
Yosef membawakan koper koper beroda tersebut menuju di mana mobilnya berada.
Bimo membawa satu koper yang juga beroda sambil menggandeng tangan Meytta yang membawa tas jinjingnya.
Ramainya di stasiun itu membuat Meytta takut jika terpisah dari suaminya, makanya dia memeluk lengan suaminya tersebut.
"Mari sebelah sini tuan," teriak Yosef kepada Bimo yang sedikit tertinggal karena langkah kaki Istrinya.
Bimo masih santai melangkah mensejajarkan dengan langkah istrinya.
Begitu Yosef berteriak Bimo langsung mengarah ke tempat dimana mobil di parkir.
Setelah Bimo sampai di mobil tersebut Yosef langsung membuka kan pintunya.
"Silahkan masuk tuan dan nyonya ," kata Yosef sopan.
Bimo dan Meytta memasuki mobil tersebut sedangkan Yosef menata beberapa tas di bagasi belakang.
Bimo menoleh ke arah Meytta yang dari tadi hanya terdiam saja.
"Sayang ..kamu nggak pa pa kan..?," tanya Bimo kepada istrinya.
"Badanku agak enggak enak mas...," sahut Meytta lemas.
Bimo menempelkan tangannya di kening istrinya.
"Tak panas..," gumam Bimo pelan.
"Apa kita mau periksa ke dokter sayang..?," tanya Bimo yang mulai cemas.
"Enggak usah mas..buat istirahat dulu mungkin nanti membaik," sahut Meytta lemah.
Melihat kecemasan tuan muda, Yosef pun bertanya.
"Ada apa tuan..? apakah ada masalah..?," tanya Yosef kepada Bimo.
"Iya istri ku agak kurang enak badan," sahut Bimo.
"Apakah kita akan ke dokter..?."
"Nanti dulu saja...mau di coba istirahat dahulu," sahut Bimo yang tak bisa menyembunyikan kekhawatiran nya.
Mobil sudah sampai di sebuah apartemen yang berada di dekat kawasan menara Eiffel.
Yosef segera memandu pasangan suami istri baru tersebut.
"Biar nanti saya yang akan menaikan koper koper tersebut tuan," kata Yosef.
Bimo hanya mengangguk sambil menggandeng istrinya.
"Mau saya gendong sayang," kata Bimo yang nampak khawatir.
Meytta menggelengkan kepalanya.
Mereka sampai di depan pintu lift.
Yosef masih memandu mereka sambil membawa satu tas koper.
Apartemen mereka berada di lantai tiga puluh lima kamar lima.
Ting...!
Pintu lift sudah terbuka mereka pun memasuki lift tersebut lalu menekan tombol tiga puluh lima.
Ting...!
__ADS_1
Begitu sampai di lantai tiga puluh lima dan keluar dari lift Bimo langsung membopong istrinya mengikuti langkah kaki Yosef.
Di ruang no lima Yosef berhenti dan membuka ruang apartemen tersebut.
Bimo segera memasuki ruang apartemen tersebut menuju kamar dan menidurkan istrinya yang kurang enak badan.
Sambil masih menunggu Yosef mengambil tas yang lain Bimo menuju dapur apartemen tersebut.
Disana sudah di siapkan semuanya.
Bimo membuat minuman hangat untuk istrinya.
Setelah menghidupkan kompor dan memasak air Bimo kembali ke kamar dan duduk di samping istrinya tiduran.
Kembali di tempelkan tangannya di kening istrinya tak panas.
"Sayang..apa yang kamu rasakan..?," tanya Bimo nampak cemas.
"Aku enggak pa pa kok mas..cuma badan rasanya lemes aja," kata Meytta pelan.
Bimo kembali keluar menuju dapur dan membuat susu hangat.
Selesai membuat susu hangat Yosef datang membawakan kedua tas koper mereka.
"Taruh aja di sana Yosef, sepertinya hari ini aku mau tinggal di apartemen saja."
"Istriku lagi tak enak badan." kata Bimo kepada Yosef yang masih menunggu perintah dari tuan muda nya.
"Kau boleh pergi ..nanti bila aku butuhkan bantuannya aku akan menelpon mu," kata Bimo kembali.
Yosef mengangguk mengiyakan perkataan Bimo.
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan," kata Yosef kepada Bimo.
Bimo menganggukkan kepalanya.
Diselimuti istrinya takut bila kedinginan dan makin sakit.
