
Malam hari dari pihak WO sudah datang ke hotel untuk menemui kedua keluarga dan mempelai, untuk kembali menjelaskan prosesi jalannya pesta pernikahan setelah ijab qobul.
Mereka sudah berkumpul di sebuah ruangan, semacam ruang meeting yang ada di hotel tersebut, biasanya ruangan itu di sewakan bila ada yang ingin mengadakan rapat dan pertemuan di sana.
Meja yang berbentuk seperti huruf O namun lebih oval lagi itu memudahkan pemilik WO untuk menyampaikan makalahnya.
Semua sudah nampak duduk dengan tertib.
Papa Haryo dan mama Halimah duduk di depan disebelah Tante Gunawan pemilik WO.
Papa Adrian dan mama Qonita duduk di seberang berhadapan dengan orang tua Bimo tersebut.
Tante Gunawan sebagai pemilik WO yang sudah terkenal itu mulai bersiap menjelaskan dan membicarakan jalannya prosesi pernikahan untuk besok pagi.
Semua yang ada di sana sudah diberi foto copy an rentetan prosesi acara besok pagi.
Tante Gunawan sudah mulai berdiri di depan layaknya seorang guru yang akan menerangkan pelajaran bahkan di lengkapi dengan proyektor segala.
"Sesuai dengan yang telah kita bicarakan dahulu, kepada kedua keluarga bahwa untuk besok adalah puncak dari acara prosesi pernikahan."
"Karena ini acara merupakan campuran adat daerah dan nasional maka acaranya juga tidak seperti kalau benar benar acara adat daerah seperti misalnya ada acara midodareni yaitu acara pingitan untuk calon mempelai wanita...,'' kata Tante Gunawan.
"Tapi untuk ritual yang lain sebagian masih kita gunakan seperti pasang tratag dan tarub(dekorasi tenda dan hiasan dari janur atau daun kelapa muda), kembang mayang(ornamen yang di bentuk dari rangkaian akar, batang, daun, bunga dan buah) dan tuwuh tuwuhan( hiasan tumbuh tumbuhan dan buah buahan seperti serangan pisang)," kata Tante Gunawan lagi.
Semua yang hadir di sana memperhatikan dengan seksama apa saja yang di omongkan Tante Gunawan tersebut.
"Namun untuk acara siraman yang seharusnya di lakukan sebelum akad nikah nanti secara simbolis akan di lakukan sesudah akad nikah ijab qobul kemudian kita lanjutkan dengan berganti baju pengantin yang kedua."
"Setelah itu berturut turut acara simbolis akan di lakukan sesuai dengan catatan yang sudah saya bagikan."
Semua melihat di kertas foto copy an yang sudah di bagikan tersebut.
"Apakah ada yang di tanyakan..?," tanya Tante Gunawan kepada semua yang hadir.
Papa Haryo mengangkat tangannya, niat bertanya.
"Silahkan tuan Haryo..apa yang di tanyakan," sambut tante Gunawan.
"Apakah acara seperti adol dawet juga tetap di laksanakan..?," tanya papa Haryo.
"Iya tuan... pokoknya yang tertulis di kertas yang saya bagikan besok akan kita laksanakan meskipun hanya simbolis."
"Namun ada beberapa juga yang tidak kita lakukan ."
"Seperti misalnya.. untuk menggendong mempelai wanita sehabis siraman..itu tak perlu," kata tante Gunawan.
"Terus yang gendong siapa..?," tanya Bimo.
"Apakah saya...kalau saya siap dan kuat..," kata Bimo lagi.
"Waah..mas.. Bimo kayaknya sudah gak sabar ya..?," goda tante Gunawan sambil tersenyum melihat Bimo.
__ADS_1
"Ish..mas Bimo..," gerutu Meytta yang ada di samping Bimo karena ikut malu jadi pusat perhatian.
"Lho ..kan bener sayang ...aku kuat kok kalau di suruh gendong ala bridal style," kata Bimo pelan berbisik di dekat Meytta.
"Seandainya ada acara menggendong yang menggendong adalah ayah dari mempelai wanita," kata tante Gunawan menerangkan kembali.
"Bukan mas Bimo...yang gendong.," kata tante Gunawan lagi sambil tersenyum menggoda Bimo.
Bimo yang tahu sedang di goda hanya cengar-cengir malu.
Kemudian kembali tante Gunawan menerangkan prosesi yang lainnya.
Semua nampak kembali mendengarkan dengan serius untuk prosesi acara besok pagi itu.
