
"Issh...aah..," Meytta nampak menahan rasa sakit yang teramat sangat.
Sejak semalam memang sudah terjadi kenceng kenceng di perutnya yang terus menerus dan meningkat kekuatannya.
Dari hasil pemeriksaan di ketahui sudah pembukaan lima.
Menurut teori untuk primi atau kehamilan yang pertama satu pembukaan di butuhkan waktu satu jam hingga lengkap pembukaan sepuluh, sedangkan untuk kehamilan multi atau kehamilan berikutnya di butuhkan setengah jam untuk satu pembukaan hingga lengkap pembukaan sepuluh.
"Sakit banget sayaang..," ucap Bimo yang ikut menemani di dalam ruang persalinan.
Dia bersikeras ikut masuk ke dalam ruang persalinan untuk menemani sang istri, meskipun sebenarnya banyak tenaga kesehatan yang tak menyetujuinya..tapi mereka bisa apa, keluarga Bimo adalah salah satu pemegang saham di sana.
"Susteer...!."
"Iya..tuan.."
"Kenapa ini bisa lama sekali..," teriak Bimo membuat para petugas medis itu makin kebingungan.
"Maaf tuan untuk proses persalinan secara normal ya seperti ini..nanti kalau di pacu malah akan lebih sering lagi kenceng kenceng nya," seorang dokter yunior mencoba menerangkan dengan sedikit ketakutan melihat wajah Bimo yang murka.
"Kenapa enggak bilang dari tadi..!."
"Hadeeuhhh..tadi sudah di bilangin malah enggak merhatiin.. sekarang malah bentak bentak..."
"Mass...sakit....kenceng banget..," rintih Meytta sambil meringis menahan sakitnya.
"I.iiya...sayang..mas Bimo bantu usap usap ya..," kata Bimo sambil mengusap lembut perut istrinya.
Sesekali Bimo mengelap keringat yang mengalir bercucuran di dahi istrinya yang masih berjuang menahan sakit.
**
Di luar ruangan dua keluarga juga nampak tegang menunggu proses kelahiran itu.
"Pa..yang tenang ya..," kata mama Halimah menenangkan suaminya yang malah terlihat gusar.
"Kenapa jeng Puspita tak menganjurkan operasi kalau memang kesulitan seperti ini," terdengar papa Haryo menggerutu dengan sedikit menyugar rambutnya.
"Sabar..pah..pasti dia punya alasan, karena dia yang punya ilmunya kan..?," mama Halimah menenangkan suami nya yang tampak gusar tersebut.
Papa Haryo bangkit dari duduknya dan berjalan mondar mandir.
"Pah..duduk ya.. lihat tuh..mereka jadi makin cemas..," kata mama Halimah sambil menghampiri suami nya yang berjalan mondar mandir, lalu menunjuk kearah papa Adrian yang masih menenangkan mama Qonita yang tak berhenti menangis.
Papa Haryo mengangguk mengikuti mama Halimah duduk kembali ke kursi nya tadi.
__ADS_1
Sementara itu papa Adrian masih membujuk istrinya agar tenang.
"Mama...harusnya berdoa, berzikir atau.. apalah..jangan malah nangis terus kayak gini, percaya saja sama tim medis yang tengah menangani anakmu."
Papa Adrian membujuk mama Qonita dengan lembut, mengusap punggung istrinya dengan sabar.
"Sudah ya...jangan menangis terus, kasihan mereka (papa Haryo dan mama Halimah) jika mama enggak tenang seperti ini terus," bujuk papa Adrian lagi menenangkan istrinya yang kini mulai sedikit tenang.
**
"Mas...sakit ..mas.."
"Iya...sayang..tarik nafas panjang..ya...ikuti anjuran dokter," Bimo yang sedikit lebih tenang membujuk sang istri sambil masih terus mengusap perut istrinya.
"Aaahh... sakit mas...," teriak Meytta tiba tiba perutnya terasa kenceng sekali.
Byuuurr...
Tiba -tiba cairan ketuban pecah hingga membasahi pakaian nya.
"Susteer...dokteeer...!!," Bimo teriak dengan kencang membuat tenaga medis berhamburan mendekati pemilik saham terbesar di rumah sakit tersebut.
"Ini ketubannya sudah pecah..!!," kata Bimo dengan paniknya.
"Baik tuan akan kami laporkan kepada dokter penanggungjawab ya.."
**
Dokter Puspita yang mendapat laporan jika ketuban sudah pecah segera bergegas keruang persalinan.
Begitu sampai di depan ruangan persalinan langsung di sambut mama Halimah.
"Puspita...aku titip anakku ya..," kata mama Halimah.
"Yang tenang..ya..percayalah..pasti semua akan baik baik saja..," kata dokter Puspita mengusap lengan mama Halimah.
"Aku masuk dulu biar aku lihat, kalau memang perlu operasi akan aku lakukan Cito( segera)," kata dokter spesialis kandungan tersebut menenangkan sahabatnya itu.
Mama Halimah mengangguk, papa Haryo, papa Adrian dan mama Qonita juga mengangguk mendengar apa yang tadi di bicarakan dokter senior tersebut.
**
Bimo masih gelisah di dalam, menemani istrinya bersama para petugas medis di ruang persalinan itu.
"Kapan...dokter senior nya datang..?."
__ADS_1
"Sebentar tuan..ya ..masih perjalanan kemari.."
"Ck...kenapa lama sekali siih..," gerutu Bimo yang makin tak sabaran karena kini Meytta lebih nampak kesakitan dan kenceng nya juga sering sekali.
Tak berapa lama dokter Puspita memasuki ruang persalinan tersebut.
"Tante tolong Meytta ... Tante..," kata Bimo begitu melihat sang dokter memasuki ruang itu.
Dokter Puspita tersenyum lalu menghampiri Meytta mengusap rambutnya selayaknya anak sendiri.
"Mas Bimo keluar dulu ya..kayaknya ini sudah mau persalinannya," perintah dokter Puspita sambil memohon dengan sangat.
"Biarkan kami bekerja... percayalah..kepada kami ya.."
"Tapi Tante..."
"Sudah... percayalah..biar mbak Meytta juga konsentrasi dalam mengejan nantinya..ya..," bujuk sang dokter lagi.
Akhirnya Bimo pun mengangguk dan menurut apa yang dokter katakan.
Dia keluar dari ruang persalinan dan bergabung dengan kedua orang tua dan mertuanya.
Semua nampak tegang menunggu detik detik proses persalinan tersebut.
"Oeeeee... oeeeee.."
Sayup sayup terdengar tangisan bayi dari dalam ruangan tersebut, semua pada berdiri dengan tegang di depan ruang persalinan itu.
Tak berapa lama dokter Puspita nampak keluar dengan senyum di wajahnya.
"Alhamdulillah..putra mas Bimo sudah lahir..," kata dokter Puspita begitu mendapati keluarga para sultan ada di depan ruang persalinan.
"Alhamdulillah..ya Allah..seru semua orang.."
Bimo langsung bersujud syukur sebelum mengikuti seorang perawat untuk mengumandangkan adzan kepada baby boy.
Semua ketegangan sirna di wajah para Oma dan Opa itu.
Mama Halimah dan mama Qonita tak bisa menyembunyikan tangisannya, mereka berdua berangkulan sambil menangis terharu setelah mengucap syukur kepada Allah SWT.
__________
**Selamat membaca jangan lupa tetap tinggal kan jejaknya...
__ADS_1
Happy reading**...