
Entah kenapa Meytta sekarang menjadi sangat manja dan tergantung dengan suaminya.
Apa hanya karena faktor psikologis karena sudah punya suami atau memang karena perubahan hormon akibat pembuahan yang terjadi di tubuhnya...belum tahu.
"Enak ya mas... bakso nya..," kata Meytta sambil tersenyum melahap semua sisa bakso di mangkuk nya.
Bimo menganggukkan kepalanya, karena emang bener bener enak.
Harga receh namun enggak recehan, itu kata slogan di TV dan memang pas untuk mengungkapkan apa yang sedang mereka hadapi saat ini.
"Nanti kalau kita ke Eropa ada enggak ya mas... makanan yang semacam ini..?," tanya Meytta kepada suaminya.
Seakan takut bila di sana kepingin makanan semacam itu namun tidak ada.
"Pasti ada lah sayang...cuma mungkin semacam sup daging," kata Bimo mencoba mengurangi rasa khawatir istrinya.
Keduanya kemudian melanjutkan makan sambil bercanda kecil, itupun sudah cukup menarik perhatian para pengunjung yang lain karena ketampanan dan kecantikan keduanya.
Setelah menyelesaikan makan baksonya Meytta langsung mengajak pulang.
"Kita langsung pulang aja ya mas.."
"Lho memangnya kamu cuma mau beli bakso saja..?," tanya Bimo yang keheranan.
"Iyaa..mas..kan aku bilang pengen yang seger seger, ya..ini tadi, makan Bakso di penjualnya," kata Meytta dengan tersenyum senang karena keinginan nya terpenuhi.
Bimo hanya tersenyum sambil menggeleng kan kepala.
"Yaa..udah ayuuk pulang," kata Bimo.
"Eeh..mas..kalau aku mau bungkus bakso buat di makan di rumah boleh nggak..?," tanya Meytta sedikit ragu.
Bimo langsung tersenyum dan kembali menghampiri penjualnya.
"Mau berapa bungkus..sayang..?," tanya Bimo.
"Sekalian pak kebun dan pak satpam ya mas..jadi tujuh bungkus," kata Meytta lagi.
Bimo pun membeli sesuai yang di minta istrinya.
"Mas..aku lama enggak pernah naik becak..kita naik becak yaa."
Bimo hanya mengangguk mendengar permintaan istrinya.
"Apa memang benar benar ngidam ya istri aku..atau hanya ingin bermanja manja aja."
"Kok diam sih..mas..boleh ya..naik becak..mumpung pas sama mas Bimo, jadi aku senang," kata Meytta merajuk.
"Iyaa..sayang...mas Bimo kan udah mengangguk," kata Bimo sambil menggandeng lengan istrinya menuju abang becak yang mangkal di sana.
Kemudian Meytta memberi perintah kepada si abang becak agar rute nya becak melalui jalan yang memutari kampung.
"Lho kok lewat nya malah memutar sayang...?"
__ADS_1
"Iyaa...biar lama...," kata Meytta yang nampak gembira.
Becak yang berjalan memutari kampung hingga akhirnya malah sampai di gerbang depan.
Pak Satpam yang melihat itu menjadi heran.
"Lho.. Den Bimo sama Non Meytta kok malah sudah dari luar... naik becak lagi...saya kok malah nggak lihat tadi..pas keluar?," kata satpam itu.
"Kami lewat belakang kok pak."
Bimo tersenyum mendengar perkataan satpam tersebut, sambil membayar tukang becak.
Meytta berjalan menghampiri pos satpam.
"Ini pak....bakso pak Bagong..
tadi beli di pasar kampung Dalam, di makan sama pak Diman..ya..., tu..orangnya masih bersih bersih taman," kata Meytta sambil menyerahkan dua kantong bungkusan Bakso.
"Iya..non makasih.."
"Nanti mangkuknya biar bi Ijah antarkan pak..," kata Meytta lagi.
"Iya . non."
Keduanya kemudian masuk lewat ruang tamu.
"Lho..kok malah sudah lewat depan..?," tanya mama Qonita.
Meytta langsung ke dapur menaruh Bakso yang lainnya.
