
Sebelum jam sembilan pagi, kedua pasangan pengantin sudah kembali di arahkan ke podium.
Di depan kursi mempelai sudah ada kursi kecil untuk acara simbolis "siraman" yang akan di pandu oleh pembawa acara dari pihak WO.
Kedua pengantin sudah duduk di kursi kecil yang berada agak jauh di depan kursi pelaminan yang lebar dan besar layaknya singgasana.
Acara siraman pun berlangsung dengan khidmat, siraman secara harfiah berarti mandi dengan air ini akan di lakukan oleh tujuh orang keluarga terdekat yang menyiram kan air kepada kedua mempelai, kemudian di akhiri oleh ayah mempelai wanita.
Ritual yang melambangkan pembersihan diri sebelum menjalankan ritual lainnya.
Disaat kedua pengantin berganti busana kedua orang tua melakukan ritual yang bernama "adol dawet", di mana orang tua pengantin menjual dawet sebagai hidangan kepada tamu undangan yang telah hadir menyaksikan prosesi yang telah berjalan.
Tapi pembelian dawet ini tidak menggunakan uang tapi menggunakan kreweng (pecahan tembikar) sebagai pertanda bahwa segala pokok kehidupan ini berasal dari tanah/bumi.
Disini ibu akan menjadi penjual dan ayah akan memayungi sang ibu hal ini mencontohkan kepada anak anaknya di kemudian hari bahwa mereka harus bergotong royong dalam membina rumah tangga.
Kemudian di lanjutkan dengan ritual "potong tumpeng" yang melambangkan kemakmuran.
Acara selanjutnya adalah "Dulangan", yaitu memberikan suapan yang terakhir dari kedua orang tua kepada pengantin sebagai tanda bahwa tanggung jawab orang tua telah berakhir karena sang anak sudah menikah.
Setelah semua acara itu selesai kemudian dengan di pimpin oleh pemandu acara dari pihak WO, melaksanakan acara selanjutnya yaitu upacara "Panggih"/temu manten di sini sang pengantin akan di pertemukan sebagai sepasang suami dan istri yang sudah sah resmi sebagai pasangan suami istri.
Dalam prosesi temu manten ini ada ritual yang bernama "Balangan Gantal"( sirih yang di ikat dengan benang), kedua pengantin akan saling melempar.
Bimo di arahkan melempar Meytta ke arah dada sebagai perlambang bahwa sudah mengambil hatinya, sedangkan Meytta di arahkan melempar gantal tersebut ke arah lutut Bimo sebagai tanda bakti kepada sang suami.
Acara berlangsung penuh dengan ketegangan bagi kedua mempelai, namun bagi para tamu undangan prosesi itu malah menjadi senda gurau sehingga membuat para tamu merasa terhibur dengan prosesi yang sudah berjalan.
Kedua pemgantin kemudian kembali di pandu untuk acara selanjutnya yaitu "Ngidak Endog", pada ritual ini Bimo di minta menginjak telur mentah sebagai perlambang segera mendapat kan keturunan kemudian Meytta di arahkan mencuci kaki Bimo sebagai perlambang kasih sayang.
Selanjutnya berturut turut adalah prosesi "sinduran" dimana kedua pengantin akan di balut kain merah putih yang di kalung kan lalu di tarik ayah si pengantin wanita di antar ke kursi pelaminan, sebagai perlambang menghantarkan menuju ke kehidupan baru sebagai sebuah pasangan suami istri.
Berikutnya "Bobot timbang" dimana kedua pengantin seolah di timbang kemudian di tanya berat yang mana oleh sang ibu, dan di jawab sama berat.... ini melambangkan bahwa kedua pengantin tidak di bedakan antara anak dan menantu sama sama berbobot dan berharga.
Kemudian acara prosesi minum "rujak degan" dimana semua keluarga meminumnya, disini di artikan minum air suci untuk membersihkan dari segala kekotoran jiwa dan raga.
Dilanjutkan ritual berikutnya yaitu "Kacar kucur'', dimana Bimo di perintahkan mengucurkan uang logam beserta kebutuhan pokok seperti beras dan biji bijian yang sudah di taruh di sebuah kain kepada Meytta sang istri, yang melambangkan simbol tanggung jawab seorang suami dalam memenuhi nafkah kepada keluarga.
Lalu acara prosesi selanjutnya adalah Dulangan antara suami istri yang menggambarkan bahwa dalam satu keluarga harus selalu saling tolong menolong, dan saling membantu dengan penuh kasih sayang hingga tua nanti.
