
Semua sudah di kemas, barang bawaan sudah dimasukan ke dalam koper.
Oleh oleh sebagian langsung di kirimkan lewat biro paket pengiriman barang.
Setelah sholat dhuhur di waktu setempat mereka pun menelpon pak Abraham untuk mengantar keduanya ke stasiun kereta yang akan menuju ke Paris.
"Halo pak Abraham..?, nanti kami minta di antarkan ke Amsterdam Central stasiun," kata Bimo sambil mengatakan kapan waktunya.
"Baik tuan."
Menurut sepengetahuan Bimo perjalanan darat itu memakan waktu antara tiga hingga empat jam.
Bimo sudah membawa koper koper tersebut di bantu oleh pekerja semacam OB di gedung itu.
"Semua sudah kebawa..?," tanya Bimo kepada istrinya.
Meytta mengangguk.
"Kayaknya sudah semua mas..," sahut Meytta.
"Ok..kalau gitu kita turun sekarang," kata Bimo kepada Meytta.
Tak terlalu lama setelah Bimo keluar dari kondominium itu dan berada di lobi, pak Abraham pun muncul dengan kendaraan nya.
Dengan sigap pak Abraham membantu memasukkan koper koper itu ke bagasi belakang mobil.
"Apakah masih ada lagi yang perlu di masukkan tuan ..?," tanya pak Abraham.
"Semua sudah masuk pak, Kita langsung berangkat saja."
"Baik tuan," kata pak Abraham sambil membuka kan pintu buat tuan dan nyonya muda nya.
"Oh..iya..ini kunci kondominium, nanti serahkan kepada bagian rumah tangga perusahaan," kata Bimo kepada pak Abraham begitu sudah berada di dalam mobil.
Selama tak di tempati memang kondominium itu secara berkala di bersihkan oleh bagian rumah tangga perusahaan, termasuk bila ada perbaikan dan pengecatan.
"Iya..tuan besok kunci itu akan saya serahkan ke bagian rumah tangga perusahaan," jawab pak Abraham sambil mulai menjalankan mobilnya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan di Amsterdam.
Tak butuh waktu lama perjalanan dari kondominium mereka menuju Amsterdam Central stasiun.
Stasiun terbesar di Amsterdam itu memiliki pemandangan yang indah.
Bangunan bergaya klasik bercampur dengan gaya modern itu membuat wisatawan menjadi sangat tertarik untuk berfoto ria.
Didepan stasiun pemandangan juga tak kalah menarik.
Rumah rumah penduduk yang tertata rapi nampak indah di pandang.
Bangun mirip apartemen yang berjajar itu menjadi daya tarik tersendiri.
Tak lupa Meytta dengan menggandeng tangan suaminya berfoto dengan latar belakang gedung gedung tersebut.
Kali ini mereka sengaja menggunakan transportasi darat karena memang selain lebih banyak pemandangan juga langsung bisa ke jantung kota, karena bandara malah berada di luar kota.
Mereka akan menaiki kereta cepat.
__ADS_1
Namanya kereta Thalys kereta dengan warna merah itu merupakan kereta cepat dengan rute Amsterdam-paris.
Dengan kecepatan mencapai 300 km/jam jarak antara Amsterdam-paris dapat di tempuh dalam waktu tiga jam saja.
Kereta ini di lengkapi dengan fasilitas yang lengkap dan nyaman dengan harga tiket lebih murah dari pada pesawat terbang.
Sistem pemesanan tiket di Eropa sama dengan memesan tiket pesawat terbang.
Harga akan semakin naik jika di pesan dekat dengan tanggal keberangkatan apalagi jika on the spot.
Tiket dapat di pesan secara online mulai 90 hari sebelum tanggal keberangkatan.
Harga berkisar antara Rp 800.000 ribu sampai Rp 2500.000 ribu.
Terdapat tiga kelas di kereta Thalys yaitu standard, comfort dan premium.
Kelas standard adalah tiket kelas dua, sedangkan comfort dan premium adalah tiket kelas satu.
Antara gerbong kereta kelas satu dan dua di pisahkan oleh gerbong makan.
