Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus enam belas


__ADS_3

Sepeninggal Fernando dan Nicholas, Rara bersama umi Fatimah menyiapkan keperluan untuk persiapan melahirkan.


Umi Fatimah antusias melakukan kegiatan yang sudah tiga puluh dua tahun tak ia lakukan, apalagi bayi yang didalam kandungan menantunya adalah perempuan, harapannya sedari dulu.


Andai dulu mendiang suaminya mengizinkan memiliki anak lagi, mungkin Fernando akan memiliki banyak saudara kandung, tetapi Vatre dari putranya, tak mau lagi ia hamil, dikarenakan proses saat dirinya melahirkan, membuat suaminya menjadi trauma.


Dulu saat melahirkan Fernando, Fatimah yang jauh dari orang tua, karena harus mengikuti suaminya pindah ke Jerman, merasa stres dengan cuaca yang luar biasa dingin bagi orang tropis seperti dirinya.


Dari awal mulas hingga melahirkan jarak waktunya hampir dua belas jam, rasanya tersiksa sekali, sang suami melihat istrinya kesakitan sampai menangis karena tak tega, belum lagi karena tekanan darah tinggi, membuat Fatimah sempat tak sadarkan diri usai melahirkan.


Mengingat betapa sulitnya melahirkan dulu, Fatimah berharap menantunya tak mengalami hal yang sama, ia berdoa agar Rara lancar dalam melahirkan.


"Ra, pokoknya kamu nggak boleh stres ya, santai aja pokoknya, ada umi yang akan selalu dampingi kamu,"ujarnya sambil mengelus perut menantunya.


"Kemarin sempat stres, waktu mas Nando ngamuk, tapi sekarang udah nggak, kan ada umi,"ungkap Rara jujur.


Umi Fatimah yang sudah mengetahui cerita perkelahian putranya dengan sahabat menantunya hanya bisa menggelengkan kepala, "umi pernah cerita soal masa SMA Nando bukan?"


Rara mengangguk,


"Bayangin aja Ra, umi dengan seragam guru dipanggil oleh guru BK dimana Nando bersekolah, karena anak umi berkelahi dengan sahabatnya, dan bukan cuman sekali, Sampai umi akrab dengan ibunya Ben karena kami sering bertemu di ruang bimbingan dan yang tidak habis pikir, mereka berkelahi hanya karena sepele, hampir aja mereka kena DO, untung mereka cukup berprestasi di sekolah,"


"Umi yang seorang guru agama, saat itu merasa malu karena gagal mendidik anak umi sendiri,"


"Untungnya tempat mengajar umi dan sekolah Nando beda wilayah juga jaraknya cukup jauh, jadi anak murid umi nggak ada yang tau kelakuan Nando,"


Rara tersenyum mendengar cerita mertuanya.


"Jadi bisa dibilang mas Nando bukan anak baik-baik saat SMA ya mi?"


"Kurang lebih kayak gitu, Umi sering muhasabah, apa salah umi? Rejeki yang umi cari juga halal, kenapa putra umi kayak gitu? Kamu tau Ra, umi sampai bawa Nando ke psikiater buat cari tau, apa anak umi ada masalah dengan mentalnya, ternyata hasilnya Nando normal, sejak saat itu umi jadi berfikir, mungkin itu gejolak muda dari anak umi,"

__ADS_1


Rara menggeleng, tak habis pikir bisa-bisanya dirinya yang hidupnya lurus bisa berjodoh dengan lelaki seperti Fernando, apa mungkin ia pernah melakukan dosa atau pernah mengatai orang lain, sehingga ia mendapatkan balasan seperti ini.


Memang dulu saat dirinya menjalin hubungan serius dengan lelaki untuk pertama kalinya saat kuliah, ia tak menyangka jika lelaki itu menghamili wanita lain, belum lagi calon yang dijodohkan dengannya, dan ternyata sudah menikah siri dan memiliki anak, mungkin ini yang disebut ujian hidup.


Rara masih mendengarkan cerita mertuanya, tentang masa kecil Fernando saat berada di Swabia.


