Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
141. Ngidam..??


__ADS_3

Bimo masih berbincang dengan papa Adrian di teras depan dengan di temani satpam dan pak tukang kebun.


Hingga hampir jam sembilan mereka masih berbincang di teras itu.


Karena mulai malam Bimo minta ijin untuk istirahat.


Bimo masuk ke kamar dimana Meytta sudah tidur di sana.


"Kok belum tidur..?," tanya Bimo saat sampai di kamar, ternyata istrinya belum tidur masih duduk di pinggir kasur nya.


"Enggak bisa bobok mas..,'' kata Meytta pelan, entah kenapa sekarang kalau tak ada Bimo di sampingnya Meytta jadi kesulitan untuk tidur.


"Kenapa..?," kata Bimo sambil mencium pucuk kepala istrinya.


"Aku enggak bisa tidur kalau enggak ada mas Bimo," kata Meytta pelan sedikit malu, tapi itulah kenyataannya.


Bimo tersenyum mendengar pengakuan istrinya, kemudian berganti baju tidur dan mulai berbaring di tempat tidur tersebut.


"Sini sayang ," kata Bimo sambil melebarkan lengannya agar istrinya bisa tidur di sana.


Meytta beringsut bergeser mendekat ke suaminya, dengan pelan di ciumannya pucuk kepala istrinya oleh Bimo.


"Besok kita jadinya pulang ke rumah mas Bimo jam berapa..?," tanya Meytta sebelum benar benar tertidur.


"Kok rumah mas Bimo..?, itu juga rumahmu sayang.." pelan Bimo mengecup kembali rambut istri nya.


"Oops..lupa mas he.he..," kata Meytta sambil menutup mulutnya.


"Ya...kan..kemarin sudah sepakat kita pulang nunggu papa Adrian," kata Bimo sambil mengeratkan pelukannya.


"Kalau begitu besok pagi kita ke pasar ya mas..?," rajuk Meytta sambil menatap suaminya.


"Boleh sayang...tumben pingin ke pasar segala..?."


"Iya...mas..aku juga enggak tahu.. pokoknya pingin makan yang seger seger," kata Meytta.


"Ke pasar mana kamu maunya..?."


"Pasar ..kampung dalam aja.. mas."


"Baiklah... di mana sih tempat nya.?...jam berapa..?."


"Di dalam kampung sini ..pasarnya..., meskipun tak terlalu besar tapi cukup komplit kok mas."


"Habis sholat subuh kita jalan kaki aja..pasarnya dekat masjid, tinggal berjalan masuk seratusan meter paling... sudah sampai."


"Ooh...pantesan mas Bimo enggak tahu pasar tradisional itu, rupanya di dalam kampung letaknya...," kata Bimo sambil manggut-manggut.


"Makanya namanya pasar kampung dalam soalnya letaknya yang di dalam kampung," sahut Meytta.


"Ok..sekarang kamu bobok besok bangun pagi dan kita ke pasar," kata Bimo sambil mematikan lampu dan mengganti dengan lampu tidur.


**

__ADS_1


Pagi hari sebelum adzan subuh, Meytta seperti biasa sudah bangun.


Apalagi di masjid belakang rumah selalu membunyikan lantunan surat surat pendek sebelum adzan subuh di mulai.


Meytta merapikan baju tidurnya yang sedikit awut awutan akibat ulah suaminya, kemudian mandi pagi.


Tak berapa lama Bimo pun ikut terbangun apalagi istrinya tak ada di samping nya.


Cekleek..


Pintu kamar mandi terbuka dengan Meytta yang masih mengenakan kimono dan handuk di kepala nya.


"Mas Bimo sudah bangun..?," tanya Meytta sambil mengambil pengering rambut dan menghidupkan nya, tadinya dia hanya ingin mengeringkan rambut dengan handuk saja takut mengganggu suami nya, tapi setelah tahu suaminya sudah bangun maka dia menghidupkan mesin pengering rambut tersebut.


"Sudah sayang...habis kamu udah enggak ada di kasur..jadi mas Bimo kebangun," kata Bimo sambil berjalan ke kamar mandi dengan bertelanjang dada.


"Baju mas Bimo udah aku siapkan di lemari kaca di depan kamar mandi mas..," kata Meytta sedikit keras karena suara hair dryer.


"Makasih sayang...," sahut Bimo sambil berjalan ke kamar mandi.


