
"A, kata dokter, Ayu boleh pulang besok, anterin langsung ke rumah ibu yang di Bogor ya!"ucapnya saat mereka sedang berada di ruang rawat.
Fernando yang sedang menyuapi Aileen kue cokelat, menghentikan kegiatannya, "memangnya jam berapa?"tanyanya.
"Terserah Aa maunya kapan?"tanya balik Ayudia.
"Terus masalah aset yang ditinggalkan Ben gimana? Mau nggak mau harus kamu yang urus,"
"Kan ada Aa sama yang lain,"
"Ayu denger ya, jujur aja, kerjaan aku bukan cuma mengurusi resort punya Ben, aku juga ada kerjaan lain yang harus diurus, bisa nggak kamu aja yang urus, sejujurnya, beberapa bulan yang lalu aku udah bilang ke Rama sama Ben, tentang niat aku untuk mengundurkan diri,"
Terlihat raut terkejut dari wajah ibu dua anak itu, "apa alasannya?"
"Aku mau tinggal menetap di Sini, aku mau berkerja di satu tempat, tidak berpindah-pindah seperti biasa,"
"A, jangan kayak gitu dong, lagian Ayu nggak ada pengalaman mengelola itu semua,"
"Ya belajar lah Ayu,"
"Ayu sibuk urus anak-anak, AA aja yang kerjain, Ayu nggak bisa,"tolaknya.
"Ayu, aku nggak bisa,"
"Apa alasannya?"
Fernando menghela nafas, ia meminta Aileen untuk bermain dengan maid di ruangan sebelah, awalnya balita itu menolak, tapi setelah dirayu, akhirnya luluh juga.
Sepeninggal Aileen, Fernando duduk di sofa bersebrangan dengan Ayudia,
Sepertinya dirinya harus jujur dengan wanita itu, tak mungkin selamanya ia menutupi kenyataan sebenarnya.
"Aku akan berkata jujur, dan ingat aku nggak pernah mau berbohong, karena kamu nggak pernah bertanya apa yang terjadi selama kamu koma,"
Terlihat raut wajah penasaran wanita dihadapannya, "aku udah nikah dan punya anak, jadi itu alasan aku mengundurkan diri beberapa bulan yang lalu pada Ben dan Rama,"
Terkejut, tentu saja, siapa yang tidak terkejut dengan kabar seperti itu, "kenapa aa nggak ngomong? Jadi selama ini aa jaga kami disini dan istri AA di rumah AA tinggalkan? Terkesan aku jahat banget ya,"
"Kamu nggak nanya,"
"A, kabar begini kenapa nggak ngasih tau sih, istri AA pasti marah gara-gara suaminya sibuk mengurusi aku sama si kembar, apalagi Aileen suka merengek minta AA Dateng malem-malem,"
"Kamu nggak nanya Ayu, banyak yang terjadi selama kamu koma, mungkin kalau aku cerita, kamu akan membenci aku,"
"Maksudnya A?"
Fernando menceritakan tentang pertemuannya pertamanya dengan istrinya, hamil diluar nikah, tentang kecelakaan yang merenggut anak pertama mereka, perpisahan selama tiga tahun, hingga bertemu lagi dan tentang ia yang memaksa wanita itu untuk dinikahi, lalu hamil hingga melahirkan, tapi lelaki itu belum menyebutkan siapa nama wanita yang menjadi istrinya.
Mendengar cerita dari Fernando, Ayudia sampai menutup mulutnya, tak menyangka jika player seperti lelaki itu mesti ditinggalkan selama tiga tahun.
"Apa wanita itu tidak mencintai Aa, sehingga meninggalkan AA dan saat bertemu juga harus dipaksa menerima Aa jadi suaminya?"tanya Ayudia penasaran.
"Pernah sih dia bilang mencintai aku,"
"Aku jadi penasaran siapa istri AA, suka segala seluk beluk tentang Strawberry, dari makanan, minuman sampai aksesoris, lalu apa segi fisik dia sesuai tipe AA?"
"Mungkin, senyumannya itu loh yang bikin aku berdebar hingga saat ini, aku merasakan jatuh cinta setiap harinya saat bersama dia, seumur-umur baru saat bertemu dia, aku merasakan rasa ingin memiliki yang begitu besar,"
__ADS_1
"Sumpah aku penasaran banget,"
"Kalau kamu tau, apa kamu bakal benci sama aku?"