"Susunya di minum ya sayang..," bujuk Bimo pelan.
"Enggak nafsu mas..," sahut Meytta pelan.
"Biar badannya enggak lemes."
Meytta hanya menggeleng.
"Kamu mau apa nanti biar mas Bimo suruh Yosef membelikan nya."
"Makanan yang berkuah kayak bakso," kata Meytta pelan.
"Tapi nanti di makan ya..biar badannya enggak lemes."
Meytta hanya menganggukkan kepalanya.
Bimo pun menghubungi Yosef dan menceritakan keinginan istrinya.
Dari pembicaraan itu akhirnya Yosef menyarankan makanan yang berkuah semacam soup Perancis yang berisi daging sapi dengan aneka rempah.
"Baik aku tunggu makanan yang kamu rekomendasikan itu," sahut Bimo di akhir percakapan.
Tak terlalu lama Yosef pun datang dengan membawa makanan yang di rekomendasikan nya tersebut.
"Terima kasih," kata Bimo sambil menyerahkan beberapa lembar uang pengganti kepada Yosef.
Setelah Yosef pergi, Bimo menghangatkan makanan tersebut di microwave biar hangat kembali.
__ADS_1
"Sayang di makan mumpung masih hangat," kata Bimo yang masih khawatir.
"Suapi mas Bimo..," kata Meytta dengan manja.
Bimo pun menuruti apa kemauan istrinya tersebut.
Meytta nampak lahap memakan makanan tersebut dengan di suapi Bimo.
Setelah memakan makanan tersebut Meytta sudah terlihat lebih segar.
Mereka berdua menghabiskan sisa hari itu di dalam apartemen saja.
Tampak dari balkon apartemen tersebut, menara Eiffel yang terlihat indah di malam hari.
Sambil duduk di sofa yang ada di balkon Bimo nampak memeluk istrinya yang sudah mulai terlihat segar.
"Besok kita akan jalan jalan di menara Eiffel dan di sungai Seine," kata Bimo.
"Tapi kalau kamu masih belum sehat, kita tinggal di apartemen saja ," kata Bimo kembali.
"Maaf ya mas....kita bulan madu malah pas badan aku enggak fit," kata Meytta pelan.
Bimo tersenyum sambil mengeratkan pelukannya.
"Meskipun kita hanya duduk di sini, asal bersama mu....mas Bimo sudah cukup senang..sayang." kata Bimo sambil mencium rambut Istrinya.
Meytta semakin mendekat di dekapan suaminya.
"Mas...mm.. seumpama kita habis dari Paris langsung pulang aja gimana..? aku kangen semua yang ada di tanah air termasuk..., bakso, rujak..pokonya semua yang ada di sana," kata Meytta sedikit merengek.
"Kamu ngidam..sayang..?," tanya Bimo.
"Nggak tahu.. pokoknya pinginnya makanan yang ada di sana."
"Lha kamu mau kita pulang kapan..?, nanti mas Bimo akan pesan tiket nya," kata Bimo.
"Lusa ya mas.."
Bimo menganggukan kepalanya
"Terimakasih mas..," kata Meytta makin memeluk suaminya.
"Maaf ya mas..kalau orang lain pasti senang bila honeymoon lama, tapi aku malah tergesa ingin pulang..," sahut Meytta sedikit sedih, tapi entah kenapa rasa ingin pulang dan kangen semua hal yang ada di tanah air begitu kuatnya.
Bila harus jujur sejak kemarin sebenarnya Meytta sudah kepingin makan rujak, atau bakso yang super pedas yang ada di pasar kampung Dalam di sekitar rumahnya.
Namun semua itu masih di tahannya, karena merasa tak enak hati dengan suaminya.
Hingga akhirnya tadi badannya tiba -tiba lemas dan inginnya malas malasan.
Bimo yang melihat istrinya sedih pun menghibur nya.
"Sayaang...enggak usah sedih..mas Bimo enggak masalah kamu mau pulang kapan bila perlu hari inipun mas mau," kata Bimo kepada istrinya.
"Lusa saja mas, besok kita ke menara Eiffel dulu lalu ke sungai Seine," kata Meytta.
"Kita lihat besok ya..sayang... semoga kamu sudah sehat, tapi kalau masih lemes mending buat istirahat di apartemen lebih baik," kata Bimo menenangkan Meytta.
___________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...
Baca juga karya lainku bergenre
* Sang Pengacau (silat)
__ADS_1
* Aku lebih mencintaimu (roman**)