
Sebelum baca, mohon dukungannya ya! like, vote dan follow aku ya! terima kasih, selamat membaca.
Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya Fernando menciumi tangan kekasihnya, senyum menghiasi laki-laki blasteran itu, ia puas sekali, karena waktu yang ia miliki dengan kekasihnya semakin lama,
Sedangkan Rara hanya bisa pasrah, ia tak menyangka, Fernando mengikutinya.
Sesampainya di Bandara bagian barat ibu kota, sama seperti tadi, Fernando menggendong tas ransel, menggeret koper dan menggandeng tangan kekasihnya.
Dan disinilah sekarang, Rara berada didalam mobil mewah duduk bersebelahan dengan seorang wanita paruh yang memakai seragam layaknya seorang guru dan berjilbab.
Rara sama sekali tak bisa berkutik, saat Fernando memperkenalkan dirinya dengan umi Fatimah, ibu yang melahirkan lelaki itu.
Rara mencium punggung tangan Umi Fatimah, dan perempuan paruh baya itu memeluknya tak lupa cipika-cipiki di kedua pipinya.
"Semalam Nando telpon umi, katanya, anak umi, mau ngenalin calon istrinya, ternyata yang ini berbeda ya!"ujarnya.
Rara hanya tersenyum canggung menanggapi ucapan perempuan paruh baya itu.
"Gimana mi, kalau yang ini?"tanya Fernando yang duduk di jok depan bersama sahabatnya Alex.
"Umi sih oke, asal kamu nya A, dijaga baik-baik jangan dikecewakan terus,"ucap umi Fatimah menasehati.
"Bener tuh mi, bilangin Nando, suruh tobat, kan udah Nemu pelabuhan terakhir, nggak kayak Alex, masih nyari-nyari,"celetuk pengacara berusia tiga puluh tahun itu.
"Umi doain, biar Abang segera ketemu jodohnya, kayak Ben juga, masa Ben yang kerjanya paling jauh, malah duluan dapat orang lokal,"
"Iya mi, makanya mi, bilangin sama cewek yang disebelah, diajakin nikah masa nunggu setahun, kan Nando keburu nggak tahan,"
"Benar Rara maunya begitu?"tanya Umi Fatimah.
"Maksud saya nggak gitu Umi, saya hanya kasih waktu Mas Nando supaya yakin, kalau saya satu-satunya wanita yang akan ada di hidupnya,"jawab Rara polos.
"Jadi kamu sudah tau kalau anak Umi itu nakal?"tanyanya lagi.
"Nggak sengaja umi, udah empat kali malah, gimana Rara mau percaya sama mas Nando, kalau didepan mata kepala Rara, mas Nando nakal,"jawabnya polos membuat yang berada di jok depan mengumpat secara bersamaan.
Umi Fatimah sampai terkejut mendengar jawaban jujur perempuan yang menjadi pujaan hati puteranya, "kalau umi jadi kamu, umi bakal ninggalin Nando,"
"Itu masalahnya umi, mas Nando-nya nggak mau, Rara tinggalin,"
"Mampus loh Do, abis ini kena omel sama umi,"bisik Alex.
Fernando hanya memegangi kepalanya yang mendadak pusing, ia baru sadar betapa polosnya wanita yang ia cintai itu.
Umi Fatimah, menggenggam tangan wanita disebelahnya, "pokoknya ya Ra, kalau sampai Nando nakal lagi, umi setuju kalau kamu tinggalkan anak umi, meskipun Umi sudah setuju kamu sama anak umi, tapi demi kebahagiaan kamu, umi rela kamu batal jadi mantu umi, biar kamu dapat lelaki baik nan Soleh,"
__ADS_1
Mendengar hal itu Fernando langsung menoleh kebelakang, "umi kok ngomong gitu, Nando udah susah payah bawa Rara buat dikenalin ke umi, kenapa Rara malah disuruh ninggalin Nando, kan susah dapat cewek kayak Rara,"
"Maka dari itu kamu harus jaga pandangan dan sikap kamu, ketemu cewek bohay dikit langsung kepincut, malu umi kalau tau kelakuan kamu,"
"Pokoknya ya Ra, walau kamu nggak jadi sama putra umi, kamu tetap berhubungan sama umi ya, umi tau kamu perempuan baik-baik, gara-gara Nando kamu jadi rusak kan?"tebak umi Fatimah seperti tau apa yang dilakukan oleh anaknya, kepada wanita polos seperti Rara.
Mereka melanjutkan pembicaraan, lebih banyak umi Fatimah yang bertanya, dan Rara menjawab apa adanya, tentang latar belakang keluarganya, hingga dua kali gagal menikah karena dikhianati.
Umi Fatimah turut prihatin akan cerita hidup Rara.
Hingga mobil memasuki kawasan ruko yang ada di utara ibu kota,
"Jadi ini tempat kerja kamu?"tanya Umi Fatimah,
"Iya mi, Rara baru kerja sebulan disini, sebelumnya kerja di cabang Malang,"jawab Rara sambil bersiap.
