Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
93. Ketemu Mama Halimah


__ADS_3

Bimo dan Meytta meninggalkan rumah meytta dengan mengendarai mobil sport mewah yang berisi hanya dua orang.


Meytta hanya terdiam duduk di samping Bimo yang sedang menyetir.


Bimo yang melihat ketegangan di wajah kekasihnya mencoba bertanya.


"Kenapa ..? kok tegang banget..?," tanya Bimo sambil menggenggam tangan Meytta.


Meytta hanya tersenyum kecil.


"Aku takut membuat kesalahan."


Bimo terbahak mendengar ketegangan kekasihnya tersebut.


"Santai aja kali, enggak usah terlalu tegang, anggap saja kita makan malam di warung," Bimo mencoba bergurau.


"Ish..kamu itu bisa aja, beneran ..aku tegang banget mulai tadi malam," kata Meytta dengan jujur.


"Sayaang...." Meytta diam sesaat sedikit ragu.


"Iya.."


"Bagaimana kalau papa dan mama mu enggak merestui kita..?."


"Aku akan kawin lari.."


"Aku serius.. nih..," rengek Meytta.


"Aku dua rius," balas Bimo.


Meytta mencubit pinggang Bimo yang masih menyetir.


"Gimana .. sayaaang..?."


"Apanya...?."


"Serius ..dong beib..!."


"Udah deh ..gak usah mikir yang aneh aneh, kita jalani aja makan malam ini dengan senang dan riang gembira ya.., biar enggak nerves..tuh... pucat mukamu."


"Tapi jujur aku nerves banget..."


"makanya berdoa aja,... tadi udah berdoa belum sewaktu mau naik mobil akan berangkat..?."

__ADS_1


"Sudah..," jawab Meytta pelan.


"Doaany gimana ..?


"Ya agar perjalanan di lancarkan dan di beri kemudahan," kata Meytta.


"Kalau aku enggak gitu.."


"Trus apaan..?." tanya Meytta manja.


"Semoga kita segera menikah agar segera di beri momongan," kata Bimo menggoda Meytta.


"Issh ..sebel deh..," kembali Meytta mencubit Bimo.


"Naaah ..gitu kan cantik neng..enggak kelihatan tegang nya."


Akhirnya Meytta sedikit berkurang rasa tegang nya, dia bisa tersenyum lagi.


Mobil masih melaju membelah jalanan kota itu menuju rumah mewah kedua orang tua Bimo.


**


Sejak pagi, di dapur rumah mama Halimah nampak kesibukan yang melebihi hari biasa.


Mamah Halimah sih cuman duduk melihat aktivitas Bu Siti dan para ART lainnya.


"Tak terasa ya .. Nyonya.. mas Bimo sudah besar dan mau menikah."


"Iya ..ya Bu Siti, anakku yang dahulu sangat bandel namun kini sudah berubah dan menjadi lebih dewasa, aku tak menyangka rencana kita mendidiknya bisa berhasil," mama Halimah berkaca kaca matanya bila mengingat perjuangan anaknya hingga bisa berubah menjadi seperti sekarang.


Kegiatan memasak itu sudah hampir selesai seiring waktu yang mulai malam.


Maghrib menjelang, semua yang tak berhalangan melaksanakan ibadah sholat, mendekatkan diri kepada sang pencipta, meninggalkan sejenak tentang segala urusan duniawi dengan mengingat kampung akhirat.


Sehabis Maghrib Bu Siti dan ART lainnya sudah menata hidangan di meja makan sambil melengkapi apa saja yang masih kurang.


**


Mobil Bimo yang sudah sampai di depan gapura jalan pribadi menuju rumah mewahnya membunyikan klakson mobil nya agar segera di bukakan portal penghalangnya.


Para penjaga yang mengetahui siapa yang datang langsung tergopoh-gopoh menyambutnya.


Portal gerbang besar itu terbuka, kemudian Bimo melajukan mobilnya untuk lebih ke dalam.

__ADS_1


Setelah melaju sedikit ke dalam mereka tiba gerbang utama memasuki rumah mewah tersebut.


Digerbang juga sudah ada penjaga yang menjaga pintu gerbang utama itu.


Tiin..tiin..


Suara klakson mobil memberi kode penjaga gerbang, namun malah Meytta yang terlonjak kaget.


Meytta makin berdebar begitu mobil sudah memasuki gerbang, pikirannya kian kalut dan kegelisahan makin nampak terlihat jelas di wajahnya.


Akhirnya mobil itu berhenti di lobi rumah yang sangat megah, meskipun Meytta bukan anak orang miskin namun rumahnya bila di bandingkan rumah Bimo sangat tampak jomplang.


Bimo sudah turun dari kursi sopir dan memutar membuka pintu penumpang, namun Meytta masih tampak termangu di tempat duduknya.


"Beib.., ayo turun."


Meytta terhenyak kaget, sedikit tersenyum kecut.


"Aku takut..," pelan Meytta berkata.


Bimo tersenyum lembut tangannya di ulurkan menyambut tangan Meytta .


Di gandengnya gadis itu memasuki pintu utama.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumssalam." balas mama Halimah yang sudah nampak menunggu di ruang tamu.


Tubuh Meytta makin bergetar, dan makin erat menggenggam lengan Bimo seakan takut di tinggalkan.


Mama Halimah akhirnya mendekati keduanya dengan senyum ramahnya.


Ceeesss...Seketika kecemasan Meytta menghilang melihat keramahan dan kelembutan mama Halimah.


Mama Halimah langsung memeluk Meytta selepas gadis itu mencium tangan seperti yang Bimo lakukan.


"Kenapa tanganmu dingin sekali sayang..?," tanya mama Halimah kepada Meytta.


Meytta hanya tersenyum manis salah tingkah.


____________


**Maaf ..reader..hanya bisa up secuil ya...semoga tidak kecewa..

__ADS_1


Tetap tinggalkan jejak ya..


Dan baca juga karya lainku**..


__ADS_2