Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
107. Menuju Hari Lamaran


__ADS_3

Andre bersama anak mbak Diah menuju ke bagian administrasi rumah sakit tersebut.


"Pagi ..mbak," sapa Andre .


"Ya pagi pak, ada yang bisa saya bantu..?," tanya petugas administrasi tersebut.


"Saya ingin menanyakan seandainya pasien atas nama ibu Diah Yunita dan suaminya di pindahkan ke kelas satu sekarang apa bisa mbak..?," kata Andre.


"Sebentar ya pak...akan saya konfirmasikan dengan bagian perawatan," kata petugas tersebut.


Beberapa saat kemudian petugas itupun kembali menghampiri Andre .


"Bisa pak, kebetulan sudah ada kamar yang kosong, kan ini mintanya satu ruang yang isi dua soalnya suami istri," kata petugas administrasi itu.


"Baiklah ..saya harus menitip berapa untuk biaya operasi nya..? tanya Andre lagi.


Kemudian petugas itu menyerahkan tabel asumsi biaya operasi dan perawatan keduanya, dan kewajiban uang muka dua puluh lima persen dari total keseluruhan biaya.


"Baik ..saya menitip sekian," kata Andre sambil menyerahkan sejumlah uang ke pada petugas itu untuk di hitung.


Setelah menanda tangani serah terima dan beberapa berkas, Andre dan anak mbak Diah yang bernama Hendry itupun kembali ke ruangan yang tadi untuk berkemas pindah kelas yang lebih tinggi.


"Sudah beres pak, nanti sebentar lagi Bu Diah bisa di pindahkan," kata Andre kepada Bimo.


"Oh..ya. .pak ini lima juta yang bapak minta ambil dari ATM," kata Andre sambil menyerahkan kantong kertas berisi uang lima juta rupiah, kantong atau amplop itu hasil Andre meminta dari petugas administrasi tadi.


Bimo menerima amplop itu kemudian berjalan mendekati mbak Diah.


"Mbak Diah semoga cepat sembuh, dan segera bergabung kembali dengan kami, ini sekedar memenuhi kebutuhan di sini," kata Bimo sambil menyerahkan amplop tersebut.


Karena kedua tangan mbak Diah terluka maka yang menerima anaknya yang bernama Hendry.


"Terima kasih tuan, Budi baik tuan akan kami ingat selamanya," kata Hendry sambil mencium tangan Bimo.

__ADS_1


Bimo mengelus punggung pemuda yang sangat sopan itu.


"Jaga ayah dan ibumu, agar cepat segera sembuh," pesan Bimo.


Suami mbak Diah juga tak bisa menyembunyikan rasa haru nya, nampak matanya berkaca-kaca ketika menyalami Bimo dari tempat tidurnya.


"Terima kasih pak Bimo, atas kebaikan bapak terhadap keluarga kami, semoga bapak sekeluarga selalu di beri berkah perlindungan dari semua marabahaya dan selalu di berikan kesehatan," kata suami mbak Diah berterima kasih sambil mendoakan Bimo sekeluarga.


"Sama sama pak, semoga bapak dan mbak Diah lekas sembuh," kata Bimo sambil berpamitan karena hari sudah makin siang.


**


Acara lamaran hanya kurang satu minggu lagi, semua persiapan sudah di matangkan.


Hanya beberapa ratus undangan saja yang di bagikan di acara lamaran tersebut.


Hanya Keluarga dekat dan teman teman dekat Bimo dan Meytta yang di undang.


Teman dekat kuliah Meytta , teman dekat kuliah Bimo dan teman Dojo Bimo juga di undang.


Orang kantor dari GSB group hanya beberapa yang di undang, mungkin nanti saat pernikahan baru banyak tamu undangan.


Acara lamaran rencana nya akan di langsungkan di salah satu Hotel baru milik Papa Haryo, sekalian untuk memperkenalkan kepada publik keberadaan hotel bintang lima itu.


Rencananya semua tamu undangan akan di beri fasilitas menginap sehari di sana.


Karena hari lamaran itu jatuh di hari Minggu maka para tamu undangan di minta untuk datang hari Sabtu siang atau telat telatnya Sabtu malam.


Dan para tamu di persilahkan menginap semalam di sana kemudian tepat pukul 08.00 lamaran itu akan di langsungkan dengan prosesi yang sudah di atur pihak WO.


Para tamu undangan sengaja tidak di perbolehkan datang Minggu pagi karena di takutkan mengganggu kesakralan prosesi lamaran, itu menurut pihak WO nya.


**

__ADS_1


Seminggu hampir berlalu, acara lamaran tinggal dua hari lagi.


Hari Jum'at siang itu Bimo masih menanda tangani beberapa berkas.


Mbak Diah sudah mulai masuk kerja, karena tanpa mbak Diah semua pekerjaan sedikit kacau.


Selain itu juga karena keinginan mbak Diah sendiri, sebenarnya Bimo sudah mencegah agar lukanya sembuh dulu, namun mbak Diah ngeyel tetep pengen segera masuk kerja.


Dengan di PHK nya suami dari mbak Diah, membuat mbak Diah ingin segera bekerja kembali, dan tanpa banyak bertanya Bimo cukup tahu hal apa yang mendasari niat keukeuh dari mbak Diah ingin segera berkerja.


Lukanya hanya di kedua tangan mbak Diah, dan untuk mensiasatinya mengetik dan menulis mengatur jadwal rapat dan pertemuan, mengetik beberapa berkas maupun laporan mbak Diah mengajak anakknya Hendry yang ternyata sangat jago di bidang IT.


Meskipun masih muda Hendry pernah menjuarai beberapa kejuaran yang berbasis komputer.


Bahkan ternyata Hendry juga menjadi anggota hacker nasional yang bertugas menghadang serangan serangan hacker lintas negara.


"Mbak Diah besok bisa datang ke acara ku tidak..?,"tanya Bimo kepada mbak Diah.


"Saya usahakan pak, kayaknya ..bisa, Handry pas enggak ada acara jadi bisa mengantarkan saya," jawab mbak Diah.


"Tapi kan menginap di hotel.., terus suami mbak Diah bagaimana..?," tanya Bimo lagi.


"Di rumah ada adik suami dari kampung yang ikut bantu bantu," kata mbak Diah lagi.


"Baiklah semoga tak merepotkan mbak Diah," sahut Bimo lagi sambil pamit untuk pulang duluan.


__________


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejak..


Baca juga karya lainku..


*Sang Pengacau

__ADS_1


* Aku lebih mencintaimu**


__ADS_2