"Kok sama..., dulu mama waktu muda juga seperti Meytta ini.., menikah seminggu terus semua keinginan kayak orang ngidam."
"Apa jangan jangan .. Meytta juga sebentar lagi ngidam mas..," kata mama Qonita lagi.
"Apa iya...ya..Ma..?," kata Bimo.
"Semoga aja ya Ma...," kata Bimo yang nampak senang.
Meytta yang di dapur ketemu bi Ijah.
"Bawa apa itu non..?."
"Bakso pak Bagong bi.., bi Ijah juga dapat jatah kok."
"Wah..saya juga di belikan non..?."
"Iya..lah....Bi,..Oh..ya.. sekalian pak Diman dan pak satpam di kasih mangkuk dan sendok ya bi, baksonya udah tak taruh di pos satpam tadi tinggal mangkuk nya yang belum ada," kata Meytta lagi sambil mengambil mangkuk untuk dirinya sendiri.
Meytta membawa beberapa bungkus bakso yang lain serta mangkuk untuk dirinya sendiri.
"Loh...makan..lagi..?," tanya Bimo begitu melihat istrinya menuang kan bakso ke mangkuk lagi.
Mama Qonita yang sudah mendengar cerita Bimo juga ikut terkejut.
__ADS_1
"Mey..jangan jangan kamu udah isi sayang...," kata mama Qonita yang terlihat kesenengan.
"Iyaa..isi bakso dua mangkuk ma..," sahut Meytta bercanda, sambil menyuapkan bakso ke mulutnya.
"Mama dan papa juga aku belikan ..cuma belum aku pindah ke mangkuk," kata Meytta yang benar benar kayak orang ngidam.
"Enggak sayang beneran..kamu kayak mama dulu waktu hamil kamu...," kata mama Qonita tersenyum senang.
Bimo duduk di meja makan sambil menatap istrinya yang bener bener doyan makanan tersebut.
"Mas Bimo mau..? aku suapai ya..," kata Meytta .
"Udaah sayang..kan tadi mas Bimo udah makan di warung nya."
''Pokoknya mas Bimo harus mau..., satu suap aja ya...ya...," kata Meytta sedikit memaksa.
Akhirnya Bimo menurut apa kemauan istrinya.
"Aaa...amm..ymm...yammm, memang enak bakso pak Bagong," kata Bimo sambil mengunyah makanan tersebut.
Meytta tersenyum puas melihat suaminya juga doyan bakso kesukaannya.
**
Pagi itu di rumah papa Haryo dan Mama Halimah sedang bercakap-cakap.
"Kapan anak anak mau pulang ma..?," tanya papa Haryo.
"Kalau enggak siang yang agak sore an dikit, emangnya ada apa papa nanyain," tanya mama Halimah.
"Soalnya kata Bimo mau mengajak jeng Qonita dan mas Adrian nginap di sini, besok nya biar bisa ikut ngantar ke bandara sekalian..," kata mama Halimah lagi
"Ohh.. gitu ya."
"Hari ini..mas Adrian mau ngantor dulu, habis ngantor baru mau ke sini." terang mama Halimah kepada papa Haryo yang nampak manggut-manggut .
"Bagus lah kalau begitu...kita bisa ngantar anak anak ke bandara besok bersama sama."
Mareka kembali berbincang sambil makan pagi berdua di rumah yang super mewah itu.
"Semua surat apa sudah papa siapkan..?, biar Bimo enggak kesulitan di sana nanti." kata mama Halimah lagi memecah keheningan.
"Sudah.., bahkan kalau Bimo mau tinggal di apartemen kita yang di sana, papa sudah menyiapkan nya," kata papa Haryo.
"Papa sudah suruh orang untuk bersih bersih apartemen nya."
''Besok berangkat nya jam berapa sih pah..?.''
"Penerbangan jam 20.00, nanti kita berangkat habis maghrib, biar enggak tergesa gesa, takutnya kena macet di jalan," kata papa Haryo lagi.
Mereka menyelesaikan makan pagi tersebut tanpa bercakap lagi.
____________
__ADS_1
****Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya****...