Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
80. Rencana Johan


__ADS_3

Malam sekitar setengah delapan Bimo berkunjung ke rumah Meytta, dia di sambut baik oleh kedua orang tua kekasihnya.


Saat Bimo datang Meytta dan kedua orang tuanya sudah berada di ruang tamu rumah mereka.


Mereka berada di sana seakan sudah berniat menyambutnya.


"Assalamualaikum," Sapa Bimo sebelum memasuki rumah itu.


Waalaikumssalam," sahut ketiga orang itu yang sudah berada di ruang depan itu.


Mereka sesaat duduk dan berbincang disana sebelum memulai acara makan malamnya.


"Terimakasih nak Bimo kamu sudah menolong perusahaan kami berkat lobimu menghubungkan perusahaan kami dengan perusahaan besar, kami terhindar dari kebangkrutan," kata papa Adrian.


Bimo hanya tersenyum mendengar ucapan terima kasih dari papanya Meytta.


Acara makan malampun di mulai, makan malam itu semakin terasa hangat layaknya keluarga.


Hidangan makanan sudah tertata rapi di meja makan yang lumayan luas, banyaknya menu seakan itu sebuah pesta kecil bagi keluarga itu.


Aneka macam lauk pauk, kue kue serta minuman sudah terhidang di meja tersebut.


Meytta yang sangat bangga dengan kekasihnya itu nampak selalu tersenyum senang, pandangan matanya tak lepas memandang Bimo yang malam itu tampil makin tampan saja.


Mama Qonita juga tak bisa menyembunyikan rasa bangga dan suka nya kepada kekasih anaknya itu.


"Ini tambah lagi ikan bakarnya nak Bimo, ini yang membakar Meytta sendiri loh," kata mama Qonita menawarkan.


"Makasih Tante, ini aja belum habis," kata Bimo sambil menunjuk piring dan menyuapkan makanan ke mulutnya.


Setelah mereka menyelesaikan makan malamnya, percakapan itu masih juga di lanjutkan di ruang keluarga dengan penuh kekeluargaan dan kehangatan.


***


Di tempat lain terlihat Johan sedang berbincang dengan beberapa orang dengan menunjukkan sebuah foto.


"Tangkap dan culik orang ini bawa ke tempat biasa," perintah Johan kepada orang orang tersebut.


Orang orang tersebut menganggukkan kepalanya mendengar perintah dari Johan.


"Awas tugas ini jangan sampai gagal, kalian aku pecat bila sampai tak bisa menjalankan tugas ini," bentak Johan lagi.


Beberapa orang tersebut nampak keluar dari rumah Johan dengan tergesa gesa.


Anabelle yang melihat tingkah laku kakaknya sedikit aneh dengan diam diam mendekat dan mencuri dengar apa yang akan direncanakan oleh kakaknya itu.


Betapa kaget dan terkejutnya dia mendengar apa yang di rencanakan kakaknya tersebut.


"apa yang di rencanakan kak Johan..?,siapa yang akan di culik nya..? foto siapa yang ada di tangan kakakku..? aku akan terus mengawasinya."


Anabelle yang merasa sudah jengah dan muak dengan kelakuan kakaknya tersebut bertekad mengawasi kalau perlu menggagalkan rencana apapun itu.


***

__ADS_1


Pagi hari Bimo berangkat ke kampusnya untuk menyelesaikan tugas tugas yang di berikan dosennya.


Bimo yang penampilannya makin keren dengan pakaian yang lumayan berkelas membuat penampilan nya makin terlihat tampan.


Seperti biasa banyak gadis gadis yang mencuri perhatiannya meskipun tak sedikitpun Bimo menanggapi mereka.


Arlita yang masih saja mengejar ngejar Bimo juga makin berani dan agresif pula.


Melihat Bimo berada di kampus, Arlita yang dengan di temani kedua temannya langsung mengejar dan merangkul lengan Bimo.


"Hei.. hei..apaan sih.ini..?," teriak Bimo kaget ada seseorang memeluk lengan kekarnya.


Setelah di lihatnya gadis itu yang melakukannya, Bimo berhenti sesaat melepaskan lengannya.


"Udah deh Lita..jangan gini dah, jangan macam macam entar pacarmu salah sangka lagi," kata Bimo.


Perkataan Bimo memang ada benarnya, selama ini terjadi nya kesalahan pahaman memang di sebabkan oleh tingkah laku Arlita yang menjadi penyebabnya.


"Bisakah kita tetap seperti dahulu.?," kata Arlita pelan setelah melihat sikap Bimo yang dingin terhadapnya.


Bimo sudah berusaha menjaga jarak biar tidak terjadi kesalah pahaman namun Arlita yang memancing mancingnya, sehingga Joni Arman pacar Arlita menjadi salah paham.


