untuk pertama kalinya, lelaki itu melakukannya dengan kasar, seolah tubuh kekar itu hendak menghancurkan tubuhnya,
Dan sekarang ia baru merasakannya, sekujur tubuhnya remuk redam, pinggangnya pegal sekali, *********** sedikit lecet dan bengkak juga kakinya gemetaran jika berdiri.
Benar-benar tindakan gila menurutnya selama dirinya mengenal Fernando,
Rara menghela nafas, tadi terakhir saat melakukannya, ia bahkan memohon agar suaminya berhenti, ia sudah tak sanggup lagi rasanya, badannya lemas tak berdaya.
Mungkin jika diteruskan, dirinya akan berakhir tak sadarkan diri.
Rara masih membaringkan tubuhnya, karena tak sanggup jika harus berdiri dan berjalan ke kamar mandi, tadi ia sempat mencoba berdiri, tetapi berakhir jatuh terduduk, ia melirik ke suaminya yang tidur tengkurap dengan selimut menutupi hingga pinggangnya, kebiasaannya usai berperang peluh.
Karena merasa kandung kemihnya penuh, dengan terpaksa Rara membangunkan suaminya, ia menepuk lengan kekar itu seraya memanggilnya,
Lelaki itu membuka mata hijaunya, kelopaknya memerah, pertanda Fernando benar-benar tidur nyenyak, lelaki itu menatap Rara seolah bertanya ada apa,
"Aku mau pipis, tapi kaki aku gemetaran, tadi aku udah coba berdiri, tapi aku malah jatuh, bisa tolong kamu gendong aku toilet?"ungkap Rara,
Fernando menyunggingkan senyumannya, ini yang ia harapkan, istrinya membutuhkannya, meski hal remeh seperti saat ini, rasanya senang sekali,
Lelaki itu memakai bokser-nya yang tercecer di samping ranjang bersama dengan celana juga kemejanya.
Fernando bergegas menggendong tubuh polos istrinya ala bridal style dan membawanya ke kamar mandi lalu mendudukkannya di atas closet,
Lelaki mengisi bathtub dengan air hangat, tak lupa menambahkan aroma terapi lavender, bukan strawberry, ia tau istrinya butuh relaksasi akibat ulahnya tadi.
Tanpa banyak bicara usai memastikan Rara menuntaskan hajatnya, ia menggendongnya lagi, dan keduanya berendam di bathtub dengan posisi saling berhadapan,
Istrinya sempat protes dengan aroma yang ia pakai, dan ia menjelaskan alasannya, "kamu butuh merelaksasi tubuh sayang,"
Bibir itu manyun seolah tak terima aroma favoritnya tidak digunakan,
Tak menanggapi istrinya yang merajuk, ia justru tersenyum melihat maha karyanya disekitar leher wanita yang sepertinya belum menyadari apa yang terjadi dengan tubuhnya.
Fernando mulai memijat kaki istrinya, dan wanita itu terkejut akan tindakannya,
"Mas, aku benar-benar menyerah, aku nggak sanggup kalau melakukannya lagi, tadi pas aku pipis, perih loh,"protes wanita itu,
"Aku hanya mau pijat kamu, apa salahnya?"ujar Fernando masih dengan pijatan-pijatan lembut di kaki istrinya.
"Tapi aku tau pikiran kamu kalau sudah begini,"
"Aku hanya ingin istri aku membutuhkan suaminya, memangnya aku salah?"sindir lelaki itu.
Merasa suaminya masih merajuk, Rara berusaha mendekati suaminya, lalu memegang kedua sisi rahang tegas itu, "suamiku sayang, aku membutuhkan kamu kok, aku mencintai kamu, maaf seharusnya aku tidak boleh berbicara seperti itu,"
Fernando mengecup telapak tangan istrinya bergantian, tatapannya melembut, penuh cinta seperti biasanya, "jadi aku minta ini yang terakhir kamu mendorong aku untuk mendekati wanita lain!"
Rara mengangguk lalu mengecup dahi suaminya lembut, dan memeluknya erat,
__ADS_1
Dan perbuatan kecilnya membuat sesuatu mengeras dibawah sana,
Rara melotot kaget, "mas, kan aku bilang aku masih sakit,"
"Sayang itu naluri aku sebagai suami kamu, memangnya sejak kapan aku bisa menahannya jika aku dekat kamu?"
"Tapi aku masih sakit, masa iya mau begitu lagi,"
"Aku akan melakukannya dengan lembut, kita berada didalam air hangat kalau kamu lupa, aku jamin kamu tidak akan kesakitan, kamu percaya aku kan?"