"Hati-hati ya, lain kali kita ketemu lagi ya," ungkap umi Fatimah sambil memeluk calon menantunya itu,
Sedangkan Rara mencium tangan umi Fatimah juga Fernando, saat akan menyalami Alex, kekasihnya mencegahnya.
Usai mengucapkan salam, Rara pamit dan keluar dari mobil, wanita muda itu melambaikan tangannya, melihat kepergian mobil berwarna hitam itu.
Usai menempelkan jarinya di mesin absen, Rara terlebih dahulu menemui Novia, karena seragamnya ada pada gadis itu, ia berganti di toilet lantai satu.
Rekan-rekannya tengah sibuk bekerja, saat Rara menyapanya, mereka hanya berdehem atau tersenyum sekilas, karena hari Senin merupakan hari yang sangat sibuk bagi staf keuangan juga marketing.
Rara langsung menyalakan komputer yang ada dihadapannya, ia juga sama seriusnya dengan rekan-rekannya,
Tak terasa jam makan siang hampir tiba, Dini terlebih dahulu menyapanya, "Ra, kamu abis ketemu sama suami kamu ya?"tanya perempuan yang merupakan rekan satu divisinya.
"Kenapa emang?"tanya balik Rara,
"Tuh,"tunjuk Dini pada bekas tanda cinta tepat di balik kerah seragam itu, "ada bekas ****** tuh, kamu nggak ngeh atau gimana sih?"tanyanya.
Rara mengambil ponsel dan melihat di mode kamera, ia baru tau jika ada bekas tanda cinta dari lelaki itu, Rara tersenyum canggung, ia malu sekali,
Kemudian Dini menyodorkan sebuah botol bening berwarna cokelat, "nih buat nutupin,"
Melihat itu, Rara tersenyum lebar, "makasih ya Din, untung kamu kasih, kalau nggak, aku bisa jadi bahan julid temen-temen yang lain,"
Obrolan mereka terhenti ketika telpon di meja Rara berbunyi, itu dari Novia, memberitahunya ada seseorang lelaki yang mencarinya dibawah.
"Siapa Ra?"tanya Dini.
"Kata Novia ada yang nyari aku dibawah, seingat aku, kayaknya nggak ada janji deh, kalau paket mungkin, kemarin aku beli oleh-oleh buat kalian, harusnya belum sampaikan," jawabnya.
__ADS_1
Kemudian keempat perempuan penghuni ruangan lantai tiga turun untuk makan siang, tak lupa menghampiri mbak Maya, juga rekan-rekan yang ada dilantai dua.
Sesampainya rombongan cewek-cewek itu dibawah, semuanya terlihat heboh, dengan kedatangan seorang lelaki tampan yang sedang duduk di kursi tamu.
Rara yang sedang berbincang dengan mbak Maya, menjadi ikut penasaran tentang kehebohan di depan sana.
Dan setelah tau alasan rekan-rekannya heboh, ia memutar bola matanya malas, ia menghampiri lelaki yang menjadi pusat perhatian itu,
"Kamu ngapain kesini?"bisiknya pada lelaki yang tak lain adalah Fernando.
"Aku mau ngajak kamu makan siang,"jawab lelaki itu santai.
"Kenapa nggak telpon aku dulu?"
Tanya Rara kesal.
"Kasih kejutan sayang, apa kamu mau makan siang?"
"Iya sama rekan-rekan kerja aku,"
Mendengar itu, Fernando tersenyum, lalu mulai menyapa rekan-rekan kerja kekasihnya,
"Hai... Saya suaminya Amara, apa kalian akan makan siang?"
Semuanya kompak mengangguk,
"Oke, sebagai salam perkenalan, hari ini saya ingin traktir kalian,"
Tentu saja, semua rekan Rara menyambutnya dengan gembira,
Salah seorang dari wanita-wanita itu, menyarankan untuk makan siang di warung Padang Yang ada diseberang ruko,
Fernando merangkul pundak kekasihnya, "kamu sengaja ya!"bisiknya sambil berjalan beriringan dengan rekan-rekannya.
"Iya, aku mau pastikan kamu aman, selama aku tidak ada disini, aku juga mau kasih tau cowok-cowok supaya tidak mendekati kamu, karena kamu, sudah memiliki suami yang tampan dan kaya seperti aku,"
"Nggak ada yang deketin aku mas, semuanya udah pada punya pacar atau istri, jadi nggak mungkin mereka dekati aku,"
"Siapa yang tau kan?"
Sampai di warung Padang, mereka mengantri menyebutkan pesannya masing-masing,
Ditengah-tengah mereka menyantap makanan, Fernando berdiri dan berkata, "teman-teman tolong titip istri saya ya, selama saya berkerja di luar kota, terima kasih,"
Hampir semuanya menunjukan jempol mereka.
__ADS_1