
Andre sudah menyelesaikan urusan pembayaran di penginapan.
"Tasnya sudah masuk semua kan Zal..?," tanya Andre kepada adiknya.
"Sudah Bang..," sahut Rizal sambil langsung masuk mobil duduk di depan.
"Ya sudah kalau gitu," kata Andre lalu menyusul Rizal masuk ke mobil dan mulai menjalankan mobilnya.
Mobil melaju dengan santai.
"Bang..nanti malam Rizal mau tidur di depan TV aja..," kata Rizal di tengah perjalanan.
"TV bang Andre besar..acaranya banyak..," kata Rizal lagi.
"Entar banyak nyamuknya loh..."
"Enggak mungkin rumah gedong kok banyak nyamuknya, kalau banyak nyamuk nanti di kasih obat nyamuk aja," sahut Rizal keukeuh.
"Serah kamu aja."
"Yeiii..nanti aku mau nonton bola, soalnya tadi aku lihat ada saluran khusus olahraga bang.."
Rizal nampak gembira sekali.
"Mana nih..?, kok belum kelar belanja nya..?," gumam Andre pelan sambil memarkirkan mobilnya ke arah tadi tempat mereka janjian.
"Nah..itu kak Rani bang.."
"Ijal turun ya bang mau bantuin kak Rani.."
"Iya.."
Rizal sudah berlari ke arah Kaka iparnya.
"Biar Ijal bawa kak ..," kata Rizal menyambut Kaka iparnya.
"Emang kuat...?."
"Kuatlah kak..kan Ijal bentar lagi SMP."
"Ya sudah...nih..," kata Rani mengangsurkan tas belanjaan yang barusan di beli di pasar.
"Sini Kaka bantu..," kata Rani kepada Nissa yang juga banyak bawaannya.
"Enggak usah kak Nissa kuat kok."
"Enggak pa pa ..belanjaan Kaka udah di bawain Rizal, kan Kaka jadi nganggur..," sahut Rani mengambil sebagian kantong plastik di tangan Nissa.
Putri juga membawa beberapa kantong plastik tapi tak terlalu berat.
Semua sudah sampai di mobil dimana Andre menunggu.
"Ish..Abang malah enggak bantuin kita..," sungut Rani.
"Kan udah nyuruh asisten Abang.."
"Asisten..?."
"Iyaa..asisten..," sahut Andre sambil mulai memajukan mobilnya.
"Siapa..?."
"Rizal..," sahut Andre lagi kemudian tersenyum.
"Yeiii..Rizal asisten bang Andre..," teriak Rizal dari kursi belakang karena kursi depan sudah di ganti kakak ipar yang duduk.
"Iih..girang amat..," kata Nissa.
"Kan asisten ada bayarannya ...iya kan bang..?," seru Rizal lagi dari kursi belakang.
__ADS_1
"Nah..nooh..nanti di bayar..," sahut Rani kepada Andre.
"Iya..lima rebu ya zal..," seru Andre.
"Yeiii..dapat lima ribu..," seru Rizal kegirangan.
"Tapi jangan buat jajan.."
"Enggak bang ..mau Ijal tabung buat beli sepatu bola..," seru Rizal sambil tersenyum senang.
Rani dan kedua kakaknya tersenyum penuh arti.
"Kok pada senyum..?.," tanya Rizal.
"Kak Rani punya hadiah untuk mu..," sahut Rani dari kursi depan.
"Untuk Ijal kak..?."
"Iya..karena kamu sudah rajin bantuin Emak sama Babe juga kak Nissa serta kak Putri," sahut Rani dari kursi depan.
"Hadiah nya apa kak..?," tanya Rizal yang dengan polosnya bertanya.
"Nanti aja kalau sudah sampai di rumah kamu pasti tahu sendiri.."
Rizal yang memang rajin dan suka bantu bantu kakaknya tersenyum senang.
Mobil sudah sampai di rumah Andre, setelah mobil parkir dengan benar semua pada turun.
Mereka menurunkan tas tas yang dari penginapan.
Setelah itu baru menurunkan barang barang belanjaan.
"Kok banyak sekali neng belanja nya..?," tanya Emak yang melihat belanjaan begitu banyak.
"Ini sekalian buat seminggu Mak, kan belum tahu disini warungnya di mana..," jawab Rani sambil tersenyum ke arah ibu mertuanya.
Kemudian belanjaan itu di bawa ke dapur oleh Nissa dan putri di bantu Rizal.
"Ini buat emak sama mamak ," kata Rani membelikan baju gamis yang sewarna dan beberapa daster lengan panjang untuk mertua dan ibunya.