Rara menghembuskan nafasnya kasar, tak punya pilihan lain, akhirnya wanita itu mengangguk,
Senyum mengembang menghiasi wajah lelaki blasteran itu, ia mulai aksinya.
Beberapa saat berlalu, usai melakukan kegiatan panasnya di bathub, Fernando terlebih dahulu membersihkan dirinya di guyuran shower tak jauh dari istrinya berada, lelaki itu baru keluar dari kamar mandi beberapa saat kemudian,
Rara melakukan mandi junub usai memastikan suaminya keluar dari kamar mandi, namun alangkah terkejutnya dirinya saat dirinya bercermin setelah menyelesaikan ritual mandinya, lehernya banyak terdapat tanda kemerahan, ia pikir hanya disekitar dada juga perut dan pahanya, lelaki itu benar-benar ganas.
Wanita itu keluar dari kamar mandi dengan bibir manyun, ia melihat lelaki itu sudah berganti pakaian dan sedang memegang i-pad, terlihat serius, entah apa yang sedang dikerjakannya,
Sudah ada makanan dan minuman yang tersedia di meja, Rara menghampiri lelaki itu, dan duduk berseberangan, ia masih memanyunkan bibirnya,
Fernando mengalihkan pandanganya pada istrinya, senyum mengembang secerah mentari pagi, "Rara sayang, makan yuk, kamu pasti lapar kan?"
Rara masih memanyunkan bibirnya, ia tak menanggapi ucapan suaminya, ia lebih memilih mengambil piring berisi spaghetti dengan saus bolognese ditaburi parutan keju, tak ketinggalan jus strawberry favoritnya.
Fernando melakukan hal yang sama, ia meletakan i-pad miliknya,
Keduanya menikmati makanan dalam diam, hanya terdengar denting garpu yang beradu dengan piring.
"Mas, kita menginap disini atau pulang ke Lembang?"tanya Rara.
"Menurut kamu bagaimana?"tanya lelaki itu balik.
"Aku nanya, kenapa balik nanya,"
Fernando terdiam berfikir, lalu berkata "kita menginap semalam disini, mungkin besok sore kita baru kembali ke Lembang, bagaimana menurut kamu?"
Rara mengangguk, "tapi ngomongin soal villa ini, tadi kok waktu kamu mau cek in, kamu nggak diminta kartu indentitas atau sejenisnya? Kayak udah biasa gitu,"
"Ini villa milik Umi Fatimah,"
Rara terkejut, tidak menyangka, mertuanya yang pensiunan seorang guru bisa memiliki usaha penyewaan villa cukup bagus,
"Nggak usah kaget gitu, sebenarnya Vatre meninggalkan uang yang cukup banyak untuk aku dan umi sebelum meninggal, seperti yang umi bilang pada Tamara, jika Umi sanggup membiayai hidup cucunya ya hasil dari sini, Umi memiliki villa ini dari aku kelas tiga SMP, ini juga berdiri diatas lahan warisan dari Nini dan aki, dengan uang dari vatre umi membiayai pembangunannya, dan aku sendiri yang mendesign nya,"jelasnya panjang lebar.
Rara mengernyit bingung, "tapi kan kamu masih SMP, emang bisa?"
Fernando yang sudah selesai mengeringkan rambut istrinya, menggulung hair dryer dan memasukkannya kedalam kabinet di samping ranjang,
"Dari kecil, suami kamu udah pintar Ra, cuman dulu bentuk bangunannya nggak kayak gini, dulu masih bangunan villa standar, baru sekitar dua tahun villa ini selesai direnovasi, sepulang aku dari pulaunya Ben, aku juga yang design, menurut kamu gimana?"tanyanya meminta pendapat istrinya.
"Menurut aku sih udah bagus dan nyaman, terus karena ini punya umi berarti...."Rara terdiam berfikir seolah menyiapkan kata yang tepat,
"Ini dikhususkan untuk keluarga dan pasangan bulan madu, tidak berlaku untuk pasangan yang belum menikah, kalau itu yang ada dipikiran kamu, bisa dibilang ini sesuai syariat,"jelas Fernando yang seolah tau apa yang dipikirkan istrinya.
__ADS_1
"Karena untuk keluarga, apa disini tersedia area untuk bermain anak-anak?"tanya Rara,
Fernando terdiam berfikir, sepertinya ia perlu mengajak istrinya untuk berkeliling mengunjungi villa, seperti biasa wanita ini selalu memberikan ide yang dapat menambah nilai lebih,
"Bagaimana kalau setelah ini, kita berkeliling, dan aku minta pendapat kamu, mungkin ada yang perlu aku tambahkan,"
Rara mengangguk tanda setuju, karena ia merasa keadaannya sudah lebih baik dari setelah berendam.
