
Sejak kemarin sore Bimo dan Meytta sudah berada di rumah mama Qonita kembali, setelah selama ini tinggal bersama mama Halimah.
Besok adalah hari yang sudah direncanakan akan ada acara tujuh bulanan usia kandungan Meytta.
Panitia kecil untuk acara tersebut sudah di bentuk jauh jauh hari, yang terdiri para bapak dan ibu tetangga sekitar.
Pertemuan malam itu hanya tinggal memantapkan kembali.
"Acara untuk besok tak ribet ribet banget sebenarnya..," kata pak RT yang yang memulai membuka acara rapat pembahasan.
"Iya..besok hanya ada acara kenduren selamatan untuk sore hari dan malamnya pengajian bapak bapak yang di gabung dengan ibu ibu.., sudah itu saja," kata Papa Adrian kepada semau yang hadir di sana.
"Untuk anak anak panti kampung sebelah gimana pak..?," tanya Pak RT.
"Maksud saya pengajian malam itu juga bersama anak anak panti, dan juga para pemuda sini pak," kata papa Adrian dengan tersenyum menjawab pertanyaan pak RT selaku ketua panitia.
Pak RT mengangguk tersenyum mendengar jawaban papa Adrian.
"Jadi tidak ada acara prosesi untuk mitoni atau tingkepan ini ya pak Adrian..?."
"Tidak Bu Sholeh..kita hanya akan selamatan dan malamnya pengajian, sudah itu saja..," jawab papa Adrian lagi.
"Hanya saja makanan yang kita buat hampir mirip seperti kebiasaan pada umumnya, ada aneka bubur, jajanan dan sebagainya..," sahut mama Qonita yang duduk bersama ibu ibu.
Semua sudah memahami untuk acara besok sore hingga malam itu seperti apa, semua sudah punya gambaran kini.
"Seperti biasa nanti pak Mudin sama pak Suratman( tukang kebun dirumah papa Adrian) mencari kambing di pasar Kampung Dalam untuk selanjutnya di potong kayak yang dulu," kata pak RT yang di tunjuk sebagai kepala panitia kecil itu.
Pak Mudin dan pak Man mengangguk sudah mengetahui tugasnya.
"Nanti bapak bapak yang lain membantu mendirikan tenda di halaman belakang karena nanti acaranya di situ yang tempat nya lebih luas dan kita nanti pintu masuknya dari sana (gerbang belakang)," kata pak RT lagi.
Bapak bapak dan ibu ibu warga menganggukkan kepalanya.
"Nanti untuk tamu tamu bapak Adrian dan mas Bimo dari gerbang depan.."
Bi Ijah dan mbak tarni salah satu pembantu rumah tangga di rumah mama Qonita di bantu ibu ibu warga mulai menyajikan makanan dan minuman bagi para bapak dan ibu panitia.
Meytta yang kandungannya sudah mulai makin membesar masih duduk di kursi di belakang ibu ibu yang duduk di lantai.
Semula Meytta juga ingin duduk di tikar atau karpet di lantai tapi di larang oleh para ibu ibu.
"Jangan Mbak Meytta..duduk di kursi saja..," kata ibu ibu warga tersebut.
Akhirnya Meytta menurut dan ikut mendengarkan acara rapat kecil tersebut dengan duduk di kursi.
__ADS_1
Untuk urusan belanja sudah di serahkan kepada empat orang yang menjadi pokok juru masak di acara tersebut.
Semua masih berkumpul di rumah papa Adrian hanya sekedar mengobrol hingga larut malam padahal acara rapat kecil untuk besok sudah selesai.
"Mas Bimo kapan nih.. datangnya..?," tanya pak RT yang baru menyadari keberadaan Bimo di tengah mereka.
"Pas Maghrib tadi pak," sahut Bimo sambil tersenyum kepada babak bapak semua yang sedang pada kumpulan.
Salah satu pengawal datang membawa beberapa slop rokok untuk bapak bapak.
"Silahkan bagi yang merokok bisa ambil pak..," kata Bimo menawarkan.
Tak butuh waktu lama bapak bapak langsung menyerbu rokok yang merupakan kesukaan mereka, sedangkan Bimo dan papa Adrian yang tidak merokok hanya tersenyum saja melihat pemandangan tersebut.