"Demikianlah kira kira acara besok pagi apakah masih ada yang di tanyakan lagi..?," tanya tante Gunawan sekali lagi.
Nampaknya semua sudah jelas dengan apa yang di uraikan di depan tadi oleh tante Gunawan.
Dan setelah di pastikan tak ada yang bertanya acara akhirnya di bubarkan.
Semua kembali ke ruangan yang di tempati masing masing.
Bimo menggandeng Meytta berjalan menuju ke kamar yang mereka tempati masing masing.
"Sayang...udah ngantuk belum..?," tanya Bimo.
"Memangnya kenapa mas..?."
"Pesen lewat kamar aja ya mas, kaki aku masih pegel pegel kalau buat jalan lagi," sahut Meytta.
"Baiklah....nanti sekalin mas Bimo panggil lagi Bu Siti ya... biar manggilkan temannya yang pinter mijit," kata Bimo lagi.
Meytta menganggukan kepalanya menyetujui usulan calon suaminya itu.
Sambil berjalan menuju kamar keduanya, Bimo menelpon Bu Siti lagi.
"Assalamualaikum Bu Siti.., Udah tidur..?," sapa Bimo.
"Waalaikumssalam,...belum kok mas..masih jam sembilan aja kurang masak tidur," kata Bu Siti sambil tertawa kecil.
"Ada apa mas..?."
"Meytta minta pijit lagi..., kan tadi baru sebentar keburu Maghrib," kata Bimo.
"Ooh...ok..mas, Bu Siti..akan kesana dengan si Parti ," kata Bu Siti.
Tak berapa lama Bimo dan Meytta sampai di kamar.
Bimo ikut masuk ke kamar Meytta dan tak berapa lama Bu Siti dan si Parti pun sudah tiba di sana.
"Bu Siti mau pesan makanan apa..? ini aku mau pesan makanan...laper Bu," kata Bimo.
__ADS_1
"Lha mas Bimo pesan apa...?," tanya Bu Siti balik.
"Aku pesan burger sama spageti, ..Bu Siti mau apa..? sekalian mbak Parti mau apa..?," kata Bimo lagi.
"Kalau nasi goreng apa ada mas..?," kata Bu Siti ragu ragu.
"Yaa..pasti ada lah Bu."
"Kalau gitu Bu Siti pesan nasi goreng aja ya mas..dua sama pak Joko nanti biar tak bawa ke kamar," kata Bu Siti sambil tersenyum senang.
"Kalau mbak Parti apa..?," tanya Bimo.
"Sama kayak Bu Siti aja Den..," kata mbak Parti.
Di rumah utama memang hanya Bu Siti dan pak Joko yang berani memanggil Bimo dengan mas, selain mereka... semua.. memanggil nya tuan muda, atau Den...Aden.
Meytta sudah di kasurnya setelah berganti dengan baju tidur nya.
Mbak Parti sudah mulai memijatnya saat makanan pesanan tiba.
"Sini non tangannya sekalian saya pijit," kata mbak Parti kemudian beralih dari kaki Meytta ke tangan dan juga bahu serta punggung hingga mengantuk.
Bimo yang membuka pintu kamar menerima makanan tersebut dan membawanya masuk kamar.
Malam kian larut, para penjaga dari kesatuan keamanan keluarga tuan Haryo masih siaga di lantai itu, untuk menjaga hal hal yang tak di inginkan.
hingga hampir jam sepuluh malam mbak Parti akhirnya selesai memijat Meytta.
"Ini.. buat mbak Parti," kata Bimo memberikan dua lembar uang kertas warna merah.
"Makasih Den Bimo..," kata mbak Parti sambil pamit ke kamarnya bareng Bu Siti.
Bimo yang juga sudah mengantuk pamit ke Meytta.
"Sayang udah malam ...aku balik ke kamar ya..," kata Bimo.
"Ya mas.."
Bimo keluar dari kamar Meytta kemudian menghampiri beberapa pengawal di depan kamar mereka.
"Lho lha makanan dan minumannya belum datang to..?," tanya Bimo yang melihat meja counter penjaga masih kosong.
"Paling sebentar lagi tuan muda," sahut penjaga itu.
"Jaga berapa orang malam ini..?."
"Berlima tuan muda."
"Ni..buat beli makanan kalau makannya dari hotel kelamaan," kata Bimo sambil memberikan beberapa lembar uang seratusan ribu rupiah.
____________
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya.....