
Bimo kembali menyusuri jalanan yang ada tanpa arah dan tujuan hanya berharap menemukan sedikit titik terang keberadaan Meytta.
Sepanjang jalan hanya doa dan harapan agar kekasihnya itu selalu dalam lindunganNya dan baik baik saja.
"Kemana lagi aku harus mencari..?," batin Bimo dengan perasaan khawatir.
Disaat Bimo sedang kebingungan berpikir di mana keberadaan Meytta tiba tiba telpon genggamnya berbunyi.
Drrtt.. Drrtt... (suara telpon)
"Ya halo, dengan siapa ini..?," tanya Bimo yang melihat nomor asing di telponnya.
"Maaf aku menghubungimu," terdengar suara wanita di sana.
"Bisakah kita bertemu di suatu tempat..?," kata wanita itu.
"Sebentar...anda.. siapa..? kenapa inign bertemu dengan ku..?," kata Bimo kembali yang masih dengan nada jengkel karena merasa di permainkan.
Mendengar Bimo nampak jengkel si penelpon kemudian berkata.
"Apakah ada salah satu temanmu yang hilang atau di culik orang..?," kata wanita itu.
BYaaar..!!
Seketika otak Bimo bagai tersetrum.
Hatinya seketika gembira sedikit titik terang keberadaan Meytta sudah di dapatkan nya.
"Baik kita ketemu di mana.?," kata Bimo yang menjadi sangat antusias.
Kemudian gadis itu mengatakan sebuah tempat yang akhirnya di setujui oleh Bimo untuk menjadi tempat pertemuan mereka.
**
Di tempat lain Anabelle yang masih geram dengan segala sikap kakaknya, bingung untuk mengambil sikap.
Hatinya penuh kebimbangan antara mengungkapkan kejahatan yang di lakukan kakaknya atau membiarkan kejahatan itu.
"Apa yang harus ku lakukan..?."
"Apakah aku harus memberitahukan keberadaan gadis yang di culik kakakku..?
"Tapi imbasnya akan terjadi masalah dengan kakakku."
"Atau akan ku diamkan saja semua perbuatan jahat kakakku."
"Tapi hati nurani ku tak tega melihat keselamatan gadis itu dan terjadi kejahatan di depan mataku," batin Anabelle berkecamuk sendiri.
Anabelle teringat kejadian tadi saat dia menemukan telepon genggam gadis yang diculik kakaknya, saat itu gadis yang tengah pingsan itu di pindahkan dari mobil ke salah satu kamar di rumah kedua itu.
Kemudian telpon genggam nya terjatuh, saat itulah dia mengambilnya dan memeriksa salah satu panggilan terakhir yaitu nomor Bimo, dia sempat mencatatnya sebelum telpon genggam itu di rebut kakaknya dengan berbagai ancaman.
"Awas ya ..jangan mencampuri urusanku, kalau tidak ingin ku buang dari keluarga ini," kata Johan kepada adiknya itu.
__ADS_1
Anabelle makin sakit hati dengan tingkah dan perbuatan kakaknya tersebut.
"Untung aku sempat mengingat nomor panggilan terakhir gadis itu," batin Anabelle.
Meskipun mendapat ancaman namun Anabelle selalu mengawasi semua perilaku dari kakaknya itu, bahkan dirinya membela Meytta saat Johan bertindak kasar dan kurang ajar kepada gadis itu.
**
Di kantor GSB group penelusuran dan penyelidikan penculikan juga masih terus di lakukan.
Pelacakan lewat tekhnologi masih belum mendapatkan hasil yang di harapkan.
"Panggil kemari dua orang suruhan pak direktur itu," kata Andre kepada bawahannya.
Segera dua orang yang di perintahkan menjadi "pengawal bayangan" menghadap ke ruang asisten direktur itu.
"Ceritakan kepadaku bagaimana sebenarnya yang kalian alami," kata Andre kepada dua orang itu.
Kemudian dua orang tersebut menceritakan bagaimana kejadian, sesuai yang di hadapi mereka berdua.
"Apakah kalian sempat mencatat nomor mobil mereka," kata Andre.
"Ya pak kami sudah mencatat nomor tersebut, dan kami juga sudah memberitahu kan tentang nomor mobil itu kepada polisi Kemarin di kantor polisi," kata dua orang itu.
"Kira kira menurut kalian siapa dalang pelaku penculikan ini," tanya Andre lagi.