**
Mereka kembali asyik mengobrol sedangkan Bimo sudah ke kamarnya karena Meytta nampak lelah jika duduk terus.
"Mau mas Bimo pijitin punggung nya..," kata Bimo pelan kepada istrinya.
"Iya..mas.. disini sebelah sini ," kata Meytta sambil baring di kasurnya dan memiringkan tubuhnya.
Bimo dengan sayangnya mengelus lembut punggung istrinya, hingga tanpa terasa sudah terdengar hembusan lembut nafas istrinya yang menandakan sudah terlelap.
Di tariknya selimut untuk menutupi istrinya dari udara dinginnya malam, sambil tersenyum menatap wajah Meytta yang nampak makin cantik di mata Bimo.
"Eh..kok masih ramai pah..?," tanya Bimo ternyata bapak bapak masih pada ngumpul di ruang tamu yang masih di gelari karpet dan tikar.
"Iya..nanti sampai tengah malam mereka biasanya baru bubar," sahut papa Adrian yang baru saja mengambil minuman untuk dirinya sendiri, karena poci yang di depan semua teh manis hangat dan papa Adrian sengaja minum air putih saja.
Bimo bersama papa Adrian lalu ikut bergabung bersama mereka di ruang tamu dan juga beranda.
"Lho kok mas Bimo belum istirahat..?," kata pak Beno karena tadi merasa Bimo sudah ijin mau istirahat.
"Hehehe..belum pak..tadi cuma nemani istri istirahat, soalnya punggungnya sudah mulai pegel pegel bila kebanyakan duduk."
"Waah..kalau masih muda itu mau tidur saja minta di temani..," goda pak Sholeh sambil tersenyum.
Pak Beno dan pak RT juga ikut tertawa.
"Iya..kalau sudah setua kita ..minta di temani malah di bentak istri..," sahut pak Beno yang terkekeh.
Semua kembali tertawa, sedangkan Bimo hanya tersenyum kecut.
Mereka mengobrol di sana hingga benar benar tengah malam belum bubar.
__ADS_1
Papa Adrian nampak senang banyak temannya, sedangkan Bimo sudah menyerah lalu menyusul istrinya tidur di kasurnya.
Didekapnya istrinya yang masih dalam posisi miring karena itu posisi yang paling nyaman untuk nya saat ini.
"Emm..mas Bimo..sudah kembali.," gumam Meytta dengan mata terpejam.
"Iya..sudah mengantuk..tapi bapak bapak masih di luar sana, malah makin keasyikan..," kata Bimo sambil mengeratkan pelukannya kepada istrinya yang makin nyaman dalam dekapan Bimo.
Meytta sudah tak menyahut karena sudah kembali terlelap dalam dekapan sang suami yang menenangkannya.
**
Pagi hari sehabis sholat subuh, kesibukan sudah mulai tampak.
Ibu ibu sudah menyiapkan tungku tungku di halaman belakang untuk memasak yang berat berat semacam nasi dan minuman nantinya.
Pak Suratman bersama pak Mudin sudah ke pasar Kampung Dalam mencari kambing untuk di sembelih nantinya.
Pak Modin yang sudah memiliki langganan karena biasa membeli hewan sembelihan untuk hajatan tak butuh waktu lama untuk menemukan hewan yang cocok menurutnya.
"Yang ini gimana pak Man..?," tanya pak Modin.
"Bagus pak..hampir sama dengan yang dulu, besar dan gagah."
"Tinggal cari satu lagi..," kata pak Man kembali.
"Iya..," kata pak Modin sambil memilah milah kambing yang di sodorkan penjualnya.
"Yang coklat itu coba pak..," kata pak Modin sambil menunjuk salah satu kambing, kepada penjual agar kambing coklat besar di dekatkan.
"Yang ini pak..?."
"Sebelahnya.."
"Ini..?."
"Ya..pak coba di kemarikan," sahut pak Modin lalu memeriksa kambing tersebut.
"Gimana pak Man..?."
Pak Man juga memeriksa sesaat.
"Cocok pak.."
Setelah membayar dua kambing tersebut, keduanya menuntunnya hingga sampai di rumah.
__ADS_1
____________
Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...