Selesai mandi pas adzan subuh terdengar, kemudian keduanya menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim di kamar itu.


"Masih agak gelap.. kita ke pasarnya sebentar lagi aja ya mas..," kata Meytta sambil menengok ke jendela yang ada di kamar itu.


Bimo hanya menganggukkan kepalanya.


Tak sampai beberapa saat di luar sudah nampak lebih terang, bahkan aktivitas orang lalu lalang sudah terdengar di gang yang ada di samping rumah.


"Ayuuk mas kita ke pasar sekarang..,"ajak Meytta sambil menggandeng tangan suaminya.


"Sudah bangun kalian rupanya ..?," tanya mama Qonita yang sedang berada di dapur bersama bi Ijah.


"Sudah dari tadi mah..ini mau ke pasar Kampung Dalam, Meytta pingin yang seger seger dan jalan jalan," kata Meytta kepada mama Qonita.


"Ya udah...sana hati hati," kata mama Qonita.


"Kami lewat gerbang belakang aja ya mah.. kuncinya di mana mah...?," tanya Meytta.


Mama kemudian mengambil kan kunci yang di taruh di laci depan TV.


"Jangan lupa di kunci lagi ..," pesan mama.


Meytta menghampiri Bimo yang sudah di halaman belakang.


"Ayuuk mas... aku udah ijin mama, ini kunci gerbangnya..mas Bimo aja yang pegang."


"Sebentar..mas..aku lupa bawa dompet," kata Meytta tiba -tiba.


"Udaah...ini...mas Bimo udah bawa dompet kok...dari pada bolak balik," sahut Bimo sambil menggandeng lengan istrinya.


Keduanya kemudian berjalan dan melewati gerbang belakang menuju ke arah pasar Kampung Dalam.


"Eeh..non Meytta..ya..?," sapa seorang ibu sambil menajamkan pandangan nya.

__ADS_1


"Iya..Bu Parlan.."


"Mau kemana pagi pagi.."


"Mau ke pasar Kampung Dalam..Bu, kangen sudah lama nggak ke sana..," jawab Meytta.


"Mari Bu..duluan.."


"Mari..non..," jawab ibu itu yang masih menyapu halaman rumahnya.


Keduanya berjalan dengan santai, Meytta selalu menerangkan tempat tempat bermainnya masa kecil.


"Masjid ini tempat aku TPQ( belajar mengajar) lho mas....pas dulu kecil, tapi dulu masjidnya belum sebesar dan sebagus ini," kata Meytta menerangkan semuanya.


Bimo hanya mengangguk mendengar cerita istri nya, sambil membalas sapaan orang orang yang semalam mengobrol di Masjid dengan senyuman.


"Waah pagi pagi mau kemana pengantin baru..," sapa pak RT.


"Mau ke pasar pak..istri lama enggak ke sana, kangen masa kecil katanya," jawab Bimo yang di angguki Meytta.


"Mari pak..RT," pamit keduanya.


"Mari..mas silahkan." balas pak RT.


Sampai di pasar sudah nampak ramai, bener juga kata Meytta meskipun pasar itu ada di dalam kampung namun keramaian nya tak kalah sama pasar yang di pinggir jalan.


"Mas aku pingin bakso itu," kata Meytta kepada Bimo.


"Sejak semalam aku membayangkan enaknya bakso tersebut," kata Meytta lagi.


Bimo mengangguk kemudian menggandeng tangan istrinya menuju warung bakso yang cukup bersih tersebut.


"Mm..sayang..kamu enggak ngidam kan...?," tanya Bimo yang juga keheranan melihat tingkah Meytta yang kayak orang hamil muda.


"Aah.... enggak mungkin mas, kita nikah aja belum seminggu masak aku hamil...tapi kata mama dulu juga satu minggu sudah nampak perubahan hormon nya," kata Meyyta yang juga sedikit heran.


"Trus..kalau hamil gimana mas..?.''


Bimo tertawa mendengar perkataan istrinya.


"Maksud kamu apa..?."


"Bulan madu kita mas..?." kata Meytta sedikit cemas.


"Sudah enggak usah banyak pikiran nggak mungkin kok hamil," sahut Bimo lalu masuk warung bakso tersebut.


__________


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya..


Jika berkenan baca juga karya lainku..


*Sang Pengacau

__ADS_1


* Aku Lebih Mencintaimu**


__ADS_2