Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
134. Pesta Pernikahan dan Tragedi nya


__ADS_3

Siang itu semua beristirahat di kamar masing masing di karenakan malam harinya masih akan ada lagi pesta yang kembali di gelar.


Pesta nanti malam di adakan dalam balutan pakaian bebas, tak seperti pagi hari yang bernuansa formal.


Jika pagi hari kedua pengantin resmi memakai pakaian pengantin dan tamu undangan rata rata memakai batik, tapi nanti malam semua nya bebas tapi sopan.


Bimo dan Meytta masih di dalam kamar nya bercanda dan bersenda gurau, kadang bercerita tentang kejadian kejadian saat prosesi yang membuat keduanya tertawa terpingkal pingkal.


Meskipun keduanya pelaku prosesi tersebut namun keduanya juga asing akan kegiatan tersebut dan hanya karena arahan dari pembawa acara lah mereka bisa melakukannya.


Masih dengan bercanda canda keduanya saling berpelukan di atas kasur hingga sholat ashar tiba.


"Sayang kita sholat dulu yuk..nanti keburu habis waktu nya....habis itu kita jalan jalan keliling hotel, melihat bangunan ini, kan....besok kita juga yang kelola ini hotel," kata Bimo sambil melepaskan pelukan ke istrinya.


Setelah sholat ashar keduanya nampak berjalan jalan mengelilingi area hotel menikmati suasana di sana.


Kadang kadang bertemu dengan teman teman dan tamu undangan lalu bertegur sapa serta bercanda canda.


"Lho... pengantin nya kok malah jalan jalan..?," teriak teman teman Meytta begitu melihat temannya itu jalan jalan....siapa lagi kalau bukan trio ceriwis yaitu Debora, Shinta dan Wulan.


"Lha..memangnya kalau pengantin baru ngapain...?," malah Debora yang bertanya kepada kedua teman lainnya.


"Tau...hehehe...??," jawab Shinta dan Wulan menjawab pertanyaan Debora bersamaan.


"Kan..aku belum pernah jadi pengantin..," malah ketiganya yang berbantah bantah an.


Bimo dan Meytta tersenyum melihat ulah ketiga gadis tersebut.


"Sudaah....sudaah...kalian belum cukup umur..," goda Meytta.


"Huuuu...mentang mentang sudah punya gandengan...," teriak ketiganya sambil menjulurkan lidahnya.


"Kok kalian pada di sini...?," tanya Meytta kepada ketiga teman lainnya.


"Habiiis kemana lagi beib.., di kamar paling kita ya gitu..gitu..aja..enggak kayak kalian berdua....huhuhu...," jawab Shinta sambil pura pura mewek.


"Lho...kan..ada cafe..ada...kolam renang ada tempat Gym," sahut Bimo kepada ketiganya.


"Males mas...mau olahraga.., mau ke cafe..enggak mau ... boros," kata ketiganya sok sokan.


Meytta yang mendengar itu tertawa.


"Alaaah....gaya lu ..biasanya kan suka hambur hamburin uang..," goda Meytta.


"Eiith....itu kan dulu beib...sekarang kita kan mau lulusan, bentar lagi wisuda..dan harus cari duit sendiri, saatnya..ngirit," jawab Debora.


"Kamu..sih..enak...dapat mas Bimo, sudah ganteng... tajir...setia lagi," sahut Wulan.


"Lha kami...boro..boro suami..pacar aja gak..punya.. huhu hu..," sahut ketiga nya sambil berpelukan.


Bimo dan Meytta kembali tersenyum, kemudian pamit berlalu dari tempat itu untuk melanjutkan acara keliling hotelnya sambil melihat lihat.

__ADS_1


Di ruang tempat pesta nanti malam sudah mulai di siapkan.


Meja meja sudah di atur sedemikian rupa beserta kursi kursi nya dan perlengkapan nya.


Pesta malam nanti memang akan di adakan di hotel tidak di gedung resepsi yang pagi tadi.


Bimo sekilas melihat ruangan yang nanti malam akan di gunakan untuk pesta itu.


"Mari tuan muda...," kata beberapa petugas yang mengenalinya.


Bimo menganggukan kepalanya menjawab sapaan petugas hotel tersebut.


Setelah dari ruangan tersebut keduanya kembali berkeliling dan berhenti di taman hotel yang berada di lantai satu.


Keduanya duduk di taman yang lumayan luas tersebut.


Sangat jarang ada hotel yang memiliki taman seluas tempat tersebut, memang oleh papa Haryo hotel tersebut di konsep untuk keluarga namun juga bisa di jadikan tempat outbound maupun family gathering untuk perusahaan perusahaan kecil yang ingin mengakrabkan karyawanya melalui family gathering.


