Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus empat puluh sembilan


__ADS_3

Bukan hanya rapat dengan para staf, Fernando juga berkeliling villa untuk memeriksa pelayanan juga fasilitas yang tersedia, hingga memakan waktu lebih dari tiga jam.


Selain itu saat rapat tadi dirinya juga mengajarkan beberapa strategi marketing pada staf agar villa selalu ramai.


Dari awal market villa ditujukan untuk ekonomi menengah ke bawah sampai anak-anak sekolah dan mahasiswa.


Berbeda dengan resort yang di Bali, memang untuk kalangan menengah ke atas.


Fernando baru kembali ke kamar setelah azan asar berkumandang.


Begitu membuka pintu dengan kartu akses miliknya, ia berjalan menuju kamar dan sebuah pemandangan yang membuatnya tersenyum kecil.


Istrinya sedang tidur memeluk putri kecilnya, lelaki itu memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu, sebelum nantinya bergabung dengan mereka.


Setelah sepuluh menit, ia keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya, ia membuka koper miliknya,  mengambil celana pendek dan kaos oblong berwarna hitam lalu bergabung dengan anak, istrinya.


Ia berbaring di samping putrinya, ia menatap anak dan istrinya yang tengah tertidur dengan lelapnya.


Ia berucap syukur, masih diberi kesempatan berkumpul dengan kedua belahan jiwanya, rasanya bahagia sekali.


Ya meskipun saat menuju kesini, ia harus memaksa istrinya agar mengikutinya.


Saat sedang asyik menatap istrinya sambil tersenyum, mata bulat itu terbuka, dalam hitungan detik, ia dan wanita itu saling bertatapan.


"Kamu udah selesai?"tanya Rara.


Fernando hanya menanggapinya dengan anggukan.


"Udah makan belum?"


Lelaki itu menggeleng.


Wanita itu menghela nafas, "memangnya kamu nggak diajak makan siang sama para staf kamu?"tanyanya heran.


"Ditawari, tapi aku malas, pengin cepat selesai dan bisa menghabiskan waktu sama kamu,"jawabnya masih dengan menatap Rara.


"Pesan makan sana, nanti aku temenin,"perintah Rara.


Fernando menuruti perkataan istrinya, ia mengambil ponselnya di kabinet samping ranjang lalu mengetikan beberapa pesan yang ditujukan pada Edwin.


"Udah, Rara sayang apa kamu tau, alasan aku mengajakmu kesini?"tanyanya.


"Kamu ingin agar aku jauh dari mbak Cristy,"jawab Rara.


"Itu salah satunya, tapi ada alasan utamanya, coba tebak apa?"tanyanya lagi.

__ADS_1


Rara menaikan bahunya tak mengerti,


"Rara sayang, apa kamu lupa sejak kita bertemu, kita belum melakukannya?"


Wanita itu diam tak menanggapi, mata bulat itu menatap ke atasnya, mungkin membernarkan ucapan suaminya.


"Sudah ingat? Kita hanya sebatas berciuman dan berpelukan saja, lalu karena sekarang kita sudah berada disini, aku minta hak aku ke kamu,"


"Tapi Arana nanti terbangun gimana?"


"Rara sayang aku sudah menahannya selama lebih dari tiga bulan, jadi jangan jadikan putri kita sebagai alasan, aku suami kamu, butuh perhatian kamu,"


"Baiklah, tapi jangan disini, aku tidak mau membangunkan Arana,"ujar Rara menyetujui permintaan suaminya.


Senyum mengembang menghiasi wajah Fernando, lelaki itu bangkit lalu berjalan menghampiri sisi dimana istrinya berada, ia menggendong wanita itu ala koala, dan membawanya ke sofa tak jauh dari sana.


Lelaki itu memangku istrinya, keduanya mulai berciuman, awalnya hanya ciuman biasa, namun saat lidah keduanya saling bertaut, gairah keduanya makin bangkit.


Rasanya ada sesuatu yang  menggelitik diperutnya, menyenangkan sekali.


Tangan besar itu mulai tak bisa diam menyentuh lalu meremas dibawah sana,


Terdengar ******* disela ciuman panas itu, keduanya semakin terbakar gairah.


Sudah tiga bulan lebih Fernando tak begini, rasanya tak sabar kembali merasakan sensasi yang tidak pernah ia dapatkan dari perempuan manapun diluar sana, hanya istrinya yang membuatnya merasakan kenikmatan yang tak terkira, nyaris gila rasanya.


Dibawah sana, dirinya terasa sesak, tanpa melepas tautan itu, tangannya berkerja membebaskan sesuatu yang membuatnya tersiksa.


