Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
Seratus enam puluh sembilan


__ADS_3

Rara mendampingi Rombongan mengunjungi taman bermain yang dikelola suaminya keesokan harinya.


Fasilitas di sana cukup lengkap, Rara bisa melihat raut wajah bahagia dari para pengunjung yang berkunjung ke sana.


Pelayanan di sana juga cukup baik, petugas dengan ramah melayani pengunjung.


Mereka baru kembali dari taman bermain itu, menjelang sore,


Malam harinya, Rara mengajak rombongan mengunjungi rumah keluarganya,


Ia memberitahukan pada Dika dan Laras, jika ia dan rombongan akan datang berkunjung.


Sesampainya di rumah keluarganya, Laras sudah memasakan banyak makanan untuk menjamu tamu dari adik iparnya,


Tak lupa Rara memperkenalkan seluruh anggota rombongan pada Dika dan Laras,


Rara tau kakaknya ingin bertanya tentang remaja yang sangat mirip dengan suaminya, namun karena suasana Ramai, membuat mereka tak bertanya tentang hal itu.


Setelah makan dan berbincang tentang kehidupan sehari-hari masing-masing, rombongan pamit undur diri untuk kembali ke hotel.


Malam harinya, ponsel Rara berdering, itu panggilan video dari Dika dan Andi, ia tau cepat atau lambat keluarganya akan menanyakan tentang Nicholas.


Setelah mengucapkan salam, Andi yang membuka obrolan terlebih dahulu,


"tadi Dika udah cerita, kamu sama temen-temen, mampir ke rumahnya, terus diantara mereka ada remaja yang mirip banget sama suami kamu, dan Dika juga bilang, dia panggil kamu Uma, apa maksudnya dek, kamu nggak menyembunyikan sesuatu dari kami kan?" ucap Andi.


Rara bisa melihat tatapan bertanya dari kedua kakaknya,


Wanita itu menghela nafas, "Itu Nicholas anaknya mas Nando hasil hubungannya dengan mantan pacarnya saat SMA,"


Dika sempat protes tapi Rara meminta kakaknya mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu,


"Jadi setelah kami menikah, mantan pacarnya kembali dari luar negeri dengan membawa Nicholas, saat itu dia sedang mengidap penyakit kanker, dia meminta mas Nando bertanggung jawab, mau tak mau, atas kesepakatan bersama, akhirnya Nicholas diasuh oleh kami,"


"Mas Andi sama mas Dika tenang aja, Nicholas baik dan nurut sama aku kok, dia jagain aku dan Arana kalau lagi nggak ada mas Nando,"


"Apa Nando tau, kalau dia udah punya anak sebelumya? kenapa nggak dari dulu wanita itu minta pertanggung jawaban? kenapa setelah Nando menikah?"

__ADS_1


"Menurut pengakuan perempuan itu, dia nggak yakin ketika meminta pertanggung jawaban, secara mas Nando masih sekolah, dan Umi Fatimah saat itu hanya guru honorer, mungkin dia berfikir jika keluarga mas Nando itu kekurangan, padahal nggak kayak gitu, Kalian tau sendiri bukan penampilan umi Fatimah biasa saja, meskipun punya usaha villa yang cukup besar sedari kepindahan beliau dari Jerman hampir dua puluh tahun yang lalu,"


"tapi dek, dia itu aib, bisa-bisanya kamu terima, lali bagaimana dengan mantan pacar suami kamu? Apa dia masih merongrong suami kamu?" tanya Dika.


Rara terdiam menunduk, tak berani menatap kedua kakaknya.


"Dek, cerita aja, kami keluarga kamu, kami siap mendengarkan semua keluh kesah kamu," giliran Andi yang berbicara.


Rara menatap ponselnya dengan berkaca-kaca, "Dia meminta aku untuk melepaskan suamiku,"


Rara bisa mendengar helaan nafas kedua kakaknya,


" Dek, apa kamu masih menyayangi suami kamu? jika ia pertahankan bagaimanapun caranya, mas bisa lihat Nando juga menyayangi kamu, tapi jika memang kamu sudah tidak sanggup, kamu bisa kembali kepada kami, mas Andi siap bertanggung jawab atas kamu dan Arana," ujarnya berusaha menenangkan adik bungsunya.