"Kami belum bisa menjawabnya pak, tapi..," kedua orang itu tak meneruskan perkataannya.
"Tapi kenapa..?," tanya Andre.
Andre menganggukkan kepala mendengar keterangan bawahannya itu.
"Ya sudah kalian boleh pergi, tetap awasi situasi bila ada yang mencurigakan segera laporkan," kata Andre.
"Baik pak," kata dua orang itu yang langsung pamit meninggalkan ruang asisten direktur itu.
**
Bimo tampak memasuki sebuah cafe yang lumayan sepi, tempat tersebut memang terletak sedikit di pinggiran sudut kota.
Meskipun tempat itu berada di pojok kota namun tidak mengurangin kenyamanan tempat itu.
Sesuai pesan yang di kirimkan, gadis yang ingin bertemu itu meminta untuk bertemu di tempat itu.
Drrtt...drrrtt...
Telpon genggam Bimo berbunyi.
"Ya ..halo, saya sudah di lokasi yang anda minta," kata Bimo.
"Baik saya akan menuju di meja no 29 ," kata Bimo sambil menuju ke bagian kasir menanyakan letak meja tersebut.
Ternyata cafe tersebut cukup luas dan bentuk bangunannya leter L, dan Bimo pun menuju meja yang di maksudkan.
__ADS_1
Dimeja no 29 sudah nampak seseorang duduk dengan memakai jaket hodie yang di tutupkan di kepalanya.
Bimo mengawasi sesaat orang itu, begitupun dengan orang tersebut yang nampak terkesiap memandang Bimo.
"Maaf apa anda orang yang menelpon ku untuk membicarakan tentang temanku..?," tanya Bimo kepada gadis tersebut.
Dengan sedikit kaget gadis itu sedikit mengangguk.
"Temannya Meytta ya..?," kata gadis itu.
Merekapun bersalaman.
"Maaf saya tidak bisa lama-lama," kata Bimo.
Gadis itu menganggukkan kepalanya.
"Saya paham apa yang anda pikirkan, justru itulah aku ingin lekas bertemu denganmu," kata gadis itu.
Merekapun berbasa basi sesaat sebelum Anabelle mengatakan siapa dirinya dan di mana keberadaan Meytta.
Bimo kaget mendengar siapa sesungguhnya gadis di depannya itu dan siapa yang telah menculik kekasihnya.
"Maaf apa maksud nona memberitahu kan semua ini..?"
"Bukankah Johan kakak anda..?" kata Bimo yang masih belum hilang dari keterkejutan nya.
"Memang dia kakakku, justru karena dia kakakku aku ingin menghentikan segala tingkah laku dan keburukannya," kata Anabelle dengan penuh keyakinan.
"Baiklah sekarang ada di mana lokasi tempat penyekapan Meytta," tanya Bimo.
Setelah memberikan alamat dan denah rumah nya sekilas, akhirnya dua orang itu berpisah.
Bimo segera menghubungi kepolisian melaporkan apa yang di peroleh nya, juga menelpon teman teman Dojo untuk melakukan pengawasan sebelum polisi datang menggerebek tempat tersebut.
"Halo bang.., aku sudah mengetahui di mana lokasi pacar ku di culik, bisa minta tolong di awasi sebelum kepolisian datang, soalnya lokasinya lebih dekat dari Dojo," kata Bimo kepada Fachri.
"Siaap....kebetulan ini teman teman masih pada ngumpul," balas Fachri yang langsung menyampaikan berita itu kepada teman temannya.
Pihak kepolisian langsung bergerak begitu mendengar laporan dari petinggi GSB group itu.
"Segera lakukan penggerebekan di lokasi rumah dijalan X atas tuduhan penculikan," perintah kepala kepolisian itu sambil menyerahkan surat tugas kepada anak buahnya tersebut.
Segera beberapa polisi meluncur ke arah lokasi yang di maksud.
Bimo juga melesat tancap gas setelah beberapa saat yang lalu membuat laporan dan meminta pertolongan kepada Fachri dan teman teman Dojo.
Siang hari itu nampak arus kendaraan sangat padat membuat semua nya tak bisa bergerak dengan cepat, hanya motor saja yang bisa melesat dengan menyalip antrian mobil yang berjajar.
__________
**Selamat membaca jangan lupa like vote dan koment-nya...
Juga rate bintang lima dan hadiahnya...
__ADS_1
Serta jadikan cerita ini favorit...
Happy reading**.....