"Ya nggak lah, masa benci, memangnya aku kenal apa? Nggak mungkin Asha kan? Dia bukan penyuka strawberry, temen aku yang suka segala hal tentang Strawberry itu cuman satu doang, ya Amara, nggak ada yang lain,"ujarnya berfikir keras.
Fernando diam menunggu Ayudia menebaknya, ia sudah bersiap akan dibenci oleh wanita itu, apalagi tadi dirinya menceritakan, saat ia menghamili pacarnya empat tahun yang lalu.
"Nggak mungkin Amara kan a,"ujarnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Memangnya kenapa kalau itu Amara? Apa kamu marah?"tanya Fernando mulai penasaran.
Ayudia melambaikan tangannya, "nggak mungkin banget Amara mau digituin sama AA, waktu sekolah banyak yang suka sama dia, Amara aja nggak pernah mau, apalagi tipe player macam Aa, sampai ngaku kalau Dikta pacarnya malah,"
"Tapi apa Amara pernah berpacaran sama Dikta dulu?"
"Dikta sukanya sama Ayu, kita emang selalu bertiga, tapi setau Ayu mereka nggak punya perasaan satu sama lain,"
Fernando menghela nafas lega, akhirnya ia tau jika apa yang pernah dikatakan oleh istrinya benar adanya,
"Kok Aa kayak seneng gitu,"
"Ya seneng lah, ternyata Rara sama Dikta hanya sebatas sahabat, lega banget,"
Ayudia mengernyit, "kenapa Aa tau panggilan sayang Amara itu Rara? Jangan bilang, istri AA memang Amara Cahyani sahabat Ayu?"
Fernando meringis menunjukan gigi-giginya,
Ayudia menjerit, "aaaa.... Nggak mungkin, aa bohong kan? Amara nggak mungkin mau sama AA,"
"Aku nggak terima, masa iya Amara,"
"Tapi kenyataannya begitu Ayu, Amara Cahyani itu istri dari Fernando wolfer, kami menikah satu tahun yang lalu dan kami sudah dikaruniai seorang putri yang mirip aku, namanya Arana Wolfer, gabungan nama Nando dan Rara,"
Ayudia masih tak percaya, ibu dua anak itu menggelengkan kepalanya.
Fernando menelpon seseorang, menanyakan keberadaannya, lalu menyuruhnya ke lantai dimana dirinya berada, lelaki itu beralasan jika Aileen menanyakannya.
"Aku keluar bentar ya, mau jemput istri sama anak aku,"setelah mengatakan itu, Fernando keluar dari ruangan itu.
Lelaki itu berjalan menuju lift, ia memilih menunggu istrinya di sana, beberapa karyawan rumah sakit menyapanya.
Tak lama lift terbuka, ada Natasha, Rara dan Oscar yang menggendong Arana.
"Tumben Aileen nanyain aku,"ujar Rara yang berjalan dirangkul oleh Suaminya.
"Bohong kan Lo do,"celetuk Natasha yang berjalan bersama Oscar didepannya.
"Wah selain dokter, profesi Asha jadi cenayang ya! Keren,"ucap Fernando menunjukan jempolnya.
"Lo udah ngasih tau Ayu, kalau Amara bini Lo?"tanya Oscar.
"Udah tapi Ayu nggak percaya,"
Mereka masuk ke ruangan dimana Ayudia berada.
Fernando merangkul Rara, "nih istrinya Nando, sekarang percaya kan, sahabat kamu jadi istri aku?"
__ADS_1
Ayudia melebarkan matanya,
Rara melambaikan tangannya, sedikit rasa canggung, "hai Dia, apa kabar?"
"Amara, AA bohong kan, kalau Lo yang jadi bininya?"tanya Ayudia masih tak percaya.
"Nggak percaya banget sih Ayu, masa iya, aku mesti cium Rara disini,"jawab Fernando.
Rara mencubit perut suaminya, "nggak usah aneh-aneh mas,"
Wanita berhijab itu menghampiri sahabatnya, ia memeluknya erat, "gue kangen banget Di, Lo lama banget sih nggak bangun-bangun,"ujarnya sambil terisak.
