Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
sembilan puluh tiga


__ADS_3

Pagi usai shalat subuh, Rara bersama Pradikta meninggalkan rumah Mbah Sarmi, keduanya berpamitan pada wanita tua itu, juga menitipkan Sinta, tak lupa memberikan uang cukup banyak untuk pegangan wanita yang sedang hamil tua itu,


"Pokoknya apapun yang mbak rasain atau ada yang diinginkan, mbak kasih tau Fitri ya!"pesan Rara.


"Iya Ra, makasih banyak udah mau bantu aku, kalian hati-hati ya! Kasih tau Fitri kalau udah sampai ya!"


Rara mengangguk dan memeluk Sinta, ia juga melakukan hal yang sama kepada Mbah Sarmi.


Rara melambaikan tangannya dari jendela mobil begitu Pradikta mulai melajukan mobilnya.


Sepanjang perjalanan, kedua sahabat itu banyak bercerita tentang masa sekolah, kuliah mereka masing-masing, hingga kehidupan rumah tangga Rara yang membuat wanita itu sedikit goyah dengan kedatangan mantan pacar dan anak biologis suaminya,


"Ya udah Ra, entar kalau kamu udah nggak sanggup sama suami kamu, mama aku pasti mau Nerima kamu sebagai menantunya,"ujar Pradikta melontarkan candaan yang menurut Rara konyol.


"Kamu mau jadi pebinor Ta,"


"Ya kan aku cuman kasih solusi buat kamu, dari pada kamu stres kan?"


"Dih ngapain, kamu kan sukanya sama Dia, aku nggak mau menjalin hubungan sama orang yang belum move on,"


"Apa bedanya sama suami kamu? Dia lebih parah, sampai ada hasil segala Ra,"


"Iya deh Pradikta, kamu memang calon suami terbaik deh, tapi masalahnya aku nggak ada niat buat pisah dari mas Nando, karena aku udah beneran cinta sama dia,"


"Bagus lah, berarti aku nggak perlu menikah sama siapapun kan?"


"Ih, kok gitu sih, kasian tante Arini sama om Irwan kalau kamu kayak gini,"


"Ya nggak juga Ra, tenang aja, sepulang aku nanti dari luar negeri aku bakal bawa cucu buat mereka kok,"


"Serah kamu deh Ta, aku pusing mikirin kamu,"ungkap Rara kesal sambil mengelus perut buncitnya.


"Ngomongin soal keluar kota, kamu mau kemana emang?"


Pradikta yang sedang mengemudi, melirik sekilas wanita yang mengenakan jilbab berwarna hitam itu, "kamu mau ikut?"tanyanya.


"Kemana dulu?"tanya Rara balik.


"Ke Banjar Baru,"


"Jauh ya, aku pikir masih di pulau Jawa,"


"Minggu depan, aku mau ke Malang, kamu mau ikut?"


Rara mengangguk antusias,


"Emang boleh sama suami kamu?"

__ADS_1


"Ya nggak tau sih,"


"Ijin dulu sana,"


Rara menghembuskan nafasnya kasar, "Ta, aku emang cinta banget sama suami aku, tapi gimana ya? Kayak ada yang ganjel di hati, kamu ngerti nggak?"


Pradikta yang masih mengemudi, hanya menaikan bahunya.


"Gini loh Ta, dari awal aku menjalin hubungan sama mas Nando itu, selalu aja cewek-cewek yang pernah dekat sama dia, terang-terangan didepan aku, meminta kembali sama dia, seolah aku itu mahluk tak kasat mata didepan perempuan-perempuan itu, aku bingung Ta, disisi lain aku cinta tapi di satu sisi aku kok marah sama diri aku sendiri bingung, kenapa bisa mencintai laki-laki kayak dia,"


Pradikta menghentikan laju mobilnya ketika lampu lalu lintas berubah menjadi merah, lelaki itu meminum air dari botol yang tersedia diantara kursi kemudi dan kursi sebelahnya,


"Amara, sepertinya ini bukan waktu yang tepat kamu memikirkan soal perasaan kamu untuk dia, sekarang kamu sedang hamil, bagaimanapun anak kamu butuh bapaknya, kecuali kalau kamu mau jadi mantu mama aku,"ujarnya diakhiri dengan tawa, lelaki itu kembali melajukan mobilnya lagi.


"Aku nggak tau lah, aku pusing, Ta, aku tidur sebentar ya! Aku udah mulai ngantuk,"


Pradikta menanggapi dengan gumaman, sambil terus berkonsentrasi mengemudikan mobil miliknya, sementara Rara mulai menyetel kursinya agar nyaman untuknya tidur.


Selang berapa menit, wanita hamil itu mulai tertidur, Pradikta hanya bisa menyunggingkan senyumnya melihat kelakuan sahabatnya.


