
Bimo sudah kembali sehat seperti sedia kala.
Benar benar sehat, sudah mulai berangkat ke kantor.
Begitu tiba di depan gerbang semua anak buahnya sudah menyambutnya, entah siapa yang memprakarsai semua karyawan nampak berdiri berjajar mulai dari gerbang gedung GSB hingga ke lobi.
Bimo yang mengetahui hal itu, sudah membuka jendela mobilnya mulai dari depan gerbang tadi dan melambaikan tangannya.
Ucapan selamat datang terpampang cukup besar di lobi gedung GSB group tersebut.
Bimo yang mendapat sambutan tersebut sangat terharu hingga tak mampu berkata apa-apa saat tiba di lobi gedung tersebut.
"Selamat datang dan bergabung kembali Bapak Bimo Aryoseno Perwira Atmaja.!!.," teriak para karyawan begitu Bimo keluar dari mobilnya.
Bimo hanya menangkupkan kedua tangannya sambil tersenyum dan berkaca kaca, sebagai tanda terimakasih atas segala dukungan dan maaf sudah merepotkan selama ini.
Menaiki liftnya menuju ruangannya Bimo di sambut jajaran sekertariat.
"Selamat datang pak Bimo ..," sapa para sekertaris termasuk mbak Diah sekertaris Bimo.
"Terima kasih... untuk semuanya..," balas Bimo sebelum masuk ke ruangannya.
Tak lama Andre dan om Satya datang menyambangi kantor pemimpin tertinggi nya dan mengucapkan selamat datang.
Hari itu kegiatan pagi hanya bercerita dan bercerita, tentang bagaimana peristiwa itu bisa terjadi hingga bagaimana Bimo bertahan dengan luka tembak yang akhirnya dirinya masuk kamar operasi.
Bagaimana Bimo merasakan keadaannya selama koma dan bagaimana Bimo berjuang dalam masa penyembuhan.
Andre dan Om Satya hanya mengangguk, menggeleng untuk mengungkapkan ekspresi kesedihan dan kekaguman nya akan semangat juang sang CEO.
**
Hari itu mama Halimah ternyata sudah menyiapkan pesta kecil di aula perusahaan itu.
Pengumuman akan adanya pesta mendadak di umumkan.
Tak berapa lama dari pengumuman itu nampak berdatangan mobil mobil yang membawa katering dan mulai menata di aula yang sudah di siapkan.
Bahkan saat makan siang itu, papa Haryo, mama Halimah dan Meytta datang ke perusahaan itu.
Saat itu Bimo masih berada di ruangannya menandatangi berkas berkas yang menumpuk.
Tok tok tok..
"Masuk...!!," teriak Bimo masih dengan serius menanda tangani beberapa berkas itu.
Sang tamu masuk ke ruangan kerja Bimo tanpa bercakap cakap.
Bimo masih saja menunduk tak menghiraukan tamunya.
Lama sang tamu berdiri, sedang Bimo masih sibuk menandatangani beberapa berkas di depannya.
Karena lama tamu nya terdiam akhirnya Bimo mengangkat kepalanya.
"Lho...kok kamu sayang...??," kata Bimo melihat Meytta sudah berdiri di ruangannya.
Meytta hanya tersenyum senang bisa mengagetkan suaminya.
"Ini sudah jam makan siang.. kenapa mas Bimo masih di sini..?," seru Meytta.
__ADS_1
"Bagaimana mau benar benar sembuh kalau makan aja harus di awasi..," kembali Meytta berkata dengan bibir sedikit cemberut.
"Iya.. maaf mas Bimo terlalu asyik bekerja..," sahut Bimo sambil membereskan berkas berkasnya takut Istrinya tambah marah.
"Memangnya kamu belum makan sayang..?."
"Belum..dedek baby masih nunggu Dady nemani makan," sungut Meytta sambil mengusap perutnya yang mulai terlihat membulat.
"Ayook..Dady sudah selesai kerjanya..," kata Bimo sambil berdiri dan menghampiri istrinya.
Bimo mulai berjalan keluar dari ruangannya, Meytta nampak masih mengetik sesuatu di ponselnya.
"Lho...katanya keburu lapar.., kok malah masih maen ponsel..," sahut Bimo dengan sabar kepada istrinya.
Meytta hanya tersenyum saja, lalu berjalan dan menggandeng lengan suaminya.
Bimo berjalan berniat menuju lantai bawah dimana di sana ada cafetaria dari gedung tersebut.
