Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
103. Awal Masalah Baru


__ADS_3

Bimo memasuki ruang dimana mama Halimah masih mengobrol dengan Bu Siti.


"Ada apaan sih mah..?, tumben mama nyuruh aku datang kayak ada yang penting banget," kata Bimo begitu dekat sambil mencium tangan mamanya.


"Tumben anak mama mukanya kusut," mama Halimah tidak menjawab, malah sedikit meledek Bimo yang nampak suntuk wajahnya.


"Ada apa sih..? kok mukanya di tekuk kayak aki aki," kembali mama Halimah bertanya.


"Aku nyari nyari Meytta ma.., dari tadi sore enggak ketemu," jawab Bimo sambil menghempaskan diri di kursi sofa yang ada di sana.


"Emangnya kenapa kamu nyari nyari Meytta..?, memangnya apa yang sudah kamu lakukan padanya ..? anak mama yang ganteng..? kata mama Halimah.


Bimo kaget dan memandang mama nya, merasa aneh dengan perkataannya.


"Memangnya mama udah tahu masalah yang Bimo hadapi..?," Bimo bertanya dengan lemah.


"Mama ini tahu semua yang terjadi dengan anak mama," kata mama Halimah sok hebat.


Bimo menghembuskan nafas dengan kesal sambil duduk menyelonjorkan kakinya.


Bu Siti hanya memandang anak majikannya yang sudah di anggap anaknya sendiri, dengan tersenyum.


"Bu Siti kok malah senyum senyum lihat aku pusing sih ..Bu," sungut Bimo dengan sedikit cemberut.


"Makanya mas Bimo cerita dong sama kita kita, jangan diam diam saja dari tadi, malah enak enak selonjoran," kata Bu Siti pelan.


"Cck..Bu Siti ini, aku selonjoran karena bingung masih mikir."


Kemudian Bimo menceritakan kepada mama halimah dan Bu Siti orang yang sudah berjasa dalam hidupnya itu, tentang kejadian yang sebenarnya di kampusnya tadi pagi.


"Begitulah ceritanya mah...., eh ..siang tadi tiba tiba Meytta ngirimi aku gambar itu, dan sampai saat ini Bimo cari Meytta kemana mana belum ketemu," kata Bimo kepada mama dan Bu Siti dengan lesu.


"Bener.. kamu enggak ada hubungan apa apa sama gadis itu..?," tanya mama Halimah penuh selidik.


"Emang mama ijinin Bimo punya istri dua..?," goda Bimo kepada mamanya.


"Enggak...!.boleh..!," kata mama.


"Enggak ..apa ..boleh siih..? Bimo jadi bingung..?," Bimo pura pura blo'on menggoda mama dan Bu Siti.


"Tadi bilangnya enggak..selanjutnya ..boleh... mana yang benar ma..?," tanya Bimo.

__ADS_1


"Mama bilang enggak boleh ..! anak mama yang ganteng..,"jawab mama Halimah dengan gemas.


"Naah...itu mama tahu, enggak mungkinlah anak mama yang ganteng dan bertanggung jawab ini mempermainkan hati wanita," kata Bimo kepada mama dan Bu Siti.


"Apalagi wanita yang Bimo sayangi," kata Bimo kembali.


"Beneraan..?.," kata mama dan Bu Siti berbarengan.


"Beneran.. lah.... mah...," kata Bimo dengan penekanan.


Mama Halimah tiba tiba memandang ke arah lain.


"Sekarang kamu dengar sayang..pengakuan anak nakal ini..," kata mama.


Sontak Bimo meloncat berdiri dan berjalan ke arah mana mama memandang.


"Lho...kok kamu ada di sini sayang..?," kata Bimo menghampiri Meytta yang masih duduk di sebuah kursi di sana.


"Aku cari cari kemana mana..," kata Bimo lagi.


"Habisnya mas Bimo ..jahat," kata Meytta sambil cemberut tapi wajahnya sudah tak sesuntuk tadi sore.


"Tadi kamu sudah dengar kan, apa yang aku ceritakan, begitulah ceritanya."


Akhirnya dengan sedikit bujukan yang meyakinkan hilanglah rasa sedih dan galau di hati Meytta.


"Ya udah..sayang kamu kabari mama kamu, bilang kalau kamu di sini, soalnya tadi sedikit khawatir saat aku mampir ke rumah kamu," kata Bimo.


Meyttapun menuruti perkataan Bimo dan menghubungi mamanya.


**


Di sebuah ruang sidang yang sedang menyidangkan kasus penculikan.


Nampak Johan duduk di kursi pesakitan dengan wajah tertunduk.


"Berdasarkan keterangan saksi saksi dan dengan adanya bukti bukti yang menguatkan."


''Maka dengan ini kami putuskan terdakwa Johan akan di hukum selama lima tahun penjara di potong masa tahanan selama **** ***** hari."


Tok...! tok..! palu di ketuk bapak hakim.

__ADS_1


Sesaat terjadi kekisruhan di ruang sidang antara pihak yang pro dan kontra dengan kasus tersebut.


Sebenarnya kasus itu sudah di putuskan beberapa waktu yang lalu namun pihak Johan naik banding, hingga akhirnya saat inilah putusan kembali di jatuhkan majelis hakim.


Hartono yang mengetahui hasil putusan itu sangat berang.


"Kurang ajar...mereka mau bermain main dengan ku rupanya," dengan geram tuan Hartono bergumam.


"Gara gara mereka anakku sampai begini," gumamnya kembali.


Di panggilnya anak buahnya, yang biasanya di perintah untuk mengacaukan dan menyerang lawan bisnisnya melalui serangan cyber.


Hartono akan menggunakan cara cara lama kembali untuk menghancurkan perusahaan lawan yang di incarnya.


"Kau serang perusahaan ini dan ini, hancurkan sehancur hancur nya," kata Hartono kepada orang orang tersebut.


Beberapa orang tersebut nampak menganggukkan kepalanya.


"Baik tuan akan kami laksanakan apa yang tuan perintah kan," jawab orang orang itu sebelum meninggalkan tempat tersebut.


Bara dendam di hati tuan Hartono sudah membuatnya gelap mata dan mengambil keputusan yang salah.


Sebagian anak buah tuan Hartono yang mendengar keputusan dari pimpinan tertinggi nya itu menjadi kaget.


Kebetulan saat itu Rani yang sedang menyerahkan berkas untuk di tanda tangani masih berada di sana.


Rani hanya mendengar perintah tuan Hartono untuk menghancurkan dua perusahaan.


Baginya itu bukan urusannya, dia hanya pegawai kecil di perusahaan itu, hanya seorang sekertaris dari asisten tuan Hartono.


Yang sesekali memasuki ruang itu jika di perintahkan oleh atasannya untuk mengambil berkas maupun mengantar berkas.


Sebenarnya perbuatan tuan Hartono yang berlaku seperti itu sudah bukan rahasia di perusahaan itu, karena perbuatan itu sudah berulang kali di lakukannya.


"Siapa lagi kali ini musuh tuan Hartono ya..?," batin Rani sambil mengambil berkas berkas yang ada di meja pucuk pimpinan perusahaan itu sebelum meninggalkan ruang tersebut.


__________


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejak...


Baca juga karya lainku...bila berkenan...

__ADS_1


Happy reading**...


__ADS_2