Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
167. Beneran Hamil


__ADS_3

Dokter Hamidah sudah mulai mengoleskan semacam jel ke atas perut Meytta dan mulai menggerakkan semacam alat yang tersambung ke monitor.


"Iih.. geli..Tante ..," seru Meytta yang memang kegelian karena perutnya di usap usap dengan alat tersebut.


Dokter Hamidah hanya tersenyum menanggapi kegelian Meytta.


"Naah...itu..mas..itu..calon bayinya," kata dokter Hamidah menunjukkan sebuah titik di layar monitor.


"Qoni... Qonita...!," seru dokter Hamidah kepada sahabatnya yang ada di luar ruang periksa.


"Yaa..," sahut mama Qonita.


Mama Qonita dan papa Adrian yang mendengar teriakan dari dokter Hamidah langsung berhamburan masuk ruang periksa.


"Bagaimana Ham..?," tanya mama Qonita dengan penasaran.


"Lihat..titik di layar monitor itu..!," seru dokter Hamidah sambil jarinya menunjuk ke layar.


"Itu calon Baby nya Meytta..," kata dokter Hamidah sambil tersenyum.


"Ja.. jadi.. istri saya sudah hamil dok..?," tanya Bimo minta penegasan dari sang dokter.


Semua menatap dokter Hamidah.


Dokter Hamidah menganggukkan kepalanya mengiyakan.


"Yeiii..," Bimo berteriak nampak tersenyum senang dan menciumi istrinya.


"Issh..mas..ada Tante Hamidah sama papa mama...malu kan..," kata Meytta yang sedikit tersipu.


Bimo tetap tak perduli dan terus menciumi pipi istrinya.


"Habis ini masih tetap periksa urine untuk menegakkan diagnosis," kata dokter Hamidah lagi.


"Dan juga harus hati hati karena masih trimester pertama, rawan keguguran," kembali dokter Hamidah menerangkan.


Setelah di USG Meytta tetap di periksa air seni nya agar lebih meyakinkan hasil diagnosa dokternya.


Dan ternyata benar hasilnya strip dua artinya positif hamil.


Papa Adrian dan mama Qonita nampak senang sekali mendengar berita tersebut.


Mereka berbincang konsultasi di sana sedikit lama, tentang pantangannya ibu hamil apa..? terus apa yang mesti di lakukan..? dan semua yang berhubungan dengan kehamilan.


"Sebenarnya tak ada yang kita pantang.. seperti hari hari biasa.. aja."


"Kan Meytta tak pernah..lari lari dan loncat loncat.. yang ekstrim kan..?," tanya dokter Hamidah.


Meytta menggeleng.


"Naah .. seperti itu biasa aja, makanan ya... seperti biasa..kan kita tidak mengkonsumsi alkohol jadi apapun boleh di makan dalam batas sewajarnya.. seperti biasa," sahut dokter Hamidah lagi.


"Terus.. untuk make up nya Tante..?," tanya Meytta sedikit khawatir.


"Ya..ada beberapa yang di larang..lebih pas nya kalian konsultasi di dokter kecantikan ya," sahut dokter Hamidah.

__ADS_1


Kemudian dokter Hamidah sedikit menerangkan tentang macam macam make up yang di larang, semua itu hampir sama dengan yang di dapatkan dari hasil browsing kemarin.


"Maaf dok..mm..," Bimo nampak ragu ragu untuk bertanya.


"Apaan mas..?," tanya dokter Hamidah yang paham Bimo mau ngomong apa.


"Apakah kami masih bisa tetap berhubungan..badan..?," tanya Bimo sedikit malu namun sudah nekat.


"Ish...apa..sih....mas... Bimo," seru Meytta yang langsung memerah wajahnya.


Papa sama Mama hanya tersenyum saja mendengar kegaduhan anak dan menantu nya.


"Boleh..asal hati hati...enggak boleh yang ekstrim..," sahut dokter Hamidah.


"Tuuuh...mas dengarkan Tante dokter," sungut Meytta cemberut malu.


"Iya..sayang..," kata Bimo kayak kucing jinak nurut banget.


Setelah merasa cukup akhirnya mereka pamit undur diri karena takut ngeganggu pekerjaan dokter dimana para pasien lain sudah menunggu.


"Makash banyak ya..Ham..sudah di bantu anak aku..," kata Mama Qonita sambil cipika cipiki.