"Eeh...! jangan kesana dulu mas.." cegah Meyyta.
"Terus mau kemana..?," tanya Bimo sambil melihat sekeliling tumben jam segini lift udah sepi.
Meytta tak menjawab tapi langsung memencet tombol naik.
Ting..
Tak lama lift terbuka, dan keduanya sudah masuk.
Meytta memencet nomor sembilan di mana aula yang lumayan besar berada.
"Lho...kok malah lantai sembilan..?, mau kemana sih kamu sayaang..?," tanya Bimo sedikit heran dengan istrinya.
Bimo terkekeh melihat istrinya.
"Hehehe.kamu ini gemesin aja..," sahut Bimo memeluk istrinya dan mencium ujung rambutnya.
Meytta pun juga melingkar kan lengannya memeluk suaminya.
Lift sudah terbuka kini keduanya sudah berada di depan pintu aula lantai tersebut yang nampak tertutup dan sepi.
Saking sepinya sampai Meytta juga ragu ragu.
"Heh..kok sepi...tadi kata mama aulanya lantai sembilan..tapi ini kok sepi...?, apa salah lantai yaa...?."
"Lah..kok malah kayak ragu..?," tanya Bimo yang merasa makin aneh.
"Mau lihat Aula nya tapi kok sepi ya mas...?," kata Meytta beralasan.
"Ya..udah..kita buka aja ya...mungkin dedek baby pingin lihat Aula ..entar malah ileran kalau enggak kesampaian," kata Bimo masih memeluk istrinya dan membuka pintu aula.
Cekleek...!!
"Suurrprriiiseee...!!!."
Bimo kaget ternyata di dalam aula seluruh pegawai sudah berkumpul.
Bahkan papa Haryo dan mama Halimah nampak di depan podium.
Bimo tersenyum..senang mendapat kejutan dari kedua orang tuanya dan juga Istrinya.
__ADS_1
Tanpa sadar Bimo memeluk istrinya dan menciuminya.
Prook.. Prook... Prook..
Tepuk tangan meriah dari para pegawai.
Bimo berjalan kedepan dan ternyata di depan sudah ada pembawa acara yang memeriahkan acara kecil tersebut.
Tanpa banyak acara....langsung saja pembawa acara yang juga seorang vokalis dari organ tunggal itu mulai membawakan lagu setelah sebelumnya sejenak mengutarakan prakata mewakili tuan Haryo dan mama Halimah tujuan dari pesta kecil ini.
Saat pembawa acara yang juga vokalis itu menyanyi, seluruh pegawai di persilahkan mencicipi hidangan yang sudah di sediakan oleh salah satu rumah makan terkenal tersebut.
"Silahkan sambil menikmati hidangan nya..," kata Andre dengan pengeras suara.
Kemudian semua nampak sudah hanyut dalam kelezatan menu makanan yang di hidangkan.
Tuan Haryo sekeluarga sudah duduk di meja khusus yang di sediakan, disampingnya meja para pejabat tinggi perusahaan itu.
Semua menikmati hidangan makanan tersebut.
"Kok kamu enggak kasih tahu mas Bimo sih..sayang," kata Bimo sambil menikmati hidangannya.
"Aku aja baru tahu siang tadi waktu mama mengajak ke sini..," kata Meytta sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Kalau mama beritahu namanya bukan surprise..," sahut mama Halimah sambil mengambilkan makanan buat papa Haryo.
Bimo hanya tersenyum saja.
"Terimakasih pah...mah..dan juga kamu sayang...," sahut Bimo sambil menggenggam tangan istrinya.
"Dedek baby enggak di ucapin terima kasih..!?," sungut Meytta lagi.
Bimo tersenyum lalu merunduk mencium perut istrinya.
"Auw...sudah.. sudah..mas geli..," seru Meytta yang perut nya di ciumi oleh suaminya.
Semua orang siang itu nampak menikmati makanan yang hidangan di aula tersebut.
**
Kesehatan Bimo benar benar sudah pulih seperti sedia kala.
bahkan sudah akan kembali berlatih angkat beban dan mulai ke Dojo lagi.
"Beneran mas Bimo sudah sehat...?," tanya Meytta yang masih saja khawatir.
"He'em..," sahut Bimo.
"Kan mas Bimo enggak tanding cuma ikut latihan lari dan angkat beban lalu memukul sansak.."
"Ya...udah hati hati mas.."
____________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya....
Baca juga karya lainku
* Sang Pengacau
__ADS_1
* Aku Lebih Mencintaimu**