
Selang dua hari Fernando dan Rara tidak bertemu, gadis itu tak menghubunginya, lagi-lagi lelaki itu mengumpat, kenapa hanya dirinya yang memberikan nomor ponselnya, sementara dia tidak meminta balik nomor gadis itu, bodoh sekali dirinya.
Selama dua hari, lelaki itu hanya berkeliling memantau keadaan kota Batu dan sekitarnya, bukan untuk membangun villa,
Juga melakukan panggilan video kepada Benedict juga Rama, dan Alex untuk mendiskusikan rencananya untuk membangun taman bermain di kota itu.
Ketiga sahabatnya setuju dengan usulnya, mengingat bisnis mereka bersama belum sampai ke kota itu, baru di pulau Dewata, NTB, Bogor, Sukabumi, dan Lembang.
Usai menyelesaikan meeting secara daring, Fernando memeriksa ponselnya, tak ada nomor asing yang menghubunginya, lelaki itu jadi kesal sendiri,
Mantannya masih saja menghubunginya, memintanya untuk kembali, tapi lelaki itu tak menanggapinya, banyak pesan yang masuk, tanpa membacanya, ia lebih memilih menghapusnya.
Tadi saat meeting Alex sempat memberitahu, kalau mantannya belum mau menandatangani surat pengalihan harta yang Fernando berikan kepada mantan pacarnya itu.
Saat masih memegang ponselnya, Cristy menghubunginya, terpaksa Fernando mengangkat panggilan itu.
"Hem..."ucap Fernando.
"Kamu kenapa nggak angkat telpon dan balas pesan aku sih?"ucap Cristy diseberang sana.
"Ini diangkat, ada apa?"tanya lelaki itu dingin,
"Aku nggak mau hubungan kita berakhir sayang, aku cinta banget sama kamu, apa kamu mau aku mengikuti keyakinan kamu? Akan aku lakukan asal kita selalu sama-sama, kamu juga bebas jika mau bermain wanita manapun, asal kamu pulang ke tempat dimana aku berada, aku mohon sayang, jangan tinggalkan aku,"mohon wanita itu sambil terisak-isak,
Fernando menghela nafas, sebenarnya ia tidak tega, pada wanita itu, tapi restu uminya lebih penting dari apapun, juga hatinya sepertinya sudah terisi oleh gadis unik penyuka strawberry.
"Maaf Cristy aku tidak bisa,"
"Kalau begitu lebih baik aku mati saja, hidup aku sudah tak berarti lagi tanpa kamu,"
"Terserah kamu, aku tidak peduli, silahkan kamu temui Alex dan terima semua kompensasi yang aku berikan pada kamu, tolong jangan hubungi aku,"Fernando mengakhiri panggilan itu sepihak, tak lupa memblokir nomor wanita itu dan menghapusnya.
Moodnya semakin memburuk, rasanya kesal sekali, ia butuh pelampiasan, tapi tak mau lagi berakhir dengan menyewa psk, ia sudah bertekad dalam hatinya untuk berhenti bermain-main, ia tak ingin uminya kepikiran tentang anak semata wayangnya.
Ia menghela nafas, sepertinya lebih baik, memesan alkohol pada pihak hotel, agar nantinya ia bisa mabuk dan tertidur nyenyak.
Dan setelah menghabiskan sebotol alkohol merk ternama, lelaki itu tertidur di ranjang hotelnya.
Cahaya mentari mengusik tidur lelaki yang tertidur tengkurap, ia menutupi matanya, dari pancaran sinarnya.
Kepalanya terasa berat, pusing sekali, dengan posisi terlentang ia meraba sisi kasur, mencari keberadaan ponselnya, tak ada nomor asing yang menghubunginya,
Sudah tiga hari ia tidak bertemu dengan gadis itu, ia mulai merasakan rindu, ini pertama kali ia merasakannya,
Ada tanya dalam benaknya, apa gadis itu marah padanya, karena dirinya terlalu agresif? Apa gadis itu melupakannya? Banyak tanya juga pikiran buruk yang berkecamuk di kepalanya,
__ADS_1
Malam ini ia harus kembali ke Bali, ada pekerjaan mendesak yang harus dilakukannya, tapi Sampai detik ini, gadis itu tak menghubunginya, apa memang ia tidak ditakdirkan untuk bertemu lagi dengan gadis itu?
Apa ini yang dulu dirasakan oleh sahabatnya saat jatuh cinta? Bahkan dulu ia sempat menertawakan sikap sahabatnya itu.
Lelaki itu mengambil ponselnya, ia melakukan panggilan internasional kepada sahabatnya sedang ada di Amerika,
"Ada apa Dodo, malem-malem nelpon gue, kan tadi pagi kita udah rapat, Lo diskusi sama Alex sama Rama aja, gue sibuk nih,"ucap Benedict diseberang sana,
"Disini pagi Ben, gue abis mabok semalem,"
"Terus apa hubungannya sama gue? Gue tutup kalau nggak penting,"
"Ben tunggu, gue mau nanya, soal Ayu,"
"Ada apa sama istri gue? Jangan macem-macem Lo,"
"Apaan sih Lo? Gue cuman mau nanya, rasanya gimana saat Lo tau kalau Lo jatuh cinta sama Ayu terus apa yang Lo lakuin?"