Sedari kecil lelaki yang sebentar lagi genap tiga puluh dua tahun itu, sudah diajari tiga bahasa sekaligus, bahasa Jerman dengan aksen swabia, bahasa inggris dan bahasa Indonesia.


Umi Fatimah membawa Fernando ke Indonesia saat berusia dua belas tahun, setengah tahun setelah vatre meninggal.


Bukan pulang ke Sukabumi namun menetap di ibukota, dulu sebelum vatre mengajak umi pindah ke Jerman, beliau sempat membelikan rumah,


Perempuan paruh baya itu juga bercerita, tentang pertama kali bertemu dengan Vatre, lelaki asal Jerman yang berprofesi sebagai peselancar profesional, berada di Bali, sedangkan Umi Fatimah yang saat itu menjadi guru, mendampingi anak muridnya untuk study tour ditempat yang sama.


Umi bercerita jika Vatre jatuh cinta pada pandangan pertama pada umi, keduanya tak sengaja berpapasan saat berada di salah satu pantai di pulau Dewata, Vatre terpesona dengan senyum ramah umi,


"Sama kayak mas Nando ke Rara dong mi,"


"Iya mi, Kakung dari pihak ibu, orang tionghoa,"


"Pantesan Dika matanya sipit ya, kalau kamu kebagian putihnya aja, kalau Andi malah kayak orang Jawa tulen,"


"Ya gitu mi, tiga bersaudara wajahnya tidak terlalu mirip,"


"Kira-kira cucu umi bakalan mirip siapa ya Ra, umi penasaran,"


"Terakhir USG, kayaknya hidungnya mirip mas Nando, mancung gitu,"


"apa aja yang penting menantu dan cucu umi sehat, Oh ya Ra, umi belum jenguk anaknya Rama, mumpung disini, umi mau jenguk, umi sempat telpon ibunya Ben, katanya Rama sementara tinggal di rumah Ben ya?"


"Iya mi, mas Rama lagi mau cari rumah baru, tapi mas Ben nyuruh tinggal di sana, setidaknya sampai Ayudia bangun, buat temenin si kembar,"

__ADS_1


"Umi kasihan sama Ben, istrinya koma lama juga ya!"


"Iya mi, Rara kangen banget pengin ngobrol sama Ayudia, beliau sahabat Rara selain Dikta,"


"Semoga istrinya Ben cepat pulih ya, kasihan si kembar,"


"Aamiin, terus umi kapan mau ke rumah mas Ben?"


"Setelah ini beres, tapi kamu di rumah aja ya, umi nggak mau kamu kecapean,"


Rara mengangguk,


"Oh ya, nanti ada Bu Narti yang biasa bersih-bersih di rumah ini, sekalian cuci baju, kayaknya selanjutnya bakal datang setiap hari buat bantu-bantu kamu,"


"Baiklah mi,"


Karena sudah selesai memasukkan segala keperluan yang akan dibawa Rara jika melahirkan nanti ke dalam koper, Umi bersiap menuju rumah Benedict, wanita paruh baya itu juga sudah mengabari Anna akan datang.


Rara mengantarkan umi Fatimah hingga didepan gerbang rumah, mertuanya menaiki taksi online.


Baru saja menutup pintu gerbang, seorang wanita paruh baya datang, mengaku bernama mbak Narti, Rara mempersilahkannya masuk, sementara dirinya memilih duduk di teras, sambil memainkan ponselnya.


Ada beberapa pesan masuk, suaminya mengirimi foto, jika lelaki itu sedang mengemudi, sepertinya putranya yang mengambil fotonya.


Mbak Anisa dan mbak Laras yang menanyakan kabarnya juga meminta maaf karena tidak bisa mendampingi adik iparnya saat melahirkan nanti.


Fitri mengabari jika gadis itu mengirimkan email padanya.


Sinta yang mengirimi foto Rayan bersama Ainsley dan Aileen sedang berada dikamar si kembar.


Dan terakhir Cristy yang mengajaknya bertemu, Rara menyetujuinya.

__ADS_1


Wanita hamil itu meminta Cristy datang ke cafe tak jauh dari rumah mertuanya.


__ADS_2