Sedari dulu Rara selalu bertindak semaunya jika bersama dirinya, wanita itu seolah tak ada prasangka buruk pada dirinya, bahkan dulu saat masih sekolah, Rara dan Ayudia sering menumpang tidur di kamarnya ketika mereka mengerjakan tugas sekolah.


Memasuki salah satu rest area, Pradikta membangunkan Rara, dan menawari sahabatnya untuk sekedar ke toilet atau membeli camilan yang dijual disalah satu gerai di sana.


Tiga puluh menit mereka berada di rest area itu, Pradikta membelikan beberapa camilan untuk menemani keduanya di sisa perjalanan menuju ibu kota.


Rara menghentikan kunyahannya, wanita hamil itu terdiam berfikir, "ke rumah Dia aja kali ya!"


Pradikta mengangguk, lalu berucap, "suami kamu udah dikasih tau, kalau kamu pulang hari ini?"


Rara menggeleng,


"Kasih tau Ra, dia pasti khawatir sama kamu,"saran lelaki itu.


"Aku males Ta, lagian aku kan mau ikut ke Malang sama kamu, kalau dia tau aku kembali, nggak mungkin dibolehin pergi sama kamu,"


"Kalau gitu kamu pulang ke rumah aku aja, mama pasti seneng banget kamu Dateng,"


"Emang boleh ta?"


"Bentar aku telpon mama deh,"


Pradikta melakukan panggilan kepada Arini dan mengaktifkan load speaker,


Salam dan sapaan khas Arini untuk putra semata wayangnya terdengar,


"Ma, Dikta mau tanya, kalau Amara tinggal di rumah boleh nggak?"tanyanya sambil masih sibuk mengemudi.

__ADS_1


"Boleh banget lah, malah mama seneng banget ada temennya,"sahut Arini dari seberang sana tanpa pikir panjang,


Pradikta tersenyum, "denger tuh Ra, mama malah seneng ditemenin,"


"Iya Ra, Tante seneng loh kamu mau disini,"ujar Arini.


"Makasih banyak loh Tante, tapi jangan marah ya, Rara bakal ngabisin kue buatan Tante,"candanya.


"Tante seneng malah, nanti kita buat sama-sama ya!"


Selanjutnya hanya obrolan remeh temeh diantara dua wanita beda generasi itu.


Usai mengakhiri panggilannya, Rara terdiam sejenak, lalu menghela nafas, ia teringat tentang Sinta,


"Ta, aku kepikiran mbak Sinta,"


"Kenapa emangnya?"tanya Pradikta.


"Entar kalau lahiran gimana ya? Suaminya aja sibuk sama mantan pacarnya, kasihan mbak Sinta,"jawabnya.


"Aku usahain, begitu urusan aku di Banjar baru selesai, aku ajukan cuti buat dampingi mbak Sinta melahirkan, gimana kalau lahirannya didampingi mama aku juga?"


"Apa tante Arini bakal setuju?"


"Aku rasa mama bakal seneng banget deh,"


"Ya udah, besok kita telpon mbak Sinta aja, kasih tau soal ide dari kamu,"


"Biar ada yang bantu urus bayi juga, tapi apa nggak apa-apa kalau suaminya nggak dikasih tau?"tanya Pradikta ragu,


"Ya kamu tau sendiri, dari cerita mbak Sinta aja, sudah jelas jika suaminya lebih memilih membela mantan pacarnya, kalau ingat aku kesal banget ta, kamu nggak tau sih kayak apa menyebalkannya yang namanya mbak citra itu, kayak nggak seneng kalau lihat orang bahagia,"


"Sampai segitunya Ra,"


Rara mengangguk, "yang suruh balik kesini mantan pacar suami aku kan dia, apa nggak jahat, ya aku tau, suatu saat pasti akan datang dimana anak nyariin bapaknya, cuman kenapa secepat itu, aku sebel banget, padahal kan aku juga baru berumah tangga, ada aja masalahnya,"


"Tapi kamu terima aja kan, anak tiri kamu,"


"Ya mau nggak mau Ta, nggak ada pilihan lain, sudah resiko kalau nikah sama mantan player,  akan ada perempuan yang punya anak dari suami aku,"


"Kalau kamu udah terima masa lalu suami kamu, kenapa kamu malah nggak mau bersama dia?"


"Ta, aku hanya masih belajar menerima keadaan, mungkin orang lain lihat aku punya jiwa yang besar karena menerima masa lalu suami aku, tapi jujur aja, sisi lain hati aku, nggak terima dengan keadaan ini,"


"Kaburnya ke rumah mama aku aja Ra, seenggaknya kalau sama mama, kamu bisa aman dan mama juga pasti seneng kalau ada kamu,"


"Makasih banyak ya ta, dari dulu kamu, Tante Arini dan om Irwan selalu baik sama aku,"

__ADS_1


Mereka terus mengobrol sepanjang sisa perjalanan menuju rumah orang tua Pradikta.


__ADS_2