
Fernando butuh pelampiasan untuk amarahnya, maka dari itu ia menerima misi kali ini.
Dirinya berfikir, mungkin lebih baik pergi untuk sementara waktu, menjauh dari istrinya, ia tak ingin menyakiti wanita yang dicintainya.
Sudah kepalang basah, jadi mandi sekalian, istrinya sudah tau pekerjaan sampingan yang ia lakoni.
Baik soal misinya, atau beberapa kepemilikan club' malam yang ia akusisi beberapa tahun lalu, club' dikelola oleh mami Belinda.
Sejujurnya ada rasa takut jika wanita itu akan meninggalkannya.
Namun ia percaya diri kali ini, istrinya harus berfikir sepuluh kali jika ingin meninggalkannya, setelah tau apa yang bisa ia perbuat pada keluarganya.
Dari hasil pembicaraan dengan Benedict dan Troy, diputuskan jika mereka berangkat, usai pemberian nama serta aqiqah putrinya.
Semenjak kejadian itu, istrinya lebih pendiam, tak banyak bicara, terutama pada dirinya, namun ia tak peduli, asalkan wanita itu masih dalam jangkauannya.
Meskipun ciuman dan pelukannya tidak dibalas, sekali lagi ia tak peduli.
Acara pemberian nama dan Aqiqah diadakan secara sederhana, hanya dihadiri sahabat dan tetangga dekat.
Fernando tau betul senyuman yang ditujukan istrinya pada orang lain adalah senyuman palsu, bahkan sejak hari itu ia tak lagi mendapatkan senyuman yang membuatnya jatuh cinta, dan lagi-lagi ia tak peduli.
Selesai acara pemberian nama dan aqiqah baby Arana, umi Fatimah dan Nicholas kembali ke Sukabumi, dikarenakan remaja itu harus bersiap mengikuti ujian semester yang diadakan seminggu lagi di sekolahnya.
Nantinya akan ada mbak Narti yang menemani dan membantu Rara, selama Fernando pergi.
Malam sebelum keberangkatannya, Fernando sengaja menunggu istrinya, wanita itu sedang menyusui Arana.
Selama beberapa malam sepulang dari rumah sakit keduanya tetap tidur satu ranjang tapi tak ada lagi pillow talk yang biasa mereka lakukan menjelang tidur.
Terkadang Fernando harus memeriksa pekerjaannya hingga tengah malam, sementara istrinya selalu tidur lebih awal.
Melihat istrinya bersiap untuk tidur, Fernando mematikan I-pad miliknya, dan meletakkannya di kabinet.
Ia menghampiri istrinya yang mulai merebahkan diri.
"Ra, aku mau ngomong,"ucapnya sambil duduk disisi Ranjang bersebelahan dengan wanita itu.
Tak ada tanggapan dari istrinya, namun ia tak peduli, "besok aku mau berangkat, nggak usah dijelaskan kamu paham maksud aku bukan?"
__ADS_1
Tidak ada tanggapan lagi, wanita itu malah memunggunginya,
Fernando menghela nafas, ia ikut membaringkan tubuhnya, dan menarik tubuh wanita itu pelan agar keduanya saling berhadapan, mata hijau itu menatap lembut mata bulat yang sepertinya terkejut karena tindakannya.
Lelaki itu mengelus kepala Rara, "aku tau kamu marah, tapi setidaknya tolong dengarkan aku, ini malam terakhir kita bersama,"
Fernando bisa melihat tatapan mata bulat itu berkedip beberapa kali, mungkin tanda bahwa istrinya mengerti.
"Ra, untuk misi kali ini, sedikit lebih sulit, mungkin bisa memakan waktu lebih dari satu bulan, jadi sepulang aku dari sana, aku mau kamu tetap disini menunggu aku, kamu mengerti?"
Rara tak menjawab, ia kembali mengedipkan mata bulatnya beberapa kali.
"Soal janji aku, akan memberitahu total uang aku, dan mencantumkan nama kamu juga Arana sebagai ahli waris, nanti akan aku urus sepulang dari sana,"
Fernando mencium kening istrinya lembut, "Rara sayang, jaga diri kamu dan Arana, satu lagi, kartu yang dari awal aku kasih ke kamu, itu penghasilan aku dari Benedict, kamu tau bukan aku mengurus resort dan villanya, jadi tenang aja, itu tidak menyalahi aturan, tolong gunakan kartu itu untuk memenuhi kebutuhan kamu dan Arana,"
Lelaki itu menyentuh kedua sisi wajah istrinya, ia mengecup lalu mencium bibir yang membuatnya candu, lembut dan dalam.
