Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
56. Rencana untuk Dojo


__ADS_3

Semua yang ada di Dojo itu masih terlihat kurang bersemangat sampai latihan akhirnya di hentikan.


Semua bubar melanjutkan aktivitas masing-masing setelah berlatih.


"Pamit dulu bang," kata Bimo kepada bang Fachri dan bang Anton.


"Oke ..hati hati di jalan, Oh ya.. Bim, sebentar...," kata bang Anton kepada Bimo.


"Ada apaan bang," tanya Bimo sambil menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Apakah ada yang masih main keroyok lagi," tanya Anton lagi.


Bimo tersenyum sesaat dan menggeleng.


"Enggak bang, aman kok,"


"Ya udah deh bang aku pamit," kata Bimo akhirnya sambil melambaikan tangannya.


Bimo mengambil motornya di parkiran setelah itu melajukan motornya menuju ketempat Abah kumis pemilik bangunan Dojo itu.


Karena jalan itu agak sempit bila ada mobil lewat, Bimo memarkir motornya di halaman kelurahan X.


Kemudian menyeberangi jalanan itu dengan berjalan kaki.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumssalam.., Ada apa ya mas ..? warungnya belum buka," kata wanita paruh baya mungkin istrinya abah kumis.


"Enggak mau makan kok Bu, Cuma mau ketemu Abah kumis,'' kata Bimo yang melihat ibu itu kebingungan karena mengira dirinya pelanggan warung makan dan minuman itu.

__ADS_1


"Suami saya baru belanja ke pasar untuk menyiapkan dagangan nanti malam mas, memangnya ada perlu apaan sih mas..?" tanya ibu itu penasaran ingin tahu.


"Mau nanya nanya soal bangunan yang disewakan itu kok Bu," kata Bimo lagi.


"Ooh ...kalau masalah itu bisa langsung saya, soalnya tanah dan bangunan itu milik almarhum bapak saya mas," kata ibu itu kembali.


"Oh gitu ya Bu."


"Begini Bu, saya mau tanya apakah benar tempat itu sudah tidak boleh di kontrak lagi? katanya mau di kontrakan sama pengusaha pertokoan, apa benar begitu ?'' tanya Bimo kepada Bu Romlah, nama istri Abah kumis tersebut.


"Sebenarnya begini mas, rumah itu adalah rumah warisan dari almarhum ayah saya," kata Bu Romlah sambil menghela nafasnya.


"Lima bulan yang lalu ayah meninggal, sedangkan kami anaknya ada empat orang."


Kembali Bu Romlah menghentikan ceritanya dan menarik nafas dengan sedih.


"Kami memang tidak ingin di kontrakkan lagi karena kami ingin menjualnya, bukan di kontrakan untuk pertokoan,'' jelas Bu Romlah.


"Enggak benar itu mas, soalnya kakak saya yang sulung butuh uang dan ingin segera di bagi harta warisan orang tua kami, makanya kami berniat menjualnya."


"Memangnya mau di jual berapa sih Bu ? kali aja ada yang mau beli," kata Bimo lagi.


Wajah bu Romlah cerah seketika," beneran mas mau ada yang beli?,"


"Gini aja deh mas...nanti kalau ada yang mau membeli, dan kejadian mas saya kasih persenan deh," kata Bu Romlah kemudian.


Bimo tersenyum mendengar janji itu.


"Lha iya emang mau di jual berapa?" tanya Bimo menegaskan sambil tersenyum.

__ADS_1


"itu tanah kan luasnya seribu meter persegi, kalikan aja empat juta permeter nya," kata Bu Romlah menawarkan.


Bimo terdiam sejenak .


"berarti sekitar 4M ya Bu,"


"Ya sekitar itulah mas," kata Bu Romlah kemudian.


"Oke lah Bu, nanti aku kabari," kata Bimo sambil berdiri.


"Memangnya gak bisa kurang ya Bu," kata Bimo mencoba menawar.


"Lha .. emang nya mas yang mau beli?, kok main tawar menawar segala," kata Bu Romlah lagi.


"Kali aja kalau harganya bisa di nego kan kita bisa langsung nawarkan Bu," kata Bimo lagi.


Bu Romlah terdiam sesaat kemudian berkata.


"Ya bisa kurang sedikit mas," kata Bu Romlah akhirnya.


"Ya sudah Bu, nanti saya kabari lagi," kata Bimo sambil pamit undur diri.


____________


****Selamat membaca jangan lupa like, vote dan koment-nya....


Juga rate bintang lima dan jadikan cerita ini favorit sehingga akan selalu di beri notifikasi bila update.


Jangan lupa juga baca karya novelku yang lain yang bergenre silat Nusantara SANG PENGACAU****

__ADS_1



__ADS_2