
Tubuh Bimo yang bersimbah darah langsung di bawa ke mobil ambulan yang memang di siapkan untuk acara tersebut mengantisipasi jika terjadi sesuatu.
Dengan cepat mobil ambulan tersebut meninggalkan lokasi kampus dan menuju ke sebuah rumah sakit dimana keluarga tuan Haryo juga memiliki saham di sana.
Dua buah tembakan yang mengenai tubuh Bimo membuat kedua luka itu dengan cepat mengeluarkan banyak darah.
Bimo sudah nampak lemah dan pucat, dengan bantuan selang oksigen di hidungnya dia terlihat memejamkan matanya.
Mama Halimah dan Meytta masih menangis di dekat Bimo di baringkan di dalam ambulan itu.
Begitu mobil ambulan sampai di Unit Gawat Darurat rumah sakit itu, semua langsung bergerak menanganinya.
Apalagi sebelum sampai di sana mama Halimah sudah langsung menghubungi direktur rumah sakit tersebut yang juga teman sosialita mama Halimah.
"Dokter Melly..tolong Bimo..," kata Mama Halimah begitu turun dari mobil ambulan sambil menagis terisak Isak.
Dokter Melly adalah teman mama Halimah dan sejak Bimo kecil sudah cukup mengenalnya.
Meytta sudah tak lagi menghiraukan keadaanya, dia memeluk tubuh suaminya yang bersimbah darah dengan terus menangis tiada henti.
Bajunya kini sudah terkena darah dari suaminya, Meytta sangat menyesal karena tadi pagi menolak di peluk sang suami hanya karena takut kusut bajunya...tapi kini sang suami sudah tak berdaya melakukan itu... mengingat itu makin membuatnya sangat menyesal...hingga makin keras tangisnya.
"Mas...jangan tinggalkan aku.."
"Mas.. Bimo...," tangis Meytta makin jadi.
Semua mencoba menenangkan Meytta maupun nyonya Halimah.
"Tolong ya dok..," kata mama Halimah dengan berderai air mata.
"Pasti Jeng.., Jeng Halimah..tenang saja dulu ya..," kata dokter Melly direktur rumah sakit tersebut yang sudah stand by di depan UGD rumah sakit tersebut.
"Akan kami tunjuk dokter tebaik di tempat kami yang akan menangani mas Bimo," kembali dokter Melly menenangkan mama Halimah.
Terjadi kehebohan yang luar biasa atas kejadian tersebut, berita itu langsung viral dan menjadi trending topik di negara ini menimbulkan berbagai reaksi dari berbagai kalangan.
Musuh musuh Hartono pun ikut geram dengan tindakan Hartono, bahkan ada yang mengumpati saat rekaman menunjukkan Hartono yang di lumpuhkan dengan timah panas.
Pihak rumah sakit langsung melakukan rapat mendadak, mendiskusikan untuk memutuskan tim dokter yang menangani kasus tersebut.
"Karena ada dua tembakan di badan tuan Bimo maka akan di lakukan operasi bersama oleh dua tim dokter bedah, yaitu dokter bedah thorak karena salah satu peluru menembus paru paru dan juga doter bedah digestiv karena satu peluru mengenai perut dari tuan Bimo," sahut dokter Melly yang memimpin rapat tersebut.
Setelah rapat mendadak singkat dan cepat maka persiapan untuk operasi pun dilakukan.
Karena itu sebuah kecelakaan yang harus segera di tangani, maka di program lah Cito untuk operasi tersebut.
__ADS_1
Bimo sudah di bawa ke ruang operasi, mama Halimah dan Meytta yang masih belum rela berpisah dengan Bimo masih saja mengikuti hingga di hentikan oleh petugas di sana.
"Maaf nyonya besar dan nyonya muda..silahkan menunggu di sini, nanti akan kami kabari bila membutuhkan sesuatu," kata petugas tersebut.
Meytta dan mama Halimah hanya menangis berpelukan di depan kamar operasi rumah sakit itu.
**
Papa Haryo masih ketemuan degan rekanan dari luar negeri di sebuah hotel bintang lima.
Mereka masih membahas berbagai kerja sama.
Tiba -tiba salah satu pengawal datang tergopoh-gopoh dan membisikkan sesuatu ke telinga tuan Haryo.
Papa Haryo berdiri begitu di beritahukan akan hal itu dan langsung mengakhiri pertemuan dengan kolega nya yang dari luar negeri tersebut.
Tanpa banyak bicara tuan Haryo langsung meninggalkan tempat tersebut.
Awalnya para kolega terkejut dengan sikap tersebut, namun saat di beritahukan apa penyebab tiba -tiba berakhirnya pertemuan bisnis tersebut oleh asisten tuan Haryo akhirnya para kolega memaklumi nya.
penyebabnya bahwa sang CEO muda dari GSB group mengalami kecelakan yaitu penembakan.
Semua akhirnya membubarkan pertemuan tersebut dan turut prihatin dengan peristiwa tersebut.
**
Bang Anton dan bang Fachri ikut geram dengan tindakan Hartono tersebut.
Disana langsung terjadi kegaduhan yang tak lagi bisa di redam.
Para preman jalanan dan juga anak jalanan serta para pengamen jalanan yang selama ini di tampung di sana dan merasa sangat berhutang budi kepada Bimo bahkan langsung menuju gedung dari milik keluarga Hartono.
Entah siapa yang mengkoordinir semua orang itu langsung menghampiri kantor tersebut dan melakukan perusakan serta pembakaran dan kerusuhan di sana, habis itu semua membubarkan diri tak tentu rimba nya.
**
Papa Adrian masih berada di kantor saat salah satu staff memberitahukan berita penembakan tersebut.
"Maaf pak Adrian apakah bapak sudah mendengar berita penembakan di kampus universitas x yang tengah melangsungkan acara wisuda..?," kata salah satu staff tersebut.
Papa Adrian kaget karena kampus tersebut adalah tempat di mana anak dan menantunya saat ini berada.
"Tolong cari tahu berita penembakan tersebut dengan benar," perintah papa Adrian kepada staffnya.
Setelah kebenaran berita tersebut di dapat, papa Adrian langsung menghubungi mama Qonita.
__ADS_1
mama Qonita yang di beritahukan akan kejadian tersebut juga tak dapat menutupi keterkejutan dan kekhawatiran akan menantunya tersebut.
Mereka langsung menuju rumah sakit dimana Bimo dirawat dan di operasi dengan kendaraan masing masing karena papa Adrian langsung menuju ke rumah sakit, sedangkan mama Qonita langsung menuju rumah sakit dari rumah.
Begitu sampai di rumah sakit mereka langsung mencari informasi letak kamar operasi lalu menuju ke kamar operasi berada.
Mama Qonita langsung memeluk mama Halimah dan Meytta yang masih nampak menangis.
Papa Haryo yang baru datang juga tak bisa menutupi kekhawatiran di wajahnya.
"Bagaimana bisa terjadi..?," tanya papa Haryo.
Namun mama Halimah tak bisa lagi menjawabnya, mulutnya terasa kelu tak mampu berkata kata.
Hanya seorang pengawal yang saat itu datang terlambat, sedikit mendengar kronologi dari kejadian di sana.....menceritakan kepada tuan Haryo bagaimana bisa terjadi peristiwa tersebut.
Semua masih menunggu di depan kamar operasi hingga beberapa jam.
Untuk semua kebutuhan operasi sudah langsung di tangani oleh petugas dari pihak rumah sakit, karena keluarga tuan Haryo adalah pemegang saham disana, seperti kebutuhan akan darah yang langsung di order dari kamar operasi dengan croscek langsung dari sample darah waktu pertama masuk tadi.
Meytta masih saja menangis hingga air matanya terasa kering.
Bujukan dari mama Qonita tak mengurangi rasa sesal di hatinya.
Operasi yang berjalan lama makin membuat semua yang menunggu nampak cemas dan sangat gelisah.
Papa Haryo nampak mondar mandir tak jelas, sedangkan papa Adrian hanya terduduk dengan lesu.
Hampir lima jam sudah jalannya operasi berlangsung.
Cekleek...
Pintu kamar Operasi sudah di buka nampak beberapa dokter yang menangani operasi tersebut terlihat keluar di dampingi dokter Melly direktur rumah sakit tersebut.
Semua menghambur ke arah para dokter tersebut berada.
"Bagaimana dok..?," tanya papa Haryo dengan papa Adrian di sampingnya.
"Alhamdulillah.. operasi berjalan lancar..namun butuh waktu karena dua peluru mengenai paru paru dan usus dari Mas Bimo..sehingga setelah operasi nanti perlu di rawat di ruang khusus (ICU)," kata dokter Melly.
"Alhamdulillah..semoga baik baik saja
__________
Happy reading...
__ADS_1