Fernando semakin bersemangat ketika istrinya membalas ciumannya, hanya karena hal itu sesuatu yang sedari lemas langsung tegak berdiri.
Rasanya ingin mengumpat, andai istrinya tidak dalam masa nifas, tentu mereka akan bercinta sepuasnya.
Ah, aromanya selalu membuatnya dimabuk kepayang, awalnya hanya mengecup lalu menciumi, hingga sebuah gigitan kecil yang meninggalkan tanda merah di sana,
Dalam hati Fernando berharap istrinya diam tak bersuara seperti tadi, jangan sampai suara itu membuatnya semakin tersiksa, tapi harapan tinggal harapan, suara yang keluar dari mulut istrinya membuat bagian bawahnya semakin sesak.
Berbagai umpatan ia sebutkan dalam hatinya, ia yang memulai, ia juga yang dibuat pening karena ulahnya, rasanya nyaris gila jika tidak segera dilampiaskan.
Dengan tatapan memohon, lelaki itu berucap, "Rara sayang tolong bantu aku, kepalaku pening,"
Bukan tersenyum ataupun anggukan, tapi kedipan mata dan tangan ajaib milik Rara yang membuat Fernando mendesis seketika.
Baru di sentuh saja rasanya nikmat sekali,
Fernando kembali mencium bibir itu dalam, kedua benda kenyal itu beradu, sementara tangan besar itu menuntunnya agar menyentuh sesuatu yang sedari tadi berdiri menantang secara langsung.
Tangan lembut itu membuat Fernando mengerang disela-sela ciuman keduanya.
Dan malam itu untuk pertama kalinya Rara membantu suaminya melepaskan hasrat tanpa berhubungan intim.
__ADS_1
Usai berhasil melepaskan hasratnya, Fernando berakhir tertidur, sementara Rara malah terjaga, ia masih tak percaya dengan dirinya sendiri, bisa-bisanya ia melakukan hal yang menurutnya aneh.
Sesuatu yang baru bagi wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu,
Rara melirik suaminya yang tertidur tengkurap, dengan punggung polos yang tak tertutupi apapun, sementara selimut menutupi sebatas pinggang.
Dipunggung itu ada bekas luka mungkin panjangnya sekitar dua centimeter, dulu sewaktu pertama kali melihatnya, ia ingin bertanya, tapi ragu dan tak berani,
Lalu sekarang ia mengetahui tanpa bertanya, itu luka bekas tusukan pisau, mungkin cukup dalam saat itu.
Rara bisa membayangkan rasa sakitnya, lalu bekas luka kecil di pinggang sebelah kanan, mungkin itu terkena tembakan.
Lalu bekas luka sabetan dibeberapa bagian tubuh, diantaranya lengan punggung bawah, juga paha sebelah kiri.
Awalnya Rara pikir itu bekas kenakalan masa remaja suaminya dulu, mengingat ia mendengarkan mertuanya bercerita jika Fernando sering berkelahi dengan Benedict.
Tapi ternyata itu salah, ia meyakini jika semua bekas luka itu suaminya dapatkan dari menjalani profesi sampingan itu.
Rasanya ia ingin bertanya, Kenapa Fernando memilih jalan yang sulit, ketimbang hidup tenang, padahal secara ekonomi, keluarga suaminya termasuk berada.
Ada kekhawatiran dalam hatinya, apa kali ini suaminya bisa pulang dengan selamat tanpa kurang apapun?
Kenapa sesuatu hal yang dulunya hanya bisa ia lihat di televisi, sekarang ia alami sendiri?
Dulu Rara sering menonton film ber-genre action, orang berkelahi, saling menembak atau beradu pedang, lalu sekarang aktor itu ada disebelahnya sedang tertidur lelap.
Besok ia harus melepas kepergian suaminya untuk melakukan misi memburu salah satu pimpinan mafia.
Seperti apa itu mafia? Apa sama yang digambarkan di film? Atau malah lebih berbahaya lagi?
Bagaimana jika suaminya tidak selamat? Ia akan jadi janda muda dan Arana akan menjadi yatim dari bayi.
Apa yang akan ia lakukan jika itu terjadi?
Rasanya ingin menahan langkah suaminya, tapi sepertinya itu tidak mungkin.
Rara hanya bisa berpasrah, berharap suaminya akan kembali lagi padanya.
Meski terkadang menyebalkan, Dirinya pasti akan sangat merindukan lelaki itu.
__ADS_1