
''Ada masalah apaan sih?" tanya Andre.
"Sebenarnya bukan suatu masalah sih," kata Bimo.
"Aku ingin kamu melakukan penawaran pembelian tanah dan bangunan tempatku berlatih bela diri," kata Bimo kepada Andre.
Kemudian Bimo menceritakan sedikit permasalahan tentang Dojo, Andre mendengarkan dengan seksama dan mengangguk anggukkan kepalanya.
"Ajaklah siapa yang pintar dalam tawar menawar, tanyakan pada om Satya siapa yang ahli kalau kau masih ragu," kata Bimo lagi.
Andre hanya tersenyum kepada Bimo.
"Aku kan orang susah, sudah biasa jual beli, ...udah percaya sama aku, biar aku yang akan negosiasi masalah harga, nanti sebelum terjadi deal aku akan kasih kabar kepadamu jadi tidaknya kita beli tempat itu," kata Andre meyakinkan Bimo.
Bimo hanya mengangguk sambil tersenyum, dirinya lupa bahwa Andre sudah biasa jual beli mulai masih ingusan.
Andre memang dari kecil sudah biasa berdagang, mengambil dagangan dari orang lain lalu di jualkan kembali dan keuntungan nya buat tambah uang saku.
Bahkan dahulu pernah suatu hari, mungkin pas apesnya Andre, dagangan Andre pernah tidak laku hingga agak siang dan akhirnya Bimo lah yang memborong dan membagikan gratis kepada teman yang lainnya.
"Ok kalau begitu, aku serahkan urusan ini kepadamu, hubungi aku sebelum deal kita beli," kata Bimo kembali.
Setelah Andre pamit dari ruangnya, Bimo kembali berkutat pada pekerjaannya.
Meneliti berkas persetujuan untuk kemudian di tandatanganinya.
"Mbak Diah tolong panggilkan om Satya bila sudah datang, suruh ke ruangan ku," kata Bimo sambil mengangkat telpon di mejanya.
__ADS_1
"Baik pak," sahut suara di seberang.
Meskipun Bimo sudah menjadi seorang CEO namun masih ada beberapa permasalahan yang yang mesti dia kansultasikan dan putuskan dengan pertimbangan ayahnya maupun timbang saran om Satya.
Tok...tok...
Suara ketukan pintu terdengar kemudian tanpa menunggu jawabannya pintu itu dibuka dari luar.
Cekleek.....
Tampaklah om Satya di ujung pintu memasuki ruangan itu.
"Pagi Om Satya," sapa Bimo sebelum om Satya benar-benar sampai di depan mejanya.
"Pagi direktur muda," terdengar sahutan Om Satya sambil tersenyum membalas sapaan Bimo.
"Hanya minta saran dari Om Satya pertimbangan untuk proyek kita yang ada di kepulauan X ," kata Bimo kepada Satya.
"Oh..pembangunan kilang minyak kita di sana?,"
''Ya Om, aku masih sedikit ragu dengan angka angka dari budget yang di ajukan," kata Bimo.
"Mana berkas itu ?, biar nanti Andre pelajari lagi. kalau memang ada kesenjangan nanti biar di revisi dahulu,'' kata Satya.
Bimo mengambil berkas yang ada di sudut meja dimana berkas dari PT Indo global di taruhannya.
"Baiklah berkas ini akan om Satya bawa dan akan kami teliti," kata om Satya sambil membawa berkas tersebut ke luar menuju ke ruangan nya.
__ADS_1
Sebelum benar-benar keluar dari ruangan Bimo, Satya kembali menoleh ke arah Bimo.
''Oh iya tumben jam segini Andre belum datang," tanya om Satya.
"Sebenarnya tadi sudah datang sih om, cuma ada sedikit urusan yang saya suruh Andre tangani," kata Bimo.
"Ooh...gitu ya, ya udah."
Satya kembali melangkah keluar ruangan itu setelah mengetahui hal tersebut.
Setelah menyelesaikan beberapa tugas menandatangani berkas berkas itu, Bimo kemudian menyuruh Diah mengambil berkasnya kembali.
"Mbak berkasnya sudah bisa kamu ambil," kata Bimo melalui telpon yang ada di depannya itu.
Diah masuk ke dalam ruangan Bimo, sambil membawa jadwal agenda yang harus di jalani Bimo hari ini.
"Ini agenda kita hari ini pak,'' kata Diah sambil mengangsurkan komputer tablet dari tangannya.
Bimo menerima tablet tersebut yang sudah terbuka dan sesaat melihat jadwal agenda yang sudah di susun di sana.
____________
****Selamat membaca jangan lupa like vote dan koment-nya....
Jangan lupa rate bintang lima dan jadikan cerita ini favorit sehingga akan selalu di beri notifikasi bila sudah up date...
Jangan lupa mampir juga ke karya aku yang lain yang bergenre silat Nusantara yang berjudul "SANG PENGACAU****"
__ADS_1