Usai menunaikan kewajibannya, Fernando mengajak istrinya berkeliling disekitar villa, sembari menjelaskan beberapa hal yang ada di sana, Rara mendengarkan sungguh-sungguh,
Sampai di taman villa, keduanya berhenti di bangku semen berbentuk batang kayu dengan meja dengan bahan yang sama,
"Gimana menurut Kamu?"tanya Fernando sambil memberikan susu uht rasa strawberry,
Rara menerima susu itu lalu meminumnya, ia menelannya terlebih dahulu, lalu mulai bicara, "keseluruhan udah oke sih, cukup lengkap, hanya saja bisa ditambakan fasilitas seperti permainan tradisional misalnya, untuk anak-anak bisa mengetahui permainan tempo dulu dan bisa juga untuk para orang tua, mengenang masa kecil mereka, kamu mengerti permainan yang aku maksud?"
Fernando manggut-manggut, mendengarkan pendapat istrinya, sembari menuliskan di I-pad miliknya.
"Bukankah tak jauh dari sini ada sumber mata air panas, bisa tidak air panasnya dialirkan kesini, seperti yang ada negara Jepang, kalau nggak salah Onsen namanya,"
Lagi-lagi Fernando melakukan hal yang sama seperti tadi,
"Apa disini sudah bisa dibuat untuk acara pernikahan?"tanya wanita itu,
Fernando menggelengkan kepalanya, "belum kepikiran sih,"
Rara mengernyitkan dahinya, sepertinya wanita itu berfikir cukup keras, "mas, kamu mengelola resort di Bali sudah sejak kapan?"tanyanya,
Lelaki itu diam berfikir, "sejak aku lulus kuliah sih, kenapa emang?"tanyanya,
"Bukankah, di sana ada fasilitas untuk wedding party, dan beberapa pesta lainnya, kenapa itu tidak diterapkan di villa umi? Jika di sana kamu bisa memberikan view lautan biru, disini kamu bisa memberikan view taman bunga atau pepohonan Cemara bukankah itu akan menambahkan nilai pada villa ini, itu bisa digabung dengan kamar untuk honeymoon, semacam bonus untuk pasangan suami istri yang baru resmi menikah, mereka tak perlu jauh-jauh untuk honeymoon, cukup ditempat mereka mengadakan pesta,"
Fernando mengangguk tak lupa menulis lagi di i-pad yang sedari tadi dipegangnya.
"Oh ya mas, villa yang di Lembang juga harusnya diberikan fasilitas untuk garden party dan wedding party, apalagi di sana lebih luas,"ujar Rara teringat villa yang sedang di renovasi itu.
"Boleh tuh, pendapat kamu mengenai villa milik umi, dan villa yang di Lembang, aku udah tulis, nanti aku akan bahas dengan mereka, sepertinya kamu bakal makin disayang sama umi melebihi aku yang anak kandungnya sendiri,"
Wajah Rara memerah mendengar pujian dari suaminya,
Fernando tersenyum melihat reaksi istrinya, "tapi aku mau tanya, kok kamu bisa punya pendapat menakjubkan kayak gitu sih, memangnya sebelum kenal aku kamu punya hobi traveling?"tanyanya.
Rara menghabiskan sisa susu strawberry miliknya, "nggak juga, hanya beberapa kali berkunjung ke villa di Batu saat masih kuliah sama teman-teman kampus, sama seneng nonton video di YouTube aja,"
Fernando mencium punggung tangan istrinya, "makin hari, aku makin terkejut dengan kepribadian dan wawasan kamu, ya walau ngambeknya sama ketusnya bikin aku pusing,"
"Memangnya aku suka ngambek?"
"Wah istriku amnesia, lupa kalau kamu hobi ngambek, apalagi kalau udah ngomel, omongannya mak jleb di hati,"
"Punya suami kayak kamu emang mesti begitu, kalau nggak bisa-bisa aku udah depresi dari awal aku kenal kamu,"
"Terima kasih ya Rara sayang, sudah hadir di hidup aku, tak disangka lelaki seperti aku mendapatkan anugrah sebesar ini, jangan pernah goyah apapun yang terjadi kedepannya, mungkin akan banyak rintangan yang menghadang, tapi percayalah, hanya kamu yang ada di hati aku, bagi aku, kamu perempuan paling berharga di dunia ini bersama dengan umi,"
"Sama-sama mas, kamu juga yang sabar menghadapi sifat aku ya!"
__ADS_1
Keduanya berpelukan, dibawah langit sore di taman bermain mini itu.