Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
sembilan puluh tujuh


__ADS_3

Langit di luar sudah gelap, ketika seorang wanita baru saja membuka matanya,


Rara melihat jendela kaca yang menunjukkan pemandangan kota dari ketinggian, kelap kelip lampu nan jauh laksana bintang-bintang yang bertebaran di langit gelap.


Rasanya badanya lemas, pinggangnya pegal, dan sedikit nyeri di bagian perut bawahnya.


Meskipun tidak sekeras beberapa bulan sebelum mengetahui dirinya hamil, tetapi karena kondisinya saat ini, rasanya lebih lelah dibandingkan dulu,


Ia melirik ke sebelah sisi ranjang,  tak ada lelaki itu, kemana perginya? Apa ia ditinggalkan? Apa lelaki itu marah padanya?


Sedikit rasa sesal dalam dirinya, mengapa ia tidak bisa mengendalikan ucapan yang keluar dari mulutnya.


Harusnya ia lebih bisa berfikir jernih, harusnya selama ia tak bersama suaminya, ia harus tau jika Rama berbeda dengan Fernando,


Meskipun Fernando mantan player, tapi sepanjang pernikahannya, tidak pernah sekalipun lelaki itu menanggapi wanita yang datang padanya.


Kemanapun lelaki itu pergi, Rara selalu turut serta kecuali selama hamil, ia tak bisa bersama suaminya saat sedang berada di proyek saja.


Rara juga tau jika suaminya selalu bersikap dingin kepada wanita kecuali dirinya dan umi, bahkan saat berbicara dengan Sandra dan Sinta, Fernando hanya berbicara seperlunya saja.


Apa hanya pikiran buruknya saja?


Apa lelaki itu telah berubah sepenuhnya?


Tidak seperti awal saat lelaki itu mendekatinya dulu, yang jika bertemu dengan mantan teman kencannya, lelaki itu masih menanggapinya.


Apa selama hampir dua bulan ini lelaki itu setia padanya?


Banyak tanya dalam benak Rara, meskipun wanita hamil itu mencintai suaminya, namun masih ada sedikit keraguan dalam hatinya, entah apa ia tak tau, yang jelas ia takut tersakiti dan dikhianati.


Tetapi tadi saat keduanya berperang peluh, berkali-kali lelaki itu membisikan kata cinta dan rindu, Rara bisa merasakan betapa suaminya memuja dirinya,


Sebelum tadi terlelap karena kelelahan, ia mendengar ucapan samar suaminya, jika lelaki itu tak akan melepaskannya begitu saja, dan akan menghalalkan segala cara agar mereka bisa terus bersama.


Rara menghela nafas, ia berusaha bangkit, meskipun rasanya malas karena masih lelah, tapi ia butuh toilet untuk menuntaskan hajatnya,


Dengan tubuh polosnya, wanita hamil itu, berjalan perlahan menuju kamar mandi,


Selesai urusan toilet, Rara berniat untuk mandi, sepertinya tubuhnya lengket akibat kegiatan panas yang ia lakukan tadi bersama suaminya, bahkan ia bisa mencium aroma parfum lelaki itu menempel ditubuhnya.

__ADS_1


Berendam air hangat sepertinya akan membuat tubuhnya lebih relaks, wanita itu mengisi bathtub dengan air hangat dan aromaterapi yang disediakan pihak hotel.


Belum sempat ia berendam, pintu diketuk, Rara mengenakan bath rob terlebih dahulu dan membukakan pintu,


"Kamu mau mandi?"tanya lelaki yang tak lain adalah Fernando.


Rara mengangguk,


"Aku bantu kamu mandi,"


Hendak menolak, namun tatapan lelaki itu membuatnya tak punya pilihan lain, Rara akhirnya pasrah.


Wanita hamil itu berendam, sementara Fernando mulai mencuci rambut istrinya, bahkan lelaki itu memijat kepala Rara,


"Jadi coba ceritakan, selama hampir dua bulan kamu nggak sama aku, kamu ngapain aja?"tanya Fernando sambil membilas rambut istrinya.


"Nggak banyak kegiatan, hanya belajar memasak, membuat kue, nemenin mbak Sinta jalan-jalan pagi sama sore,"jawabnya.


Usai membilas rambut istrinya, Fernando beralih menggosok tangan wanita itu dengan lembut, "lalu apa Tante Arini dan om Irwan adalah orang tua Pradikta?"tanyanya.


Rara mengangguk tanpa menatap mata suaminya.


Fernando bangkit dan berkacak pinggang, beberapa kali ia menghela nafas, menahan amarahnya, ia tak ingin menyakiti wanita yang ia cintai,


Fernando memegangi kepalanya yang mendadak pusing, setelah mengetahui kenyataan jika selama ini istrinya tinggal bersama Pradikta, ia cemburu.


"Apa kamu lupa Amara, kenapa Ayu bisa terbaring koma hingga saat ini? Ben cemburu karena tepat didepan matanya sendiri, istrinya dipeluk dan dicium keningnya oleh Pradikta, hingga Ben mengamuk, lalu apa yang kamu lakukan dengan Pradikta selama hampir dua bulan ini? Apa dia melakukan hal yang sama?"