"Ini untuk Babe .., tadi yang milihin Nissa semoga pas ya Be..," kata Rani.
"Yang punya kalian mana..?," tanya Rani mencari cari punya Nissa dan Putri.
"Sudah kami ambil kak..," seru Nissa yang masih menata beberapa belanjaan di kulkas.
"Terus hadiah buat Ijal mana kak..?," tanya Rizal sambil berdiri di samping Kaka iparnya.
"Nih...kata kak Nissa sama kak Putri kamu pasti suka itu," kata Rani menyerahkan bungkusan plastik.
Dengan tak sabar Rizal membuka bungkusan nya.
"Horeee...," Rizal berteriak kegirangan karena mendapat hadiah sepatu bola dan kaos serta celana sepak bola.
"Makasih Kaka..," seru Rizal sambil kegirangan.
Setelah semua selesai Emak dan mamak Sadur pergi ke dapur untuk memulai memasak.
"Rumah kok begini besar ya Mak..?," kata mamak Sadur masih dengan kagum nya.
"Iya ya ..Mak..," kata Emak yang juga kagum.
"Keluarga tuan Haryo memang penolong bagi keluarga kami Mak," kata Emak lagi.
"Kedua keluarga itu memang benar benar keluarga yang luar biasa dermawan..," sahut mamak Sadur ( maksudnya keluarga Bimo dan Meytta).
**
Bimo dan Meytta sudah memborong berbagi keperluan buat bayi mereka nantinya.
__ADS_1
"Sayang ini perlu enggak..?," tanya Bimo sambil memperlihatkan gendongan model kanguru ( kantungnya di depan)
"Perlu sih mas...meskipun masih lama, kan itu buat baby yang sudah bisa tengkurap setidaknya," sahut Meytta menerangkan kepada suaminya.
"Enggak pa pa ..besok malah sudah habis barangnya, soalnya ini pas cocok... bagus banget," kata Bimo sambil menimang nimang gendongan kangguru tersebut.
"Sini masukin keranjang ," sahut Meytta akhirnya.
Keranjang mereka sudah penuh dengan aneka belanjaan kebutuhan bayi, namun mereka masih ingin melihat lihat produk lainnya siapa tahu mungkin ada yang berguna.
"Mas kayaknya stroller baby nya bagus bagus..," seru Meytta.
"Kita beli sekalian ya mas..?."
"He'em.."
Mereka pun mengambil satu yang di rasa paling cocok dengan keinginan mereka.
"Sudah...kurasa sudah cukup mas.."
"Iya ...ayoo pulang ," kata Bimo menggandeng lengan istrinya.
Kedua pengawal itu yang kini membawa barang belanjaan dan mengantri di kasir.
"Mas aku mau eskrim itu..," seru Meytta sambil menunjuk ke arah outlet eskrim yang ada di samping kanan.
"Ayuk..kita ke sana ," gandeng Bimo kepada istrinya menuju ke outlet eskrim tersebut berada.
Bruukk..!!
"Auww..," seru seorang gadis yang entah kenapa menabrak Bimo.
"Eh..maaf mbak ..," kata Bimo meminta maaf.
"Hati hati mas kalau jalan...," seru gadis itu sambil memandang wajah Bimo sedikit lama.
Meytta yang melihat itu menjadi sedikit jengkel.
"Eh .mas Bimo ya..?."
Bimo kaget begitu pun dengan Meytta.
"Saya Cindy mas..anaknya mama Jolie teman mama Halimah," sahut Cindy sambil tersenyum genit.
"Kita pernah ketemu di butik Cantika..," sahut Cindy memutar ingatan Bimo ke butik Cantika.
"Ooh..," kata Bimo entah ingat entah tidak.
Meytta sudah membuang muka sedikit jengkel dengan gadis tak tahu Malu tersebut.
"Ayook mas..," ajak Meytta pergi.
"Lho katanya mau beli es krim sayang..," kata Bimo.
"Sudah enggak selera..," sungut Meytta sambil mengusap perutnya.
"Oh... istrinya ya mas..?," kata Cindy sambil tersenyum memandang Meytta.
"Iya.. masak perutnya besar gini di bilang pacarnya..," kata Meytta sewot.
Cindy hanya tersenyum mendengar perkataan Meytta .
"Bisa juga kan..? mbak.."
"Ayo mas ah..," kata Meytta sambil menarik lengan Bimo yang masih tersenyum melihat istrinya yang kian posesif.
"Aku duluan ya..," kata Bimo kepada Cindy.
Cindy mengangguk tersenyum semanis mungkin, padahal Bimo tak memperdulikan itu.
__ADS_1
___________
Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya....