
Siang hari sehabis latihan dari Dojo, Bimo kembali ke rumah orang tuanya.
Dari masuk gapura depan sampai masuk gerbang Bimo di sambut para pekerja di rumah itu.
"Selama siang tuan muda," sapa para pekerja di sana, mulai dari penjaga gapura depan sampai penjaga gerbang utama masuk rumah itu menyapanya dengan penuh penghormatan.
Bimo menganggukan kepalanya.
Setelah sampai di garasi nampak pak Joko masih bersih bersih mobil mewah yang ada di sana.
Mendengar suara motor masuk garansi spontan pak Joko menghentikan kegiatan nya dan menoleh sambil tersenyum ke arah Bimo.
"Assalamualaikum," Sapa Bimo kepada pak Joko.
"Waalaikumssalam," jawab pak Joko sambil menghentikan kegiatannya.
"Tumben mas Bimo pulang enggak kasih kabar dulu," sapa pak Joko.
"Iya ni pak, soalnya habis dari olahraga langsung ke sini," kata Bimo sambil tersenyum.
"Kangen papa dan mama," sambung Bimo lagi.
Pak Joko tersenyum mendengar nya.
"Ya udah pak, aku masuk dulu," kata Bimo sambil melangkah masuk ke ruang tengah, memang dari garasi itu ada pintu yang menghubungkan dengan ruang keluarga langsung.
Dari arah pintu ke ruang tengah sudah terdengar suara ramai meriah, Bimo yang sudah mendengar nya mengambil jalan lain yang langsung menuju kamarnya karena ada tamu teman teman mama nya mungkin.
"Bimmoo....," terdengar suara mama nya memanggilnya.
Meskipun sudah menghindari ruangan itu ternyata mama masih melihatnya.
"Ya ma.., Assalamualaikum mama," kata Bimo menghampiri mama Halimah dan mencium kedua pipinya.
Halimah yang juga sudah sangat kangen dengan anak semata wayangnya itu tak dapat menyembunyikan kegembiraanya.
"Ini anakku Bimo jeng," kata mama Halimah memperkenalkan Bimo kepada teman temannya.
"Ooh.. ini yang namanya Bimo," kata tante Amel salah satu sahabat mama Halimah.
"Waah sudah besar ya Bimo sekarang," kata Tante Erni menyahut.
Seperti kebiasaan para Ibu ibu sosialita lainnya bila hari libur selalu di gunakan untuk berkumpul sekedar ngerumpi maupun arisan.
Kebetulan siang itu, banyak ibu ibu berkumpul di sana.
"Mas Bimo ini sudah punya pacar belum..?," tanya Tante Amel lagi.
Sebelum Bimo menjawabnya, mama Halimah sudah menyahut.
"Dia belum punya pacar kok jeng," kata mama Halimah dengan cepat.
"Ooh ..kebetulan kalau gitu, kita jodohkan aja sama Cindy anakku..., gimana jeng setuju enggak," kata Tante Amel yang terlihat antusias sambil nerocos.
__ADS_1
Bimo yang mendengar itu hanya bergumam kecil.
"Ish...mama," kata Bimo sambil memandang ke arah mamanya.
"Ma..aku masuk dulu aja deh," kata Bimo yang mulai jenuh di antara teman-teman mama nya.
"Mari Tante saya masuk dulu," pamit Bimo kepada ibu ibu di sana.
Ibu ibu yang ada di sana mengangguk sambil pada berceloteh sendiri sendiri.
"Waah ganteng banget anak jeng Halimah," kata beberapa ibu ibu disana.
"Iyaa..ya..mau dong jadi menantuku," kata yang lain.
"Eeh...enggak bisa Bimo mau aku jodohkan sama Cindy anakku," sergah Tante Amel.
"Eeh enggak ..jeng !....cocoknya sama anakku Agnes," kata ibu yang lain.
Susana makin ramai saling mengklaim anak siapa yang paling cocok di jodohkan sama Bimo.
Meskipun awalnya hanya candaan namun makin lama makin sengit sampai akhirnya di hentikan mama Halimah.
"Sudah ..sudah jeng, ..enggak usah ribut ribut kita juga belum tanya Bimo setuju apa enggak, dengan rencana inikan," kata mama Halimah menengahi ibu ibu temannya tersebut.
