
Minggu pagi.
Kegiatan di Dojo sudah marak mulai dari pagi dini hari tadi, para pengurus Dojo sudah berbenah menyiapkan segala perlengkapan yang akan di gunakan para murid, makin lama memang Dojo itu makin terkenal karena memang mulai di kelola secara profesional.
Tempatnya yang luas dan ruangan yang banyak membuat Dojo itu mulai berani membuka berbagai cabang ilmu beladiri, kalau dulu hanya Jujitsu dan taekwondo, namun kini ditambah cabang seni beladiri silat dan karate, semua itu karena animo masyarakat yang kian banyak menanyakan dua cabang bela diri itu, tentu saja untuk yang tingkat amatir.
Sedangkan yang tingkat petarung (profesional) otomatis mereka akan mempelajari banyak cabang ilmu beladiri dengan pelatih pelatih panggilan. apalagi bila akan ada pertarungan kejuaraan maka akan mempelajari siapa lawannya dan apa yang harus di persiapkan.
Sebagai contoh lawan yang akan di hadapi mempunyai keunggulan di ilmu beladiri tertentu maka di butuhkan ilmu beladiri apa dan teknik apa yang bisa meredamnya, kemudian di cari kan pelatih yang piawai di bidang itu untuk mengantisipasi serangannya.
Fachri yang jago taekwondo dan Anton yang jago jujitsu memang selama ini menjadi dua motor pelatih di Dojo itu.
Berhubung kini banyak murid baru di cabang silat maupun karate maka di carilah guru di bidang itu.
Ahmad Subardja adalah guru silat baru di sana, dia berasal dari pinggiran kota itu.
Sedangkan Bang Hardi pelatih di cabang karate.
Mereka sudah profesional di bidang masing masing dan sudah memiliki asisten untuk memperlancar pekerjaannya.
Semua masih berkumpul sambil membahas kegiatan yang mereka lakukan dalam minggu-minggu terakhir ini.
Meskipun di antara keempat orang itu yang paling tua pak Ahmad Subardja, namun karena yang paling senior di sana( pengelola paling lama) adalah bang Fachri maka istilah kepala sekolah di sana adalah bang Fachri tersebut.
Semua masih membahas tentang laporan pemasukan bulanan dari murid murid yang mengikuti latihan beladiri di sana, memang di sana sebagian ada yang gratis namun banyak juga yang membayar mengikuti pendidikan bela diri tersebut.
Salah satunya adalah dari para anggota satuan pengamanan yang bekerja sama dengan Dojo itu.
PT itu memang bergerak di jasa pelatihan satuan pengamanan(SATPAM) yang di salurkan di perusahaan perusahaan.
Mereka bekerja sama mendidik calon satpam tersebut agar memiliki sertifikat sebagai satuan pengamanan.
Dan Dojo itulah salah satu lokasi yang di pilih oleh PT tersebut untuk mendidik calon satpam tersebut.
Selain itu juga banyak dari masyarakat umum yang ikut berlatih di sana dengan membayar nya.
Disaat mereka sedang membahas pembukuan dan keuangan yang ada di sana, tampak Abah kumis datang dengan membawa semacam berkas berkas.
"Assalamualaikum," sapa Abah kumis ketika memasuki ruangan itu.
"Waalaikumssalam," balas orang orang yang ada di ruang itu.
__ADS_1
Fachri yang mengenal Abah kumis sedikit kaget.
"Waduh..mau apa Abah kumis kemari..? mau narik uang sewa..?," batin Fachri dengan sedikit gelisah.
"Ooh..Abah kumis, ada perlu apa bah..?," tanya Fachri sedikit basa basi, padahal hatinya sedikit dag-dig-dug takutnya minta uang sewa sekarang, karena bagaimanapun sewa tempat tersebut tidak murah, bahkan mencapai puluhan juta rupiah pertahun.
Dan berdasarkan perhitungan Fachri dana kas saat ini masih kurang sedikit setelah di potong untuk pengelolaan dan membayar para guru beladiri di tempat itu.
"Cuma mau ketemu sama mas Bimo," kata Abah kumis sambil tersenyum.
"Apakah mas Bimo nya sudah datang ya..?," tanya pria tua yang lebat kumisnya itu.
"Belum bah..,ngapain Abah nyari Bimo segala tumben nih," kata Fachri kepada Abah kumis.
Abah kumis tersenyum memandang Fachri sambil menunjukkan segepok arsip yang dia bawa.
