Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
195. Kembali Ke Rumah mama Qonita


__ADS_3

"Ndre aku nggak bisa lama lama ya...tuh mama sama papa udah nungguin," kata Meytta pamit kepada Andre dan Rani sambil menunjuk ke arah mama Qonita dan papa Haryo yang sudah berpamitan kepada Babe dan Emak juga mamak Sadur.


"Iya Non..," sahut Andre sambil berdiri dari duduknya bersama Rani sambil menyalami Meytta.


Bimo lalu pamit kepada Babe dan Emak, juga tak lupa mamak Sadur dan bapak bapak di sana.


"Terimakasih mas Bimo..atas waktunya bersedia menemani Andre," kata emak sambil berkaca kaca karena terharu.


"Ya ..kan Andre sudah kayak saudara ku Mak..wajib dong menemaninya di hari bahagianya..," sahut Bimo kepada emak sambil tersenyum.


"Terimakasih mas Bimo, pokoknya.. Babe tak bisa berkata apa apa..untuk semua yang mas Bimo berikan ke kita ," kata Babe juga dengan suara serak lidah terasa kelu.


"Iya..Be.., udah..Babe enggak usah mikir macam macam..Babe tahu kan Andre bagi Bimo itu seperti apa..?," sahut Bimo.


"Terima kasih tuan..," sahut mamak Sadur kepada Bimo.


"Sama sama mak, semoga semua lancar sampai besok menikah dan berkeluarga" jawab Bimo.


"Aamiin.."


**


Mama qonita nampak bahagia sekali anak dan menantunya ikut pulang ke rumah nya.


Dua mobil sudah meluncur ke kediaman papa Adrian.


Sopir yang juga pengawalnya serta satu pengawal lagi duduk di depan, Bimo dan Meytta duduk di belakang masih membahas tentang rencana pembelian rumah di kawasan dekat PT KSAJ.


"Memang mas Bimo sudah menghubungi Abah kumis..?," tanya Meytta.


"Sudah sayang ..," kata Bimo sambil melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya yang kini makin berisi karena kandungan nya memasuki usia lima bulan.


"Aku cuma bilang Abah..carikan rumah dikawasan daerah X yang lingkungan nya aman kalau perlu dekat masjid," kata Bimo kepada istrinya.


"Tapi ini belum ada kabar.."


"Ya..mungkin masih cari cari..," sahut Meytta.


Mobil berjalan dengan dengan kecepatan sedang karena hari itu arus kendaraan lumayan padat.


Tak berapa lama mobil sudah nampak memasuki halaman rumah papa Adrian.


Pak satpam sudah membukakan pintu gerbang depan mempersilahkan dua mobil tersebut memasuki halaman sebelum menutup kembali gerbangnya.


**


Mama qonita sudah turun terlebih dahulu kemudian di susul papa Adrian.

__ADS_1


Bimo dan Meytta juga sudah turun mengikuti langkah papa Adrian dan mama Qonita.


Para pengawal membawakan tas pakaian dari kedua bos nya tersebut.


"Taruh aja di sana," kata Bimo kepada keduanya.


"Iya..tuan.."


"Nanti kamar kalian ada di samping kanan rumah ini..," kata Bimo lagi.


"Iya. tuan terimakasih.." sahut keduanya lalu permisi pergi mengambil tas masing masing untuk di bawa ke rumah samping tempat dimana para pekerja menginap.


"Sayang masih kuat naik tangga..? apa perlu mas Bimo gendong..?," kata Bimo sambil memandang istrinya yang sebentar sebentar meringis.


"Kuat lah mas..memang mau lahiran pakai di gendong segala..," kata Meytta sambil tersenyum.


"Tadi kok nampak meringis kesakitan mas Bimo kan jadi panik.."


"Iya..ini dedek gerak gerak terus ," kata Meytta sambil mengusap perutnya.


Mama yang sudah berganti baju santai, mendekati anak dan menantu nya yang masih saja berdiri dekat tangga.


"Ada apa..?," tanya mama Qonita khawatir.


"Enggak pa pa Mah..mungkin dedek senang karena berada di rumah Opa Adrian dan Oma Qonita jadi gerak gerak terus," sahut Bimo.


"Ooh..iya..mamah kok malah enggak mikirin kamu Mey..masih kuat kan naik turun tangga..?," kata mama Qonita seakan tersadar keadaan anaknya yang lagi hamil.


"Ya udah..sana istirahat dulu..," kata mama Qonita, "nanti tasnya biar di naikkan pak kang kebun."


"Iya mah..," sahut Bimo sambil menggandeng lengan istrinya.


"Siang mau makan lagi apa enggak..?," tanya mama Qonita.


"Makan dong mah..kangen masakan mamah sama bi ijah..," jawab Meytta sambil melangkah di tuntun suaminya.


"Kalau gitu mamah tak bantuin bi Ijah..," sahut mama Qonita sambil berlalu menuju dapur rumah itu.


**


Keduanya sudah berada di kamar lantai dua tersebut.


Kamar yang merupakan kamar Meytta saat gadis memang tak sebesar kamar Bimo di rumah utama, tapi cukup nyaman juga.


"Uuh...nyamannya...," seru Meytta karena sudah hampir satu bulan tak pulang dan tidur di kamar itu.


"Hehehe.. Bimo terkekeh melihat tingkah istrinya yang menurutnya sangat lucu karena langsung tiduran meluk guling nya.

__ADS_1


Bimo juga menyusul istrinya langsung rebahan di sampingnya, memeluk Meytta yang merasa sangat nyaman.


"Mas..?."


"Hmm.."


"Kalau aku mau minta sesuatu boleh tidak..?."


"Apaan sih...?,"sahut Bimo sambil membuka matanya dan menghadap ke Meytta.


"Pingin rujak es krim yang jalan x..sahut Meytta merajuk."


"Enggak harus mas Bimo kan yang beli..?."


"enggak lah..nyuruh aja pak sopir.."


"Lega deh rasanya...permintaanmu enggak kayak..di novel novel yang mau ngerjain suaminya.."


"Memang nya ada ya mas..?."


"Iya..ada..di novel novel sebelah yang pengen rujak mangga suami suruh manjat pohonnya, terus pingin rujak buah suami yang harus ngulek bumbunya..bahkan ada yang pingin sesuatu harus suaminya yang beli.., untung kamu enggak kayak gitu sayaang.," sahut Bimo sambil bangkit bangun dari rebahan, menelpon para pengawal membelikan apa kemauan istrinya.


"Makasih sayang..," sahut Meytta lalu mengecup bibir suaminya.


Cup..


Bimo yang melihat moment tersebut tak menyia nyiakan nya.


Di pagutnya bibir istrinya, sedikit m*l*m*tnya, lalu keduanya sudah terhanyut dengan irama yang mereka ciptakan.


Dengan perut sedikit membuncit membuat gairah Bimo makin meluap.


Suara desahan dan gerakan yang memabukkan mereka lakukan berulang kali hingga keduanya ambruk terlelap di siang hari tersebut dengan penuh rasa bahagia sambil sambil berpelukan.


**


Tok..tok..


Meytta membuka pintu.


Cekleek.


"Non makan siang sudah siap..," sahut bi Ijah sambil tersenyum.


"Iya bi.. nunggu mas Bimo masih sholat," kata Meytta sambil membalas senyuman bi Ijah.


_________

__ADS_1


**Happy reading...


Jangan lupa tinggalkan jejaknya**...


__ADS_2