
Hari itu Bimo langsung menghubungi semua koneksi yang dia punya, sepanjang siang dirinya mondar mandir tak tenang.
Meskipun sudah banyak disebar orang orang suruhannya untuk melacak kekasihnya itu termasuk para anggota Dojo namun tetap saja dia masih bergerak sendiri untuk mencari keberadaan kekasih nya itu.
Dengan motornya dia menyusuri tiap jalan di kota tersebut.
Berharap melihat sosok Meytta diantara berjuta orang yang lalu lalang di temuinya.
Bimo menghubungi anak buahnya untuk menanyakan mungkin ada yang bisa ditemukan dari pelacakan lewat tekhnologi yang ada.
"Bagaimana dengan pelacakan lewat GPS dan internet..?," tanya Bimo dengan penuh harapan kepada anak buahnya melalui panggilan telponnya.
"Belum ada hasil yang di dapat pak," jawab anak buahnya dari seberang.
Bimo yang biasanya tenang dalam menghadapi semua masalah kali ini sedikit tak sabaran dan emosional.
"Bagaiman kalian bekerja..!, bukankah kalian bagian IT kenapa bisa bodoh..!, tidak bisa melacak Keberadaan seseorang..?," bentak Bimo yang gusar kepada bawahannya tersebut.
**
Sementara itu para penculik membawa Meytta ke suatu tempat sesuai arahan dari otak penculikan tersebut.
Mobil para penculik melesat membelah jalan kota yang padat dengan cepat karena takut ada yang mengikutinya.
Sebenarnya para penculik pun ketakutan dengan aksi mereka apalagi ada saksi mata yang melihat.
Selain saksi mata yang ada juga keberadaan dua orang lawannya tadi juga cukup meresahkan mereka berlima.
"Kalian terlalu tergesa gesa menculikanya, tempat tersebut masih terlalu ramai banyak saksi mata di sana," kata salah satu penculik itu.
"Lha tadi aku pikir sepi enggak ada orang," kata teman penculiknya yang lain membela diri.
"Kamu itu kalau di bilangin ngeyel, kita jadi ketahuan kan.?, coba kamu pikir bagaimana kalau ada yang merekam kita..?," kata temannya yang lain.
Sesaat para penculik itu saling bertengkar dan adu mulut saling menyalahkan.
"Sudah...sudah..kalian ini berisik sekali, pokoknya jangan sampai bos tahu kalau saat kita menculiknya ada saksi mata, bisa bisa kita yang di hajarnya" kata pemimpin penculik itu menghentikan pertengkaran teman temannya.
Mereka masih bersungut-sungut dan bergumam tak karuan karena juga panik.
"Kalian semua....diam..!, jangan sampai gadis yang pingsan ini terbangun dan berteriak lagi," Kata kepala penculik itu lagi.
Meytta memang di bius saat sudah di mobil karena sepanjang jalan berteriak teriak minta tolong.
Meskipun dirinya berteriak teriak sepanjang jalan namun sebenarnya tak ada yang mendengarnya karena kaca mobil yang kedap dan juga suara musik yang di keraskan.
Meytta masih bertanya tanya siapa yang mencoba menculikanya, sebelum akhirnya dirinya tak sadarkan diri karena terbius.
Mobil memasuki halaman sebuah rumah mewah tersebut dengan penjagaan yang ketat.
Tiin..tiin...
__ADS_1
"Buka gerbangnya," teriak salah satu penculik kepada penjaga gerbang di sana.
Penjaga itu mendekat mengawasi orang orang yang ada di dalam mobil, untuk memastikan siapa yang datang.
"Apa kau masih ingin berlama lama mengawasi kami, sedangkan tuan muda Johan sudah menunggu di dalam..hah..!!," bentak pemimpin penculik kepada penjaga gerbang.
Mendengar gertakan itu, buru buru penjaga itu bergeser dan membuka gerbang utama tersebut.
Mobil berjalan memasuki rumah mewah yang terdiri dari beberapa bangunan tersebut.
Setelah memutari halaman rumah depan mobil berhenti di rumah kedua yang ada di belakang.
Johan yang sudah berada di sana menyambut kedatangan orang orang suruhannya tersebut.
Johan tersenyum gembira melihat anak buahnya nampaknya berhasil menjalankan tugas yang di berikannya.