Kelas dua mempunyai susunan kursi 2-2 sehingga jarak antara penumpang lebih sempit.
Sedangkan susunan kelas satu 2-1sehingga jarak antara penumpang lebih luas.
Berbeda dengan kelas lainnya, penumpang di kelas premium akan di berikan kudapan ringan, makan siang atau makan malam yang sudah termasuk harga tiket.
Pak Abraham mengantarkan keduanya sampai batas peron masuk area stasiun tersebut.
"Sekali lagi terima kasih pak Abraham, atas semua nya ," kata Bimo sambil menjabat tangan pak Abraham.
Tak butuh waktu lama kereta Thalys yang akan membawa keduanya sudah tiba.
Bimo memesan tiket kelas satu premium sehingga lebih longgar dan nyaman.
Setelah memastikan tempat duduknya keduanya langsung duduk disana setelah menertibkan koper koper mereka.
"Mas ambilkan minumanku.. ada di tas mas Bimo," kata Meytta kepada suaminya.
Bimo mengambil minuman di tas selempang yang selalu di bawanya.
Karena di sana banyak barang barang penting termasuk visa dan kartu kartu.
"Ini sayang...," kata Bimo menyerahkan minuman tersebut.
Kereta mulai bergerak dengan kecepatan perlahan, lalu makin lama makin cepat ..cepat....dan cepat.
Meski pun sangat cepat, namun kereta tersebut sangat nyaman, bahkan goncangan nya tak begitu terasa.
Meytta mulai merebahkan kepalanya di pundak suaminya.
Bimo kemudian melingkar kan tangannya agar istrinya bisa nyaman bersandar.
Begitu kereta mulai meninggalkan kota pemandangan tak kalah indahnya mulai terpampang.
Gunung gunung dengan puncak salju mulai terlihat dengan indah.
hutan hutan Pinus bahkan danau, sungai maupun pantai yang jauh kadang terlihat.
__ADS_1
Keduanya tak berhenti takjub dengan keindahan alam di Eropa.
Kadang kadang manusia itu melihat rumput tetangga lebih hijau.
Orang orang kita melihat alam Eropa sesuatu yang menakjubkan, padahal saat mereka berkunjung ke tanah air mereka pun terkagum kagum dengan indahnya Nusantara.
Hidangan kudapan dan makan siang di sajikan oleh petugas kereta.
Bimo dan Meytta hanya memilih menu roti isi daging sapi dan ayam, takut nya makanan tersebut tercampur dengan olahan makanan yang haram.
Kereta masih melaju dengan cepat dengan pemandangan yang menurut keduanya luar biasa.
Dan benar saja tak sampai empat jam kereta tersebut sudah sampai di Paris Perancis.
Tepatnya hanya tiga jam dua puluhan menit.
Keduanya keluar dari kereta tersebut dengan tak lupa meneliti barang bawaan, jangan sampai tertinggal.
sebanyak tiga koper dan satu tas jinjing istri nya sudah di bawa keluar.
Tas selempang Bimo tak pernah lepas dari badannya dengan kantung berada di depan sehingga bisa mengawasi keamanan nya.
Sesuai pesan papa Haryo, di Paris nanti orang kantor yang akan menjemput nya bernama Yosef.
Masih sambil menarik dua tas koper besar, pandangan mata Bimo beredar mencari orang yang kira kira menjemputnya.
Meytta membawa satu koper dan tas jinjingnya sendiri.
Dari jauh nampak seorang pemuda membawa kertas bertuliskan nama Bimo dan Meytta.
Bimo menghampiri pemuda tersebut.
"Yosef yaa...," kata Bimo dengan bahas internasional.
Yosef melihat foto yang ada di handphone nya.
"Tuan Bimo dan nyonya muda Meytta..?." sapanya.
Bimo menganggukan kepalanya.
"Benar kami Bimo dan Meytta," sahut Bimo menjawab pertanyaan pemuda itu.
Keduanya lalu berjabat tangan.
" Saya Yosef."
Bimo hanya mengangguk dan tersenyum.
_____________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya..
Baca juga karya lainku
*Sang Pengacau (silat)
*Aku Lebih Mencintaimu (roman**)
__ADS_1