Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
58. Global Semesta Buana Group


__ADS_3

Pagi hari di Global Semesta Buana Group kantor dari segala pusat usaha yang di jalankan tuan Haryo.


Bimo sudah datang di sana pagi pagi sekali, sudah dua hari dirinya tidak datang ke kantor itu, bahkan tiga hari bila di hitung dengan hari minggu.


"Selamat pagi pak Bimo".


Sapa orang orang yang berpapasan di tiap tiap jalan menuju ruangannya.


"Pagi," jawaban pendek dan anggukan kepala Bimo menambah ketegasan dan kewibawaan Bimo di kantor itu.


Sikap Bimo bila di kantor dan lingkungan rumah elitnya bagaikan bumi dan langit dengan keseharian di luar rumah, kantor dan lengkungan elitnya.


Tak nampak keramahan di wajahnya, hanya ketegasan dan kewibawaan yang terpancar saat berada di kantor maupun lingkungan rumah elitnya.


Sedangkan bila di lingkungan penyamaran nya Bimo nampak ramah, sopan dan selalu merendah.


Bimo berjalan memasuki ruangannya.


"Pagi pak Bimo," kata mbak Diah.


"Pagi," sapa Bimo sedikit menganggukkan kepalanya.


"Tolong bekas berkas yang harus ku tanda tangani di bawa ke mejaku ya mbak," perintah Bimo kepada mbak Diah.


"Baik pak akan saya siapkan dan saya bawa ke dalam bila sudah siap semuanya," kata mbak Diah sambil menganggukkan kepalanya.


Di Global Semesta Buana, Diah adalah salah satu pekerja yang di percaya.


Mendampingi Tuan Haryo sudah lebih dari lima belas tahun, semenjak masih sangat muda sudah bekerja di kantor itu Sampai sekarang anakknya sudah remaja.


Bimo memasuki ruang kantor nya, berjalan menuju meja yang juga sudah banyak berkas berkas menumpuk di sana.


Sesaat kemudian Diah memasuki ruangan itu sambil membawa setumpuk berkas lainnya.

__ADS_1


"Ini juga perlu bapak tanda tangani," kata Diah sambil mengangsurkan berkas berkas tersebut di depan meja Bimo.


"Ya makasih, taruh dulu di situ nanti akan aku pelajari dahulu," kata Bimo sambil membaca berkas lainnya yang ada di depannya.


"Mbak Diah bisa keluar dulu, nanti kalau selesai akan aku kabari untuk mengambil berkas berkas ini lagi," kata Bimo kepada Diah.


"Baik pak ," kata Diah sambil undur diri.


"Oh ya mbak tolong panggilkan Andre kemari," kata Bimo kepada Diah sebelum benar benar keluar dari ruangannya.


"Baik pak."


Bimo masih serius membaca berkas berkas itu kemudian menandatanganinya bila dirasa sudah bisa di tanda tangani.


Sedangkan berkas berkas yang lain yang masih membuatnya ragu di taruh lagi di tempat lainnya.


Tok..tok..


"Masuk...," kata Bimo.


Andre memasuki ruangan itu dengan senyumannya.


"Pagi bos," kata Andre.


"Pagi, duduklah dulu," kata Bimo kepada Andre.


Andre tidak langsung duduk, malah mendekati meja Bimo mengambil berkas yang urung di tanda tangani.


Kemudian ikut membaca dan memberikan usulan nya .


"Ini berkas dari PT indo global cabang kita yang ada di kepulauan X bisa bos pelajari lagi, soalnya sudah dua hari di sini dan keputusan dari tandatanganmu di tunggu untuk pembangunan kilang minyak di sana," kata Andre sedikit menerangkan.


Bimo kembali melihat berkas itu, kemudian mengambilnya dan membacanya sekali lagi.

__ADS_1


Kemudian berkas itu di simpan nya di sebelah lain meja.


"Nanti aku rundingan dulu dengan papa dan Om Satya, ini terlalu jauh dari wewenang ku ," kata Bimo lagi.


Bimo menghentikan kegiatannya sesaat, kemudian memandang Andre yang sudah duduk di kursi tamu ruangan itu.


"Bagaimana perkembangan pekerjaan mu di sini ?," tanya Bimo.


"Alhamdulillah..dengan bantuan pak Satya dan bimbingan mbak Diah juga yang lainnya aku mulai bisa beradaptasi dan bekerja dengan baik," kata Andre tersenyum.


"Syukurlah..kalau begitu," kata Bimo.


"Oh ya bos kemaren aku pulang bawa mobil kantor, buat mengajak keluarga jalan jalan ke pantai," kata Andre.


"Kemaren ku telpon ke hpmu enggak sambung, terpaksa kemaren aku ngabari lewat pesan singkat.'' kata Andre lagi.


"Enggak pa pa kemaren aku sedikit sibuk, bawa aja mobil itu kemana kamu mau," kata Bimo sambil tersenyum.


"Justru kamu aku panggil ke sini karena urusan kemaren itu," kata Bimo lagi


Andre menangapi ucapan Bimo dengan serius, kemudian mendekat dan duduk di depan meja Bimo.


"Memangnya ada masalah apa?," tanya Andre dengan serius.


_________________


****Selamat membaca jangan lupa like vote dan koment-nya...


Juga rate bintang lima dan jadikan cerita ini favorit sehingga akan selalu di beri notifikasi bila sudah up date...


Baca juga karya lainku bergenre silat Nusantara yang berjudul "SANG PENGACAU****"


__ADS_1


__ADS_2