Fernando mendekat dan memegang kedua sisi bathtub lalu menatap istrinya tajam, nafasnya memburu, amarahnya mencapai puncaknya,


"Amara, aku tidak akan melakukan hal seperti yang dilakukan Ben pada Ayu, aku tak akan menyakiti wanita yang aku cintai, tapi bukankah kamu paling tau, jika aku akan menyakiti orang-orang di sekeliling kamu, jadi terima saja resiko karena kamu sendiri yang membuat aku marah,"


Usai mengatakan hal itu, Fernando berjalan keluar dari kamar mandi,


Rara melebarkan matanya, mendengar ancaman suaminya, ia bangkit dan berjalan cepat menuju suaminya, tak peduli keadaannya sekarang, ia memeluk lelaki itu dari belakang.


"Aku mohon, jangan sakiti keluarga aku, yang buat salah aku, jadi hukum saja aku, mereka nggak tau apa-apa, tolong jangan sentuh mereka, apapun akan aku lakukan, aku mohon,"ucap Rara mulai terisak.


Fernando yang bertelanjang dada menghembuskan nafasnya kasar, "bukankah kamu tau aku tidak akan bisa menyakiti kamu Amara? Aku butuh pelampiasan untuk meredakan amarah aku, kamu yang buat aku marah, kamu buat aku cemburu,"

__ADS_1


Rara semakin mengeratkan pelukannya, ia menggeleng, "aku mohon, jangan sakiti mereka, aku minta maaf, aku salah, tapi aku bersumpah, tak ada yang terjadi diantara aku dengan Dikta, aku mohon jangan sakiti keluarga aku, apapun akan aku lakukan,"


Fernando melepaskan lilitan tangan istrinya lalu menghadap wanita itu, ia memegang kedua bahu polos dan menatap mata bulat itu tajam, "Amara, ini hanya peringatan dari aku buat kamu, supaya kamu tidak lari dari aku, apalagi pergi dengan laki-laki lain, apa aku salah mendidik istri yang pergi tanpa ijin suaminya?"


Rara tak berani menatap mata hijau suaminya, ia menunduk, dan bergumam, "aku mohon jangan sakiti mereka, apa yang harus aku lakukan agar amarah kamu mereda,"


Fernando memeluk istrinya, lali berbisik, "Amara sayang, setiap kesalahan harus menerima hukuman yang pantas bukan,"


Rara merinding mendapat bisikan dari lelaki itu, mendadak kepalanya pusing, ia mulai merasa takut, ia menggeleng agar pusingnya hilang.


Ia melepas pelukan suaminya, lalu kembali masuk ke kamar mandi, sepertinya ia harus segera membersihkan diri, mengguyur kepalanya dengan air dingin, agar bisa memikirkan cara untuk meredakan amarah lelaki itu.


Sepuluh menit berlalu, Rara keluar dengan bath rob dan handuk yang melilit kepalanya.


Ia membuka koper miliknya dan mengambil baju yang akan ia kenakan.


Fernando hanya memandangi aktivitas yang dilakukan istrinya sambil duduk di sofa.


Lelaki itu bangkit begitu melihat istrinya hendak mengeringkan rambutnya, seperti sudah otomatis dirinyalah yang membantu mengeringkan rambut hitam yang sekarang mulai memanjang.


Tak ada pembicaraan seperti biasanya, keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing.


Pintu diketuk, Fernando yang sudah selesai mengeringkan rambut istrinya menyimpan hair dryer disalah satu kabinet, lalu membukakan pintu, ada room service mengantarkan makanan pesannya.


Keduanya makan dalam diam, hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring, hingga makanan tandas, tak ada suara yang keluar dari mulut keduanya.


Waktu menunjukan pukul sepuluh malam, keduanya masih saling diam, hingga Rara yang tak tahan, akhirnya angkat bicara,


"Kalau kamu menyakiti keluarga aku, maka aku akan melakukan hal yang sama seperti mbak Sinta,"ancam balik Rara.


Fernando yang sedang memeriksa pekerjaannya di I-pad miliknya hanya menyunggingkan senyumannya.


Merasa tak ditanggapi, Rara menuju koper miliknya, ia memasukan baju kotor miliknya yang telah dibungkus plastik, tak lupa memakai jilbab instan berwarna hitam miliknya.


Wanita itu berniat meninggalkan suaminya,


Hal itu disadari oleh Fernando, "apa perlu aku patahkan kaki kamu supaya kamu tidak lari dari aku lagi Amara? Apa kamu ingin aku menyakiti kamu?"tanyanya sembari bangkit menghampiri istrinya.


Lelaki tinggi itu menunduk begitu ada di samping istrinya, "kamu belum kenal sepenuhnya suamimu Amara, kalau kamu lari dari aku lagi, bukan hanya kaki kamu yang aku patahkan tapi aku akan menghancurkan keluarga kedua kakak kamu, ingat Amara, aku akan melakukan apa yang aku ucapkan, jangan menantang aku Amara, jangan karena aku cinta mati sama kamu, kamu bisa berbuat seenaknya, kamu milik aku, dan selamanya akan selalu begitu, taruh kembali koper kamu, dan silahkan kamu tidur duluan di ranjang, aku harus menyelesaikan pekerjaanku, kamu mengerti Amara Cahyani, istriku tercinta,"

__ADS_1


Rara menegang mendengar ancaman itu, tubuhnya otomatis bergetar, ia tak menyangka lelaki itu berkata seperti itu.


Tak ada pilihan lain, dengan terpaksa ia menuruti suaminya.


__ADS_2