
Bimo masih memeluk istrinya memberikan rasa nyaman dan ketenangan karena ulah Arlita yang tak tahu malu itu.
"Jangan kau pikirkan..kejadian tadi sayang...," kata Bimo lagi sambil mencium pucuk kepala istrinya kembali.
Keduanya sudah berada di kamar nya.
Bimo sudah melepas baju pestanya dan berganti dengan pakaian santai yang nyaman, begitupun dengan Meytta sudah memakai pakaian tidur yang sedikit kurang bahan.
"Mas..memangnya tak ada baju tidur yang lain..? yang di bawakan mama Halimah ke sini..?," kata Meytta malu malu sambil menutup tubuhnya dengan selimut tebal.
"Memangnya baju nya kenapa ..sayang ..?, sobek..?," kata Bimo sambil mendekat ke arah kasur setelah berganti pakaian santai.
"Bukan itu mas masalahnya tapi bajunya kekecilan,"sungut Meytta sedikit protes.
"Lho bukannya kamu ..yang orang fesyen...tahu dong fungsi pakaian ini," kata Bimo langsung menghempaskan dirinya di samping istrinya.
Meytta langsung memerah pipinya begitu Bimo bergeser ke arahnya dan mulai memasukkan tangan ke selimutnya.
"Mas... Lampu nya di matikan ya..," kata Meytta pelan.
"Kenapa sayang..?."
"Malu..."
Bimo mengambil remote yang ada di nakas sebelah tempat tidurnya dan mematikan lampunya.
Kliiik...
**
Pagi hari sehabis sholat subuh Bimo sudah mengajak istrinya kembali jalan jalan.
"Mas Bimo ..memangnya enggak dingin..kok pakai kaos lengan pendek mau jalan ke taman hotel, ini masih pagi banget mas..," kata Meytta .
"Enggak lah, mas Bimo tadi mandi dan keramas pakai air dingin," sahut Bimo.
"Kamu aja yang berendam di jakuzi pakai air hangat,". sahut Bimo.
"Habis dingin banget mas..pagi pagi udah keramas ," sahut Meytta sambil tersipu.
keduanya keluar dari kamar mereka langsung menuju lantai satu di mana taman itu berada.
"Kamu enggak usah lari..lari..entar sakit "itu" nya...," kata Bimo dengan penuh perhatian.
Meytta mengangguk tersipu.
"Aku duduk aja ya mas..nunggu kamu lari lari," sahut Meytta sambil duduk di bangku taman.
Bimo menganggukkan kepalanya sambil mulai berlari mengelilingi taman tersebut.
**
Tamu undangan yang menghadiri undangan pernikahan dan pesta sudah mulai berpamitan pulang setelah makan pagi.
__ADS_1
"Bos Bimo kami pulang.. terima kasih atas undangan nya, kami merasa tersanjung bisa menghadiri pernikahan sultan kayak gini," kata bang Fachri.
"Aaah...Abang bisa aja..aku dan Meytta yang berterima kasih kepada teman teman semua, atas kehadiran kalian menyempatkan diri meluangkan waktu dan memberi doa kepada kami," sahut Bimo kepada teman teman Dojo yang akan berpamitan pulang ke rumah masing masing.
Setelah berbincang sebentar semua teman teman Dojo akhirnya meninggalkan hotel tersebut.
Andre dan juga keluarga nya serta Rani juga berpamitan sebelum meninggal kan hotel tersebut.
"Selamat mas Bimo .. Babe dan Emak mengucapkan semoga menjadi keluarga yang samawa," kata Babe mewakili keluarga nya sambil menyalami Bimo dan Meytta.
"Makasih Be.. dan Emak..juga semuanya..," sahut Bimo sambil menyambut uluran tangan mereka semua.
"Makasih... makasih..doanya," kata Meytta kepada Babe, emak dan adik adik Andre.
"Kapan menyusul..?," tanya Meytta begitu menerima salaman dari Rani.
Rani tersipu kemudian memandang Andre yang pura pura tak dengar.
"Saya terserah..bang Andre kok non..," kata Rani pelan.