"Kenapa Lo nanya begitu?"
"Ben gue masih pusing efek mabuk, jadi Lo jangan bikin gue tambah pusing dengan kebodohan Lo, tinggal Lo jelasin, jangan banyak tanya,"
"Dari dulu Lo yang paling kurang ajar sama gue do, gini-gini gue bos Lo, mau Lo gue kirim ke Afrika?"
"Berisik Lo, jadi Lo mau jawab nggak? Kalau nggak gue telpon Ayu nih,"
"Apa hanya itu?"
"Ada banyak alasan sebenarnya do, nggak mungkin gue ceritain satu-satu kan?"
"Ben, Lo kan banyak deket sama cewek-cewek meskipun nggak kayak gue sama Alex, yang gue tanya, apa setelah Lo dekat sama Ayu, Lo bisa lebih terbuka sama dia menceritakan keluh kesah Lo? Kayak lebih manja gitu, apa dulu Lo juga gitu,"
"Ya begitulah, tapi tunggu, jangan bilang Lo udah nemuin pelabuhan terakhir,"
"Gue nggak ngerti Ben, feeling gue gitu, tapi masalahnya sebentar lagi dia mau nikah, dan beberapa hari ini dia nggak menghubungi gue, rasanya gue mau gila, begonya gue lupa nggak minta nomor hpnya juga nggak tau rumahnya,"
"Baru tau kan Lo, jatuh cinta bikin orang bego, orang cerdas kayak gue mendadak bodoh hanya karena jatuh cinta, Lo tau kan gimana gue sama ayu,"
"Iya gue tau, terus gue mesti gimana ya Ben?"
"Dodo apa Lo lupa, Lo pernah ngomong apa ke gue? Lo lupa pernah bilang, suruh hamilin Ayu biar dia mau nggak mau terima gue, akhirnya gue lakuin dan akhirnya Ayu mau nikah sama gue kan!"
"Tapi sekarang dia ngilang gitu aja, gimana gue bisa melakukan itu,"
"Ya kalau ketemu lagi,"
__ADS_1
"Thanks Ben buat sarannya,"
Fernando mengakhiri panggilannya,
Lelaki itu lebih bersemangat memulai hari, ia beranjak menuju kamar mandi.
Masih ada waktu untuknya, untuk sekedar berkeliling kota mencari keberadaan gadis itu.
Usai mandi, Fernando mengenakan celana cargo berwarna abu, dengan kaos lengan pendek berwarna hitam, tak lupa sepatu sneaker berwarna putih, ada Hoodie hitam yang ia taruh di bahunya.
Lelaki itu sudah packing barang-barangnya kedalam koper miliknya, rencananya setelah berkeliling sebentar, ia akan segera cek out dari hotel, sebelum kembali ke Bali, ia akan ke Surabaya terlebih dahulu, ada janji temu dengan salah satu koleganya.
Ia menitipkan kopernya di resepsionis hotel, lelaki itu akan berkeliling sejenak, namun sebelumnya ia lebih memilih sarapan di hotel terlebih dahulu.
Usai sarapan, saat hendak berjalan menuju parkiran, namanya dipanggil, lelaki itu mencari ke arah sumber suara, terlihat seorang gadis dengan outer cokelat menggendong tas ransel berwarna hitam, melambaikan tangan ke arahnya.
Fernando tersenyum tipis, gadis yang hendak dicarinya, malah menghampirinya sendiri, tentu hal ini tak akan ia sia-siakan, ia tak akan melepaskan gadis ini dengan mudah.
"Apa kamu mau pergi?"tanya gadis itu saat Fernando menghampirinya.
"Aku mau nyari kamu, abis kamu nggak menghubungi aku tiga hari ini?"
"Ini aku menghampiri kamu, lalu apa yang akan kamu lakukan hari ini?"
"Aku mau ke Surabaya, lalu kembali ke Bali, ada pekerjaan mendesak di sana,"
Ada raut kecewa menghiasi wajah gadis itu, "oh ya udah, aku pulang aja deh,"ujarnya sambil berbalik.
Namun Fernando memegang pergelangan tangan gadis itu, "Apa kamu kecewa?"tanyanya.
"Tidak, bukankah sudah terbiasa, ada pertemuan juga ada perpisahan, kenapa mesti kecewa?"
"Kalau kamu tidak keberatan, bisakah kamu ikut dengan aku?"tanya Fernando.
"Kemana?"
"Ke Surabaya atau kamu sekalian mau jalan-jalan ke Bali?"tawar lelaki itu.
"Tapi bukankah untuk kesana biayanya mahal? Aku harus menghemat uang yang aku punya,"ucap gadis itu.
"Aku yang akan membiayainya bukan kah aku yang mengajak kamu? Berarti sepenuhnya kamu tanggung jawab aku, Mungkin ini kesempatan kita untuk bertemu yang terakhir kalinya, bukankah sebentar lagi kamu akan menikah?"
Rara terdiam menunduk, lalu mendongak, "kasih waktu aku berfikir sebentar, nanti aku hubungi kamu,"
"Silahkan,"
__ADS_1
Rara berlalu dari hadapan lelaki itu, ia memilih keluar dari lobby hotel.
Sedangkan Fernando memilih duduk di sofa dan memainkan ponselnya.