Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
115. Empat Anak


__ADS_3

Bimo masih terkekeh geli melihat kecanggungan calon istri nya.


"Memangnya mas Bimo nggak malu sama mama Halimah dan pekerja yang lain .?," sungut Meytta.


Bimo malah kembali meraih dan menarik pinggang Meytta hingga terjerembab jatuh di atas tubuh Bimo yang masih tiduran.


"Aauww..!!!."


Bruuuuk.. tubuh Meytta terjatuh di atas tubuh Bimo, dan berteriak cukup keras.


"Bukankah yang enggak tahu malu ..kamu sayang...?, ngapain coba teriak teriak..? ..mau kalau mamah sama yang lain nyusul ke kamarku ini..?," kata Bimo sambil terkekeh.


"CcK..Mas Bimo..jahat..," sungut Meytta cemberut dengan masih ada di atas tubuh Bimo.


Keduanya masih saling menatap mengagumi ketampanan dan kecantikan dari pasangannya.


Tok.. tok...tok..!


Sebuah ketukan pintu membuyarkan keduanya, dengan tergesa Meytta bangun dari tubuh Bimo.


Namun Bimo masih jahil,dengan memeluk pinggang Meytta hingga dirinya kesulitan untuk bangun dari tubuh calon suaminya itu.


Disaat Meytta masih mencoba bangun dengan kesulitan, Bimo malah mengecup bibir Meytta dengan cepat.


Cuuup...


Blusss..muka Meytta langsung memerah namun tampak senang, kemudian berdiri dan membuka pintu kamar itu.


Cekleek..


"Eeh..Bu Siti...? ada apa ya Bu..? tanya Meytta dengan se natural mungkin, padahal jantungnya berdebar debar dengan perlakuan Bimo barusan.


"Non Meytta kan belum makan sejak datang bareng nyonya Halimah..?, Sekarang makan yuuk..Bu Siti sudah masak kesukaan mas Bimo, entar malah masuk angin kalau telat makannya." kata Bu Siti kepada Meytta.


"Oh..iya ..Bu Siti, maksh Bu Siti saya tak manggil mas Bimo sebentar," kata Meytta sambil berjalan kembali ke kasur Bimo yang masih malas malasan.


"Ada apa sayang..?," tanya Bimo.


"Bu Siti mas, nyuruh aku makan siang .. katanya udah masakin kesukaan mas Bimo."


"Loh..kamu belum makan siang..?."

__ADS_1


Meytta menggeleng dan tersenyum kecil.


"Tadi aku mengantuk banget mas, semalam cafe ramai banget, makanya aku pulang agak malam."


Bimo langsung bangun dari bermalas-malasan karena mendengar Meytta belum makan siang.


"Ayuk aku temani makan siangnya, masakin apa sih Bu Siti..? kok bilangnya kesukaanku," kata Bimo sambil menggandeng tangan Meytta.


Meytta yang masih malu malu keluar dari kamar hanya menundukkan kepalanya sampai di meja makan.


Dimeja sudah terhidang aneka makanan, ada udang lobster bumbu manis, ada Bandeng bumbu rujak kesukaan Bimo tapi juga ada bestik daging sapi dan aneka oseng serta sayur.


Bimo menarik kursi untuk Meytta dan menarik lagi untuk dirinya.


Meytta mengambil piring setelah mencuci tangan.


"Mas Bimo mau makan apa..?."


"Bandeng bumbu rujak aja," kata Bimo.


"Memang nya cuma kita yang makan mas..?, mama kemana..?."


"Lha memangnya di sini masih ada kegiatan kayak begitu..?."


"Ya..harus ada...sayang, kan kita makhluk sosial harus bersosialisasi dengan masyarakat dan mama salah satu yang menggerakkan nya." jawab Bimo menerangkan kembali.


"Nanti kamu kalau jadi istri mas Bimo juga wajib menjadi penggerak kegiatan sosial di lingkungan kita."


"Enggak mau ..ah, kadang suka repot ngurusi ibu ibu," jawab Meytta.


"Eh..bukan ibu ibu.., maksud mas Bimo... lingkungan kita ...ya...anak anak kita," kata Bimo sambil cengengesan.


Meytta jadi tersipu apalagi ada Bu Siti di sana yang senyum senyum.


"Memangnya mas Bimo sudah punya rencana mau punya anak berapa..?," Bu Siti nyeletuk.


"Ya...tiga atau empat Bu...biar ramai..."


"Haah..?!?!,..empat..?!?!?!," Meytta.


"Asyyiikk.. Bu Siti nanti dapat banyak momongan," Bu Siti malah teriak kegirangan.

__ADS_1


Pak Joko yang masih ada di taman samping sambil menghias dan bersih bersih di bantu tukang kebun tiba tiba nongol.


"Eeh..ada ..apa..?Bu'e kok sorak sorak kegirangan ..?," tanya pak Joko kepada istrinya Bu Siti.


"Mas Bimo mau punya empat baby Pak'e," kata Bu Siti masih tampak kegirangan.


"Hah...emang mas Bimo sudah mbuat anak ya mas..?."


"Waduuh...pak Joko, bisa di gampar aku kalau macam macam."


"Ya ..belum lah pak..nikah aja belum masak buat anak..itu kan orang orang sono..tuh, yang kagak ada akhlak nya," kata Bimo yang di angguki Meytta tanpa sengaja.


"Oalaaah...baru rencana to..? hehe..kirain ...mas Bimo udah coba coba," kata pak Joko lagi menggoda Bimo.


"Iishh...pak Joko.., emang pak Joko dulu begitu..ya sama Bu Siti..?," ganti Bimo yang menggoda.


"Eeh...gini gini ..pak Joko ini anak pak ustadz di kampung,... tahu aturan mas..," kata pak Joko.


"Iya mas..kalau bapak macam macam sama ibu... sudah ibu getok pakai centong nasi," kata Bu Siti berapi api.


"Kalau saya enggak di getok, malah di sayang...iya kan sayaang..," kata Bimo sambil minta dukungan Meytta.


"Ish...mas Bimo ngaco..," kata Meytta sambil tersipu dan meneruskan acara makannya.


Semua akhirnya terdiam, Bimo dan Meytta melanjutkan acara makan sedangkan Bu Siti kembali ke dapur mengatur pekerja dapur, pak Joko kembali ke taman mengawasi pembersihan dan pembuatan taman.


"Memangnya mas Bimo mau mengajak Meytta kemana sih nanti malam mas..?," tanya Meytta yang penasaran.


"Kita kan sebentar lagi menikah..? belanja untuk kita sudah, persiapan pesta sudah, pokonya semua kebutuhan kita sudah terpenuhi, Saatnya kita berbagi," kata Bimo.


Meytta yang belum mengerti apa maksud Bimo hanya termangu.


__________


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...


Bila berkenan baca juga karya lainku....


*Sang Pengacau (silat)


* Aku Lebih Mencintaimu (romantis**)

__ADS_1


__ADS_2