Andre memeluk Bimo.
"Selamat Bos... pokoknya semua yang terbaik dah," kata Andre di tengah pelukannya.
"Makasih bro..," balas Bimo.
"Oh..ya..bos aku mengantar Babe dan keluarga dulu, nanti baru ke kantor..," ijin Andre kepada Bimo.
Bimo menganggukan kepalanya.
Kemudian Andre dan keluarga nya meninggalkan hotel setelah berpamitan dengan tuan Haryo, mama Halimah serta papa Adrian dan mama Qonita.
Bimo menghampiri teman teman kampusnya sedangkan Meytta kembali ke meja di mana kedua papa dan mamanya berada.
"Bim..aku pulangnya nanti siang aja ya habis makan siang boleh kan..?," tanya Agung yang juga di angguki oleh Muklis dan Budi.
Mereka adalah teman teman kos Bimo dahulu saat masih susah.
"Hehehe...boleh..bro..," sahut Bimo sambil terkekeh.
"Biasa kan bro ...nasib anak..kos..ya begini...," sahut ketiganya tanpa malu malu.
Bimo kembali tertawa.
"Ok..santai aja.., tapi nanti aku pulang dulu..mungkin sekitar jam sembilan apa sepuluh, soalnya masih ada keperluan," sahut Bimo.
"Siaap bos..., kami akan makan siang kemudian baru cabut balik ke asal," sahut Muklis bergurau.
Setelah bercakap cakap dengan temannya kemudian Bimo menghampiri meja keluarga besarnya.
Disana sudah ada papa Haryo, papa Adrian dan juga mama Halimah serta mama Qonita.
"Mas Bimo mau makan sama apa..?," tanya Meytta yang sudah mengambilkan nasi untuk Bimo.
__ADS_1
"Ini..ini...dan itu sayang," kata Bimo menunjuk menu yang di inginkan nya.
Dengan segera meytta mengambilkan lauk yang tadi di tunjuk oleh suaminya.
"Kita..mau pulang jam berapa..?," tanya papa Haryo.
"Aku sekitar jam sepuluh pa..," jawab Bimo.
"Ya..udah..kalau gitu papa dan mama akan pulang duluan..habis sarapan ini," kata papa Haryo.
"Papa Adrian dan mama Qonita mau pulang kapan...?," tanya Bimo kepada mertuanya.
"Kami juga mau pulang habis makan pagi ini," jawab mama Qonita.
"Kalau longgar pulang ke rumah ya..," kata mama Qonita kepada Bimo.
"Pasti...ma...," jawab Bimo yang di angguki Meytta.
Selesai sarapan papa Haryo dan mama Halimah langsung berjalan ke lobi depan karena semua sudah siap di sana.
Bimo dan Meytta mengantar kepergian keduanya sampai di lobi.
"Hati..hati..kalau pulang nanti," pesan papa Haryo.
Bimo menganggukan kepalanya.
Setelah mobil kedua orang tuanya beserta para pengawal pergi barulah Bimo dan Meytta berjalan kembali menghampiri papa Adrian dan mama Qonita.
Kemudian mereka berempat naik ke lantai tempat mereka menginap.
"Pah...aku ke kamar dulu, nanti kalau papa dan mama mau pulang aku di kabari," kata Meytta Kepada kedua orang tuanya.
"Iya..mama masih akan kemas kemas dulu kok," sahut mama Qonita.
Kedua pasangan itu berpisah setelah keluar dari lift yang mengantar mereka dari lantai satu tadi.
Sampai di kamar Bimo Kembali memeluk istrinya, dan menciumi rambut nya.
"Mas..nanti kalau mama hubungi mau pulang gimana..?," kata Meytta yang merasa Bimo makin tak terkendali.
"Sebentar aja sayang..," kata Bimo.
Maytta hanya mendengus kecil, karena tak mungkin suaminya bertindak hanya sebentar.
Namun Meytta hanya pasrah karena itu adalah kewajibannya.
____________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...
Baca juga karya lainku..
*Sang Pengacau ( silat)
__ADS_1
* Aku Lebih Mencintaimu (romantis**)