
"Ndre ...aku tidak bisa mengikuti acara sampai selesai ya.."
"Kasihan Meytta sudah kesakitan tuh punggungnya," kata Bimo sambil maju ke pelaminan meskipun acara belum selesai sepenuh.
"Iya... bos..saya terima kasih sekali hadiahnya..," kata Andre sambil menyalami Bimo dan mereka berpelukan.
"Santai aja Brother..., aku pamit..."
"Iya Bos ati ati.."
Bimo lalu menyalami Rani.
"Maaf Meytta enggak bisa maju ... aku enggak bolehin terlalu banyak jalan..entar malah kelelahan," kata Bimo kepada keduanya.
"Iya bos.."
"Iya ..pak.., enggak pa pa kasihan non Meytta..kalau kebanyakan jalan dan gerak..," sahut Rani.
Bimo menghampiri emek dan Babe yang duduk di sebelah kanan.
"Be..Mak... Bimo pamit dulu...Meytta sudah pegel pegel punggung nya pingin istirahat," kata Bimo sambil menunjuk istrinya yang duduk di kursi sambil tersenyum kearah suaminya.
"Iya..mas Bimo.. Babe dan Emak sangat berterima kasih..," kata Babe yang bahkan mau mencium tangan Bimo karena mengingat semua kebaikan bahkan hadiah sebuah rumah tadi.
"Eiit...,Be..," Bimo langsung menarik tangan nya ketika mau di cium Babe.
"Pamali..Be...," kata Bimo sambil tersenyum.
Emak dan Babe juga tersenyum.
"Besok besok Bimo main ke tempat Andre ...semoga emak dan babe pas di sana..," kata Bimo sambil berlalu.
"Iya mas," sahut emak dan Babe.
Bimo lalu menghampiri mamak Sadur yang duduk di kiri pelaminan untuk berpamitan juga.
"Terima kasih tuan..," kata mamak Sadur.
"Iya.. sama sama Mak..semoga Rani dan Andre menjadi keluarga samawa.."
"Aamiin.."
**
Mobil Bimo sudah melaju meninggalkan area pesta pernikahan Andre dan Rani.
Mobil yang di supiri body guard itu sudah membelah jalanan menuju ke arah rumah papa Adrian dan mama Qonita.
Bimo dan Meytta duduk di kursi belakang, sedangkan kursi depan di tempati dua body guard yang juga merangkap menjadi sopir.
"Masih pegal pegal punggungnya..?."
"Sedikit sih mas..," kata Meytta pelan.
Bimo mengusap usap punggung dan pinggang istri nya lembut.
"Iya...soalnya dari pagi duduk terus ..," kata Bimo yang di angguki Meytta.
"Mas....kalau lewat kang rujak beli ya..," kata Meytta masih saja suka sama makanan tersebut meskipun sudah hamil enam bulan lebih.
"Iya..sayang.."
"Pengawal... kalau lewat tempat jualan rujak yang dulu berhenti, nyonya mau membelinya..," kata Bimo.
__ADS_1
"Siap tuan..," kata dua pengawal tersebut.
Mobil terus melaju hingga sampai di tukang rujak.
Kedua Body guard langsung turun sambil membawa kotak bekal yang sengaja di bawa Meytta.
"Loh kamu sudah persiapkan kotak bekal.. dari rumah..?," tanya Bimo kepada istrinya.
Meytta tersenyum mengangguk.
"Habis dari semalam sudah kepikiran rujak eskrim terus mas," kata Meytta sambil tersenyum.
"Kenapa enggak bilang..kan Bu Siti bisa buatin.."
"Enggak sama mas dengan yang di abang abang penjual rujak eskrim."
"Iya...sih..., untungnya si kang rujak eskrim jualan kalau enggak..?."
"Ya nanti nyuruh mama buatin..," sahut Meytta sambil tersenyum.
**
Mobil sudah sampai di rumah mama Qonita.
Papa Adrian dan mama Qonita yang pulang awal hampir berbarengan dengan papa Haryo dan mama Halimah sudah menyambut anak dan menantu nya.
"Kirain mama kalian mau sampai selesai acaranya," kata mama Qonita setelah Bimo dan Meytta selesai ganti baju dengan baju rumahan yang lebih nyaman.
"Niatnya tadi sih seperti itu mah..tapi punggung Meytta udah pegel...aku ajak aja mas Bimo pulang," jawab Meytta yang lagi asyik makan rujak eskrim.
"Lagian nanti keburu kang rujaknya pulang kehabisan dagangan," kata Meytta lagi sambil tersenyum nyengir.