"Mau menyerah kan ini," kata Abah kumis sambil mengangkat segepok arsip tersebut.
"Emang apaan itu sih..bah," kata Anton yang ikut mendekat sambil nimbrung.
"Ini surat surat tanah dan bangunan, kemarin masih di urus dan belum jadi, sekarang sudah jadi dan balik nama, makanya mau saya serahkan ke pemilik yang baru, kemaren barusan aku ambil dari kelurahan soalnya ternyata pengacara mas Bimo masih saudara sama pak lurah, dan aku sudah di telpon mas Bimo kemaren untuk mengambilkan di kelurahan," kata Abah kumis menerangkan.
"Udaah....ceritanya panjang deh, pokonya ini surat surat tanah dan bangunan ini, yang sudah di beli sama mas Bimo, mau saya kasihkan ke mas Bimo," kata Abah kumis menegaskan.
Membuat semua yang ada di sana menganga mendengar hal tersebut.
"Jadi tanah dan bangunan ini milik Bimo..?," kata Fachri dan Anton sambil saling menatap penuh rasa heran tak percaya.
"Sebenarnya siapa sih Bimo itu..?, aku sebenarnya mulai curiga ketika dia tidak mau mengambil sepeserpun uang hadiah waktu itu," kata Fachri bergumam kepada Anton.
"Dia juga kerap kali memberi makanan ke pada kita yang bila di hitung uang, jumlahnya sangat banyak," kata Anton menimpali.
Disaat semua orang yang ada di sana masih bingung dengan alam pikiran masing masing, nampak motor Bimo memasuki halaman dari bangunan Dojo tersebut.
Abah kumis yang juga melihat itu nampak tersenyum sambil melambaikan arsip yang di pegangnya.
Bimo menghampiri kerumunan itu.
"Assalamualaikum," sapa Bimo sambil menyalami semua yang ada di sana termasuk pak Ahmad Subardja dan bang Hardi juga tak lupa Abah kumis.
"Waah bos Bimo sudah datang," sapa Abah kumis kepada Bimo.
__ADS_1
Bimo hanya tersenyum sambil berkata ," Abah ini ada ada aja.''
"Mas ini sudah jadi sertifikat tanah dan bangunan ini," kata Abah kumis sambil menyerahkan segepok arsip tersebut kepada Bimo.
Bimo menerimanya kemudian menelitinya sekilas dan memasukkan ke dalam tas yang dia bawa.
"Makasih Abah kumis," kata Bimo sambil tersenyum.
Setelah urusan disana merasa beres Abah kumis pamit pulang ke rumah nya.
Fachri dan Anton segera menghampiri Bimo.
"Tolong jelaskan pada kami semua yang terjadi," kata Fachri dan Anton kepada Bimo.
"Baiklah aku akan mengatakan semua pada Abang abangku dan semua yang ada di sini,'' kata Bimo.
"Gedung dan bangunan ini memang sudah aku beli dari Abah kumis, makanya ketika abang mau pindah aku larang soalnya sudah aku beli, dan ini sertifikat nya barusan jadi," kata Bimo sambil menunjuk kan arsip sertifikat itu.
"Jadi nanti kami sewa sama kamu..?," kata bang Fachri.
"He..he..he. ," Bimo tertawa kecil sejenak.
"Enggak usah sewa abangku.., uangnya di simpan aja di kas nanti buat jaga jaga dan operasional Dojo," kata Bimo sambil tertawa kecil.
Fachri dan Anton hanya termangu mendengar semua itu.
"Sebenarnya siapa sih kamu Bimo..?," kata Fachri lagi masih dengan rasa penasaran yang hebat.
Seorang yang masih sangat muda namun dengan mudah membeli gedung dan bangunan yang sangat mahal, tidak mau menerima uang sewa, bahkan membelikan peralatan dan perlengkapan Dojo yang berharga jutaan bahkan sampai ratusan juta.
Itu semua di luar dari pemikiran Fachri, dan Anton bahkan yang ada di ruangan itu.
"Suatu saat abang abangku akan tahu, saat ini aku masih merahasiakan siapa diriku sampai waktu nya tiba nanti," kata Bimo kepada semua yang ada di sana.
______________
****Selamat membaca jangan lupa like vote dan koment-nya...
juga rate bintang lima dan jadikan cerita ini favorit sehingga akan selalu di beri notifikasi bila sudah up date.....
Baca juga karya lainku bergenre silat Nusantara yang berjudul SANG PENGACAU****
__ADS_1