Dengan tatapan penuh gairah, ia menatap istrinya, "Rara sayang, aku akan melakukannya dengan cepat, sebentar lagi mungkin orang suruhan Edwin akan mengantarkan makanan, nggak apa-apa kan? Nanti kita bisa melanjutkannya lagi,"ujarnya sambil mengelus rambut panjang wanita itu.


Mata bulat itu mengedip beberapa kali,


Fernando langsung melancarkan aksinya setelah membebaskan sesuatu yang menghalanginya,


Rasanya sempit dan hangat, seperti awal-awal ia melakukannya dengan wanita ini, apa mungkin efek sudah lama tidak melakukannya? Ia jadi teringat ucapan Natasha saat  istrinya usai melahirkan.


Ingatkan Fernando untuk memberikan hadiah kesukaan sahabat wanita satu-satunya itu.


Suara penuh gairah yang keluar dari istrinya, membuat Fernando semakin mempercepat gerakannya, hingga lenguhan panjang keduanya, menandakan jika mereka telah mencapai puncaknya secara bersamaan.


Keduanya masih terengah-engah, saat bel kamar berbunyi,


Dalam hati Fernando mengumpat, dirinya yang sedang menikmati sisa-sisa rasa kenikmatan itu malah terganggu oleh bel sialan itu.


Fernando melepas tautan dibawah sana, dan membaringkan istrinya di sofa,

__ADS_1


Ia memakai kembali celana pendek miliknya, lalu mengambil selimut di ranjang, lalu pmenutupi istrinya, agar tak dilihat oleh pekerja villa, ia tak rela jika orang lain melihat wanitanya.


Setelahnya ia membukakan pintu, lalu membawa nampan berisi pesanan miliknya menuju meja yang ada didepan sofa, sayangnya istrinya tak lagi berada di sana, hanya tersisa selimut yang menjuntai ke lantai.


Fernando tau kemana istrinya pergi, ia tentu tak akan membuang kesempatan ini, tak peduli makanan pesanannya telah tersaji di meja.


Istrinya baru saja mengosongkan kandung kemih saat dirinya masuk ke dalam kamar mandi, Saat Fernando masuk.


"Kamu ngapain? Nggak makan?"tanya Rara.


"Aku nyusul kamu,"jawabnya sambil melakukan kegiatan yang sama.


"Ya udah aku temenin makan,"ujar wanita itu hendak keluar dari kamar mandi.


Namun Fernando berjalan cepat lalu menahan pintu kamar mandi, ia mendekat tepat ditelinga istrinya, "sudah sore sayang, kita butuh mandi,"bisiknya


Seketika Rara merasa merinding mendengar bisikan suaminya tepat ditelinga nya, belum lagi hembusan nafas yang mengenainya.


Fernando lalu memeluk istrinya dari belakang, menyingkirkan anak rambut yang menjuntai menutupi leher belakang wanita itu, ia mulai menciumi lembut, tengkuk itu.


Masih tercium samar wangi strawberry, aroma yang sangat ia rindukan.


"Mas, makan dulu,"ujar Rara sambil menahan suaranya.


"Tapi aku ingin mandi Rara sayang,"


Fernando membalik tubuh istrinya, lalu menahannya dibalik pintu, ia mulai mencium bibir merah merekah itu.


Rasanya tak cukup sekali untuk mengenyangkan dahaganya selama tiga bulan lebih, ia tak melakukannya.


Dan Rara hanya bisa pasrah dan menikmati sensasi yang diberikan suaminya.


Tadinya, Fernando ingin mengajak istrinya untuk berendam di Jacuzzi namun wanita itu menolak, dengan alasan dirinya belum makan siang.


Akhirnya mereka melakukannya lagi dibawah guyuran shower.


Tentu sensasinya berbeda dengan tadi saat mereka di sofa.


Rasanya luar biasa, Fernando membisikan kata cinta dan ucapan terima kasih berkat service istrinya, yang semakin membuatnya tak bisa berpaling darinya.


Mungkin dulu ia hanya sebatas melampiaskan hasrat pada mantan teman kencannya, tapi dengan istrinya, bukan hanya hal itu, tetapi ungkapan cinta yang begitu besar.


Rasanya berbeda sekali, entah kata apa yang tepat untuk mengungkapkan sesuatu yang ia rasakan saat melakukannya dengan perempuan yang ia cintai.


Amara Cahyani perempuan biasa yang membuatnya merasakan perasaan bahagia tak terkira.

__ADS_1


__ADS_2