"Emm...jadi ini...penyebabnya..?, pegel punggungnya cuma alasan doang ," sahut Bimo yang duduk di sebelahnya pura pura marah.
Meytta malah terkekeh lalu menyuapi suaminya rujak tersebut.
"Aah..asemm...," kata Bimo menolak.
"Sekali aja..," paksa Meytta.
Dengan terpaksa Bimo membuka mulutnya.
"Ammm..nymmm..nymmm.., loh kok enak...mas Bimo tidak merasa asam..," sahut Bimo malah membuka mulut lagi.
"Mmm...sudah ah mas...entar habis," sungut Meytta.
"Sekali saja ..," pinta Bimo sambil membuka mulutnya.
"Sudah...ya..," kata Meytta setelah menyuapkan sesendok lagi.
"Entar baby boy marah...rujaknya di habisin Dady..," kata Meytta beralasan membuat Bimo tersenyum.
"Momy..pinter ya buat alasan..," kata Bimo yang langsung beranjak mencari papa Adrian yang masih berada di belakang rumah melihat pak kang kebun mengurusi burung burung di sana.
**
Papa Adrian masih memperhatikan pak kang kebun yang sedang mengurusi burung burung tersebut.
"Itu airnya kurang Man...," kata papa Adrian kepada pak kang kebun yang bernama Suratman itu.
"Iya..tuan nanti habis mandiin burung nya...akan saya tambah airnya..," sahut pak Suratman.
Bimo datang di menghampiri keduanya dan ikut duduk di dekat papa Adrian.
__ADS_1
"Burung apaan tuh Pah..?."
"Ini Poksay yang itu murai batu..," kata papa Adrian sambil menunjuk burung burung tersebut.
Bimo hanya mengangguk karena memang tak paham macam burung.
"Kalau dengar ocehan burung rumah jadi terlihat asri mas..," kata papa Adrian.
"Iya ya pah..apalagi ada pepohonan nya kayak gini..terlihat asri.."
Bimo masih memandang taman belakang yang ada gerbangnya menuju ke pemukiman penduduk.
"Loh itu buat apa pah..?, kok ternyata ada pekerja di sana..?," tunjuk Bimo ke arah tiga orang pekerja bangunan.
"Papa mau buat taman bermain untuk cucu papa..," sahut papa Adrian.
"Biar kayak tempat mas Haryo..jadi kalau pas kalian di sini anak anak kalian juga bisa bermain di taman," kata papa Adrian tersenyum senang.
Bimo juga tersenyum melihat antusiasme kedua calon Opa ini.
Keduanya orang itu masih terus berbincang sambil memperhatikan pak Suratman yang masih bersih bersih sangkar burung itu.
Meyyta menghampiri Bimo dan papa Adrian.
"Pah... Mas....makan siang dulu yuk.., sudah siap tuh.." kata Meytta sambil menghampiri suami dan papa nya.
"Iya..sayang..," kata Bimo sambil beranjak berdiri.
Papa Adrian juga beranjak berdiri dan mengikuti anak dan menantu nya memasuki rumah menuju ke ruang makan keluarga mereka.
Mama Qonita dan Bu Ijah sudah selesai menata makanan di sana di saat semua datang.
"Makan dulu pah...mas Bimo..," kata mama Qonita.
"Iya mah.." sahut Bimo menuju ke tempat cuci tangan.
Papa Adrian hanya mengangguk juga menuju ke wastafel untuk cuci tangan seperti yang mereka lakukan selama ini sebelum makan.
"Weh..tumben lauknya sea food..," kata papa Adrian.
"Iya...tadi pagi mama telpon Meytta kalau makan kayak beginian apa masih merasa mual, katanya sudah enggak ya mama berani masak oseng cumi dan udang asam manis," sahut mama Qonita sambil tersenyum.
"Segini apa mau nambah lagi..?," tanya mama kepada Papa Adrian.
"Cukup lah mah...nanti perut papa malah makin melar," kata papa Adrian.
Setelah mama mengambil nasi, Meytta gantian mengambil kan nasi untuk suaminya.
Porsi makan Bimo yang dua kali porsi papa Adrian sudah Meytta hafal.
"Cumi nya sayang sama oseng brokoli..," kata Bimo.
"Nanti udangnya mas Bimo ambil sendiri ya.."
"He'em.."
Keluarga itu makan siang bersama dengan lahap.
___________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...
Baca juga karya lainku.....
__ADS_1
* Sang Pengacau
* Aku Lebih Mencintaimu**