"Bagaimana..? berhasilkah..?," tanya Johan kepada orang orang suruhannya.
"Beres bos, gadis itu masih pingsan di dalam mobil," lapor pemimpin penculik kepada Johan.
"Bagus ..bagus.., segera bawa gadis itu ke ruang depan dan kunci di sana," perintah Johan kepada orang orangnya.
Segera orang orang membopong tubuh Meytta dengan hati hati untuk di kurung di kamar depan rumah kedua.
Anabelle adik dari johan, yang selalu mengawasi semua gerak gerik kakaknya semenjak mendengar rencana jahat nya masih bersembunyi sedikit menjauh.
Dia mengawasi semua yang di lakukan kakak maupun orang orang suruhan kakaknya itu.
Dia tambah geram dengan semua kelakuan dari kakaknya itu yang sudah di luar kewajaran menurutnya.
**
Sementara itu di kediaman Adrian masih nampak kegelisahan pada kedua orang tua Meytta tersebut.
Semua yang ada di rumah itu nampak muram, tak terkecuali para pekerja pembantu rumah tangga maupuan sopir dan penjaga.
Setelah mendengar kejadian apa yang menimpa anak majikannya itu mereka merasa ikut bersedih.
Sebentar sebentar Adrian yang gelisah menelpon kantor polisi menanyakan perkembangan kasus penculikan anaknya.
"Bagaimana pak apakah sudah ada titik terang tentang anak saya..?," tanya Adrian kepada polisi yang menerima telpon darinya.
"Mohon maaf pak., kami sedang berusaha untuk menyelidiki kasus ini, mohon bersabar..kami akan melakukan yang terbaik," kata polisi yang menerima telpon dari Adrian.
Belum adanya titik terang keberadaan anaknya makin membuat dirinya makin gelisah dan khawatir.
Mama Qonita hanya bisa menangis mencemaskan anaknya, bahkan untuk makan saja sampai di bujuk bi Iyem.
"Ibu harus makan, kalau ibu sakit siapa nanti yang akan membantu bapak mencari non Meytta," bujuk bi Iyem agar mama Qonita mau makan.
Mama Qonita hanya mengangguk mendengar perkataan pembantu yang sudah mendampingi dirinya berpuluh puluh tahun itu.
__ADS_1
Memang benar apa yang di katakan bi Iyem, sudah sejak pagi baru sarapan dan sampai hampir sore belum memakan apapun.
"Nanti saja bi Iyem, aku belum bernafsu untuk makan," kata mama Qonita yang masih belum merasakan lapar sedikit pun.
**
Meytta membuka matanya kepalanya terasa sangat pusing, mungkin pengaruh dari efek obat bius yang tadi di bekapkan ke hidungnya.
Pikirannya belum sepenuhnya pulih kembali.
"Dimana ini aku..?," Meytta bergumam sambil mencoba m ngingat ingat apa yang sudah terjadi.
Begitu ingatannya kembali segera dia bangun meloncat dari tidurnya meskipun kepalanya masih terasa berat.
Dipandanginya tempat dimana dirinya berada, sebuah ruangan kamar yang cukup mewah.
"Dimana ini..?," batin Meytta sambil celingak-celinguk memandang sekitarnya.
Dia berdiri berjalan ke arah pintu.
Ceklek...
Pintu itu coba di bukanya namun nampaknya dia di sekap dan di kunci dari luar kamar.
Di gedor gedornya pintu tersebut sambil berteriak-teriak.
"Buka pintu..! buka pintu... !," teriak Meytta dengan keras.
Namun tak ada yang menyahut teriakan Meytta.
Wajah Meytta nampak pucat ketakuatan begitu menyadari dirinya benar benar di sandera.
Waktu makin berlalu semua kegelisahan hatinya masih tak terjawab apa dan siapa yang menculiknya.
Meytta terduduk lemah di ujung tempat tidur tersebut.
Tiba -tiba pintu di buka dari luar.
Cekleek..
Meytta berdiri masih dengan ketakuatan memandang siapa yang memasuki ruangan tersebut.
Tampak dua orang memasuki kamar itu sambil membawa makan di atas nampan.
Kemudian makanan itu di letakkan di meja yang ada di kamar itu tanpa berkata apapun orang orang itu kembali keluar dan mengunci kamar tersebut dari luar.
__________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, hadiah dan koment nya.....
Happy reading**.....
__ADS_1