Ayudia balas memeluk Rara, "gue pikir apa yang gue denger cuman mimpi Ra,"
Rara melepas terlebih dahulu pelukan mereka, "maksudnya?"
"Gue denger keluhan-keluhan Lo Ra, cuman gue pikir itu mimpi, terus waktu Lo Dateng sama Pradikta, gue pikir Lo udah sama dia, makanya gue nggak percaya kalau yang dimaksud AA itu Lo,"
"Jadi Lo denger semua apa yang gue omongin?"
Ayudia mengangguk, "gue pikir itu mimpi, tapi kok Lo bisa mau sama A Nando sih, dia kan player, kenapa nggak sama Dikta?"
Tak terima dengan ucapan Ayudia, Fernando menghampiri istrinya lalu memeluknya dari belakang, "jelas Rara mau, aku kan tampan dan kaya, iya nggak Rara sayang,"ujarnya sambil mencium pipi istrinya.
Ayudia sampai menganga melihat pemandangan di hadapannya,
"Apa-apaan sih mas, malu, nggak enak sama yang lain,"ucap Rara memperingati suaminya.
"Aku cuman mau nunjukin ke Ayu, kalau sahabatnya udah jadi istri aku, udah punya anak lagi,"ujar Fernando membela diri.
"Lihat deh, anak aku mirip kan?" Tunjuknya pada bayi yang digendong Oscar.
"Gue masih nggak percaya, kok bisa sih Amara, kenapa mesti A Nando yang brengsek itu sih?"ujar Ayudia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Namanya juga jodoh, iya kan Rara sayang,"
"Ayu nggak ngomong sama AA,"ucapnya kesal, "Ra, jujur sama gue, Lo dipaksa sama A Nando kan? Lo diancam kan? A Nando bukan tipe Lo banget, dulu kita emang ada omongan pengen dapet bule tapi bukan player macam A Nando, gue nggak ikhlas Lo sama cowok macam a Nando,"ungkap Ayudia pada sahabatnya.
Fernando yang tak terima mengeratkan pelukannya pada istrinya, sementara Rara hanya pasrah diperlakukan seperti itu, sejujurnya ia bingung menjelaskan pada sahabatnya.
"Di, maaf ya, gue juga sampai sekarang kayak berasa mimpi, tapi ya memang kenyataannya begitu, gue udah nikah sama Mas Nando setahun yang lalu, jujur gue mulai berhubungan dengan mas Nando dari empat tahun yang lalu, jadi saat kita ketemu di warung bakso, gue kaget, Lo kok bisa kenal sama dia,"
Ayudia berdecak kesal, "Amara Lo cuman cerita sama gue, soal Lo gagal nikah dua kali, Lo nggak cerita kalau pernah hamil anak cowok brengsek ini, benar-benar Lo ya, agh... Amara Lo bego banget sih,"
Rara melepas paksa pelukan suaminya, ia menghampiri sahabatnya, lalu memegang tangannya, "sorry Di, gue juga nggak nyangka bakal begini,"
"Lo udah tau belum busuknya laki Lo, denger Amara, gue tau banget se-brengsek apa laki Lo, dia sendiri yang ngaku ngapain aja sama ******-****** nya, kalau Lo kena HIV gimana?"
Fernando, Oscar dan Natasha melotot tak percaya dengan apa yang diucapkan Ayudia.
"Pokoknya, Lo mesti periksa Ra, Lo kena HIV apa nggak?"
Fernando menarik istrinya ke dalam pelukannya, lelaki itu marah dengan tuduhan yang dilontarkan Ayudia, "gue nggak kayak gitu, gue kalau nggak ingat, Lo bininya Ben, abis Lo, denger Ayu, gue emang brengsek tapi sejak gue ketemu Rara, nggak pernah sekalipun gue tidur sama cewek lain, dan gue selalu main aman, Lo tanya Oscar dia yang dampingi saat gue general check up, jadi jangan racuni pikiran bini gue sama pemikiran Lo,"
Ayudia terkejut mendengar ucapan kasar Fernando.
Menyadari suasana yang tak memungkinkan, Rara meminta suaminya keluar, karena ia ingin bicara berdua dengan Ayudia.
__ADS_1