"Aku sayang sama suamiku mas, tapi terkadang aku lelah, jika terus menerus di kirimi pesan seperti itu,"keluh Rara.


"coba diomongin ke suami kamu, solusi terbaik, kalau seperti ini terus kamu yang akan tersiksa sendiri,"ujar Andi.


Rara mengangguk dan berterima kasih kepada kedua kakaknya, sepertinya mereka sudah menerima keberadaan anak sambungnya.


Sinta yang sedari tadi belum tidur, mendengarkan semua pembicaraan kakak beradik itu.


Rara yang baru saja mengakhiri panggilannya dengan kedua kakaknya, terkejut ketika teman sekamarnya menegurnya,


"tapi jangan bilang-bilang ya! kasihan mbak Tamara kalau sampai Mas Nando tau, mbak Sinta tau kan apa yang dilakukan mas Nando ke mbak Citra?"


Sinta mengangguk, "Ngeri juga kalau Nando udah ngamuk, tapi saran mbak, kamu harus tegas sama Tamara, apalagi aku lihat Nicholas sayang banget sama kamu,"


"iya mbak, aku juga lagi mikirin cara yang tepat,"


Keesokan harinya rombongan berkunjung ke tempat dimana dulu, Fernando dan Rara berkunjung, sebuah tempat dengan air super jernih, dengan pemandangan tanaman hijau dibawah air.


Yang menyambut antusias tentu keempat remaja itu, mereka berenang di sana,


Bahkan Sandra, Cristy dan Fitri yang memakai baju renang khusus muslimah, tak mau ketinggalan, menikmati keindahan bawah air tawar yang jernih itu.


Menjelang sore, usai beristirahat di hotel sejenak, Rara kembali mengajak mereka ke pantai untuk melihat mata hari terbenam,

__ADS_1


Tempat dimana dulu untuk pertama kalinya Fernando menciumnya.


Banyak momen yang mereka abadikan melalui kamera ponsel masing-masing.


Terlihat wajah-wajah ceria diantara mereka, liburan tanpa pasangan mereka yang posesif.


"Sering-seringlah kalau dikasih sehat, kita jalan-jalan begini, seru kali ya!"celetuk Sandra saat mereka dalam perjalanan pulang setelah menikmati pemandangan pantai saat matahari terbenam.


"Udah pernah pada nyoba Villa yang di Lembang belum?"tanya Rara.


Sebagian menggeleng kecuali Sandra, "aku pernah, saat peresmian, cuman ya nggak sempat nikmatin, namanya juga lagi kerja, tapi kayaknya villa-nya bagus, mau deh ke sana dua bulan lagi,"


"Yah mbak, aku nggak bisa dong, kan jauh,"ujar Fitri yang duduk bersebelahan dengan Cristy.


"Kenapa nggak bisa, kamu tinggal ke Bandung naik kereta, terus kami jemput,"ucap Sinta.


"Boleh mbak?"tanya gadis itu pada Rara,


Sementara yang ditanya, menunjukan jempolnya tanda setuju.


Sebelum kembali ke hotel mereka berwisata kuliner di sekitar Alun-alun kota.


Hari ini adalah hari terakhir mereka ada di kota itu, karena esok siang mereka harus kembali ke ibukota.


Tak lupa akan janjinya pada Cahaya, dengan menyewa motor dari pihak hotel, Rara bersama Arana mengunjungi rumah Murni.


Bocah perempuan yang sebentar lagi akan memasuki sekolah dasar itu, menyambut antusias kedatangannya.


Meskipun karena sekolah libur, Cahaya tidak bisa memamerkan wanita yang dipanggilnya bunda pada teman-teman sekelasnya, tapi bocah itu bahagia dengan kedatangannya.


Karena akan kembali ke ibukota sore harinya, Rara tak bisa berlama-lama di kediaman Murni.


Sebelum Pulang, Murni membungkus kan beberapa makanan untuk dibawa ke hotel, agar bisa di nikmati bersama teman-teman mantan calon menantunya.


Sebelum sampai di Stasiun, rombongan mampir ke salah satu pusat oleh-oleh di kota Malang, membeli buah tangan untuk dibawa menuju ibu kota.


Liburan singkat, yang membuat mereka semakin akrab dan saling mengenal, terutama para remaja itu.

__ADS_1


Ada harapan, kegiatan seperti ini bisa sering dilakukan oleh mereka.


__ADS_2