Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
108. Malam menjelang lamaran


__ADS_3

Hari yang di nanti pun tiba, sabtu sore tamu undangan sudah berdatangan di hotel yang di maksud.


Teman teman Bimo dari Dojo sudah berdatangan satu persatu, bahkan ada yang berombongan karena belum berkeluarga seperti Maman dan Asep.


Bang Fachri, bang Anton dan yang sudah berkeluarga datang bersama keluarga nya.


Teman teman cafe D'JOSs datang awal juga, namun mereka mempunyai tugas untuk besok pagi, yaitu menyajikan menu khas cafe D'JOSs, karena selain menu pesanan yang sudah di pesan teman teman cafe berniat menyajikan menu andalannya.


Jamuan makanannya nanti akan di sajikan secara prasmanan, terdiri dari beberapa outlet, tinggal para tamu mau memilih yang mana.


Bimo menemui tamu tamu undangan bersama Meytta yang juga sudah ada di hotel itu sejak sore.


Dengan dress model sederhana namun elegan membuat Meytta makin nampak cantik bersahaja.


Mereka berdua menemui teman teman dari Dojo yang saat itu banyak berkumpul di sana.


Di saat itu di gunakan oleh Meytta untuk mengucapkan terima kasih atas kedatangan nya juga berterima kasih atas bantuan teman teman ikut membebaskan dirinya selama penculikan.


Kemudian oleh Bimo teman teman Dojo yang kebanyakan belum pernah masuk ke hotel berbintang itu di arahkan untuk mengikuti petugas yang sudah di siapkan di sana.


Teman teman Kuliah Bimo dan teman dari kosan juga sudah mulai berdatangan.


"Wuih..Bro..mantap banget hotelnya," kata Muklis .


"Iya...ni..aku belum pernah masuk hotel model kaya gini," kata Agung menimpali yang juga di angguki Budi.


Romano yang sok sokan tahu malah di tertawai Achri ketika salah melakukan sesuatu.


Merekapun di arahkan Bimo mengikuti petugas yang sudah di tujuk untuk memperlancar urusan jangan sampai membuat kegaduhan yang malah mengganggu tamu tamu hotel yang lain.


"Langsung aja bro..ikuti petugasnya ," kata Bimo sambil memeluk pinggang Meytta kepada teman temannya.


"Jangan lupa makan malam..," kata Bimo sambil menyebutkan jam makan malam kepada teman temannya.


Babe sekeluarga juga sudah datang di dampingi Andre yang mengajak Rani.


"Makasih Be..Mak...sudah datang ke acara kita," kata Bimo sambil menyalami Babe dan Emak.


Kemudian Rani dan adik adik Andre juga ikut menyalami Bimo dan Meytta.


"Kapan menyusul..?," tanya Meytta kepada Rani.


Rani hanya tersenyum kecil dan melirik ke arah Andre yang juga kikuk.


"Iya ..kapan Ndre..? jangan lama lama nanti keburu di sambar orang," goda Bimo kepada Andre.


"Apaan sih bos, kayak jemuran aja main sambar sambar, bentar lagi aku juga mau ngelamar neng Rani," jawab Andre yang langsung membuat Rani mendongak memandangnya.

__ADS_1


Bimo dan Meytta yang mendengar jawaban Andre sepontan tertawa, merasa pancingannya berhasil.


"Sudah sana...Babe dan Emak di ajak ke kamar, biar bisa istirahat dulu," usir Bimo kepada Andre.


"Jangan lupa jam makan malam di lantai dua," kata Bimo lagi, kembali mengingatkan.


Andre menganggukkan kepalanya dan terus berjalan ke arah sesuai nomor kamar yang di huninya.


Keluarga itupun meninggalkan Bimo dan Meytta yang masih akan menyambut tamu yang lainnya.


Hari makin mendekati malam dan sebagian para tamu yang berdatangan sudah berada di kamar masing masing.


Papa Adrian dan mama Qonita rencananya habis isya baru akan datang ke Hotel berbarengan dengan keluarga yang lainnya.


Sedangkan papa Haryo dan mama Halimah malah habis subuh baru mau ke Hotel, soalnya sepanjang siang mama Halimah sudah ikut mengatur semua yang ada di hotel tersebut.


Habis Maghrib jam makan malam sudah di mulai oleh pihak hotel.


Untuk makan malam itu memang di barengkan antara tamu undangan dan para tamu biasa. prasmanan.


Semuanya di lantai dua, di sana juga sudah di sediakan meja makan beserta kursinya yang di tata rapi di ruangan yang luas tersebut.


"Maman dan Asep nampak bercanda canda sambil mengambil makanan yang di sediakan di sana.


"Man...mumpung di sini, kita makan yang enggak pernah ada di luar sana," bisik Asep pelan takut ketahuan yang lain.


Keduanya berjalan ke arah makanan western yang belum pernah di cobanya.


Piring keduanya penuh hingga kayak gunung anakan.


Bang Fachri dan bang Anton yang sudah duduk di meja bundar beserta keluarga nya nampak tersenyum geli melihat Maman dan Asep yang menggunakan aji mumpung itu.


''Ton..tuh..lihat ulah Maman sama Asep," kata bang Fachri.


"Waah...iya bro.., mentang mentang gratis aja tuh anak ..main sikat aja..he..he..,"balas bang Anton.


Tak beda juga dengan Rizal adik Andre yang memang doyan makan, piring nya sampai tak muat karena semuanya di ambilnya.


"Eh..tong ngapain ambil makanan begitu banyak..? emang habis makanan segitu banyak..?," kata Emak agak malu.


Babe juga mengingatkan Rizal, namun nampaknya anak itu cuek aja.


"Zal..kamu itu memalukan...," kata Nissa kakaknya.


"Iya ..," sahut putri.


Andre hanya diam saja mendengar celotehan keluarga nya yang memang tidak pernah berada di situasi seperti ini.

__ADS_1


Bimo yang kebetulan lewat mendengar keributan kecil tersebut.


"Ada apa sih..Mak..?, enggak cocok makanannya..?," tanya Bimo.


"Eeh..mas.. Bimo, bukan itu mas..," bisik emak pelan.


"Lha terus ada apa..?," Bimo mendekat melihat emak berkata sambil berbisik.


"Rizal mas... makanan yang di ambilnya sangat banyak ..kan malu kita," kata emak pelan.


Bimo tersenyum mendengar perkataan emak.


"Mak..biar saja...mumpung bebas, banyak makanan..yang penting di habiskan ..enggak boleh membuang makanan dosa kan..?," kata Bimo sambil tersenyum dan memandang Rizal.


Rizal tersenyum dan mengangguk.


"Lha...kak Bimo aja boleh Mak," kata Rizal berikut nya.


"Nissa sama putri juga boleh nambah kok, tidak perlu malu malu," kata Meytta tiba -tiba dari belakang Bimo.


Mendengar perkataan Meytta, Nissa dan Putri pun tersenyum kemudian berdiri dan mengambil makanan lagi yang di inginkan.


Ruangan yang luas di ruang makan itu nampak nyaman sekali, dengan meja bundar yang besar.


Dalam satu meja nya ada delapan hingga sepuluh kursi yang mengelilinginya.


Semua nampak menikmati acara makan tersebut.


Bahkan teman teman kosan yang juga teman kampus Bimo, sampai nambah makanan beberapa kali.


Debora, Sinta dan Wulan teman karib Meytta di kampus juga sedang nampak makan dengan lahap ketika Meytta menghampiri nya.


"Bagiamana menu nya...?," tanya Meytta.


"Pokonya gini," kata Debora sambil mengunyah makanan dan mengangkat jempolnya.


"Soalnya ini juga sebagian besok di sajikan lagi," kata Meytta.


"Takutnya ada yang enggak cocok," kata Meytta kembali.


"Semua perfect...," kata Wulan yang di angguki Sinta.


"Mantaap..gues....ancamaaan bangeet," kata Debora kaya di tivi yang membuat semua tertawa senang.


_____________


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejak....

__ADS_1


Baca juga karya lainku ya**...


__ADS_2