Memangnya siapa yang enggak tertarik memiliki menantu seorang Bimo aryoseno, anak tunggal dari seorang sultan dengan kekayaan yang sulit di hitung, wajah tampan tubuh proporsional juga seorang CEO muda, pasti semua berebutan.
Kayak emak emak itu contoh nya.
Bimo masuk ke kamarnya, mandi sambil berendam di jakuzi untuk menghilangkan rasa lelah. selesai mandi sesaat merebahkan tubuhnya di kasurnya yang super mewah dan nyaman.
Sesaat rasa rindu menghampiri hatinya, meskipun semalam salalu bersama di cafe namun bila sedetik saja berpisah sudah rindu ingin bertemu.
Bimo tersenyum sendirian di kamarnya.
Diambilnya gadget di nakas samping tempat tidurnya.
Tuut..tuut..
"Halo..," suara lembut kekasihnya itu dengan segera mengobati kerinduannya.
"Lagi ngapain..? ," tanya Bimo.
"Lagi malas malasan aja ," kata Meytta dari seberang.
"Ini di mana ..?," tanya Meytta balik.
"Di tempat kos, habis olahraga tadi," kata Bimo sedikit berbohong, karena masih merahasiakan identitas dirinya.
"Trus ngapain telpon..?,"
"Kangen ..," kata Bimo
"Aku juga..,"
__ADS_1
"Oh..ya..nanti malam ada acara enggak..?," tanya Meytta kembali.
"Enggak ada .., emang ada apa..?," tanya Bimo yang penasaran.
"Mama sama papa ngajak makan malam bareng," kata Meytta.
"Soalnya pas dulu mampir kan belum ketemu sama papa aku," kata Meytta kembali.
Bimo diam sesaat kemudian menjawabnya.
"Baiklah aku nanti datang, jam berapa kira-kira aku ke rumah," tanya Bimo yang menjadi sedikit nervous.
"Habis sholat Maghrib aja ya nanti sholat isya di rumahku,"
"Ok, habis Maghrib aku meluncur ke sana," kata Bimo mengakhiri penggilan telpon nya.
"Bye ..sayang."
"Bye..hati hati ya nanti," kata Meytta yang langsung menutup telponnya.
Bimo yang menerima undangan dari orangtuanya Meytta menjadi sedikit tegang, ini kali pertama bertemu kedua orang tuanya dalam posisi di undang sebagai pacar Meytta.
Meskipun pernah bertemu Mama Qonita namun itu terjadi secara spontan dan hanya mampir, berbeda dengan kali ini yang sengaja di undang.
Bagaimana pun dirinya sedikit cemas bila memberikan kesan buruk di mata keluarga kekasihnya itu.
Sore hari papa Haryo dan mama Halimah serta Bimo duduk sambil berbincang di ruang keluarga.
Mereka berkumpul menikmati kebersamaan sambil makan dan minum aneka hidangan makanan kecil.
"Malam ini kamu tidur di rumah kan," tanya mama Halimah.
"Enggak ma, aku ada urusan sedikit di luar," kata Bimo.
"Memangnya mau sampai kapan kamu begini, menyembunyikan status keluargamu..?," tanya papa Haryo sambil menyesap minuman hangat yang di sajikan.
"Sabar..ya papa ..mama.., nanti kalau sudah waktunya akan aku buka semua ini," kata Bimo kepada orangtuanya sambil tersenyum.
"Memangnya siapa yang mau kamu uji...sih?, dengan penyamaran mu itu," tanya papa Haryo lagi yang penasaran dengan kelakuan anaknya itu.
"Ya..banyak orang lah Pa....," kata Bimo sambil mengambil makanan yang ada di meja.
"Aku ingin orang orang yang bergaul denganku tulus, bukan karena harta yang kita punya, tapi karena murni ketulusan hati," kata Bimo kembali.
Papa Haryo dan mama Halimah hanyadan mengangguk dan tersenyum.
"memang benar apa yang kamu lakukan nak, mama juga tidak suka bila orang berbuat baik kepada kita karena memandang kita orang kaya dan ada maunya, lalu akan meremehkan kita bila di anggap orang tidak punya," kata mama Halimah membenarkan tindakan penyamaran anakknya
______________
**Selamat membaca jangan lupa like vote dan koment-nya...
Juga rate bintang lima dan jadikan cerita ini favorit sehingga akan selalu di beri notifikasi bila sudah up date.....
__ADS_1
Baca juga karya lainku bergenre silat Nusantara yang berjudul SANG PENGACAU**.