"Maaf Arlita, aku tidak ingin orang lain terutama kekasihmu menjadi salah pengertian, lagian aku juga sudah punya kekasih yang harus aku jaga hati dan perasaannya," kata Bimo kepada Arlita dengan pelan.


Bimo yang kebetulan bertemu dengan teman-teman nya langsung meninggalkan Arlita dan kedua temannya, yang masih terbengong.


Hari itu kampus nampak ramai karena hari itu terakhir pengumpulan tugas dari pak Yogi Gustaman.


Kelima orang itulah teman dekat Bimo di kampus itu.


"Wuih Bim, tumben ikut ngumpulin tugas di hari terakhir," sapa Romano.


"Tanya aja ketiga orang itu ..tuh," kata Bimo sambil menunjuk ketiga teman satu kosnya.


Ketiga temannya hanya tersenyum kecut.


"Tugas Bimo sebenarnya udah selesai beberapa hari yang lalu, tapi kami bertiga butuh contoh....inspirasi gitu loh..," kata Agung sok sokan.


Romano dan Achri mengangguk paham dengan maksud ketiga temannya itu.


"Pantesan tugas punya kalian bertiga tumben kayak tugas beneran," kata Achri sambil terbahak.


"Woii..emangnya kemaren kemaren gak kayak tugas beneran," teriak ketiga teman kos Bimo sedikit protes.


Bimo yang melihat mulai ricuh, melerai pertengkaran kecil itu.


"Sudah... sudah..nanti malah enggak jadi ngumpulin tugas gara gara kalian pada rame di sini," kata Bimo.


"Ayuuk kita serahkan sekarang mumpung masih pagi, nanti keburu pak Yogi Gustaman pergi kita malah yang kacau," kata Bimo mengajak kelima temannya itu.


Mereka berenam berjalan menuju ruang dosen untuk menemui pak Yogi Gustaman.


***

__ADS_1


Meytta yang pagi itu juga berangkat ke kampus masih di ruang perpustakaan bersama ketiga teman temannya.


Mereka mencari buku buku yang di perlukan untuk mendukung tugas tugasnya.


"Udah pada ketemu belom sih..? laper nih," kata Debora sambil memegang perut nya.


Ketiga teman temannya hanya mendengus kecil mendengar rengekan Debora tersebut.


"Sabar beib,.. memang nya pagi tadi enggak sarapan.?," tanya Meytta.


"Sudah sih, tapi ni dah laper lagi," kata Debora sambil mengusap perutnya.


"Huu.., kamu ini makaaan Muluu..," kata Shinta dan Wulan berbarengan.


"Mangkanya jadi orang jangan boros boros badannya jadi makan mulu adanya," kata Wulan lagi.


Debora hanya tersenyum kecut menanggapi omelan teman temannya.


"Sudah..sudah.. jangan pada ramai entar di tegur petugas perpustakaan," kata Meytta sambil menunjuk seorang petugas perpustakaan yang sudah mengawasi kelompok itu yang membuat ribut.


Setelah beberapa waktu mencari dan mengumpulkan buku-buku yang di perlukan.


"Aku udah dapat semuanya," kata Meytta kepada teman temannya.


"Bentar lagi beib, aku kurang satu buku," kata Wulan takut di tinggal teman temannya.


"Santai aja.. aku masih bisa nahan lapar kok," kata Debora yang mengerti keadaan temannya itu.


"Aaa... akhirnya..sampai juga kita di kantin kampus," teriak Debora kegirangan setelah sampai di kantin kampus favorit mahasiswa di sana.


Mereka berempat mencari meja yang masih kosong dan nyaman.


"Itu sebelah sana sudah ada yang di tinggalkan pemakainya," teriak Shinta menunjuk meja di dekat pintu pojokan.


Mereka pun menghambur menghampiri meja tersebut supaya jangan di pakai yang lain dulu.


"Kita mau pesan apa..?," tanya Meytta kepada ketiga temannya.


"Kayaknya aku nasi goreng jumbo deh," kata Debora sambil tersenyum malu malu.


Mereka pun tertawa bersama, akhirnya mereka memesan empat nasi goreng, yang tiga nasi goreng porsi biasa yang satu porsi jumbo.


Memang salah satu menu andalan di sana selain bakso tenis juga nasi gorengnya yang terkenal enak dan menggugah selera.


Beberapa pasang mata mengawasi gadis gadis di kantin kampus itu.


__________


**Selamat membaca reader sekalian mohon maaf ya..up-nya telat, jujur motivasi menulis baru down, karena beberapa sebab.


Jangan lupa like,vote dan koment-nya juga hadiah dan jadikan cerita ini favorit sehingga akan selalu di beri notifikasi bila sudah up date..


Baca juga karya lainku bergenre silat Nusantara yang berjudul "SANG PENGACAU**"

__ADS_1


__ADS_2