"Udaah..kaya..sama siapa aja pakai acara formalitas segala, kapan kapan kesini lagi jangan sungkan," pesan dokter Hamidah kembali sebelum tamunya itu pergi.


"Terima kasih Tante..," kata Meytta.


*


Mobil sudah keluar dari lingkungan rumah dokter Hamidah melaju membelah padatnya jalanan karena saat itu pas jam pulang kantor.


"Ya..kalau begitu kita nanti sholat Maghrib di masjid yang kita temui," sahut papa Adrian.


"he'em," sahut Meytta.


"Memang kamu mau makan apa..?," sahut Bimo sambil menoleh sedikit ke arah istrinya.


"Aku mau makanan sea food..," kata Meytta sambil tersenyum.


"Memang olahan apa yang kamu mau Mey..?," tanya mama.


"Cumi pedas..ma sama oseng kerang," sahut Meytta.


Papa Adrian dan mama Qonita saling berpandangan.


"Kok sama persis dengan mama.. waktu ngidam kamu..," seru kedua orang tua Meytta tersebut.


Semua tertawa mendengar kemiripan yang di alami mama dan anak tersebut.


Mobil masih melaju dengan kecepatan sedang.


"Mas..nanti habis ini ada masjid di kiri jalan kita nunggu Maghrib di sana saja...kan paling bentar lagi adzan, daripada nanti malah bingung kalau sudah kelewat masjid tersebut," kata papa Adrian memberi petunjuk.


"Iya..pa..," sahut Bimo yang mengemudi mobil dengan kecepatan sedang.


*

__ADS_1


Seperti yang dikatakan papa Adrian tak berapa lama kemudian tampaklah sebuah bangunan masjid di kiri jalan dengan halaman parkir yang luas.


Bimo membelokkan mobilnya memasuki pelataran masjid tersebut.


Semua keluar dari mobil dan menunggu di depan masjid, papa Adrian malah sudah ambil air wudhu untuk menunaikan sholat sunah.


Tak berapa lama adzan Maghrib pun di kumandangkan.


"Mas..mukenaku belum keambil di mobil ," sahut Meytta sambil tersenyum manja.


"Ish..," Bimo mendesis sambil tersenyum bejalan ke mobil mengambil mukena istrinya yang memang selalu di siapkan bila bepergian.


Mereka sholat berjamaah di masjid yang cukup nyaman tersebut hingga usai.


*


Semua sudah kembali ke mobil dan bersiap mencari apa yang di inginkan Meytta.


"Kita makan di mana..?," tanya Bimo kepada sang istri.


"Di restoran www..?," tanya Bimo kembali.


"Enggak enak mas..mending di jalan xxx pusat kuliner kita bisa makan apa aja," sahut Meytta.


"Iya..papa setuju itu mas..," seru papa Adrian dari belakang.


"He'em mas..mama juga setuju," sahut mama Qonita.


Setelah semua setuju Bimo langsung mengarah kan mobilnya ke arah yang di berikan oleh istrinya.


Di jalan tersebut apapun ada..dari jajanan sampai makanan berat semua tersedia tinggal melihat isi kantong saja jika mau memanjakan lidah.


Bimo sudah memarkir kan mobilnya di dekat sebuah warung makan seafood yang cukup laris namun tempat nya masih nampak nyaman karena luas dan longgar.


Keempat orang tersebut masuk dan mulai memesan makanan yang inginkan.


Begitu makanan yang di sajikan datang langsung semua makan dengan lahap.


"Cobain mas..," kata Meytta sambil menyuapkan cumi pedas nya.


"Aaa...ammm....uuh..pedes banget..," seru Bimo sambil mengunyah makanan nya.


"Pedes apaan...enak kok mas," kata Meytta yang wajahnya sudah memerah karena pedas.


"Enak kan mas...?."


"Iya sih...tapi pedes banget..mas Bimo takut kamu sakit perut," kata Bimo khawatir.


"Mas Bimo enggak khawatir..dulu mama juga seperti itu..," kata mama menerangkan.


"Bahkan lebih pedes lagi kayaknya.., Soalnya cabai sekilo semua di habisin mama," kata papa Adrian ikut menerangkan.


__________


Happy reading... Jangan lupa jejaknya...

__ADS_1


__ADS_2