"Lha..itu bang Anton dan bang Fachri..," seru Bimo kepada Meytta yang masih di gandeng nya.


Keduanya pun menghampiri kedua keluarga yang masih nampak bermain di sana.


"Bang..," sapa Bimo kepada keduanya.


"Wuiihh..bos Bimo.., kok malah jalan jalan..?," sahut bang Anton yang di susul anggukan kepala oleh bang Fachri.


Bimo tersenyum..udah kebal dengan ledekan dan guyonan teman temannya.


"Issh...apa sih mas..," sahut meytta mencolek pinggang suaminya tersebut sambil tersipu.


"Udaah...udaaah..tuuh..non Meytta jadi malu," kata mbak Ratih menghentikan godaan orang orang.


Bimo dan Meytta kemudian ikut nimbrung duduk duduk di sana sambil mengobrol kan segala hal.


Hingga waktu Maghrib tiba mereka membubarkan diri kembali ke kamar masing masing.


**


Habis sholat isya, acara untuk pesta malam itu di mulai.


Satu persatu para tamu berdatangan.


Bimo yang menggunakan tuxedo hitam nampak sangat tampan.


Demikian pula dengan Meytta yang memakai gaun dengan warna dasar hitam juga nampak cantik dan anggun.


Keduanya sudah berdiri di tempat yang sudah di tentukan, di sana juga sudah ada papa Haryo beserta mama Halimah dan papa Adrian beserta mama Qonita.


Semua nampak menikmati pesta malam itu, setelah bersalaman dan mengucapkan selamat bagi yang belum bisa datang pagi tadi.


"Bimo...,selamat ya..." sebuah suara mengagetkan Bimo dan Meytta yang masih mengobrol berdua.

__ADS_1


Entah kapan datangnya Arlita sudah ada di depan Bimo dan Meytta untuk mengucapkan selamat, tapi yang membuat Meytta jengkel adalah sambil mengucapkan selamat Arlita memeluk Bimo dengan tiba-tiba.


Arlita yang malam itu berdandan dengan maksimal memang terlihat cukup cantik, hal itu membuat hati Meytta sedikit panas, apalagi Arlita sedikit lama memeluk Bimo.


"Aku juga kepingin di langsungkan pesta seperti ini denganmu," bisik Arlita sambil memeluk Bimo.


Bimo berusaha melepaskan diri dari pelukan gadis nekat tersebut.


Setelah di rasa puas Arlita mendekati Meytta.


"Selamat kamu berhasil mendapatkan orang yang aku sukai sejak dulu...tapi aku belum menyerah..ingat itu," ancam Arlita kepada Meytta sambil meninggalkan pesta itu dan pergi dari hotel tersebut dengan berlinang air mata.


Meytta menghela nafas panjang.


"*Huuh..dasaar..pelako*r."


Meytta menjadi sedikit terganggu dengan peristiwa tersebut.


"Nggak..usah..di pikirkan sayang.. dasar gadis sinting ," sungut Bimo sambil menenangkan istrinya.


Untungnya peristiwa itu terlepas dari pengawasan kedua pasang orang tua keduanya, hanya mama Halimah yang sedikit tanggap akan peristiwa tersebut karena mama Halimah pernah melihat foto Arlita saat dulu Meytta mengadu.


Meskipun mencoba menutupi nya namun kegundahan masih sedikit nampak di wajah Meytta.


"Kenapa kamu Mey...?," tanya mama Qonita yang melihat Meytta jadi sedikit murung.


"Kamu sakit...?." tanya mama Qonita sambil mendekati anaknya.


Meytta tersenyum, menggeleng kan kepalanya.


"Mungkin cuma kelelahan ma..," sahut Meytta mencoba tersenyum.


Acara pesta itu berlangsung sangat meriah dan mewah hingga hampir pukul 23.00 dimana akhirnya acara itu selesai.


Bimo menggandeng istrinya yang kini nampak pendiam.


"Maaf sayang kejadian yang tadi..," kata Bimo yang tahu apa penyebab kegundahan hati istrinya.


Meytta memeluk Bimo, dengan erat sepanjang jalan menuju kamar mereka.


"Aku senang kamu sekarang menjadi milikku mas,..ku harap tak ada yang akan bisa merebut mu dari sisiku," kata Meytta sambil mengeratkan pelukannya.


"Tak akan sayang...," kata Bimo sambil mencium kepala istrinya yang tertutup hijab, karena semenjak ijab qobul Meytta masih menggunakan pakaian berhijab hingga pesta malam ini.


__________


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...


Baca juga karya lainku..dan berikan dukungan nya di sana...


Terimakasih happy reading**....

__ADS_1


__ADS_2