Dan dari seluruh prosesi itu di akhiri dengan acara sungkeman di mana kedua pengantin berlutut di depan kedua orang tua sebagai bentuk penghormatan karena telah membesarkan, merawat dan menyayangi hingga akhirnya dapat menjalani kehidupan baru bersama pasangan nya.
__ADS_1
Acara yang terakhir sangat menguras emosi, hingga membuat Bimo maupun Meytta menangis di depan kedua orang tuanya begitu pun juga orang tua keduanya yang tak dapat menahan haru dan menangis saling berpelukan.
Setelah keseluruhan acara prosesi itu selesai di lanjutkan dengan pemberian ucapan selamat dari para tamu undangan kepada kedua mempelai dan orangtuanya sembari menikmati makanan secara prasmanan sesuai selera di tempat yang sudah di sediakan.
Acara berlangsung hingga mendekati adzan dhuhur dan akhirnya selesai.
**
Semua sudah kembali ke hotel di mana mereka menginap, meski lelah namun tergambar jelas kepuasan di wajah mereka karena kesuksesan berlangsungnya acara tersebut.
Kedua pengantin sudah berpindah di kamar khusus yang di sediakan untuk pengantin.
Meytta nampak kelelahan sambil duduk di sofa yang ada di kamar tersebut.
Bimo yang duduk di sebelah Meytta langsung merangkul istrinya, mengangkatnya dan di pangku nya.
"Aauww..!!."
Meytta kaget langsung memerah pipinya, karena di dudukkan pangkuan Bimo.
"Mas...masih siang ...nanti kalau ada yang mau nemuin kita gimana...?," kata Meytta pelan sedikit cemas, begitu Bimo mulai beraksi lebih.
"Mas Bimo hanya ingin memelukmu... kan sekarang sudah sah jadi istri mas Bimo...jadi boleh lakuin apa aja...," kata Bimo pelan sambil memeluk dan mencium leher Meytta yang kini sudah sah menjadi istrinya.
Sesaat keduanya berpelukan cukup lama.
Sebelum keduanya kemudian mandi bersih bersih untuk berganti dengan baju biasa karena belum sholat dhuhur.
Tok..tok.. tok...
Sebuah ketukan pintu terdengar ketika keduanya sudah selesai sholat.
Meytta berjalan untuk membukanya.
"Eeh..bude Rahmi..," sahut Meytta begitu membuka pintu.
"Mas..Bimo.. nduk Meytta...makan dulu."
"Apa mau di bawa ke kamar..?," sahut bude Rahmi menawarkan.
"Enggak usah bude, kita makan bersama keluarga yang lain aja," kata Bimo yang sudah muncul di belakang Meytta.
__ADS_1
"Ooh..ya sudah ..bude tak ruang makan dulu kalau begitu," kata bude Rahmi sambil tersenyum dan berlalu dari sana.
Sesaat kemudian Bimo datang keruang makan sambil bergandengan tangan.
Di sana sudah banyak anggota keluarga dan juga para undangan yang menikmati hidangan makan siang yang di sediakan hotel.
"Waah..pengantinnya sudah datang ..goda beberapa keluarga yang sudah ada di sana," kepada Bimo dan Meytta.
Kedua pengantin baru itu, hanya tersenyum saat di goda keluarga dan tamu undangan.
Bimo dan Meytta berjalan ke arah meja besar di mana di sana sudah ada papa Haryo, papa Adrian juga mama Halimah dan mama Qonita.
Di meja khusus itu sudah ada beberapa pelayan yang melayani acara makan itu.
"Sini....duduk di sini sayang," kata mama Halimah kepada meytta.
Kemudian Bimo duduk di samping Meytta.
Mereka berbincang sebentar sambil menunggu makanan yang di tata di meja yang bisa di putar itu siap untuk di nikmati.
"Papa punya hadiah buat kalian," kata papa Haryo.
"Apa itu pah..?," tanya Bimo
Papa Haryo tak menjawabnya malah balik bertanya.
"Kapan acara wisudamu jadinya..?," tanya Papa Haryo.
"Tiga minggu lagi ...dari sekarang..Pah..," sahut Bimo.
"Naah..ini ada tiket bulan madu untuk kalian ke Eropa selama sepuluh hari," kata papa Haryo sambil menyerah dua amplop kepada Bimo.
"Ke Eropa ..?!?!," kata Bimo dan Meytta dengan senang.
Papa Haryo mengangguk dengan tersenyum.
_________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya....
Baca juga karya lainku...dan tinggalkan jejaknya**....
__ADS_1